
Kedatangan Robert yang pada awalnya hanya dianggap isapan jempol oleh Aiden, berubah menjadi perhatian besar baginya. Terlebih saat
setelah menerima laporan lengkap dari Gerry mengenai siapa Robert yang sebenarnya. Pria eksentrik itu ternyata benar-benar pernah mendatangi panti asuhan San Juan dulu, dan benar apa yang telah dikatakan Robert tiga hari yang lalu bahwa dirinya pernah menyerahkan seorang bayi laki-laki kepada panti asuhan tersebut.
Tetapi yang membuat Aiden sedikit berlega hati adalah kabar bahwa pria itu belum tentu ayah kandung dari kakak angkatnya Philip, karena Aiden sendiri tidak rela jika sampai Robert yang bersikap sedikit aneh itu adalah benar-benar ayah biologis Philip.
“Apa aku harus melakukan tes DNA?” Batin Aiden.
Aiden kembali memerintahkan Gerry untuk mencari tahu Robert lebih dalam lagi, dia merasa ada sedikit kejanggalan dengan situasi sekarang. Kenapa setelah sekian lama orang yang mengaku ayah kandung kakaknya itu baru mencarinya? Apa maksud dibalik tindakan Robert ini? Pikir Aiden.
“ Apa yang dilakukan oleh Gerry disini?” Tanya Philip saat dirinya memasuki ruangan kerja Aiden.
“Dia menyerahkan ini tadi” Jawab Aiden, sambal menyerahkan sebuah map putih kepadanya.
Philip membuka map putih tersebut dan mengeluarkan isinya, seketika amarahnya kembali muncul.
“Apa kamu gila Aiden! Kenapa kamu melakukan hal ini tanpa seijinku?!” Kesal Philip, sambil melemparkan kertas itu disembarang arah.
“Tenangkan dirimu Phil…” Ucap Aiden, lalu beranjak dari kursinya.
“Bagaimana aku bisa tenang Aiden saat kamu sengaja melakukan ini dibelakang ku!”
“Aku hanya ingin tahu apa niat Robert sebenarnya, lihat ini…Dia bahkan mengirimkan ini ke kantor tadi pagi” Ucap Aiden, kembali menyerahkan sebuah amplop. Kali ini amplop tersebut dikirim oleh pengadilan.
“Suka atau tidak kita harus mulai mencari tahu tentang masa lalumu kak” Lanjutnya.
Philip semakin geram, pasalnya dia sendiri tidak pernah mau tahu tentang masa lalunya. Baginya masa lalu dan masa depannya adalah keluarga Teuscherro bukan yang lain.
Tetapi pria dingin ini merasa Aiden benar dan jika dia tidak mulai mencari tahu tentang masa lalunya, maka kasus ini akan terus berlanjut dan itu hal pertama dan yang terakhir yang tidak dia inginkan. Apalagi saat ini dirinya tengah berbahagia dengan istri kecilnya Rubby.
__ADS_1
“Baiklah Aiden…Lalu apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang?” Tanya Philip malas. Dia pun menjatuhkan dirinya diatas sofa.
“Kita tes DNA Philip, aku sudah menyuruh Gerry untuk mengambil sampel rambut pria tua itu” Jawab Aiden, lalu kembali menduduki kursi singgasananya.
“Hanya bukti yang kuat yang kita perlukan untuk mengakhiri omong kosong ini” Lanjut Aiden.
Philip menghela nafasnya berat. Sekali lagi apa yang dikatakan oleh Aiden benar adanya, percuma dia mempertahankan keyakinannya di pengadilan nanti jika tidak ada bukti kuat yang mendukungnya.
Sementara kedua kakak adik ini tengah berdebat, di mansion Jenna dan Rubby tengah asik menceritakan pengalaman mereka masing-masing saat berbulan madu.
Jenna sangat bahagia mendengarkan penuturan Rubby tentang bagaimana Philip memperlakukannya dengan sangat istimewa, bahkan saking bahagianya wanita hamil itu sampai menitikkan air matanya.
“Loh, kok nona malah menangis?” Tanya Rubby, gadis itu sedikit panik melihat nona mudanya tiba-tiba terisak.
“Aku terharu mendengar ceritamu Rubby “ Isak Jenna.
“Aku sangat bahagia untukmu” Lanjutnya, sambal mengeluarkan cairan dari dalam hidungnya dengan menggunakan tissue.
Melihat keharuan yang terjadi, membuat jiwa kepo Wayan meronta-ronta. Pria centil yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka dari balik pintu ruang makan itu langsung keluar dari tempat persembunyiannya.
“Awwwhhh…So sweet…” Ucap Wayan, dia seperti muncul dari alam lain menurut Rubby dan Jenna.
“Kau mengejutkan kami Wayan…” Isak Jenna, sambal mengusap air matanya dengan tissue.
“Hei…Aku bukan hantu kalian tahu” Ujar Wayah sambil memperagakan gerakan tarian ala sosmed yang sedang booming saat ini.
“Kamu memang bukan hantu kak, tapi mahluk astral” Rubby tergelak, diikuti oleh gelak tawa Jenna.
Saking asiknya ketiganya bercanda, sampai-sampai mereka tidak menyadari kehadiran para suami yang sedari tadi menatap masing-masing istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
“Kenapa tiba-tiba udara jadi dingin begini yah” Ucap Wayan sambal mengusap tengkuk lehernya.
“Ekhem!” Philip berdeham, pria dingin ini sudah menahan rasa cemburunya sejak tadi.
“ Owh…Hai tuan-tuan selamat sore menjelang malam “Sapa Wayan dengan gaya menyambut ala kerajaan.
“Hallo daddy…” Cicit Rubby, saat dirinya menyadari kecemburuan suami besarnya itu. Sementara Aiden langsung menghampiri Jenna dan mencium kening istri cantiknya, lalu duduk disampingnya seraya mengelus perut yang sudah terlihat sedikit membuncit.
Tanpa membalas sapaan istri kecilnya, Philip berjalan menghampiri gadis itu lalu mengangkat tubuhnya dan menaruhnya di bahu kekarnya.
“ Owh mata suciku” Ucap Wayan sambil mengipas matanya dengan kedua tangannya dan berjalan menuju dapur, wilayah kekuasaannya.
“Apa yang sudah aku bilang tentang larangan bicara dengan laki-laki” Ucap Philip, lalu menurunkan Rubby diatas ranjang.
“Daddy…Itu Wayan, bukan orang lain…Lagipula dia tidak termasuk dalam kategori pria dad” Kekeh Rubby, sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Rubby merasa tak habis pikir dengan suaminya ini, apa yang bisa dicemburui dari seorang Wayan pikirnya. Sepertinya pria gemulai itu bahkan tidak tertarik dengan mahluk berjenis perempuan kan?
“Kamu berani membantahku?!” Tanya Philip, Berusaha untuk tetap kesal dan marah kepada Rubby tetapi tidak bisa, apalagi mengingat siapa Wayan. Seketika diapun tertawa.
“Tetapi kamu tetap kena hukuman baby, karena telah membuat aku cemburu tadi” Ucap Philip, lalu menyambar bibir manis yang sudah dirindukannya seharian ini.
.
.
.
To be continued
__ADS_1
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah 😊
Happy reading 🤗🤗🤗