
Kevin memandangi dirinya melalui pantulan cermin, dia menghela nafasnya sejenak untuk mengatur irama jantung nya kembali setelah menerima telepon dari Jenna. Mantan istrinya itu tiba-tiba saja menghubungi nya setelah sekian lama.
Hanya saja kata-kata Jenna begitu menohok jantung nya, meski pada awalnya dia merasa begitu sangat bahagia karena suara yang selama ini telah begitu ia rindukan terdengar kembali ditelinga nya.
"Kau akan kehilangan sebuah berlian berharga jika kamu terus saja menyia-nyiakan istrimu itu Kev, bukan aku yang selama ini mendampingi mu tapi Bella" Ucap Jenna sebelum wanita itu mengakhiri sambungan telepon nya.
Itu terjadi tepat sebelum dia pada akhirnya diminta oleh Madeline untuk mengundang Aiden ke acara makan siang bersama mereka.
Jenna menghubungi Kevin setelah dia meminta ijin kepada Aiden saat suaminya itu telah selesai berbicara kepadanya mengenai Madeline, sepertinya Aiden merasa saat itu adalah waktu yang tepat untuk memberi tahu dirinya tentang siapa sebenarnya Madeline pemilik perusahaan dimana Kevin bekerja saat ini.
Hanya butuh waktu sebentar saja bagi Kevin untuk mengerti apa maksud perkataan Jenna, apalagi setelah wanita itu menceritakan tentang Billy selama anaknya itu ikut berlibur bersama ke Sanremo.
Betapa sakit nya hati Kevin setelah menyadari kesalahan yang selama ini dia perbuat, apalagi baru saja dia memukul Mulan dan menyakiti istri nya Bella. Mulai saat itu dirinya berjanji akan memperbaiki semuanya, dia akan berjuang untuk mendapatkan kembali cinta dan kasih sayang juga kepercayaan dari istri dan anak-anaknya.
"Terimakasih Jenna..." Batin Kevin.
Bahkan setelah Madeline meminta dirinya untuk mengundang Aiden, Kevin pun memberitahu Jenna akan hal itu.
"Sepertinya kamu harus ikut untuk acara ini sayang" Kekeh Jenna, setelah Kevin menutup sambungan telepon nya.
"Sepertinya itu hal yang bagus sayang, aku ingin tahu apa yang dia inginkan sekarang" Aiden menarik Jenna keatas pangkuannya, dia tidak perduli jika Philip sedang berada bersama dengan mereka saat ini.
"Aku juga ingin tahu nona Madeline yang pernah membuat suamiku patah hati ini" Balas Jenna.
"Sepertinya hanya aku yang tidak menyukai rencana ini" Philip mendengus kesal. Apalagi jika pada akhirnya nanti Aiden akan menyuruhnya untuk membereskan urusan yang tidak disukainya itu.
Dan hari ini setelah kedatangan Madeline dan perbincangan singkat antara dirinya dan Aiden lalu dilanjutkan dengan pembicaraan singkatnya dengan Philip, Madeline meninggalkan tempat itu dengan dendam yang semakin memuncak. Sementara disisi lainnya Kevin harus bersiap-siap jika pada akhirnya dia benar-benar akan dipecat dari jabatannya.
"Terimakasih Kevin, kami berhutang Budi kepadamu" Ucap Aiden ketika dirinya menjabat tangan pria yang dulu sempat menjadi rivalnya itu.
"Tidak usah sungkan tuan Aiden" Balas Kevin tulus.
__ADS_1
"Jika kamu berkenan, adikmu sangat membutuhkan bantuan mu di kota kelahiran kalian"
"Dia menerima nya tuan Aiden" Ucap Bella, memotong pembicaraan keduanya. Toh jarak tempuh antar kedua negara bagian itu tidak terlalu jauh, karena kebetulan saja letak kota kelahiran mereka berada di perbatasan negara itu.
"Well, sepertinya semua sudah oke...Kakak ku Philip akan mengurus semuanya, Benar begitu kan kak?" Aiden menatap mata sang kakak yang terlihat enggan menanggapi pembicaraan diantara mereka, dia masih belum yakin dengan sikap baik dua orang yang berdiri didepannya itu.
"Aku rasa begitu" Jawabannya singkat.
.
