
Tiga puluh menit kemudian Brian memarkirkan mobilnya di pelataran parkir VIP hotel termewah dikota itu, dan dengan sangat terpaksa memberikan kunci mobil tersebut kepada Gerry pengawal pribadi bos besarnya.
" Sampai jumpa besok di rumah sakit kak " Ujar Brian sesaat sebelum dirinya meninggalkan pasangan itu di lobby hotel.
" Kau sangat beruntung kak Jenna, dan maafkan kakakku yang sangat bodoh itu " Batin Brian.
Brian tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan saat dia hendak memasuki taksi yang telah dia pesan secara online, pikirannya tetap berada disaat dirinya mengemudikan mobil yang membawa bos besar dan mantan kakak iparnya itu menuju hotel. Ternyata bos besar yang selama ini dia ketahui dari atasannya sebagai seorang yang tegas dan dingin itu terlihat manja ketika berada dekat dengan Jenna.
Flashback on
" Gak boleh liat kesana sayang..." Aiden menarik wajah Jenna pelan agar tidak menoleh kedepan.
" Aku sedang berbicara dengan Brian Aiden "
" Liat kesini aja, Brian bisa mendengar suaramu tanpa harus melihat kedepan "
" Aiden..." Jenna menatapnya tajam.
" Oke...Oke kamu boleh melihat Brian, tapi jangan lama-lama, nanti aku cemburu "
Aiden memang mengijinkan Jenna pada akhirnya, tetapi posisi duduk Jenna otomatis berubah. Aiden meminta Jenna untuk duduk dipangkuan nya, dan dengan terpaksa Jenna mengikuti keinginannya daripada pria itu merajuk didepan Brian dan Gerry itu akan lebih memalukan lagi pikirnya.
Flashback off
Satu kalimat yang masih terngiang ditelinga Brian saat Gerry berbisik kepada nya, dan itu membuat semua bulu-bulu halus disekujur tubuhnya berdiri.
" Lupakan apa yang anda lihat atau dengar jika anda ingin selamat tuan Brian "
" Semoga besok akan baik-baik saja " Batin Brian.
Besok Kevin pasti masih menunggui sang mama dirumah sakit, dan sudah pasti pula mereka akan bertemu dengan kakak bodohnya itu. Entah apa yang akan terjadi kepada sang kakak, terlebih Brian ingat alasan sebenarnya kenapa kakaknya itu tiba-tiba mendapatkan surat mutasi ke luar negeri dari perusahaannya.
" Kharma is a bich " Gumamnya.
Sebuah pelajaran yang bisa Brian dapat dari peristiwa yang dialami oleh kakaknya Kevin, jangan pernah menyia-nyiakan orang yang telah berjuang denganmu dalam suka maupun duka apapun alasannya.
Keesokan harinya.
Setelah sarapan pagi yang penuh dengan drama, entah mengapa Aiden begitu manja sejak semalam mereka tiba dinegara itu, akhirnya merekapun berangkat untuk menjenguk Amanda di rumah sakit.
Sejak semalam Aiden lebih manja dari biasanya dan menuntut banyak hal dari Jenna, bahkan pagi ini pria tinggi besar itu baru mau mandi jika Jenna memandikannya. Tentu saja itu hanya alasan Aiden agar si king cobra nya itu bisa terus mengunjungi sarangnya dan memuntahkan bisanya disana.
Tiba di rumah sakit, Brian menyambut kedatangan mereka disana dan menuntun keduanya menuju ruangan ICU dimana sang mama dirawat. Air mata Jenna tumpah seketika setelah melihat kondisi Amanda yang tergeletak lemah disana dengan banyak alat ditubuhnya. Berbeda dengan Aiden yang langsung mengeratkan rahangnya saat dirinya melihat keberadaan Kevin diruangan itu, Aiden belum bisa memaafkan kelakuan Kevin yang mengakibatkan luka menganga di pelipis Jenna terakhir kalinya mereka bertemu.
Menyadari ketegangan yang terjadi, Brian berinisiatif untuk menyuruh sang kakak pergi dengan dalih menyuruhnya membeli sarapan.
" Aku belum lapar Bri.." Menatap Jenna
__ADS_1
" Dari semalam kakak belum makan, sana pergi mumpung aku disini " Menghalangi pandangan Kevin.
.
.
" Mama..." Jenna menghampiri Amanda dan meraih tangan tua wanita itu lalu menciumi nya.
" Maafkan aku..." Lanjutnya, lalu kembali menangis. Jenna menyandarkan kepalanya diperut sixpack Aiden, pria itu tetap berdiri disamping Jenna yang tengah terduduk di kursi samping ranjang Amanda.
