Karma Is A Bich

Karma Is A Bich
Perkelahian


__ADS_3

PRANG!


Benda yang dilemparkan oleh Lolita kearah Jenna mendarat tepat di lemari kaca dibelakang wanita itu, hingga menyebabkan kaca lemari besar itu pecah seketika. Untungnya para penjaga mansion datang tepat waktu, mereka berhasil melindungi tubuh keduanya dengan tubuh mereka sendiri. Sayangnya beberapa serpihan pecahan kaca itu mengenai bagian tangan dan kaki Noni dan Jenna.


Kesal dengan ulah wanita yang selalu saja mengganggu ketenangannya, Jenna menghampiri wanita itu dan menamparnya sekuat tenaga.


" Apa kamu tidak malu dengan statusmu sebagai wanita kaya dan terhormat nona Lolita?!!"


" Kelakuan mu itu sungguh sangat memalukan!" Lanjut Jenna, tanpa memperdulikan rasa sakit di tangan dan kakinya.


" Kau! Berani-beraninya kau menamparku!" Teriak Lolita.


" Kau tak lebih dari seorang janda gatal perebut pacar orang!" Hina Lolita, wanita itu berusaha untuk membalas tamparan Jenna beruntung sebuah tangan kekar menahannya.


" Jaga mulutmu nona!" Bentak Philip.


" Jenna! Kaki dan tanganmu?!!" Aiden mendekati Jenna.


" Apa kamu bilang??!" Tanpa sadar Jenna mendorong tubuh Aiden dan menyerang Lolita. Jenna menjambak rambut wanita itu dan mencakar wajah mulusnya serta menamparnya.


" Mulutmu itu memang harus diberi pelajaran!" Pekik Jenna sambil terus menarik rambut Lolita. Lolita pun berhasil menjambak rambut Jenna hingga terjadilah perkelahian antara dua wanita itu, mereka saling menjambak, mencakar dan berteriak sambil memaki.


Aiden mencoba untuk melerai perkelahian itu dengan menarik tangan Lolita dari rambut Istrinya, sedangkan Philip langsung menarik tubuh Lolita hingga wanita itu berteriak kesakitan karena tangan Jenna masih menggenggam rambutnya hingga pada akhirnya sang nona muda melepaskan nya.


" Bawa dia pergi Philip! Dan pastikan dia tidak pernah bisa mendekat lagi!" Titah Aiden sambil tetap memegang erat tubuh Jenna yang masih meronta seakan belum puas dengan perkelahian itu.


" Sssttt...Sayang sudah cukup " Aiden menarik tubuh Jenna kedalam pelukannya.


" Jenna sayang, lihat aku " Pinta Aiden, karena sang istri masih terlihat sangat emosi.


" Semua sudah selesai sayang, sekarang ikuti aku..." Aiden menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan, Jenna pun mengikuti arahan yang diberikan oleh Aiden.


Setelah memastikan Jenna sudah tenang kembali, Aiden memerintahkan salah seorang pengawalnya untuk memanggil dokter untuk merawat luka yang dialami oleh sang istri dan pelayannya. Sementara dirinya menggendong tubuh Jenna dan membawanya ke kamar.


Aiden menurunkan tubuh Jenna perlahan diatas ranjang dan membimbingnya untuk duduk disana, pria itu melemparkan senyuman kepadanya meski hatinya sedih melihat keadaan istri tercintanya itu.


" Maafkan aku sayang, aku terlambat datang " Ujarnya sambil mengelus rambut Jenna lalu mencium kening wanita itu, dan menariknya kembali kedalam pelukannya.

__ADS_1


Hati Aiden ikut terluka melihat luka-luka diwajah dan tangan serta kaki Jenna, apalagi saat dirinya mengingat hinaan yang dilontarkan oleh Lolita kepada istrinya itu. Seketika pecah tangisan Jenna, yang membuat hati Aiden semakin perih.


Tak berselang lama seorang dokter dan seorang perawat wanita ditemani oleh seorang pelayan menghampiri mereka. Dokter Spencer cukup terkejut melihat serpihan kaca yang masih menancap di tangan dan kaki Jenna, ketika dia sedang memeriksa kondisi tubuh wanita itu.


" Beruntung tidak sobek nona " Ujarnya sambil mengeluarkan serpihan-serpihan kaca itu dari permukaan kulit nona muda baru dirumah itu dengan sangat hati-hati.


