Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
84 -Liu Chen IV


__ADS_3

Liu Chen mematung melihat apa yang ada di hadapannya saat ini, "K-kau.." gumamnya dengan suara bergetar.


Di hadapan Liu Chen saat ini ada seorang pria yang terlihat berumur 30 tahunan. "Lama tidak bertemu, pangeran", seringaian nampak di wajah pria itu.


Liu Chen hanya diam saja. Namun tangannya mengepal kuat. Ia seperti menahan amarah dan takut secara bersamaan.


"Ada apa? Apa kau takut denganku? Apa kau takut dibunuh lagi olehku?", pria itu masih memperlihatkan seringaiannya.


"Bagaimana.. Bagaimana bisa dia ada disini?" batin Liu Chen.


Pria itu memiringkan kepalanya, "Hm? Apa kau melupakanku, pangeran Xiao? Apa kau lebih mengenalku dengan wujud asli?"


Ya, pria itu adalah naga yang berubah wujud menjadi manusia. Ia 'lah yang membunuh pangeran Xiao Gang di kehidupan pertamanya.


"Sebenarnya.. Apa tujuanmu membunuhku saat itu dan.. Bagaimana bisa kau tahu bahwa ini adalah aku, pangeran Xiao," ucap Liu Chen yang masih mengepalkan tangan.


"Hm.. Ternyata kau mengingatku, pangeran Xiao", pria itu terdiam sejenak kemudian kembali berkata, "Untuk apa aku memberitahu tujuanku padamu? Apa untungnya bagiku?"


Liu Chen tak bisa berkata apapun ketika mendengar ucapan pria di depannya. Sepertinya pria itu tidak ingin memberitahunya apapun.


"Tidak ada untungnya bagiku memberitahu semua rencanaku padamu, pangeran."


"Lalu bagaimana.. Kau bisa ada disini?" ucap Liu Chen. Ia sudah tahu, bila bertarung dengan pria di depannya, ia takkan bisa menang. Karna perbedaan kekuatan yang jauh. Ia merasa masih sangat lemah untuk mengalahkan pria itu.


"Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu" ucap pria itu. Ia memegang sebuah batu. Iapun langsung memecahkan batu hingga hancur berkeping keping. Tak lama, muncul sebuah hologram yang memperlihatkan sebuah kejadian.


Liu Chen melebarkan mata ketika melihat hologram tersebut. Disana terjadi sebuah pembantaian. Namun orang yang membantai tidak langsung menghabisi mangsanya. Tapi menyiksa mereka terlebih dahulu dengan sangat kejam. Orang orang yang menjadi korban adalah seluruh orang yang disayangi oleh Liu Chen. Terlebih lagi, pelaku yang melakukan pembantaian adalah beberapa orang yang ia juga sayangi dan menurutnya berharga.


Liu Chen dapat melihat seberapa menderitanya orang orang yang disiksa. Ia menggelengkan kepala tak percaya, "Tidak mungkin!"


"Kenapa tidak mungkin, pangeran Xiao?", pria itu tersenyum.


Liu Chen masih terus memperhatikan hologram hingga beberapa menit, hologram akhirnya menghilang.


"Kau sudah lihat bukan? Bagaimana mereka membantai orang orang yng kau sayangi? Dan kau anggap berharga itu?" ucap pria di depan Liu Chen.


Orang orang yang dibantai adalah para anggota kelompok topeng bayangan. Bukan mereka saja, namun ada juga ayah, ibu dan kakak Liu Chen.


Liu Chen menggelengkan kepala tak percaya, "Tidak mungkin itu mereka!", ia menatap pria di depannya dengan tajam.


"Apa kau masih tak percaya? Baiklah... Kalian, kemari"


Setelah berucap seperti itu, di belakang Liu Chen muncul sekitar 3 orang. Liu Chen membalikkan tubuhnya kala mendengar suara langkah kaki.


