
Sembilan bulan kemudian.
" Noah...Jangan ke sana!" Seru Rubby, saat bocah kecil itu merangkak dengan cepat dan hampir saja kepalanya membentur kaki meja.
Rubby yang usia kandungannya kini menginjak usia sembilan bulan, sedikit mendapatkan kesulitan saat harus berjalan dan menghalangi kepala Noah agar tidak membentur kaki meja kayu tersebut.
" Awwhh... Pinggang ku" Keluh Rubby, ketika dirinya berusaha untuk bangkit kembali setelah berjongkok dan menghalangi kepala Noah dengan telapak tangannya.
Noah yang melihat kesulitan mommy kecilnya itu malah tertawa renyah sambil menggerakkan tubuhnya naik turun.
"Mamamom...." Celoteh Noah.
" Uuhhh....Dasar anak jahil, seneng yah liat mommy nya kesakitan gini" Ucap Rubby sambil mencium pipi chubby Noah.
Rubby memutuskan untuk duduk di karpet dan menemani Noah bermain, bocah kecil itu tak hentinya menciumi perut Rubby hingga air liur nya membasahi baju hamil nya.
"Apa selain jahil kamu ini genit juga yah" Kekeh Rubby. Pasalnya anak yang masih berada di dalam kandungan nya itu memang berjenis kelamin perempuan.
"Noah sayang, jangan nakal yah.... Kasian mommy kecilmu itu" Ucap Jenna, lalu berjalan menghampiri keduanya dan memberikan botol susu untuk anak sulung nya itu.
Jenna saat ini tengah mengandung anak keduanya, usia kehamilan nya baru memasuki minggu ke empat. Dia dan Aiden memang sepakat untuk tidak menunda kehamilan keduanya hingga Noah besar, mengingat usia mereka yang kini sudah tidak muda lagi.
Dan seperti biasa jika Noah sedang menyedot botol susu nya, dia akan duduk di pangkuan Rubby sambil menyandarkan tubuhnya di perut besarnya itu.
"Huh dasar genit, maunya deket-deket terus sama dedek bayi yah" Kekeh Jenna.
Tidak ada yang berani mengganggu bocah itu ketika dia melakukan ritualnya sambil memeluk perut buncit Rubby, pasalnya dia akan mengamuk jika seseorang berani memindahkan posisinya ke tempat lain. Bahkan jika Jenna atau Aiden yang mencoba untuk menjauhkannya dari tempat favoritnya itu.
"Seperti nya dia akan sangat posesif terhadap adik bayinya nanti" Ucap Jenna, sambil mengelus rambut Noah. Sementara Rubby mulai merasakan ketidak nyamanan disekitar perutnya.
" Uuhhh...Sayang, boleh yah pindah duduknya sama mommy mu? Mommy Rubby sakit perut" Keluh Rubby, lalu berusaha untuk mengangkat tubuh mungil Noah.
__ADS_1
"Rubby, apa kamu baik-baik saja?" Jenna bertanya sambil meraih tubuh Noah dari tangan Rubby dan menaruhnya di kursi bayi.
" Entahlah nona, rasanya semakin tidak nyaman, dan pinggang ku semakin panas" Keluh Rubby, dirinya berusaha untuk bangun dari duduknya tetapi sepertinya tangannya sudah tidak kuasa untuk menopang berat tubuh nya.
" Wayan! Jill! Paloma....!! Megaaann!!!" Seru Jenna, yang disambut langsung dengan kedatangan keempatnya.
"Apa yang terjadi nona??!" Tanya Paloma, lalu mendekati Rubby yang mulai meringis menahan sakit diperutnya.
"Sepertinya nona Rubby akan melahirkan!" Paloma meraih ponselnya dari dalam saku, dan menghubungi Gerry untuk segera menyiapkan mobil untuk membawa nona Rubby ke rumah sakit bersalin.
Paloma juga menghubungi Philip untuk mengabarkan kepada nya bahwa sang istri akan segera dibawa ke rumah sakit dan agar dia serta Aiden segera menemuinya di sana. Jangan ditanya kehebohan yang dibuat oleh Wayan, pria gemulai itu bahkan harus bolak-balik ke kamar majikannya untuk mengambilkan tas berisi perlengkapan bayi yang selalu saja tertukar dengan tas yang lainnya.
Tiba di rumah sakit khusus bersalin itu, kedatangan Rubby pun langsung disambut oleh kedua majikannya serta tim medis dengan semua perlengkapan nya karena Paloma pun menghubungi dokter kandungan langganan Rubby setelah dia menghubungi para majikan nya itu tadi.
"Atur nafas baby..." Ucap Philip saat dirinya menemani sang istri menuju ruangan bersalin, dia pun tidak melepaskan tautan tangannya dari tangan istri kecilnya itu.
" Aaahhh....Huh....Huh.... Huh "
Philip berkali-kali menggigit bibirnya sambil menahan sakit akibat cakaran kuku Rubby ditangannya saat kontraksi nya terus berlanjut, dia pun membantu menenangkan sang istri dengan membisikkan kata-kata sayang ditelinga nya.
"Daddy diam!" Pekik Rubby.
Para suster hanya tersenyum melihat tingkah keduanya, apalagi saat pria dingin itu mulai terlihat panik karena teriakan sang istri yang semakin lama semakin terdengar dengan jelas di seluruh ruangan itu.
" Buat bayinya keluar dokter! Dia kesaksian!" Teriak Philip
" Sebentar lagi tuan, belum saatnya" Jawab dokternya wanita itu dengan tenang.
" Apa kamu bilang? Belum saatnya??!" Philip kembali meneriaki sang dokter.
"Bagaimana kamu bisa setenang itu hah?! Apa matamu buta? Telinga mu itu tuli?!" Lanjutnya.
__ADS_1
" Sebentar lagi tuan, jika nona mengejan dari sekarang nanti dia akan kehabisan tenaga saat harus mengejan nanti" Jawab dokter itu, sambil memeriksa kembali bukaannya.
" Aaaaahhhhh!!!" Pekik Rubby saat sang dokter memasukkan jari tangan nya kedalam areal intim nya.
"Apa kamu sudah gila!" Teriak Philip, sambil menarik tangan sang dokter. Jika saja dokter yang ada dihadapannya ini seorang pria, sudah pasti dia akan langsung menghajarnya habis-habisan.
" Sabar tuan Philip, biarkan dokter menjalankan tugas nya" Ucap salah seorang perawat wanita yang bertugas untuk mengusap keringat Rubby dengan handuk kecil ditangannya.
" Oke nona, ikuti petunjuk dari saya yah..." Ucap Sang dokter, tanpa memperdulikan kepanikan suami dari pasien nya itu.
Ini bukan pengalaman baru baginya, menghadapi para suami yang merasakan kepanikan berlebih ketika mendampingi istri-istri mereka melahirkan.
Dokter pun meminta Rubby untuk mengejan dengan tetap membuka kedua matanya dan mengarahkan pandangannya ke arah perutnya, tanpa mengangkat pinggulnya.
"Aaaaahhhhh...." Pekik Rubby, bersamaan dengan lahirnya seorang bayi mungil berjenis kelamin perempuan.
Tangisan bayi cantik itupun mulai menggema di seluruh ruangan.
" Terimakasih sayang...." Ucap Philip sambil menciumi kening dan bibir Rubby berkali-kali
.
.
.
To be continued
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah
Happy reading π€π€π€
__ADS_1