Karma Is A Bich

Karma Is A Bich
Rasa Itu Tetap Ada


__ADS_3

Pagi menyapa saat Madeline membuka matanya dan mendapati dirinya tertidur didalam pelukan hangat Pieter, pria dingin yang selama ini selalu menemaninya, menjaganya, menuruti semua perintah dan keinginannya juga menjadi pelampiasan semua emosinya.


Meski tidak setampan Aiden dan tidak selembut pria itu dulu saat mereka masih dekat, tetapi ada hal lain yang membuat jantung nya berdetak lebih kencang saat dirinya menatap wajah tampan Pieter. Seperti yang saat ini sedang terjadi.


Gejolak jiwa Madeline meronta kembali saat diam-diam dirinya menatap setiap inchi wajah dan tubuhnya, bahkan lenguhan pria dingin tersebut saat tertidur membuat dirinya semakin menginginkan Pieter untuk menjadi pelampiasan hasratnya pagi ini.


Perlahan Pieter membuka kelopak matanya saat dirinya merasa seseorang tengah bermain-main dengan tubuhnya, dia melihat seorang wanita yang semalam telah membuatnya begitu bahagia tengah asik memainkan benda paling berharga nya.


Pieter mengelus rambut Madeline perlahan, lalu menyematkan surai rambutnya ditelinga wanita itu.


"Pagi sayang...." Ucap Pieter yang hanya dijawab oleh senyuman manis Madeline, sepertinya dia enggan untuk melepas benda yang telah dikuasainya itu.


Tak ingin merasakan kenikmatan itu seorang diri, Pieter membalikkan keadaan. Dia juga ingin Madeline merasakan hal yang sama dengan dirinya hingga wanita itu menuntut nya seperti yang dia lakukan semalam.


Hanya pada saat seperti itu lah Madeline meneriakkan kata-kata cintanya kepada Pieter, dan hanya pada saat seperti itu pulalah wanita itu menginginkan Pieter seutuhnya. Hal ini lah yang membuat pria dingin itu dengan sukarela menjadikan dirinya sebagai pelampiasan hasrat Madeline selama ini, karena dia merasa pada saat seperti itu rasa cintanya yang begitu besar terhadap nona mudanya terbalaskan.


"Andai kau menjadi milikku seutuhnya, aku akan selalu menerbangkan mu ke atas awan" Batin Pieter saat dirinya tengah mengguyur tubuhnya dibawah siraman air.


Pergumulan panas pagi ini lumayan menguras tenaga nya, satu jam lebih Madeline terus meminta dan menuntut nya untuk memuaskan keinginan tertinggi nya hingga mereka mencapai puncak kenikmatan bersama untuk kesekian kalinya.


Satu hal yang Pieter sadari bahwa dirinya hanyalah seorang asisten pribadi bagi Madeline selama ini.


Madeline menatap pintu kamar mandi dimana Pieter saat ini berada, untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia merasa bimbang dengan perasaan nya sendiri.


Semakin lama dia berada dekat dengan pria dingin itu semakin goyah rasa cintanya kepada Aiden, apalagi mantan kekasihnya itu tak hentinya menolak cintanya semenjak mendiang ayahnya menolak hubungan mereka dulu.


"Apakah aku jatuh cinta padanya?" Gumam Madeline.


Dia beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju cermin besar di sebelah pintu kamar mandi dan menatap dirinya di sana.


Sesaat ingatannya kembali saat tadi dan semua aktivitas panasnya dengan Pieter, dia juga bisa melihat jejak-jejak cinta pria itu ditubuhnya belum lagi suara berat pria dingin itu saat menyuruhnya untuk meneriakkan namanya selalu terngiang ditelinga nya.


Madeline menutup matanya, lalu menghela nafasnya panjang saat tangan kekar Pieter melingkarkan ditubuhnya.


"Aku menunggu mu didalam tapi kau tidak juga datang, rupanya kau disini nona..." Ujar Pieter, lalu mencium leher jenjang Madeline.

__ADS_1


"Apa kau tidak akan pergi bekerja hari ini?" Lanjut Pieter, kemudian memutar tubuh Madeline lalu mengangkat nya dan mendudukkan nya di atas meja.