"Apa kau sudah melihat bagaimana aksi kami tadi, Chen?" ucap salah satunya. Ia adalah Zong Xian.


Ketiga orang itu berhenti berjalan mendekat. Mereka adalah Zong Xian, Song Quon dan.. Zhang Jiangwu.


"Apa.. Kalian benar benar membantai mereka?" ucap Liu Chen.


"Haha, tentu saja! Bukankah kau sudah melihatnya sendiri tadi?" ucap Zong Xian.


"Kenapa kalian berkhianat seperti itu?!" ucap Liu Chen dengan keras.


"Heh, itu karna kami akan mendapat banyak keuntungan bila bersama dengan Yang Mulia kami. Bahkan karna dirinya, kami bisa dengan cepat naik tingkatan" ucap Song Quon sambil tersenyum sinis.


Liu Chen masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kalian membantai teman teman hanya karna sebuah keuntungan? Apa kalian sadar dengan apa yang baru saja kalian lakukan itu?! Kita sudah lama bersama sama dan kalian lebih memilih pria itu?!"


"Heh, yang kuatlah yang akan menang. Bila kami terus bersamamu dan melawan Yang Mulia, maka kami hanya akan mati. Kami tau, kekuatanmu dengan Yang Mulia sangat jauh. Jadi untuk apa kami masih mengikutimu?" ucap Zong Xian. Ia tersenyum mengejek.


"Kalian..", Liu Chen mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Kau marah? Lawan kami dan bunuh kami" ucap Zhang Jiangwu dengan datar.


"Hehe, tapi tentunya kau takkan bisa menang melawan kami. Karna sekarang kami lebih kuat dari sebelumnya" ucap Song Quon.


"Kami akan melawanmu dan menyelesaikan misi terakhir dari Yang Mulia. Yaitu untuk membunuhmu" ucap Zong Xian. Iapun mulai mengambil tombak yang ada di belakang punggungnya. Sementara, Song Quon dan Zhang Jiangwu mengeluarkan pedang masing masing.


"Heh, kau akan mati dengan melawan kami" ucap Zong Xian. Iapun melemparkan tombaknya dengan cepat sambil menggumamkan sesuatu.


Tombak dengan cepat meluncur menuju Liu Chen.


Liu Chen membekukan tangannya dan langsung menahan tombak yang ingin menembus tubuhnya. Sebagian es yang melapisi tangannya langsung meleleh.


Liu Chen langsung mencengkram tombak itu dan kembali melemparnya kepada Zong Xian dengan cepat.


Zong Xian langsung menangkap tombaknya dengan mudah. Bersamaan dengan itu, Song Quon dan Zhang Jiangwu sudah tidak ada di tempatnya berada.


Liu Chen langsung melompat tinggi ke atas. Tangannya kini sudah tak membeku lagi. Iapun langsung melakukan memutar tubuhnya dan melakukan tendangan.


Buukk


Song Quon terjatuh di tanah. Namun ia dengan cepat menghilang dari tempatnya. Ia muncul di samping Liu Chen yang sudah menapak di tanah. Iapun langsung mengayunkan pedang miliknya dengan sangat cepat.


Beberapa saat sebelum pedang itu mengenai tubuhnya, Liu Chen langsung melentingkan tubuh ke samping. Iapun langsung melakukan tendangan pada Song Quon. Namun tendangannya ditepis oleh pemuda itu.


Dari arah samping Liu Chen yang lain, di sekeliling Zhang Jiangwu nampak banyak sekali pedang yang nampak terbang. Iapun langsung memerintahkan pedang pedang miliknya bergerak kearah Liu Chen.


Liu Chen langsung terbang tinggi di langit karna merasakan adanya bahaya di arah samping. Namun, ia langsung terjun ke bawah dengan cepat karna seseorang memukulnya dari arah belakang. Nampak bahwa orang itu adalah Song Quon. Pergerakannya sangatlah cepat.