" Jangan menangis sayang, kasian Amanda " Aiden mengelus rambut wanita itu.
" Jenna..." Ucap Amanda lirih, wanita itu membuka matanya secara perlahan.
" Mama..Aku datang" Jenna memaksakan senyumannya, menggenggam erat tangan Amanda dan menciumnya kembali.
" Maafkan mama sayang....Maafkan kami " Ucapnya terbata.
" Aku sudah memaafkan mama dan papa sejak dulu ma... Bahkan Kevin...Mama jangan khawatir lagi yah "
" Bella...Bella pergi sayang, kami tidak tahu kemana dia pergi membawa Mulan "
" Mama...Jenna yakin mereka akan kembali ma...mama harus sembuh untuk menyambut kedatangan mereka "
Seketika timbul perasaan haru di hati Aiden melihat bagaimana Jenna menguatkan mantan mertuanya itu, tidak ada rasa benci di hati wanita yang begitu ia cintai ini. Jenna memiliki perasaan yang tulus.
" Siapa dia Jen?" Sekilas Aiden melihat senyuman diwajah Amanda.
" Aku Aiden, suami Jenna " Aiden membalas senyuman wanita itu.
" Senang bertemu denganmu Amanda " Lanjutnya.
" Sebaiknya kami pergi agar kamu bisa beristirahat, dan aku janji akan membantumu menemukan menantu dan cucumu Amanda "
Jenna mendongakkan kepalanya, senyuman pahit tergambar diwajahnya saat Aiden menatap wajah cantiknya.
" Its oke sayang, ini untuk Amanda " Seakan mengerti jalan pikiran kekasihnya itu.
Jenna dan Aiden keluar dari ruangan setelah meyakinkan Amanda untuk beristirahat agar lekas sembuh, mereka kembali berpapasan dengan Kevin saat akan meninggalkan tempat itu.
" Jenna... Maafkan aku " Kevin tiba-tiba meraih tangan Jenna, hal itu membuat Brian sangat terkejut dan menarik tangan sang kakak dari tangan Jenna sebelum bos besar nya murka.
" Setidaknya adikmu lebih waras darimu Kevin " Aiden menahan amarahnya.
" Jangan pernah berani menyentuh Jennaku! " Lanjutnya.
Gerry yang juga terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba itu, dia mengutuk dirinya sendiri didalam hatinya.
__ADS_1
" Bodoh Gerry! Kenapa kamu gak bisa mencegah lelaki itu menyentuh nona muda! Bisa mampus kamu ditangan Philip " Batin Gerry.
" Aku hanya ingin meminta maaf kepada nya, Apa itu salah?!"
Gerry mencoba untuk menghalangi Kevin yang terus berusaha untuk mendekati tuan dan nona mudanya.
" Hentikan Kevin! Aku sudah memaafkan mu oke "
" Kita pergi Aiden " Pintanya kepada pria yang sudah terlihat seperti akan menghajar habis mantan suaminya itu.
" Kau gila kak! Sudah untung mereka tidak menghabisi mu! Kelakuan mu itu sungguh sangat bodoh!"
BUGH!
Satu pukulan telak dilayangkan ke perut Brian oleh Kevin.
" Jaga mulutmu Brian! Aku ini kakakmu!"
" Kau memang kakakku Kevin! Dan aku sedang mencoba untuk membantumu agar tidak berbuat hal yang lebih bodoh lagi!"
" Kau harus ingat kak, tuan Aiden tidak pernah merebut kak Jenna dari kakak! Kamu lah yang sudah membuangnya !" Brian memutuskan untuk pergi meninggalkan kakak nya seorang diri disana agar dia menyesali perbuatannya.
" Kamu tidak apa-apa Aiden?" Melihat wajah Aiden yang masih terlihat tegang.
" Aku tidak apa-apa sayang " Menghela nafasnya kasar.
" Aku hanya tidak suka jika ada pria manapun yang menyentuhmu terlebih lagi dia " Lanjutnya.
" Maafkan aku, semua ini karena aku...Andai saja aku tidak memaksamu untuk pergi menjenguk Amanda...Semua ini..."
" Tidak sayang..." Menarik Jenna kedalam pelukannya.
" Ini bukan salahmu, ini juga kemauanku...Jangan pernah lagi menyalahkan diri mu sendiri oke " Mencium puncak kepala Jenna, lalu membiarkan Jenna memasuki mobil sebelum dirinya.
" Hhhh.... Syukurlah mereka baik-baik saja " Batin Brian. Pria itu melihat adegan pelukan mesra antara bos besar dan mantan kakak ipar nya dari kejauhan.
.
.
.
To be continued π
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah π
Happy reading π€
__ADS_1
See you all tomorrow ππ€