Karma Is A Bich

Karma Is A Bich
Bimbang


__ADS_3

" Apa yang kau lakukan disini Bella?! " Bentak Kevin saat dia sudah sampai di sebuah penginapan yang letaknya tidak begitu jauh dari toko coklat milik Jenna.


" Seharusnya aku yang menanyakan hal itu kepadamu Kevin! Apa yang sedang kamu lakukan disini hah?!"


" Aku dan Mulan sangat membutuhkanmu, begitu pula dengan ibumu! Dan kau malah asik disini dengan wanita itu!" Lanjutnya. Kesabaran Bella sudah mencapai ambang batasnya, selama ini dia mengira dengan hadirnya Mulan diantara mereka bisa membuat Kevin melupakan ambisinya untuk mendapatkan Jenna kembali tetapi ternyata perkiraannya itu salah besar.


" Aku sudah memberikan apa yang kalian butuhkan selama ini bukan? Apa lagi yang kalian inginkan dariku?!"


Pertengkaran diantara mereka telah membuat gadis kecil yang tengah tertidur nyenyak dipangkuan Bella terbangun dan menangis kencang. Mulan yang baru saja berusia sebelas bulan itu memiliki wajah mirip dengan Kevin, memiliki bola mata berwarna hazel, alis tebal, hidung mancung dan bibir yang tipis. Hanya rambut saja yang sama seperti warna rambut ibunya yang berwarna pirang.


" Ssshhh...Sayang maafkan mama dan papa mu yah..." Bella mencoba untuk menenangkan putri nya itu.


" Berikan dia susu Bella, dia tidak akan berhenti menangis jika kamu tidak memberinya susu! " Kevin mengambil Mulan dari pangkuan Bella dan menyuruh sang istri untuk membuatkan Mulan sebotol susu.


Ajaibnya sesaat setelah Mulan berada dipangkuan sang ayah, tangisan anak itu tiba-tiba saja berhenti.


" Da....Da..." Celoteh Mulan, sementara Bella hanya bisa terisak melihat adegan haru dihadapannya.


" Bahkan putrimu saja lebih menginginkan mu Kevin..." Ucapnya lirih.


" Cepatlah aku tidak punya banyak waktu! Aku harus kembali kesana malam ini !"


" Demi Tuhan Kevin! Dimana kau simpan hati nurani mu itu?! Apa kamu tidak melihat Mulan? Anak kita merindukan kehadiran mu Kevin!" Bella baru saja selesai membuat sebotol susu formula untuk Mulan, dan memberikan nya kepada Kevin. Anak itu akan lebih mudah menghabiskan satu botol susu jika sedang berada dipangkuan sang ayah.


" Besok pagi kamu dan Mulan akan aku antarkan ke bandara, kalian akan pulang dengan penerbangan pertama " Ujarnya tanpa memperdulikan sepatah katapun yang keluar dari mulut sang istri.


Sementara dilantai dua sebuah toko, Jenna tengah tertidur pulas setelah dirinya menangis selama lebih dari setengah jam. Ponselnya sudah beberapa kali berdering, Aiden tengah mencoba untuk menghubungi nya selama satu jam terakhir ini.


Aiden begitu khawatir saat mendapatkan berita terkait peristiwa yang terjadi di kedai siang tadi dari Paloma, andai saja Aiden bisa memutar balikan arah pesawat terbang yang dia naiki saat ini sudah pasti dirinya telah berada bersama dengan Jenna saat ini juga.


" Paloma, apa Jenna sudah bersama kalian saat ini?" Ini kali kelima Aiden kembali menghubungi wanita itu.


" Belum tuan Aiden, sepertinya nona Jenna tengah tertidur " Jawab Paloma, setelah dirinya memastikan sendiri keadaan Jenna dengan memberanikan diri untuk memasuki kamarnya.


" Darimana kamu tahu hal itu Palma?"


" Aku melihatnya sendiri tuan, tadi aku memeriksa kondisi nona ke kamarnya "


" Huufttt... Baguslah, kabari aku jika Jennaku sudah bangun " Titahnya lalu mengakhiri sambungan telponnya.


Aiden menghela nafasnya kasar, hatinya tidak tenang jika dia belum bisa memastikan keadaan wanita itu baik-baik saja. Apalagi dengan kehadiran dua orang dari masa lalunya yang sudah pasti akan membuat Jenna kembali bersedih.

__ADS_1


" Kamu harus bisa Jenna sayang, kamu harus bisa menghadapinya sendiri..." Batin Aiden.


Aiden lalu mengetik sebuah pesan singkat dalam sebuah grup rahasia, dia menulis sebuah perintah yang harus dilaksanakan oleh semua anggota grupnya.