__ADS_1


Tanah tempat dimana Liu Chen terjatuh kini menjadi cekungan. Iapun langsung berdiri perlahan. Namun belum sempat berdiri, ratusan pedang langsung melayang ke arahnya.


Stabb


Stabb


Stabb


Karna ia sedang tergeletak di tanah dan belum siap akan serangan berikutnya, membuat beberapa pedang menusuk tubuh Liu Chen. "Ggrrhh"


"Sudah kami katakan, bahwa kau akan kalah!" ucap Song Quon yang kini sudah menapak di tanah dengan mulus.


"Sepertinya, misi kami kali ini akan sangat mudah" ucap Zong Xian.


"Ternyata hanya seperti ini kemampuanmu, sangat lemah!" ucap Song Quon dengan sombong.


Liu Chen tersenyum tipis, "Sekarang aku mendapatkan jawabannya"


"Aarkkh"


Zong Xian tergeletak di tanah dengan satu tangan ke belakang dan nampak tangannya itu di cengkram seseorang. Sementara punggungnya diinjak orang itu yang tak lain adalah Liu Chen.


"Kalian.. Bukanlah teman temanku!" ucap Liu Chen yang kini satu kakinya menginjak punggung Zong Xian. Sementara satu tangannya membuat tangan Zong Xian patah karna ia tarik ke belakang dengan keras. Patahan itu tidak merobek daging sama sekali.


"Ggrrhh", di sudut bibir Zhang Jiangwu nampak darah yang keluar. Di bagian dadanya terlihat sebuah pedang yang menembus tubuh. Sementara di belakangnya ada Liu Chen.


"Jiangwu yang kukenal adalah orang yang waspada dengan sekitar. Refleksnya juga cukup bagus. Namun dia tidak memiliki kriteria seperti itu" ucap Liu Chen yang berada di belakang Zhang Jiangwu.


"Aarkh", Song Quon tergeletak di tanah dengan kepala belakang berdarah. Kepalanya dicengkram oleh Liu Chen lain.


"Quon yang kukenal, tidak akan meremehkanku. Karna dia pasti sudah mengetahui tentang jurus clone es dan jurus langkah bayangan."


Liu Chen yang ke-4 muncul di belakang pria naga. Ia berniat memukul tubuh pria itu. Namun, pria tersebut langsung berbalik dan melakukan pukulan kuat kearah Liu Chen secara tiba tiba.


Karna memiliki refleks yang bagus, Liu Chen agak melompat mundur. Walau tetap saja dirinya terkena serangan sebagian. Ia langsung dibuat terlempar jauh hingga belasan meter.


"Kau kira, dapat mengalahkanku dengan mudah?" ucap pria tersebut. Ia menghilang dari tempatnya dan muncul di depan Liu Chen dengan sebuah kepalan tangan.


Liu Chen melebarkan mata kala sebuah pukulan kuat akan mengenainya. Namun ia tidak bisa menghindar karna pukulan itu terlalu cepat.


Boomm


Dedebuan menutupi sekitar dan setelah menghilang, terlihat'lah sebuah cenkungan besar dengan dibagian tengah terdapat dua orang.


"Uhuk..", Liu Chen terbatuk darah karna mendapatkan pukulan yang sangat keras itu.


Pria naga berdiri di samping Liu Chen yang tergeletak di tanah. "Kau sangat lemah dan kau pikir dapat mengalahkanku? Heh, kau bahkan tak bisa melindungi orang orangmu. Mereka kini sudah mati oleh tiga orang teman yang sangat kau percayai itu", ia tersenyum sinis.


"Apa yang bisa kau lakukan? Kau hanya dapat melihat kematian mereka. Tanpa bisa mencegahnya. Kau kira, kau sudah hebat? Dan apa kau pikir kau sudah menjadi pemimpin yang baik? Heh, kau sungguh berpikiran sempit." lanjut pria naga.


