Karma Is A Bich

Karma Is A Bich
Hampir Gagal


__ADS_3

" Lepaskan dia Sherif!" Pinta Aiden saat dirinya memasuki ruangan itu bersama dengan Philip.


Seperti sudah paham dengan arti dari gerakan mata Aiden, Philip langsung berbicara dengan Sherif dan meminta agar pria itu segera melepaskan tangan Jenna.


" Maafkan atas keterlambatan ku sayang..." Aiden menarik tubuh Jenna kedalam pelukannya, sekilas pria itu bisa melihat aura kecemburuan dari pria yang dari tadi menatap Jenna melalui sudut matanya.


" Kenapa kamu membela dia Aiden?!" Teriak Lolita.


" Wanita ini dan teman-temannya telah memasuki gedung ini tanpa ijin! Sungguh sangat memalukan " Lolita mendecih.


" Dia tidak memerlukan ijin untuk memasuki gedung miliknya sendiri Lolita! Jadi hentikan omong kosong mu itu! "


" A...pa?!" Ucap Jenna dan Lolita hampir bersamaan.


" Dan sepertinya kalianlah yang telah memasuki gedung ini tanpa ijin " Aiden menatap tajam dua orang yang masih berdiri tak jauh dari sana.


" Kami memohon maaf atas kesalahpahaman ini tuan Aiden " Sherif mendekati Aiden dan Jenna.


" Anda bisa melaporkan keluhan atau bahkan menurut balik nona Lolita dikantor " Lanjutnya.


" Kamu jangan sembarangan Sherif!" Ujar Lolita


" Asisten saya yang akan mengurusnya Sherif, untuk sementara ini saya minta anda untuk segera mengusir dua orang ini dari sini" Pinta Aiden.


" Sebaiknya anda berdua ikut saya " Titah sang Sherif kepada Lolita dan pria yang berdiri disampingnya. Mau tidak mau mereka menuruti perintah Sherif, meski mulut Lolita tak hentinya berbicara untuk meyakinkan sang Sherif bahwa apa yang telah dia lakukan itu benar. Sementara pria tadi memutuskan untuk tetap bungkam dan sesekali melirik Aiden dan Jenna dengan sudut matanya.


Bersamaan dengan itu, Aiden meminta Philip untuk memerintahkan kepada Paloma dan teman-temannya yang lain untuk meninggalkan gedung melalui anggukan kepalanya.


" Aiden...Apa yang kamu katakan tadi?" Tanya Jenna dengan tatapan penuh selidik.


" Aku mengatakan yang sebenarnya Jenna, aku memang telah membeli gedung ini dan merenovasi nya " Aiden menghela nafasnya sejenak.


Trak...Trak....Trak!


Tiba-tiba lampu didalam ruangan itu padam, sontak hal ini membuat Jenna panik dan memeluk tubuh Aiden dengan erat. Awalnya pria itu senang dengan reaksi Jenna, tetapi lama kelamaan dia merasa ada sesuatu yang salah dengan aksi wanitanya ini.


Aiden merasakan getaran ditubuh Jenna, dan wanita itu benar-benar membenamkan wajahnya didada bidang miliknya.

__ADS_1


" Jenna... Sayang kamu gak apa-apa kan?" Aiden berusaha untuk tetap tenang dan mulai menggerakkan tangannya naik turun dipunggung Jenna.


" A....Aku takut gelap Aiden " Ucapnya lirih.


" Pantas saja dia tidur dengan lampu menyala dikamarnya " Batin Aiden.


" Tenang sayang, aku disini...Atur nafas mu oke "


Tak lama berselang Paloma dan Philip memasuki ruangan bersama dengan teman-temannya yang lain dengan membawa sebuah cake berhiaskan lilin-lilin yang menyala, mereka berdiri mengelilingi Aiden dan Jenna.


Aiden mengurai pelukannya, lalu mencium kening wanita yang masih dalam keadaan takut itu. Bola mata Jenna membulat sempurna saat dirinya melihat Ruby menyodorkan cake berhiaskan lilin-lilin kecil itu kehadapan Jenna.


" Happy birthday sayang " Ucap Aiden lalu mencium bibir wanita itu.


" Make a wish nona dan tiup lilinnya " Pinta Ruby dengan senyuman manisnya sesaat setelah Aiden melepaskan tautan bibirnya.