" Pelan-pelan Spencer! Apa kamu tidak lihat istriku sampai menangis kesakitan?!" Pinta Aiden, pria itu mulai panik terlebih melihat Jenna yang menangis sambil menahan sakitnya.


Tidak memperdulikan kepanikan sahabatnya, Spencer terus melakukan kewajibannya dibantu oleh susternya hingga sepuluh menit berlalu dan mereka telah menyelesaikan tugasnya.


" Luka-luka nya tidak ada yang serius Aiden, aku akan memberikan obat untuk merawat luka dan memarnya "


Spencer meminta sang suster untuk mengambil obat-obatan yang dia maksud dari dalam tasnya untuk diserahkan kepada Aiden.


" Apanya yang tidak serius Spenc, apa matamu buta hah?! Lihat dia "


" Tiga hari lagi juga memarnya hilang Aiden, dia akan kembali cantik " Kekeh Spencer sambil menyerahkan obat-obatan itu kepada Aiden.


.


.


" Anda beruntung tuan Aiden tidak turun tangan langsung untuk menghabisi anda nona " Ujarnya dingin meski hati pria itu begitu kesal dengan kelakuan wanita yang duduk disampingnya saat ini.


" Apa maksudmu Philip! Aiden tidak mungkin melakukan hal itu kepadaku!"


" Apa anda lupa nona, anda telah menyakiti istrinya Anda bahkan telah berani menghinanya tadi! Anda juga telah memfitnah tuan Aiden di pengadilan " Philip menghela nafasnya kasar.


" Apa anda berpikir tuan Aiden masih akan memaafkan perbuatan anda itu?!"


" Berdoalah agar tuan muda tidak meneruskan kasus ini ke ranah hukum nona " Lanjutnya.


" Philip...Aku...Aku melakukan semua itu karena aku sangat mencintai nya Philip " Ujarnya, wanita itu mulai terisak.


" Antara mencintai dan terobsesi itu jelas beda nona, dan sepertinya anda hanya terobsesi dengan tuan Aiden " Batin Philip.


" Kita sudah sampai " Philip memberhentikan mobilnya dipintu masuk UGD, lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Lolita. Disana tim medis sudah menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


Setengah jam kemudian pria misterius itu meninggalkan Lolita disana dalam keadaan menangis histeris, setelah wanita itu menerima sebuah panggilan telepon dari ayahnya. Tentunya setelah Philip menyelesaikan administrasi rumah sakit terlebih dahulu.


" Merepotkan saja.." Batin Philip.


Lolita mendapatkan kabar langsung dari sang ayah perihal penarikan saham terbesar dari perusahaannya yang dilakukan oleh investor terbesar di perusahaan milik keluarga nya itu, wanita itu sudah bisa membayangkan bagaimana kehancuran bisnis yang telah dibangun oleh sang ayah dari nol itu.


Kembali ke mansion, dimana saat ini Aiden terlihat sedang memijat keningnya sendiri diruangan pribadi miliknya, pria itu meninggalkan sang istri yang tengah tertidur pulas dikamarnya.


" Hhhhh... Sepertinya resepsi pernikahan itu harus aku percepat juga, sebelum semakin banyak lagi wanita yang salah faham " Gumamnya.


Well...Aiden tidak tahu saja bahwa para pelakor dan pebinor diluar sana tidak ada yang perduli dengan status yang sudah melekat pada para mangsanya, yang ada didalam pikiran mereka hanya bagaimana caranya mereka bisa memiliki dan hidup bahagia dengan mangsanya. Tanpa memperdulikan bahwa letak keberhasilan, keindahan serta kehebatan para mangsanya ada di tangan orang-orang dibelakang para mangsanya itu.


" Aku harus membuat Jenna tetap tinggal di mansion ini " Gumamnya lagi.


Pria itu membuka monitor laptopnya dan mulai menggerakkan jemari tangannya diatas keyboard, sepertinya dia harus membuat strategi jitu untuk bisnis sang istri tercinta pikirnya.


Dddrttt....drrttt....


Suara getaran ponsel milik Aiden terdengar jelas ditelinga pria itu, dia meraihnya lalu merespon panggilan itu setelah Aiden mengetahui identitas si pemanggil.


" Apa??! "


" Aku akan kesana secepatnya!"


Aiden bergegas meninggalkan ruangan pribadi nya menuju tempat dimana mobilnya berada, lalu memerintahkan Gerry untuk segera mengantarkannya kesana.


.


.


.


To be continued πŸ˜‰


Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘


Happy reading πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2