Karma Is A Bich

Karma Is A Bich
Cemburu


__ADS_3

"Aiden aku ..." Madeline terkejut saat Aiden duduk tepat disampingnya.


"Katakan padaku, apa yang bisa aku bantu Madeline" Lagi-lagi sikap manis Aiden membuat sang asisten menghela nafasnya berat.


Sementara Madeline mulai menyadari perasaannya sendiri saat Aiden berada dekat dengan nya, jantung nya tidak lagi berdetak kencang seperti dulu dan rasa bahagianya pun hilang. Semuanya biasa-biasa saja, pikir Madeline.


"Aiden, aku ingin mengundangmu makan malam...Apa kamu bersedia?" Madeline tersenyum, lalu mengedipkan sebelah matanya.


"Kau tahu kan Maddy, aku harus meminta ijin pada Jenna ku terlebih dulu tapi sepertinya untuk hari ini aku akan membuat pengecualian" Jawab Aiden dengan senyuman yang semakin mengembang.


"Aiden! Apa yang kamu lakukan?!" Philip sudah semakin geram dengan sikap tak masuk akal yang dilakukan kedua manusia dihadapannya ini.


"Tenangkan dirimu kak, toh hanya sekali ini saja aku seperti ini... Lagi pula Maddy yang meminta ku, jadi apa salahnya kan menyenangkan wanita ini?" Kekeh Aiden.


Pieter tidak terima dengan sikap Aiden yang menurutnya sudah sangat keterlaluan, berani-beraninya dia mempermainkan perasaan Madison belum lagi istri nya nanti jika sampai wanita itu mengetahui perilaku suaminya itu.


Dia juga tidak percaya dengan sikap Maddy yang mau saja diperlakukan seperti itu, sementara dirinya bersedia melakukan apapun untuk membahagiakan wanita itu.


"Bagaimana Maddy? Bukankah ini yang selama ini kamu inginkan?" Kekeh Aiden, lalu meraih tangan Madeline dan mengecupnya.


"Tentu saja Aiden, aku ..."


Tanpa basa-basi Pieter berjalan mendekati Madeline, dia sudah tidak tahan mendengar perbincangan keduanya, rasa cemburunya semakin tinggi apalagi sikap Aiden yang semakin terlihat manis didepan Madeline. Philip bahkan sudah akan menghadang Pieter tapi mengurungkan niatnya saat Aiden menggelengkan kepalanya.


Pieter mengangkat tubuh Madeline dipundaknya, lalu membawanya keluar dari ruangan itu.


" Aku tunggu undangan pernikahan kalian!" Seru Aiden sambil melambaikan tangannya kepada Madeline.


" Thanks Aiden!" Ucap Madeline.


"Apa itu tadi hah?!" Philip menuntut jawaban dari Aiden yang masih tertawa sepeninggal Madeline.


"Apa kamu gak lihat kalau mereka itu sedang jatuh cinta?" Jawab Aiden lalu menepuk pundak sang kakak yang masih menatapnya tak percaya.


"Apa maksud mu?!" Philip mengerutkan keningnya.


"Ahh... Sudahlah, manusia kaku seperti mu tidak akan mengerti" Aiden kembali tertawa terbahak-bahak.


.

__ADS_1


.


Semua mata memandang ke arah Pieter saat pria itu membawa tubuh Madeline di pundaknya, meski wanita itu meminta dirinya untuk menurunkan tubuh nya tetapi Pieters tidak mengindahkan sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


Pieter membuka pintu mobil lalu menaruh tubuh Madeline dan memasangkan sabuk pengaman untuknya, secepat kilat dia menutup pintu lalu memutari mobil itu dan memasukinya. Pieters duduk dibelakang kemudi di samping Madeline.


Tanpa sepatah katapun Pieter mengarahkan kemudinya keluar dari pelataran parkir gedung tersebut, dan membawa Madeline menuju kantor nya. Dia sudah tidak tahan untuk tidak menghukum wanita yang telah tega membuat nya sangat cemburu itu.


"Hei! Apa yang kamu lakukan?! Turunkan aku!" Pinta Madeline saat pria dingin itu kembali mengangkat tubuhnya.


Tetapi belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Pieter untuk menanggapi kata-kata Madeline, dia hanya memerintahkan kepada semua orang yang memandangnya untuk meneruskan pekerjaan mereka lalu mengancamnya.


"Jaga mata kalian jika masih ingin bisa melihat!" Ucapnya, lalu berjalan memasuki lift yang akan membawa mereka ke lantai dimana ruangan Madeline berada.


