
Seorang pria dengan sorot mata sayu berjalan mendekati arah keramaian saat dirinya melihat sosok seorang wanita yang selama ini dia cari, pria itu mencoba meyakinkan dirinya bahwa wanita yang ada tak jauh dari posisinya adalah wanita yang sama.
Akan tetapi langkah pria itu terhenti saat netranya menyaksikan seorang pria tampan berpenampilan rapi mengaku bahwa dirinya adalah tunangan wanita itu, entah mengapa melihat adegan itu hatinya begitu hancur.
Inikah yang dirasakannya saat itu...?
Pria itu mengurungkan niatnya untuk mendekati wanita yang sekarang terlihat lebih cantik dibandingkan saat dia hidup bersama dengannya, hingga kerumunan masa membubarkan diri dan pria itu menggandeng tangan Jenna dengan mesra masuk kembali kedalam toko.
" Terimakasih atas bantuannya Aiden, aku sangat menghargainya " Ucap Jenna tanpa ada maksud lain. Dia masih berpikir bahwa tindakan yang dilakukan oleh Aiden tadi hanya untuk meredam emosi masa, dan yang paling penting adalah untuk menyingkirkan wanita yang sejak semalam mengganggu Aiden.
" Aku mengatakan yang sesungguhnya Jenna " Ucapnya tanpa ada keraguan sedikitpun.
Deg
" Aiden...Kau tak perlu melakukan hal ini " Jenna menatap wajah Aiden yang terlihat melemparkan senyuman manis padanya.
" Ini terlalu besar buatku, maksud ku..."
" Apa kamu tidak mau menerima ku Jenna?"
" Kita baru dua hari ini bertemu Aiden, kita masih terbilang asing satu sama lain " Jenna mencoba untuk meyakinkan Aiden.
Apa yang dikatakan oleh Jenna memang benar adanya, tidak mungkin seorang pria dan wanita yang baru saja dua hari bertemu bisa langsung jatuh cinta apalagi bertunangan atau bahkan menikah. Ini gila menurutnya.
" Kita bisa melakukan pendekatan terlebih dahulu jika kamu berkenan " Ujar Aiden.
" Yaa... mungkin dengan pacaran dulu sebelum kita benar-benar bertunangan nantinya " Lanjutnya
" Kamu tidak tahu siapa aku Aiden dan aku yakin jika kamu tahu, kamu akan berpikir berkali-kali untuk menjadikanku kekasih mu " Ucap Jenna lirih. Wanita ini menundukkan wajahnya, ingatannya melanglang buana ke satu saat dimana dia pernah menjalani kehidupan pahitnya dalam berumah tangga.
" Apa kamu sakit parah atau terjangkit penyakit menular?"
Jenna menggelengkan kepalanya.
" Apa kamu seorang trans ?" Aiden mengingat kejadian semalam saat dia memeluk wanita ini, dia masih bisa merasakan otot-otot Jenna ditangannya.
Jenna terpaksa mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan konyol Aiden, tetapi wanita itu menggeleng dan kembali menundukkan kepalanya.
Entahlah, tapi kejadian hari ini begitu menguras tenaga dan emosinya. Jenna juga masih diselimuti rasa malu yang teramat sangat, bagaimana tidak tadi dia dituduh sebagai perebut calon suami orang, lalu orang-orang menuduhnya sebagai pezina! Ini sungguh sangat memalukan baginya. Sosok seorang Jenna sebagai wanita baik-baik seakan hilang begitu saja.
__ADS_1
" Kau tidak terlihat pemalu selama dua hari kita berjumpa, kenapa kamu tidak berani menatap ku saat ini?" Kekeh Aiden. Kelakuan Jenna saat ini terlihat lucu dimatanya, ingin rasanya dia ******* bibir pink milik Jenna. Sepertinya rasanya lembut, selembut coklat buatannya batin Aiden.
" Lalu ?" Aiden melanjutkan pertanyaannya.
" Aku...Aku pernah menikah Aiden " Jawab Jenna lirih.
" Dan gagal..." Lanjutnya
Jenna bisa mendengar suara helaan nafas dari pria yang tengah duduk dihadapannya ini, dia sudah pasrah jika pada akhirnya Aiden akan mengurungkan niatnya.
" Aku pikir karena kamu punya penyakit menular atau kamu tidak suka pria atau kamu seorang trans makanya kamu langsung menolak permintaan ku.... Ternyata... " Aiden tergelak
Deg..