Jenna pun menutup matanya, lalu meniup lilin-lilin kecil itu setelah dia membuka matanya kembali. Hal itu disambut gembira oleh teman-temannya yang lain apalagi Aiden, pria itu terlihat begitu bahagia. Mereka pun mengungkapkan selamat dan memeluk Jenna secara bergantian lalu menikmati kue ulang tahun itu bersama, sudah bisa ditebak siapa yang menghidupkan suasana pesta kecil itu bukan?


Air mata haru Jenna mengalir dari kedua sudut matanya, sejak meninggalkannya orang tua Jenna dulu dia hampir tidak pernah lagi merayakan ulang tahunnya. Bahkan ketika dirinya hidup bersama dengan Kevin dulu, Jenna harus mengingatkan pria itu terlebih dulu tanggal dan hari ulangtahunnya.


Flashback on


" Apa anda sudah siap tuan? Mereka sudah selesai menutup toko " Kembali Philip mengingatkan majikannya itu, Aiden terlihat masih bingung memilih pakaiannya.


" Sebentar lagi Philip.." Ujarnya sambil melihat dirinya melalui pantulan cermin.


" Apa aku sudah terlihat tampan dengan baju ini Phil?"


" Anda terlihat tampan mengenakan pakaian model apapun tuan " Philip menggelengkan kepalanya.


" Huh... Baiklah, kita pergi sekarang " Aiden meraih kotak kecil berwarna merah dari dalam laci lemari pakaiannya, lalu memasukkan nya kedalam jas kasualnya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar mewahnya.


Baru saja mereka tiba didepan pintu keluar villa tersebut, tiba-tiba saja ponsel milik Philip berdering.


" Jangan sekarang Phil, aku tidak mau terlambat " Aiden menggelengkan kepalanya


" Tapi ini dari tuan Seymour tuan, dia adalah klien yang terakhir kali kita temui dikota sebelah " Dengan sangat terpaksa Philip merespon panggilan telepon darinya.

__ADS_1


" Baik tuan, mohon menunggu sebentar..." Philip menyerahkan benda pipih itu kepada Aiden dan menganggukkan kepalanya.


Sepuluh menit Aiden harus berbincang dengan Seymour Duncan, pria itu memutuskan untuk membeli saham Teuscherro dengan jumlah yang sangat banyak! Dia juga berjanji akan menemui kembali Aiden untuk membahas kerjasama selanjutnya.


" Kita berangkat sekarang Phil, dan cepat!" Pintanya sambil melemparkan ponsel miliknya kearah Philip dengan senyuman yang mengembang dibibir nya.


Tentu saja sang asisten pribadi menyetujui perintah majikannya dengan senang hati, dia pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar lebih cepat sampai ditujuan. Seketika senyuman mereka hilang sesaat setelah mereka melihat ada mobil Sherif terparkir didepan gedung milik Aiden yang baru saja selesai direnovasi, apa yang sedang terjadi pikir mereka.


Aiden geram setelah melihat apa yang terjadi kepada Jenna nya saat dia memasuki ruangan itu, terlebih saat netranya melihat dua sosok manusia yang tidak disukainya.


Flashback off


" Jenna...maukah kamu menjadi tunangan ku? Pria itu berlutut dihadapan Jenna sambil membuka sebuah kotak kecil yang telah dia ambil dari dalam saku jasnya, didalamnya terdapat dua buah cincin bertahtakan berlian dengan model yang dibuat mirip serta ukuran yang berbeda.


" Aku tahu, kamu belum siap untuk menjadi istri ku...Tapi aku tidak sanggup jika berlama-lama berada jauh darimu tanpa adanya kejelasan atas hubungan kita..." Aiden menatap Jenna dengan penuh harap.


" Dan aku tidak rela jika ada laki-laki lain mendekati mu " Lanjutnya.


" Terima....Terima....Terima..." Seru Ruby dan teman-temannya sambil bertepuk tangan, mereka turut merasa bahagia melihat adegan yang tengah terjadi dihadapan mereka.


Jenna tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Aiden, wanita itu menutup mulutnya dengan sebelah tangannya lalu menyerahkan tangan satunya kehadapan Aiden. Tanpa pikir panjang Aiden berdiri dan menyematkan salah satu cincin tersebut ke jari manis milik Jenna, lalu Jenna pun melakukan hal yang sama menyematkan cincin yang tersisa ke jari manis milik Aiden.


" Terima sayang..." Aiden menautkan bibirnya dan mencium bibir pink wanita itu begitu dalam dan mesra, setelah itu memeluk nya.


.


.


.


To be continued πŸ˜‰


Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘


Terimakasih atas Vote nya, terimakasih atas dukungan luar biasa nya di novel ini.


Happy reading πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2