
Kegiatan rutin sekolah X setiap awal tahun adalah mengadakan berbagai ragam perlombaan antar kelas, mulai dari perlombaan dalam bidang wirausaha, science, hingga ke pertandingan olahraga.
Ini adalah kali pertama untuk Noah dan Ariel mengikuti kegiatan tersebut, dan secara kebetulan mereka terpilih sebagai perwakilan dari kelas mereka masing-masing.
Noah terpilih untuk mewakili kelasnya dalam ajang pertandingan di bidang kewirausahaan bersama dengan empat orang temannya, mereka tergabung dalam satu kelompok dan bertugas untuk membuat sebuah produk dan menjualnya sebanyak mungkin.
Ariel terpilih untuk mewakili kelasnya di pertandingan lari cepat, hal ini dikarenakan prestasi Ariel yang menonjol di bidang olahraga, khususnya berlari.
Sementara Ariel berlatih secara rutin bersama dengan guru olahraga dan pelatih pribadinya yakni mommy Rubby, Noah dan teman-temannya sedang serius belajar bagaimana mengolah cokelat dan membentuknya dengan berbagai karakter unik lalu membungkusnya hingga makanan favoritnya itu laris terjual.
Pihak sekolah memberi waktu satu bulan bagi mereka untuk berjualan, itupun hanya pada hari-hari tertentu, hingga pada akhirnya nanti sekolah akan menilai kelompok mana yang bisa membuat produk unik yang digemari juga paling laku dijual.
“Noah..Bagaimana menurutmu? Apa bentuk yang aku buat ini bagus?” Tanya Nikita, gadis cantik berambut pirang panjang ini memperlihatkan hasil karya terbaiknya kepada bocah tampan yang diam-diam disukainya itu.
“Bagus..”Noah menjawab tanpa melihat lawan bicaranya, dia begitu fokus menaruh hiasan-hiasan unik untuk mempercantik cokelat buatannya.
“Apa yang sedang kamu buat itu Noah?” Salah satu teman Noah bernama Ruben melihat cokelat berbentuk unik buatan temannya ini.
“Kelinci, bagaimana menurutmu?” Noah memperlihatkan hasil karyanya kepada Ruben, berbeda dengan sikapnya yang terkesan cuek ketika berbicara dengan Nikita, sikap Noah lebih hangat kepada teman-teman prianya.
“Waaah, Noah pintar…”Puji Nikita, gadis itu bahkan bersemu saat pandangan mereka bertemu. Sedangkan Noah hanya tersenyum tipis.
Melihat interaksi Noah dan teman-temannya, Jenna senyum sendiri. Dia merasa seperti sedang melihat Aiden versi kecil di sana, ayah dari Noah itu juga terkesan cuek ketika sedang berbicara dengan yang namanya wanita selain dirinya dan Rubby juga Paloma.
Hari itu tim Noah berhasil membuat lima puluh keping coklat dengan berbagai karakter lucu untuk mereka jual keesokan harinya, tentunya dengan batuan dari Jenna dan Wayan.
Keesokan paginya mereka sudah bersiap untuk berjualan disekitar sekolah, stan jualan yang disediakan pihak sekolah untuk mereka berjualan tersebar di berbagai sudut. Dan secara kebetulan stan milik tim Noah berada dihalaman depan sekolah, hingga memudahkan mereka untuk menjual produk jualannya tidak hanya kepada teman-temannya saja.
__ADS_1
“Hei lihat anak-anak culun itu!” Billy dan geng nya berjalan mendekati stan jualan tim Noah, lalu menendang kaki meja tersebut hingga cokelat-cokelat yang baru saja selesai mereka pajang terjatuh.
“Hentikan Billy! Jangan ganggu kami atau kami akan melaporkan kamu kepada satpam!” Noah mengambil cokelat-cokelat yang berserakan di lantai, untung saja produk buatannya itu terbungkus plastik dan dus kecil, jika tidak maka semua produk buatannya itu akan terbuang percuma.
“UUhhhh…Takkuuuttt..” Ejek Billy, lalu tertawa bersama dengan teman-temannya.Sementara Noah beserta tim nya tidak memperdulikan ejekan Billy dan melanjutkan kembali aktivitas mereka.
