
Setahun kemudian
Madeline sedang berada ditengah-tengah sebuah rapat penting ketika dirinya merasakan sakit yang hebat diperutnya, padahal menurut perhitungan dokter kandungan kehamilannya ini baru saja menginjak usia 8 bulan lebih 1 minggu.
Pieter yang saat itu tengah mendampingi Maddy, dengan sangat terpaksa menyerahkan kepemimpinan rapat kepada Kevin.
“Tahan sayang…” Ucap Pieter setelah dirinya meminta kepada sekretarisnya untuk menghubungi rumah sakit agar segera menyiapkan proses persalinan untuk Madeline.
Bak seorang pembalap handal Pieter mengendarai mobilnya, dia menyalip setiap kendaraan yang menghalangi laju mobilnya agar dirinya bisa lebih cepat lagi tiba di rumah sakit.
Dan ajaibnya, secara kebetulan mobil yang dikendarai Pieter berpapasan dengan mobil yang dikendarai oleh Philip saat keduanya tengah berhenti di lampu merah dekat dengan rumah sakit.
Pieter menurunkan kaca samping mobilnya begitu pula dengan Philip, keduanya dapat melihat jika istri-istri mereka tengah berjuang melawan rasa sakit di perutnya.
Jika Madeline terlihat lebih tenang menghadapi proses persalinannya, berbeda dengan Rubby yang terdengar meringis kesakitan sambil memanggil nama suaminya.
Kedua manusia es batu itu saling berpandangan dan menganggukkan kepala, lalu menginjakkan kakinya di atas pedal gas secara bersamaan ketika lampu lalu lintas kembali hijau.
Pieter dan Philip bahkan memarkirkan mobilnya saling berdampingan, sebuah pemandangan yang luar biasa menurut sang dokter kandungan yang telah bersiap menyambut kedatangan keduanya di pintu masuk unit gawat darurat.
Keduanya bahkan hampir bersamaan memerintah sang dokter kandungan untuk mengeluarkan bayi itu dari perut istrinya secepatnya, agar para istri mereka berhenti merasakan sakit di perutnya.
“Keluarkan bayi itu cepat!”
Aiden dan Jenna tiba setelah Maddy dan Rubby baru saja memasuki ruangan bersalin dengan didampingi Pieter dan Philip.
“Apa aku tidak salah lihat?” Ucap Aiden, saat dirinya melihat kedua pria dingin itu memasuki ruangan bersalin dari kejauhan.
“Sepertinya itu Pieter kan?” Lanjutnya.
“Iya sayang…Itu Pieter” Kekeh Jenna, akan ada sebuah peristiwa langka di abad ini pikirnya.
Jenna tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di ruangan bersalin itu, terlebih lagi sang dokter yang adalah sahabat dari Philip menempatkan kedua wanita itu didalam satu ruangan.
__ADS_1
Semasa kehamilan Rubby yaang kedua ini saja Philip terlihat lebih cepat panik dibandingkan kehamilan Rubby yang pertama yang sebenarnya juga cepat panik, bayangkan saja setiap kali istri kecilnya itu meringis karena sang bayi menendang pria dingin itu langsung membawanya ke rumah sakit!
Sama halnya dengan Philip, Pieter pun mengalami serangan panik setiap saat jika sang istri kedapatan meringis atau mengaduh karena sang jabang bayi menendang perutnya. Bedanya Pieter tidak langsung membawa Maddy ke rumah sakit, melainkan menelpon sang dokter atau siapapun yang diingatnya kala itu.
Pernah satu saat Pieter menghubungi Philip saking paniknya saat dia mendapati perut Maddy yang berubah bentuk karena kaki sang jabang bayi menendang ketika dirinya tengah mengelus perut buncit istrinya itu.
“Tuan Philip, apa perut istrimu berubah bentuknya??!” Tanya Pieter tanpa basa basi setelah pria dingin itu merespon panggilan darinya.
“Apa maksudmu?!” Philip mengerutkan keningnya, baru kali ini dia menerima pertanyaan aneh dari seseorang yang bahkan jarang sekali berbincang dengannya.
Aiden terpaksa mengambil alih ponsel sang kakak kala itu, dia bisa mendengar sang pemilik suara karena pada saat peristiwa unik itu terjadi kebetulan saja sang kakak tengah duduk disampingnya. Dia menjelaskan secara detil mengenai perubahan perut pada Madeline dan berharap agar Pieter tidak lagi terkejut kedepannya.
“Daddy…Perutku sakit…” Tak hentinya Rubby meringis, sesekali dia mengeratkan genggaman tangannya ketika rasa mulas itu lebih terasa.
