Karma Is A Bich

Karma Is A Bich
Strategi Aiden


__ADS_3

" Tuan..." Philip memasuki ruangan dengan wajah tertekuk.


" Ada apa dengan wajahmu itu Philip?" Aiden mengerutkan keningnya, menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya dan menautkan jemarinya.


" Duduklah " Lanjutnya. Pria itu pun mendudukkan dirinya dikursi depan meja kerja majikan sekaligus saudara angkatnya itu, mendiang orang tua Aiden mengadopsi Philip ketika dirinya berusia lima tahun.


" Maafkan aku tuan Aiden, orang tua nona Lolita memaksa ingin bertemu denganmu siang ini, mereka mengancam akan menarik saham milik mereka di perusahaan mu jika kamu tetap tidak mau menikahi anak gadis mereka "


" Aku tidak ingin menemui mereka Philip, aku tidak suka dengan ancaman mereka, dan jika mereka memang mau menarik saham mereka, biarkan saja Philip... Aku tidak perduli " Aiden menghela nafasnya kasar.


" Tetapi tuan, apa kamu sudah memikirkan nya matang-matang? Jumlah saham mereka di perusahaan cukup besar..."


" Philip, aku bahkan sudah tahu bagaimana agar perusahaan kita tetap stabil jika mereka benar-benar memutuskan untuk menarik saham mereka "


" Apakah kamu benar-benar akan melakukan apa yang kita telah bicarakan kemarin tuan Aiden?"


" Ya Phil, jika memang itu yang terbaik maka akan aku lakukan...Aku harap kamu akan mendukung ku Phil "


" Aku akan selalu mendukung mu tuan.."


Kemarin Aiden memutuskan untuk menjual salah satu aset milik keluarganya, berupa sebuah mansion yang terletak diatas sebuah bukit peninggalan mendiang nenek dan kakeknya. Nilai jual mansion itu sangat tinggi, bahkan melebihi jumlah saham milik Peter Crouch ayah dari Lolita. Aiden yakin dengan cara itu dia bisa membuat perusahaan miliknya tetap stabil meski dia tidak menemukan perusahaan lain yang akan menggantikan posisi Peter sebagai investor di perusahaannya itu.


" Tetapi aku punya ide yang lain Philip "


" Apa itu tuan?"


" Apa kamu mau menjadi investor di perusahaan ini Philip? Bagaimanapun kau adalah saudara angkat ku bukan ?" Aiden menyeringai.


" Aku akan mempertimbangkan nya "


Sementara mereka berbincang, dikediaman Crouch tengah terjadi sebuah drama yang dimainkan oleh Lolita. Gadis itu masih saja memaksa agar orangtuanya menikahkan dirinya dengan Aiden secepatnya.

__ADS_1


" Pastikan Aiden mau menikahi ku Daddy, aku akan sangat bahagia jika aku menjadi nyonya Teuscherro "


" Apapun untuk anak kesayangan daddy " Peter mengelus rambut indah anak gadisnya.


" Daddy memang pria terhebat di dunia "


Siang hari saat yang dinantikan mereka pun tiba, mereka telah tiba terlebih dulu disebuah restoran mewah tempat yang telah mereka atur untuk pertemuan mereka dengan Aiden, pemilik dan pewaris tunggal bisnis turun temurun keluarga Teuscherro.


Lolita terlihat begitu cantik dengan balutan dress warna peach dan rambut panjang yang dibiarkan terurai, makeup tipis yang dia gunakan membuat wajahnya terlihat lebih segar. Gadis ini benar-benar telah mempersiapkan dirinya secantik dan seanggun mungkin untuk pertemuannya dengan pria yang diyakininya sebagai suami masa depannya.


" Dimana dia dad?" Tanya gadis itu, Lolita sudah mulai terlihat sedikit gelisah.


" Sabar sayang, mungkin dia masih dalam perjalanan menuju kemari " Ruth ibunda dari Lolita berusaha untuk menenangkan anak gadisnya.


Sementara mereka sedang menunggu kedatangan Aiden, jauh di kota kecil dinegara dimana Jenna berada saat ini pagi tadi.


" Aku tak mungkin pulang hari ini Kevin, Mulan sakit...Apa kamu tega membiarkan anak kita menempuh perjalanan jauh saat ini?" Bella mencoba untuk menenangkan gadis kecil itu, tubuhnya demam dan tak hentinya dia menangis.


" Sebaiknya kita bawa anaki ini ke dokter " Lanjutnya.