Ting


Ting


Ting


Ting


Ting


Secara bersamaan bunyi pemberitahuan chat masuk terdengar dari ponsel-ponsel pintar milik Paloma, Jill, Wayan, Megan serta Erica.


" Ruby, apa masih ada ruang kosong di gedung ini?" Tanya Jill kepada Ruby yang tengah asik membuat beberapa bentuk coklat.


" Jika nona Jenna tidak memakainya sebagai gudang penyimpanan, lantai tiga gedung ini berarti masih kosong "


" Bisa kamu tunjukan kepada ku sekarang?"


" O...Okey..." Ruby sempat ragu, tetapi setelah Paloma meyakinkan gadis itu bahwa tuan Aiden yang meminta Jill dan Megan serta Erica untuk tinggal disana untuk memudahkan kinerja mereka, maka Ruby pun dengan senang hati menunjukkan nya kepada Jill dan Paloma.


" Sepertinya ruangan ini cukup untuk kami bertiga nona Paloma " Ucap Jill saat gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


" Oke, malam ini kalian bisa kan tinggal dengan kondisi seadanya? Besok pagi aku akan meminta bantuan tukang untuk membenahi tempat ini " Ujar Paloma.


" Di dalam lemari besar itu ada beberapa bantal dan selimut juga kasur tipis Jill, kami tidak membawanya serta saat kami pindah dulu " Ruby menuntun Jill menuju sebuah lemari yang cukup besar lalu membukanya.


" Oke...Thanks Ruby "


Tiba saatnya mereka untuk menutup toko dan seperti biasa mereka terpaksa harus menghentikan tamu-tamu yang masih saja berdatangan.


" Apa sebaiknya kita menambah jam operasional toko ini nona Jenna?" Tanya Paloma saat dirinya membantu Megan dan Erica untuk membereskan meja-meja tamu.


" Aku sudah meminta anak-anak itu untuk tinggal bersamamu disini, mereka akan menempati ruangan dilantai tiga mulai malam ini " Lanjutnya.


" Apa Ruby yang memberitahu mu?" Jenna mengerutkan keningnya, pasalnya wanita ini baru saja bergabung dengan timnya dua jam yang lalu saat toko masih padat pengunjung.


" Iya...Aku minta maaf karena baru bisa memberitahu mu sekarang "

__ADS_1


" Tidak apa-apa Palma, aku yang minta maaf karena baru bergabung bersama kalian, aku lihat kalian sangat sibuk tadi "


" Kami senang melakukannya nona " Erica melemparkan senyuman manisnya.


" Dan jika anda akan menambah jam operasional toko, kami tinggal mengatur jadwal masuk dan jam istirahat kami saja nona " Sambung Paloma.


" Itu ide yang bagus, aku akan mempertimbangkan nya "


Baru saja Megan akan menutup pintu toko, tiba-tiba seseorang berteriak sambil berlari menghampiri nya.


" Tunggu! " Teriak pria itu.


Meski Megan baru satu kali bertemu dengan pria ini tadi siang, tetapi gadis itu sudah hafal siapa lelaki itu sebenarnya.


" Maaf tuan, toko kami sudah tutup "


" Aku hanya ingin berbicara dengan Jenna, apa dia ada?"


" Maaf tuan, nona Jenna sedang beristirahat sebaiknya anda menemui nya besok "


" Kau jangan coba-coba untuk membohongi ku! Aku melihat Jenna sedang berbicara dengan kalian barusan"


" Maaf tuan, ini sudah malam dan toko kami sudah tutup sebaiknya anda datang kembali besok " Megan menutup pintu toko dan langsung menguncinya.


" Jenna!! Jenna!! Aku tahu kau mendengar ku! Aku ingin bicara dengan mu!" Kevin menggedor pintu dan jendela kaca toko itu hingga membuatnya bergetar.


" Sepertinya aku harus meminta tukang untuk memasang rolling door disepanjang pintu dan jendela kaca itu besok " Gumam Paloma. Wanita itu masih berada didalam dapur saat semua orang sudah menaiki tangga, dia sedang bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu melalui pintu samping dan akan menguncinya.


" Kau sangat lama sekali Palma..Aku bisa mati membeku karena menunggumu " Keluh Wayan


" Apa dia masih didepan sana? "


" Sepertinya dia sudah pergi, kita harus mengusir pria itu sebelum tuan Aiden tiba-tiba datang kemari...Kau tau sendiri kan bagaimana pria itu??"


.


.


.


To be continued πŸ˜‰

__ADS_1


Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘


Happy reading πŸ€—


__ADS_2