"Aku.. Tidak pernah berpikir.. Bahwa aku.. Adalah.. Pemimpin yang baik..", Liu Chen berusaha berdiri. Pakaian yang ada di bagian perutnya robek dan di perutnya terlihat tapak merah yang diakibatkan karna pukulan pria naga.


"Tapi.. Aku berusaha.. Agar dapat menjadi.. Pemimpin yang baik" lanjut Liu Chen. Iapun kini berdiri dan berhadapan dengan pria naga. Ia menatap pria itu tanpa takut, tidak seperti pertama bertemu.


"Heh, kau berani ya sekarang padaku?" ucap pria naga.


"Kau hanyalah ilusi. Begitupun gambar dan teman temanku tadi. Kenapa aku harus takut padamu?!" ucap Liu Chen.


"Bila kau percaya semua ini adalah ilusi, mengapa wajahmu ragu seperti itu?", sudut bibir pria di depan Liu Chen tertarik ke atas.


"Aku tidak ragu sama sekali."


Pria naga langsung mengangkat tangannya hingga telapak tangannya berada beberapa centi dari kening Liu Chen. Bersamaan dengan itu, tempat sekitar berubah.


Sekitarnya hanya ada kegelapan tanpa batas tanpa ada hal lainnya. Hawa di sekitar terasa agak dingin dan tak nyaman. Liu Chen juga dapat merasakannya.


"Kenapa aku dan dia bisa ada disini?" batin Liu Che .


Pria naga menarik tangannya. "Kau pasti dapat merasakannya disini, pangeran Xiao."


Liu Chen menjadi semakin tidak nyaman. Hatinya terasa sakit dan kosong.


Pria naga kini berubah menjadi sosok Liu Chen. Hal ini membuat Liu Chen terkejut, "Bagaimana bisa?!"


"Kenapa kau meninggalkanku? Dan kenapa kau melupakanku? Bukankah saat di kehidupan pertama kita selalu bersama. Tapi sekarang kau meninggalkanku sendiri" ucap pemuda yang memiliki wajah sama seperti Liu Chen.


Liu Chen mengerutkan kening, "Apa maksudmu?"


"Kau melupakanku. Padahal kita selalu bersama sama saat kita merasa kesepian. Tapi kau pergi bersama oranglain dan melupakanku. Kenapa, Gang?"


Pemuda yang berpenampilan mirip seperti Liu Chen memancarkan aura kesepian dan itu terasa tidak nyaman.


"Aku sama sekali tak mengerti apa yang kau katakan."


Keadaan sekitar berubah. Kini ada di sebuah koridor yang agak minim cahaya. Nampak beberapa iblis dengan pakaian pelayan. Ada juga pangeran Xiao yang terlihat bersembunyi di balik dinding. Ia terlihat memperhatikan para pelayan yang sedang membicarakan sesuatu.


"Aku sangat tidak suka pangeran ada disini. Aku juga tidak ingin melayani pangeran. Bila saja bukan karna aku membutuhkan uang"


"Aku juga tidak suka. Karna pangeran bukanlah iblis murni. Dia adalah ras campuran, manusia dan iblis. Aku tidak suka manusia, karna mereka lemah"

__ADS_1


"Saat melayani pangeran, aku sangat sulit untuk tersenyum. Aku sebenarnya tidak sudi untuk melayani pangeran ras campuran itu. Tapi mau bagaiman lagi?"


"Apalagi aku lebih tidak suka dengan ibunya. Dia adalah manusia. Tapi untungnya manusia itu kini sudah mati. Jadi kita tidak perlu melayani manusia lemah seperti dia"


"Ya, aku juga senang. Karna manusia itu mati. Bila saja dia masih hidup sampai saat ini, mungkin aku akan mencoba melenyapkannya"


"Ssuut, kau jangan keras keras ketika mengatakan itu. Bisa saja Kaisar sedang lewat kemari"


Kini sekitar Liu Chen kembali berubah. Kali ini, pangeran juga nampak mengintip seseorang yang sedang berbicara. Iblis yang berbicara adalah satu iblis teman pangeran Xiao dan satu lagi adalah iblis yang tak dikenal pangeran.