" Atur ulang semua janji dan pertemuan hari ini" Titah Pieter kepada sekertaris cantik yang masih terkejut melihat pemandangan didepannya.


"Ba...Baik tuan Pieter" Jawab wanita itu terbata.


"Hei! Jangan seenaknya Pieter! Turunkan aku!" Pekik Madeline.


Pieter menutup dan mengunci pintu ruangan Madeline lalu menjatuhkan tubuh wanita itu di sofa lantas mengungkungnya.


Tanpa menghiraukan panggilan dari Madeline, Pieter membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya. Kali ini dia sudah tidak mau perduli lagi dengan perasaannya.


Pieter mengulang kembali peristiwa tadi pagi di ruangan Madeline, dan meski pada awalnya wanita itu berusaha untuk menolak perlakuan Pieter padanya tetapi lama-kelamaan Madeline menikmati setiap sentuhan lembut Pieter ditubuhnya.


"I love you Madeline, dan kali ini aku tidak perduli lagi dengan pendapat orang lain" Bisik Pieter saat mereka menyudahi permainan panasnya.


"Pieter...." Madeline merasa sesuatu milik pria ini masih memenuhi dirinya.


"Hmmmm...?"


Perlahan pria itu menggerakkan kembali tubuhnya lalu mempercepat irama hentakannya, dia tidak akan berhenti hingga Madeline meneriakkan nama nya dan menuntut nya hingga lengkingan suara Madeline mengakhiri gerakan Pieter bersamaan dengan hujaman miliknya didalam tubuh wanita itu.


.


.


Tiba di mansion Aiden segera mencari keberadaan Jenna, dia sudah tidak sabar menceritakan kejadian siang tadi bersama dengan Madeline kepada istrinya itu.

__ADS_1


"Sayang...Aku ingin menceritakan kejadian menarik siang ini " Ucap Aiden lalu mencium puncak kepala Jenna yang duduk membelakangi dirinya.


"Loh sayang...Apa yang terjadi?" Aiden terkejut karena ternyata Jenna tengah menangis, secepat kilat dia memutari tubuh Jenna lalu memeluknya.


"Kenapa kamu menangis sayang?" Aiden mengecup kening Jenna lalu mengeratkan pelukannya sambil mengusap punggungnya.


Jenna hanya menggelengkan kepalanya, tanpa menjawab pertanyaan Aiden, dia terisak didalam pelukan suaminya itu. Suami yang hari ini telah membuatnya sangat cemburu.


Siang itu Jenna bermaksud untuk menemui Aiden di kantornya, dia ingin mengajaknya makan siang bersama di restoran favoritnya. Sengaja Jenna tidak memberi tahu dulu kedatangan dirinya ke sana, Jenna ingin memberikan kejutan kepada suami tercinta nya tersebut.


Tetapi ketika dia sampai didepan ruangan Aiden, dia mendapati meja sekertaris yang kosong hingga dia memutuskan untuk memasuki ruangan Aiden langsung.


Tetapi baru saja Jenna akan membuat pintu yang sedikit terbuka itu, dia langsung disuguhi pemandangan yang tidak mengenakkan bagi nya. Dia melihat Aiden tengah berbincang hangat dengan Madeline, bahkan suaminya itu tersenyum manis kepada nya. Belum lagi perkataan Aiden yang begitu menyakiti dirinya.


Hati Jenna terasa sangat sangit ketika keduanya tengah berbincang mesra, dia pun geram ketika melihat Philip yang hanya berdiri didepan Aiden tanpa mengatakan sepatah katapun.


Jenna mengurungkan niatnya untuk memasuki ruangan Aiden, dan memilih untuk kembali ke mansion.


"Apa kamu benar-benar akan menerima ajakan Madeline?" Isak Jenna.


"Apa maksud mu sayang? Aku tidak mengerti?" Aiden mengurai pelukannya dan menatap manik indah milik Jenna.


"Aku ke kantor mu tadi siang, dan...." Jenna kembali terisak, dia tak kuasa meneruskan kembali kata-katanya.


"Ya ampun sayang! Itu yang ingin aku bicarakan denganmu saat ini " Balas Aiden.


"Jadi....Jadi benar kan? Kamu akan memenuhi keinginan Madeline untuk..."


Aiden tidak tahu lagi bagaimana caranya membungkam mulut sang istri yang masih mengira dirinya akan berselingkuh dibelakangnya. Hanya satu yang bisa dia lakukan, dan selalu berhasil membuat Jenna bungkam.


.


.


.


To be continued


Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah

__ADS_1


Happy reading πŸ€—πŸ˜˜πŸ€—πŸ˜˜


__ADS_2