
Pada malam hari, di ruangan terbuka yang luas. Para pasukan kekaisaran Elang putih sudah bersiap untuk melawan pasukan kekaisaran Phoenix api. Namun, tidak semua pasukan dari kekaisaran Elang putih dikerahkan. Karna sebagian pasukan menjaga kekaisaran Elang putih. Jadi, hanya ada sebagian pasukan saja yang ikut perang.
Beberapa orang nampak takut. Karna mereka sudah tau bila pasukan kekaisaran Phoenix api dua kali lebih banyak dari mereka. Sehingga kemenangan pasti ada di tangan kekaisaran Phoenix api. Jadi, mereka hanya akan mati saat perang tanpa mendapat kemenangan. Itu'lah yang difikirkan para prajurit kekaisaran Elang putih ini.
Tiga orang Jenderal berdiri di samping seorang pria paruh baya. Pria itu merupakan Kaisar yang memimpin kekaisaran Elang putih. Ia tak habis pikir, temannya yang merupakan Kaisar dari kekaisaran Phoenix api akan berperang melawannya. Dia sendiri tidak tau apa penyebab perang. Namun yang pasti, dia tidak boleh kalah. Karna di kekaisaran Elang putih banyak rakyat yang mengandalkan dia dan pasukannya yang akan berperang.
Walaupun diperkirakan pasukan musuh akan datang esok, namun semua pasukan sudah bersiap. Mereka saat ini sedang duduk di permukaan tanah. Semua orang merasa bahwa ini adalah akhir hidup mereka. Walaupun mereka akan mati tanpa mendapat kemenangan, namun mereka akan bertarung dari pada melarikan diri dari medan perang seperti pengecut.
Kaisar memperhatikan para pasukannya. Ia dapat melihat raut keputusaasaan dan tidak ada semangat pada orang orang itu. Melihat hal tersebut, Kaisar berkata dengan tegas, "Walaupun kita kalah jumlah dengan pasukan kekaisaran Phoenix api, namun hal itu tidak boleh membuat kita takut. Kita ini kuat, lebih kuat dari pasukan kekaisaran phoenix api!
Apa kalian akan putus asa seperti itu di depan pasukan musuh dan memperlihatkan ketakutanmu pada musuh?! Apa kalian memang benar benar prajurit?! Atau kata itu hanyalah omong kosong belaka?! Apa kalian semua takut pada mereka hanya karna jumlah?! Ingatlah, di kekaisaran Elang putih, ada keluarga kalian yang menunggu di sana. Ada keluarga yang harus kalian lindungi. Apa kalian akan membiarkan keluarga kalian menderita akibat ulah musuh?!
Bila kalian prajurit.. Dan bila kalian masih mencintai keluarga kalian, maka bertarunglah sekuat tenaga! Biarpun kalah jumlah, belum tentu mereka menang! Jangan biarkan pasukan musuh yang memenangkan perang ini. Karna bila itu terjadi, maka keluarga kalian akan menderita! Apa kalian menginginkan hal itu?!"
Mendengar kata kata Kaisar, membuat semua prajurit mulai berdiri. "Aku tidak akan membiarkan keluargaku tersakiti. Maka dari itu, aku akan bertarung sekuat tenaga memenangkan perang ini" ucap salah satu prajurit dengan tegas.
"Aku akan bertarung demi keselamatan semua rakyat di kekaisaran Elang putih!"
"Tidak akan kubiarkan keluargaku menderita. Cukup aku saja yang menderita dan mati!"
"Aku akan bertarung demi semua keluargaku yang ada di kekaisaran Elang putih!"
Teriakan teriakan semangat mulai terdengar. Hal itu, membuat Kaisar tersenyum. Akhirnya ia berhasil membuat para pasukannya semangat. Hal ini bisa membuat kekuatan mereka semakin kuat.
Ketika semua orang sedang bersorak untuk menyemangati pasukan, tiba tiba muncul cahaya di permukaan tanah. Ketika cahaya mulai redup, banyak orang yang tiba tiba muncul di atas lingkaran cahaya.
__ADS_1
Semua pasukan melihat ke arah cahaya karna tempat terjadinya peristiwa itu di depan mata. Kaisar dan ketiga Jenderal juga melihat ke arah dimana para pasukan menatap suatu titik tempat. Karna para pasukan berhenti berbicara tadi yang membuat mereka berempat penasaran dengan apa yang para pasukan lihat.
Ketika cahaya redup dan kini tempat hanya diterangi obor juga cahaya bulan, nampak sekitar ratusan orang berbaris rapi. Hal yang membuat para pasukan kekaisaran, termasuk Kaisar dan tiga Jenderal terkejut adalah pakaian yang dikenakan orang orang asing itu. Mereka memakai jubah berwarna putih dengan campuran biru dan kuning. Lalu, topeng rubah putih yang mereka kenakan. Ciri ciri itu sama seperti sebuah kelompok yang mereka dengar. Anggota kelompok itu memiliki ciri ciri sama dengan apa yang dipakai ratusan orang ini.
"Apa itu.. Kelompok yang dikatakan masyarakat?" itulah yang difikirkan semua orang.
Kabar tentang kelompok topeng bayangan memang sudah tersebar di seluruh benua timur ini. Jadi tak heran bila kekaisaran Elang putih mengetahui rumor tentang mereka dan terkejut ketika melihat kedatangan para anggota ini.
Salah satu orang yang terlihat seperti pemimpin pasukan segera berjalan menuju ke arah Kaisar. Sementara ratusan orang lainnya hanya diam di tempat. Karna mereka tidak diperintahkan untuk bergerak.
