Karma Is A Bich

Karma Is A Bich
Pil Tidur


__ADS_3

" Ayo cepat Philip " Bisik Aiden. Aiden menggendong tubuh Jenna dan dengan hati-hati dia membawanya keluar kamar.


" Apa anda yakin akan melakukan ini tuan?" Tanya Philip juga sambil berbisik, menuntun Aiden menuju lift. Saat ini mereka tengah menginap di hotel mewah milik salah satu teman Aiden.


" Iya...Aku sangat yakin " Jawabnya dengan suara yang semakin pelan karena merasakan pergerakan dari tubuh Jenna. Wanita itu semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Aiden.


" Bagaimana jika nona terbangun?" Tanya Philip sesaat setelah Jenna kembali terdiam.


" Dia tidak akan bangun Phil, aku sudah memberinya pil tidur "


Philip tidak percaya dengan kenekatan tuan mudanya ini, bisa-bisanya dia memikirkan hal semacam itu pikirnya.


Pintu lift pun terbuka, mereka bergegas menuju mobil yang sudah terparkir di pintu keluar hotel. Aiden sempat terkejut dengan apa yang dilihatnya, pria itu melihat Rubby yang tengah tertidur pulas di jok depan mobil.


" Philip..??" Aiden menatapnya tajam


" Masuklah dulu tuan, kita tidak punya banyak waktu " Kilahnya.


Aiden pun masuk kedalam mobil setelah dia menidurkan Jenna di jok belakang mobilnya, Philip menutup pintu untuknya lalu bergegas memasuki mobil dan melajukan mobilnya menuju bandara.


" Kau hutang penjelasan padaku Phil " Ujar Aiden. Philip tidak menanggapi perkataan Aiden dan lebih memilih untuk mempercepat laju mobilnya, mana mungkin dia bilang kepada tuan mudanya itu jika dirinya pun telah membubuhkan obat tidur kedalam minuman gadis itu tadi.


Lima jam sebelumnya.


Saat Philip mencari keberadaan Rubby diantara kerumunan pesta, gadis itu ternyata tengah asik berbincang dengan Wayan dan teman-temannya. Philip sempat merasa cemburu setelah salah satu dari teman pria Wayan mencoba untuk mendekati nya, secepat kilat pria dingin itu menghampiri mereka.


" Ehh..tuan Philip " Sapa Rubby saat dirinya menyadari kehadirannya.


" Nona Jenna mencari mu " Kilahnya. Melirik sekilas kearah Wayan dan temannya itu.


" Bukankah nona sedang..." Wayan terpaksa menghentikan kata-katanya saat dirinya melihat sorot mata tajam Philip mengarah padanya.


" Ikut denganku " Philip meraih tangan Rubby dan menariknya. Gadis itu merintih menahan sakit pada pergelangan tangannya.


" Tuan Philip, anda menyakiti tanganku..."


Seketika Philip menghentikan langkahnya lalu melonggarkan pegangannya.


" Sedang apa kamu disana?" Tanyanya penuh selidik.

__ADS_1


" Kami hanya sedang berbincang saja tuan " Jawab Rubby. Gadis ini sedikit bingung dengan pertanyaan Philip, apa maksudnya menanyakan hal itu pikir Rubby.


" Apa saya membuat kesalahan tuan?" Lanjut nya.


Rubby berpikir bahwa dia hanya seorang pegawai di toko milik nona mudanya, pastinya akan salah jika dia berani bergabung dan berbincang dengan para tamu undangan diruangan itu.


" Tidak " Jawab Philip singkat, pria itu berusaha untuk menyembunyikan perasaannya.


" Apakah tuan membutuhkan sesuatu?" Rubby melihat kearah pergelangan tangannya, pria kaku itu belum juga mau melepaskan genggaman tangannya.


" Ambilkan aku segelas champagne " Titahnya, lalu melepaskan tangan gadis itu.


" Baik tuan, tunggu sebentar "


Philip tidak melepaskan pandangannya dari Rubby ketika gadis yang entah mulai kapan dia sukai itu mengambilkan segelas minuman untuknya disalah satu sudut meja tak jauh dari dirinya berdiri saat itu, perasaannya semakin berkecamuk ketika laki-laki tadi mencoba untuk mendekati Rubby kembali. Philip seperti tidak rela jika gadis berambut keriting itu didekati oleh pria manapun, hingga muncul ide gila di kepalanya.


Philip merogoh saku jasnya, ditangannya ada satu botol kecil berisi tablet obat tidur permintaan Aiden. Adik angkatnya itu memang kelewat gila jika menyangkut urusan cintanya dengan Jenna pikirnya.