Madeline melingkarkan tangannya dipundak Pieter lalu menatap manik gelap milik pria dingin yang usianya tiga tahun lebih muda darinya.


"Apa artinya aku bagi mu Pieter?"


Pieter menghela nafasnya, dia tidak mengira jika nona mudanya menanyakan hal itu kepadanya. Dia pikir Madeline akan menyuruhnya untuk bersiap atau memintanya untuk membuatkan sarapan pagi untuknya.


"Kau... Anda...Aku..."


Begitu sulit untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang ditujukan Madeline kepada dirinya, padahal tadi dia sempat berandai-andai untuk memiliki wanita ini seutuhnya.


"Apa kamu mencintaiku Pieter?"


Deg


Seketika Pieter membeku, bibirnya seakan terkunci dan lidahnya seakan kelu, dia bahkan tidak berani menatap wajah Madeline.


"Sudah aku duga! Kau hanya menginginkan tubuhku kan?! Kau hanya menginginkan uangku kan brengsek!!!"


"Aku mencintaimu Maddy....Sangat sangat mencintaimu, tapi aku tahu posisiku dimana.." Bisik Pieter.


Seketika Madeline terdiam lalu membalas dekapan Pieter dan membiarkan dirinya melampiaskan rasa harunya kepada laki-laki itu.


Ternyata di dunia ini masih ada pria yang begitu mencintai nya dan Madeline tahu seberapa tulusnya cinta laki-laki ini terhadapnya.


Satu hal yang harus Madeline lakukan saat ini adalah menemui Aiden, dia hanya ingin tahu apakah jantung nya masih berdetak kencang seperti dulu saat berdekatan dengan pria itu atau tidak. Memang hal ini sangat konyol, tetapi dia merasa dia harus melakukan hal itu sekarang juga.


.


.


"Apa kamu yakin harus menemuinya sekarang?"


Pieter berusaha untuk menyembunyikan kecemburuan nya seperti biasa, tetapi kali ini Madeline bisa menyadari hal itu dari perubahan intonasi suara nya.

__ADS_1


"Iya, ada satu hal yang harus aku yakinkan terlebih dulu" Jawab Maddy.


Saat ini mereka sudah berada di pelataran parkir gedung mewah milik Teuscherro Corp, Pieter tidak tahu keributan apa yang akan dibuat oleh wanita nya ini sekarang, tetapi dia tidak akan tinggal diam seperti biasanya.


"Maaf nona tuan Aiden tidak bisa diganggu saat ini" Ucap sang sekertaris ketika Madeline memaksakan dirinya untuk menemui Aiden di ruangannya.


"Katakan saja pada bos mu itu, aku tidak akan pergi sebelum dia menemui ku sekarang!" Titah Madeline.


Samar-samar Aiden dan Philip mendengar keributan diluar ruangannya saat mereka tengah berbincang tentang persiapan rapat hari ini, meski sang kakak sudah melarangnya untuk ikut bersamanya keluar dari ruangan itu tetapi Aiden tetap dengan pendiriannya.


"Madeline? Apa yang kamu lakukan disini?" Aiden bertanya sesaat setelah dia melihat seorang wanita yang dikenalnya tengah berdiri dihadapan Philip.


"Aku hanya ingin menemui mu Aiden, dan ini bukan soal kerjasama kerja atau apapun...Aku hanya ingin memastikan sesuatu" Jawab Madeline.


Aiden menatap wajah Madeline dan pria yang ada di dibelakangnya secara bergantian, dirinya bisa menyimpulkan sesuatu setelah menyadari adanya aura lain dari keduanya. Seketika senyuman tipis tergambar di wajahnya, Aiden lalu meminta agar Philip mengijinkan Madeline dan pria itu untuk memasuki ruangan nya.


"Apa yang kamu lakukan Aiden?" Bisik Philip.


"Diam dan perhatikan saja kak" Kekeh Aiden pelan.


"Duduklah" Pinta Aiden.


Diapun menduduki sofa kosong di samping Madeline setelah wanita itu duduk di sana, dan benar saja! Pria yang setia berdiri tak jauh dari Madeline tengah berusaha untuk menyembunyikan kecemburuan nya.


.


.


.


To be continued


Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah 😊😊


Happy reading πŸ€—πŸ˜˜πŸ€—πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2