Orang yang berjalan ke arah Kaisar memiliki penampilan yang sama dengan ratusan orang lainnya. Ia adalah Lao Tzu, pemimpin dari divisi penyerang.
Tiga Jenderal yang ada di dekat Kaisar nampak waspada. Walaupun mereka sudah mendengar tentang rumor yang beredar tentang kelompok ini yang dikatakan baik, namun mereka tetap harus waspada.
Lao Tzu, seperti biasa. Ia hanya akan bersikap dingin. Nadanya juga selalu seperti itu yang terkadang bisa membuat orang lain kesal. Namun, memang seperti itulah sifat pemuda ini. "Kalian tidak perlu waspada seperti itu pada kami. Karna kami ada di pihak kalian.
"Apakah memang seperti itu? Bila apa yang kau katakan benar, maka kami tidak boleh membunuh mereka" ucap Kaisar.
Tao Tzu mengangguk, "Itulah informasi yang kami dapatkan dari markas."
"Heh, bilang saja kalian tidak ingin kekaisaran Elang putih menang melawan kekaisaran Phoenix api. Maka dari itu, kau mengatakan hal seperti ini. Agar tidak ada korban sama sekali pada pasukan kekaisaran Phoenix api" ucap salah satu Jenderal. Ia memandang Lao Tzu dengan tajam dan intimidasi.
Namun, hal itu tidak berpengaruh pada Lao Tzu sama sekali. "Lebih baik kau diam saja. Jangan menuduh kami dengan hal yang tidak-tidak. Karna kami.. Bisa saja menghabisi kalian semua."
"Heh, jangan sombong. Mentang mentang kelompokmu terkenal, namun kalian tidak akan bisa menggertak kami. Kami akan tetap berperang dengan kekaisaran Phoenix api dan menghabisi pasukan musuh" ucap Jenderal itu kembali.
__ADS_1
Lao Tzu tiba tiba menghilang. Dalam waktu hitungan detik, ia muncul kembali di tempat yang sama. Namun kali ini, tangannya mengangkat leher seseorang bahkan kakinya hampir tidak menapak ke permukaan tanah.
Melihat hal itu, semua orang terkejut. Kecuali, para anggota divisi penyerang. Mereka sudah tau bahwa Lao Tzu akan melakukan hal itu pada Jenderal yang terus menuduh mereka. Namun, hal ini dilakukan bukan karna marah atau apapun. Tetapi, ini dilakukan karna Jenderal tersebut merupakan musuh yang masuk ke dalam pasukan kekaisaran Elang putih.
"Apa yang ingin kau lakukan pada salah satu Jenderal kekaisaran Elang putih?!" ucap Kaisar dengan marah. Dua Jenderal yang ada di samping Kaisar langsung memasang kuda kuda untuk menyerng. Bahkan pasukan lain pun melakukan hal yang sama. Mereka menarik senjata masing masing dan bersiap menyerang.
"Apa kalian ingin membela pengkhianat ini? Dia merupakan musuh yang menyamar menjadi kawan," Lao Tzu melirik pasukan kekaisaran.
Semua orang kekaisaran menjadi heran dengan apa yang Lao Tzu katakan. Mereka terlihat menurunkan kewaspadaan ketika mendengar ucapan Lao Tzu.
Lao Tzu kembali menatap Jenderal yang ia cengkram lehernya. Beberapa kali Jenderal itu ingin melepaskan diri. Namun, tidak bisa. "Katakan, dimana temanmu yang lainnya? Dimana pemimpinmu? Aku tau, kau ada hubungannya dengan semua kekacauan yang terjadi."
"A- aku.. Tidak akan.. Memberitaukannya.. Padamu!"
Lao Tzu semakin erat mencengkram leher Jenderal pengkhianat itu, "Katakan! Bila tidak, maka akan kupatahkan lehermu ini."
"Ba- baik.. Baik.. Aku akan mengatakannya. Ta- tapi jangan.. Bunuh aku."
"Tergantung bagaimana kau akan mengatakan informasi pada kami atau tidak," Lao Tzu melonggarkan cekikannya dari leher Jenderal pengkhianat.
"Sebenarnya aku.. Hanyalah bertugas untuk.. Membuat.. Kalian dan kekaisaran.. Elang putih bertarung.. Tuanku.. Sudah mengetahui bahwa.. Kalian akan datang.. Sebagai bantuan kemari.. Jadi aku.. Ditugaskan membuat kalian bertengkar.. Aku bukanlah.. Bagian inti dari rencana.. Tuanku... Sementara itu, anggota lain.. Dari kelompok yang dibuat Tuanku ada di.. Aarrkkhh!"
Api mulai muncul di sebagian tubuh pengkhianat itu. Melihat hal tersebut, Lao Tzu melemparnya dan membuat pengkhianat berguling guling di tanah karna kepanasan akan api yang membakar tubuhnya.
"Apa yang terjadi?!", kaget Kaisar, dua Jenderal dan pasukan kekaisaran. Mereka menatap pengkhianat itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, pengkhianat mati dengan tubuh hangus. Api sudah padam ketika pengkhianat sudah menghambuskan nafas terakhirnya.
Lao Tzu dan anggota divisi penyerang lain sudah menduga akan terjadi hal seperti ini. Jadi, mereka tak terkejut sama sekali. Lagi pula, kelompok musuh pasti memasang segel kesetiaan atau segel lainnya untuk memastikan anggota mereka tak berkhianat.