" Aku memang sudah ketularan gilanya Aiden " Batin Philip.


" Tuan, minuman anda " Ucap Rubby seraya memberikan gelas berisi minuman beralkohol itu kepada Philip.


" Ambilkan satu gelas lagi Rubby " Pintanya.


Tak lama Rubby pun kembali dengan segelas champagne ditangannya.


" Ini untukmu, minumlah " Philip menyerahkan gelas pertama yang diambil Rubby kepada gadis itu.


" Tapi saya tidak suka minuman seperti ini tuan "


" Minum saja Rubby, kamu sudah harus mulai belajar meminum minuman seperti itu" Titah Philip.


Mau tidak mau Rubby pun menuruti perintah tuannya, gadis itu menghela nafasnya sejenak dan mengumpulkan keberanian nya sebelum menyesap minuman yang wanginya saja sudah membuatnya pusing itu.


.


.


Aiden menaruh tubuh Jenna perlahan di kabin kamarnya, setelah itu menyelimutinya dan meninggalkannya sendiri disana. Dia kembali kepada Philip untuk menanyakan tentang keberadaan Rubby di mobilnya tadi, pria itu baru saja selesai menidurkan Rubby di kursi penumpang dan memasangkan sabuk pengaman untuknya.

__ADS_1


" Jadi, kapan kamu akan menceritakan nya?" Aiden duduk dan memasang sabuk pengamannya.


" Cerita tentang apa tuan?" Duduk dikursi seberang Aiden.


" Sejak kapan kamu menyukai gadis ingusan itu?" Kekeh Aiden, pria itu menggelengkan kepalanya tanda tak percaya.


Philip menghela nafasnya, dia malas meladeni Aiden saat ini. Dia sendiri pun masih tidak memercayai apa yang telah dilakukannya pada gadis polos itu.


" Entahlah, aku tidak ingat " Jawabnya asal.


" Cih...Bisa saja kamu Philip, bilang saja sejak pertama kali kamu menginjakkan kakimu di Sanremo kan?"


" Dia kan yang membantumu mengangkut barang-barang waktu itu?"Lanjutnya.


" Mungkin" Jawabnya singkat. Philip melepaskan kembali sabuk pengamannya, lalu melepaskan sabuk pengaman Rubby yang terlelap disampingnya.


" Huh...Dasar pelit! Dari dulu kamu tuh ngomong nya irit kecuali kalau lagi berebut makanan denganku" Ujar Aiden. Aiden pun sama melepaskan kembali sabuk pengamannya, lalu beranjak dari kursinya menuju kabin kamar untuk menyusul sang istri ke alam mimpinya.


Perjalanan kali ini akan memakan waktu yang cukup lama, Aiden telah menyewa sebuah pulau untuk dirinya berbulan madu selama seminggu penuh di sebuah negara kepulauan beriklim tropis.


Seketika tersungging senyuman tipis diwajah dingin itu, dia melirik kearah sampingnya menatap sekilas wajah berbintik yang telah membuatnya jatuh hati dari sejak pertama kali mereka bertemu di Sanremo.


Meski Philip telah berusaha keras untuk menepis perasaannya kepada Rubby selama ini, bahkan dia pun mati-matian menyembunyikan perasaan nya itu pada akhirnya dia sendiri yang tidak bisa menahan lebih lama lagi perasaan cintanya kepada gadis yang usianya jauh dibawah dirinya saat ini.


Cinta memang tidak pernah memandang usia, dari dulu dia lebih menyukai gadis yang usianya dewasa darinya, menurutnya gadis dewasa terlihat lebih mempesona. Philip pun pernah sangat menyukai salah satunya, tetapi cintanya kandas setelah sang pujaan hati lebih memilih pria yang usianya jauh melebihi dirinya. Sejak saat itu Philip lebih memilih untuk menutup rapat-rapat pintu hatinya untuk urusan cinta, dia lebih memilih untuk menenggelamkan dirinya dalam pekerjaannya.


" Nnggghhh..." Perlahan Rubby membuka matanya, dan memijat keningnya sendiri. Kepalanya terasa sangat berat dan tubuhnya pun terasa kaku, dan dia merasa ada beban berat di bahunya.


" Tuan Philip?" Rubby menutup mulutnya berharap agar suaranya tidak terdengar oleh pria yang terlihat tampan saat sedang tertidur lelap di bahunya.


.


.


.


To be continued πŸ˜‰


Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘

__ADS_1


Happy reading πŸ€—


See you all tomorrow πŸ˜‰


__ADS_2