Pieter sempat mengerutkan keningnya saat mendengar panggilan wanita itu kepada suaminya, tetapi pada saat dia akan melihat ke arah Philip Maddy melarangnya dengan isyarat gelengan kepalanya.
“Sabar baby, tidak lama lagi bayinya akan keluar…” Ucap Philip sambil mengelus kepala istri kecilnya.
Ini adalah peristiwa langka yang baru saja dilihat oleh Maddy dan Pieter, bukannya bersiap dengan proses persalinannya sendiri keduanya malah asik menyaksikan tingkah Philip yang menurut mereka seperti mahluk lain yang tengah berdiri didekat mereka. Hingga tiba-tiba saja Maddy merasakan sakit yang sangat hebat di perutnya, disertai dengan keinginannya untuk mengejan.
“Dokter! Buat bayinya keluar! Istriku kesakitan…!” Pekik Pieter sambil memegangi tangan Madeline.
Jika sang dokter menyaksikan Philip si manusia es batu yang tiba-tiba menjadi sangat lembut terhadap sang istri, lain hal nya dengan Pieter. Sang dokter menyaksikan pria yang sama dinginnya dengan sahabatnya itu berubah menjadi heboh, alias panik sendiri seperti saat ketika dirinya melihat Aiden saat mendampingi Jenna istrinya ketika melahirkan dulu.
“Hah! Ternyata mereka memang manusia betulan” Ucap sang dokter sambil memasang sarung tangan karetnya.
“Jaga mulutmu itu sialan!” Ucap Philip sambil menatap tajam sekilas, lalu kembali memandangi istri kecilnya dengan tatapan lembut dan memintanya untuk mengatur nafasnya.
“Tahan…Tahan…Saya akan memeriksa pembukaan istri-istri kalian terlebih dulu” Ucap sang dokter dengan tenangnya.
Kent yang merupakan sahabat kecil Philip memeriksa pembukaan pada Madeline terlebih dulu, dan sudah seperti yang dia duga sebelumnya ketika wanita itu meringis kesakitan sang suami akan meradang dan berubah menjadi macam betina yang mengamuk dengan ocehan-ocehan nya.
“Tahan sebentar nyonya, jangan mengejan dulu…masih satu lagi pembukaannya” Ucap kent tanpa memperdulikan ocehan Pieter.
__ADS_1
Kent lalu mengganti sarung tangan karetnya dengan yang baru dan memeriksa pembukaan pada Rubby, berbeda dengan Pieter yang mengoceh Kent dapat merasakan perubahan pada suhu udara disekitarnya ketika Rubby memanggil nama Philip sambil menahan sakit diperutnya.
“Astaga! Kutub utara pindah kemari” Ucap Kent, tanpa memperdulikan tatapan tajam manusia es batu yang berdiri di samping istri kecilnya.
“Oke nyonya Philip, sudah waktunya…Ikuti arahan saya” Lanjut Kent, lalu menuntun Rubby agar mengejan dengan posisi yang baik bagi seorang ibu sedang melahirkan bayinya.
“Selamat nyonya dan tuan, bayi kalian berjenis kelamin laki-laki…Sehat dan tampan” Ucap Kent, lalu menyerahkan bayi tersebut kepada suster.
Philip memeluk dan menciumi istri kecilnya dengan air mata haru dikelopak matanya " Terimakasih sayang...I love you..."
Tak lama setelah Rubby melahirkan bayinya, kini giliran Madeline yang sudah waktunya menjalani proses yang sama dengan Rubby. Kent kembali mengarahkan Maddy untuk mengejan dengan posisi yang sama seperti Rubby tadi.
“AAhhhh….” Pekik Maddy, bersamaan dengan itu lahirlah anak laki-laki pertama mereka.
“Selamat nyonya dan tuan Pieter, bayi kalian berjenis kelamin laki-laki…Sehat dan tampan” Ucap Kent, lalu menyerahkan bayi tersebut kepada suster yang lainnya.
Ada hal yang aneh terjadi disaat Kent menyerahkan bayi milik Maddy kepada suster, Pieter terlihat berdiri mematung dengan wajah yang begitu tegang.
“Tuan Pieter, apakah anda baik-baik saja?” Kent menjentikkan jarinya di depan wajah macan betina yang telah kembali ke asalnya itu.
“Dokter, kenapa bisa bayi sebesar itu keluar dari….” Ucapannya terhenti, keringat dingin bercucuran di wajah tampannya.
BRUG!
“Astaga!”
.
.
.
To be continue
__ADS_1
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah
Happy reading