.
" Aku tidak akan pernah memaafkan Aiden!" Geram Madeline, wanita ini memutuskan untuk pergi berbelanja untuk melampiaskan emosi nya.
"Kita sudah sampai nona" Ucap sang asisten, ketika kendaraan yang dikemudikan nya sudah menempati areal parkir VIP di sebuah gedung pusat perbelanjaan elit di kota tersebut.
Pieter sang asisten sudah tahu kebiasaan nona mudanya saat sedang marah, dia pasti akan meminta dirinya untuk pergi ke sebuah butik untuk berbelanja lalu pergi ke salon atau sebuah klub malam hingga wanita itu benar-benar merasa sedikit lega.
"Kau pergilah dulu, aku mungkin akan sedikit lama disini" Pinta Madeline.
Pieter hanya mengiyakan permintaan sang majikan seperti biasa, tanpa benar-benar menurutinya. Dia tidak mau sedikit pun hal buruk terjadi kepada wanita yang selama ini telah memberikan hampir segalanya kepadanya itu.
Madison memasuki ruangan yang telah dia pesan sebelumnya, dengan para terapis yang dia pesan secara khusus pula untuk melayaninya hingga tiga jam kemudian wanita itu menghampiri Pieter dengan keadaan yang jauh lebih segar.
"Ke tempat biasa Pieter, aku ingin bersenang-senang malam ini" Ucapnya setelah dia membangunkan Pieter yang tertidur di kursi ruang tunggu VIP tempat spa tersebut.
Madison sempat menatap wajah tampan pria dingin itu lekat sebelum akhirnya dia membangunkan Pieter dan meminta nya untuk mengantarkannya ke klub malam tempat biasa dia menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya.
Tiba ditempat tujuan, Madison tidak langsung turun dari mobil seperti biasanya. Dia bahkan meminta Pieter untuk tetapi dibelakang kemudinya.
"Apa masih ada yang mengganggu anda nona?" Tanya Pieter, dia hanya menatap sekilas wajah cantik majikannya itu melalui cermin.
__ADS_1
" Tidak..." Jawab Madeline, lalu memberi ijin kepada sang asisten untuk membukakan pintu samping mobil untuknya..
Selama bersama dengan teman-temannya pun Madeline terlihat sedikit berbeda dari biasanya, dia terlihat lebih sering mencuri pandang nya terhadap Pieter yang duduk didepan meja Bar sambil tetap menenggak minuman keras nya.
"Kau sudah mabuk Madeline, sebaiknya kau berhenti" Ujar salah satu teman wanitanya.
"Belum sayang, kau jangan khawatir tentang hal itu" Kekeh Madeline, dia merasa temannya ini sangat konyol. Pasalnya dia baru menghabiskan tiga gelas minuman saja saat ini.
Terdorong dari rasa khawatir, salah satu dari mereka melambaikan tangannya ke arah Pieter agar asisten pribadi temannya itu segera menghampiri mereka untuk membawa Madeline pergi dari sana.
"Bawa dia pergi sebelum dia mengacaukan tempat ini Pieter" Kekeh nya.
Tanpa basa-basi lagi pria dingin itu langsung mengangkat tubuh Madeline dan membawanya keluar menuju tempat dimana dia memarkirkan mobilnya. Pieter menaruh tubuh Madeline di kursi belakang mobilnya seperti biasa, lalu memasang kan sabuk pengaman kursi agar wanita itu tidak terjatuh.
Diluar dugaan Madeline menarik Pieter hingga tanpa sengaja tubuh pria itu menindihnya.
"Nona...Kita harus segera kembali" Ucap Pieter, lalu melepaskan tangan wanita itu dari pundaknya.
Secepat kilat Pieter menempati kursi di belakang kemudi nya, lalu mengarahkan mobilnya keluar dari tempat itu dengan jantung yang berdegup kencang dan memacu laju kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Tiba di mansion Madeline, Pieter segera membawa majikannya itu masuk kedalam kamarnya dan tanpa segan menjadikan dirinya sebagai pelampiasan dari nona mudanya tersebut setelah dia mengunci pintu kamar nya.
.
.
.
To be continued
Hai kakak-kakak mohon maaf othor baru up lagi cerita ini...
__ADS_1
Happy reading π€πππ