" Tapi Kev, dimana kita bisa menemukan dokter sepagi ini? Rumah sakit cukup jauh dari sini " Ujar Bella.


Di kota kecil Sanremo hanya terdapat sebuah rumah sakit kecil, hanya letaknya cukup jauh dari tempat mereka tinggal saat ini. Sedangkan rumah sakit besar letaknya ada di kota besar yang tentunya jaraknya lebih jauh lagi.


Kevin meraih tubuh mungil Mulan yang sudah dibalut selimut kecil dengan kedua tangannya, lalu membawanya pergi dari kamar itu. Lelaki itu tidak memperdulikan apapun perkataan Bella, yang diingatnya hanyalah Jenna. Wanita itu pasti tahu dimana letak kediaman dokter, Kevin bermaksud untuk meminta pertolongan kepada Jenna.


" Kev! Kevin..! Kemana kamu akan membawa Mulan!" Bella mencoba untuk mengejar pria itu.


" Kenapa kamu malah membawanya kesini Kevin?! Apa kamu akan mengambil kesempatan untuk mendekatkan anak kita dengan wanita itu?" Kesabaran Bella benar-benar diuji saat ini.


" Diam lah Bella! Jaga pikiranmu itu! Aku hanya ingin menanyakan rumah dokter kepadanya " Kevin menggedor pintu samping ruko milik Jenna, lelaki itu tahu jika Jenna sudah ada didapur sejak pukul 5 dini hari tadi. Jadi seharusnya saat ini wanita itu sedang membuat cokelat-cokelat yang akan mereka jual hari ini.

__ADS_1


Didalam Jenna baru saja mengakhiri sambungan telponnya dari Aiden saat dia mendengar seseorang menggedor pintu samping gedung itu.


" Ini baru jam 6 pagi kan nona? Apa mungkin itu Ruby?" Jill berjalan mendekati pintu, lalu membukanya.


" Jenna maafkan a...." Perkataan Kevin terhenti saat dia melihat orang lain yang membukakan pintu itu untuknya.


" Siapa Jill? " Jenna menghampiri Jill, senyumannya hilang seketika saat dia melihat siapa yang berdiri didepan Jill saat ini.


" Jenna maafkan kami, Mulan sakit...Aku tidak tahu dimana rumah dokter disini.." Kevin menghela nafasnya sejenak, dia harus bisa mengontrol emosi nya saat ini. Bagaimanapun saat ini dia bisa melihat dengan jelas kecantikan mantan istrinya itu, ingin rasanya dia langsung memeluknya erat tapi dia harus menahannya karena tidak mungkin hal itu bisa dia lakukan saat ini.


" Aku bisa mengantarkan mereka nona, aku akan membawa mereka ke rumah dokter Muller " Ruby tiba-tiba datang, padahal gadis itu biasanya tiba tepat pada jam 6.30 pagi.


" Silahkan ikut aku tuan dan nyonya " Pinta Ruby dengan sopan.


Jenna tidak bisa berkata sepatah katapun, saat Kevin sedang berbicara kepadanya netranya melihat raut kesedihan diwajah Bella. Sebagai seorang wanita instingnya mengatakan bahwa orang yang telah merebut suaminya itu tidak mendapatkan cinta dan kasih sayang dari Kevin, suami yang telah dia rebut.


Dengan sangat terpaksa Kevin mengikuti langkah Ruby, diikuti oleh Bella dibelakangnya. Dia berharap Jenna lah yang akan menolong mereka saat itu, Kevin ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri apakah masih ada rasa cinta dari wanita itu untuk dirinya, bagaimanapun juga dia pernah hidup dengan Jenna cukup lama dan dia cukup tahu betapa besar rasa cinta wanita itu untuk dirinya.


Berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Bella, wanita itu sangat bersyukur karena Jenna tidak bisa menolong mereka saat itu. Tetapi hatinya cemburu melihat orang yang dulu begitu dekat dengannya, yang telah dia rebut suaminya ternyata hidup bahagia selama ini. Bella bisa melihatnya dari pancaran sinar mata Jenna saat mereka bersitatap tadi.


Andaikan Bella dan Kevin bisa bertemu dengan Jenna saat sebelum wanita itu bertemu dengan Aiden, mungkin apa yang mereka lihat dari diri Jenna tidak akan seperti sekarang ini.


.


.


.


To be continued πŸ˜‰


Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘

__ADS_1


Happy reading πŸ€—


__ADS_2