“Aku ingin mencoba cokelat buatan mu ini, kalau rasanya enak aku akan membelinya tetapi kalau tidak katakan selamat tinggal pada cokelat-cokelat mu ini” Billy langsung mengambil beberapa bungkus cokelat tanpa permisi, diapun langsung membuka kemasannya dan memakannya.
“Hei kamu harus membayar dulu baru bisa memakannya!” Kali ini Noah benar-benar sebal dengan kelakuan Billy.
“Ini tidak enak!”Ucap Billy lalu memuntahkan kembali cokelat yang telah dia makan, serta melemparkan bungkusnya ke wajah Noah.
Sontak teman-teman Noah tidak bisa menerima kelakuan bocah tang terkenal sebagai biang rusuh di sekolahnya ini, mereka meneriaki Billy dan teman-temannya serta mengusirnya.
“Pergi kamu dasar tukang bikin onar!” Hardik Ruben, bocah itu bahkan mengacungkan kotak untuk memajang cokelat untuk menakut-nakuti Billy dan gengnya.
“Sini kalau kamu berani! Dasar ranting pohon!”Balas Billy, memasang badannya untuk menunjukan bahwa dirinya tidak takut.
Tetapi bukannya berhenti, Billy malah menendang kaki Ariel hingga gadis kecil itu ambruk.
“Aaaahhhh!!! Kakiku!” Pekik Ariel sambil memegangi kakinya dan langsung menangis, tendangan Billy tepat mendarat di tulang keringnya.
“Ya Tuhan Ariel!” Noah terkejut melihat kaki Ariel yang langsung membengkak, sementara Billy dan teman-temannya langsung melarikan diri.
Dua teman Noah yang meminta bantuan baru saja tiba bersama dengan miss Jenkins dan dua orang satpam setelah Billy dan teman-temannya berhasil kabur, tetapi dua orang satpam tadi langsung mengejar mereka sementara miss Jenkins langsung melarikan Ariel ke rumah sakit.
“Apa yang terjadi dengan anak saya miss Jenkins?!” Tanya Rubby, dia datang secepat mungkin setelah mendapat telepon dari pihak sekolah yang mengabarkan bahwa Ariel saat ini sedang berada di rumah sakit.
__ADS_1
“Maaf nyonya, saya…”
“Billy menendang kaki Ariel mommy Rubby” Isak Noah, bocah itu terpaksa memotong pembicaraan gurunya saat mengetahui kedatangan Rubby dan berhamburan kedalam pelukannya.
“Benarkan itu?! Lalu bagaimana keadaan anak saya sekarang?!”
Miss Jenkins baru saja akan menjawab pertanyaan Rubby saat seorang dokter menghampirinya dan mengabarkan bahwa ada keretakan kecil di tulang kering Ariel, dan untuk sementara gadis kecil itu diharuskan untuk beristirahat total.
“Maafkan atas ketidak nyamanan ini nyonya Rubby, kami sangat menyesalkan kejadian ini dan saya akan pastikan bahwa pihak sekolah akan membantu untuk menyelesaikan masalah ini” Ucap miss Jenkins sebelum dirinya kembali ke sekolah.
“Mom…Bagaimana dengan pertandingan lari cepat ku?”Ariel terisak sambil memandangi kakinya yang terbalut gips.
“Masih ada tahun depan kan sayang?” Rubby memeluk anak gadis kesayangannya begitu juga dengan Noah.
Saat ini yang membuatnya risau bukan hanya keadaan Ariel, tetapi bagaimana reaksi suami besarnya saat pria itu mengetahui apa yang menimpa putri kesayangannya tersebut.
Dan benar saja apa yang dikhawatirkan oleh Rubby, Philip hampir saja mengamuk saat melihat keadaan Ariel setibanya dia di ruang rawat inap anak gadisnya. Jika saja Aiden tidak menatapnya tajam dan mengingatkan dirinya akan kehadiran anak-anak mereka di sana.
“Bukan disini tempatnya kak…”Aiden menatapnya tajam sambil menggelengkan kepalanya.
.
.
.
To be continue
__ADS_1
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah..
Happy reading