Suara tawa Aiden membuat jantung Jenna berdetak kencang, seketika gadis ini mencoba untuk mengatur ritme nafasnya dan berharap agar pria yang ada dihadapannya ini tidak menyadari nya.
" Tapi Aiden... Apakah kamu..." Ucapan Jenna terhenti saat pandangan mata mereka bertemu.
" Aku juga pernah mengalami hal itu Jenna, istriku lebih memilih karir nya ketimbang rumah tangga kami "
" Apa kamu mempunyai seorang anak Jenna ?" Lanjutnya.
Grep...
Tiba-tiba pria itu meraih kedua tangannya dan menciumi kedua punggung tangan Jenna secara bergantian.
" Aku turut prihatin mendengar nya " Ucapnya, lalu kembali melemparkan senyuman kearah Jenna.
Aiden mengeluarkan sesuatu dari balik kemejanya, dia menarik kalungnya lalu melepaskan pengait dan mengeluarkan liontin nya. Lebih tepatnya sebuah cincin yang dia jadikan sebagai pengganti liontin.
Tak segan pria itu menyematkan cincin tadi ke jari manis Jenna.
" Ini bukan cincin pertunangan Jenna, kamu jangan khawatir tentang itu " Seakan memahami arah pikiran gadis yang sudah terlihat begitu gugup didepannya.
" Cincin ini milik mendiang adik kembar ku, dia meninggal saat usianya masih remaja karena leukimia yang dideritanya " Aiden lalu mencium cincin yang sudah tersemat dijari manis Jenna. Pas pikirnya, seketika senyumannya mengembang.
" Aiden...Aku tidak tahu harus berkata apa, kejadian hari ini masih sangat mengejutkan ku..." Jenna mulai terisak.
" Maafkan aku, tapi aku belum mempunyai perasaan apapun terhadapmu...Aku masih bingung Aiden...Maafkan aku..." Seketika tangisnya terdengar.
__ADS_1
Aiden melepaskan tangannya dan berdiri dari duduknya, lagi-lagi Jenna mengira jika Aiden pada akhirnya akan mengurungkan niatnya dan meninggalkan nya saat ini juga. Tetapi perkiraan nya salah besar, Pria itu memeluk tubuh Jenna dari arah belakangnya.
" Aku akan menunggumu Jenna " Bisiknya. Lalu mengeratkan pelukannya.
Benarkah apa yang dia katakan? Ataukah ini hanya angan-angan ku saja? batin Jenna.
Aiden kembali ke kursinya.
" Dengar Jenna, aku akan pulang besok pagi tapi aku akan kembali dalam dua minggu untuk menemui mu kembali "
" Aku harap kamu akan tetap menunggu ku " Lanjutnya
" Oia... Bisakah kamu membuatkan cokelat yang banyak buatku? "
" Bisa....Aku bisa "
" Untuk mengobati rasa rinduku selama dua minggu itu " Aiden mencoba menggoda Jenna, gadis itu tak hentinya mengeluarkan air matanya.
Entah air mata kesedihan atau kebahagiaan Aiden tidak tahu, tetapi yang dia tahu dan dia yakini saat ini adalah dia telah menemukan apa yang dia cari. Seorang wanita yang bisa membuat jantung nya kembali berdegup kencang, yang bisa membuatnya sulit untuk memejamkan mata karena terus saja membayangi dirinya dan satu hal lagi wanita yang pandai membuat coklat yang sangat lezat untuknya.
Sementara disebuah cafe yang berseberangan dengan toko cokelat milik Jenna, seorang pria tengah memerhatikan adegan mesra antara wanita yang selama ini dicarinya dan seorang pria yang telah mengaku sebagai tunangannya tadi.
Hatinya terasa begitu bergejolak, dadanya terasa sesak bahkan iced coffee yang telah dia habiskan tidak sanggup menurunkan rasa panas yang masih begitu membara.
" Kau tidak boleh menjadi milik siapapun selain aku Jenna.." Gumamnya
Kembali ke toko coklat, saat ini para pelanggan sudah mulai berdatangan kembali. Ruby yang sedari tadi memerhatikan dua sejoli yang entah sedang apa, terpaksa harus menghentikan aktivitas nya dan kembali melayani para tamu.
" Hallo selamat siang tuan, mau cokelat yang mana?" Sapa Ruby ramah.
.
.
.
To be continued π
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah π
__ADS_1
Happy reading π€