"Ternyata pangeran Xiao bodoh sekali. Sangat mudah dimanfaatkan, haha. Aku tinggal mendekatinya saja dan aku meminta agar aku bisa memasuki akademi besar di kekaisaran. Dia langsung setuju begitu saja. Karna dia menganggap aku sebagai temannya"


"Kau cerdik sekali. Hanya dengan memanfaatkan kebaikan dan pertemananmu dengan pangeran ras campuran itu, kau dapat masuk akademi yang hebat. Tapi apa kau memang benar benar hanya memnfaatkannya? Kau tidak menganggap dia benar benar teman, bukan?"


"Tentu saja tidak! Mana sudi aku berteman dengannya!"


Liu Chen dan seseorang yang berwajah mirip dengannya hanya seperti penonton. Walau mereka berada di tempat kejadian. Bukan hanya dua kejadian itu saja yang diperlihatkan, namun kejadian kejadian lain diperlihatkan oleh kembaran Liu Chen.


Hingga setelah banyak kejadian diperlihatkan, keadan sekitar kembali berwarna hitam gelap, tanpa adanya cahaya. Namun Liu Chen dan kembarannya dapat saling melihat satu sama lain.


"Kau lihat? Kau hanyalah sendiri. Tidak ada siapapun yang peduli. Bahkan pak tua itu jarang menemui kita. Di setiap kesepian itu, hanya aku yang menemanimu. Hanya aku yang menerimamu dan hanya aku yang ada di sampingmu.


Tidak ada yang peduli padamu. Mereka semua bersikap baik dan ramah hanya di depanmu. Namun di belakang, mereka membencimu, mereka tak menerimamu. Tidak ada yang menginginkanmu hidup. Mereka bersikap baik padamu hanya karna pak tua itu atau karna kau adalah keturunan pertama Kaisar. Terkadang kau juga hanya dimanfaatkan oleh mereka.


Lalu, untuk apa kau masih peduli dengan mereka dan untuk apa kau peduli pada orang lain? Bukankah dulu kau ingin semua orang dapat merasakan kesepian yang kau rasakan? Kekosongan hati yang ada dalam dirimu? Lalu kenapa kau ingin membuat orang lain bahagia? Padahal lebih baik kau membuat mereka menderita, lebih menderita dari apa yang kau rasakan.


Kau hidup dikelilingi oleh banyak iblis. Namun, kau selalu merasa terasingkan dari mereka. Apa ada yang peduli dengan perasaanmu itu? Tidak ada! Tidak ada sama sekali orang yang peduli. Kecuali diriku. Rasa kesepian itu sangat tidak mengenakkan. Kau pasti lelah dengan semua perasaanmu itu. Begitupun diriku.


Tidak ada siapapun yang peduli, tidak ada siapapun yang tahu akan perasaan kita. Tersenyum disaat sedih sangat menyakitkan.


Semua orang yang ada di sekitarmu sekarang, pasti juga akan meninggalkanmu, sama seperti iblis lain di kehidupan pertamamu. Mereka akan pergi ketika mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan darimu. Mereka pergi dan datang seenaknya."


Kembaran Liu Chen mengulurkan tangan pada Liu Chen. "Jangan tinggalkan aku sendiri... Kembalilah padaku, aku.. Tidak akan pernah meninggalkanmu seperti yang lainnya.. Aku akan selalu ada disisimu.."


"Aku memiliki banyak orang yang peduli padaku. Mereka tidak seperti iblis saat aku di kehidupan pertama. Mereka.. Tidak akan meninggalkanku" ucap Liu Chen dengan tatapan tegas.


Tak lama kemudian, di belakang Liu Chen muncul cahaya terang. Setelah redup, di balik cahaya menampilkan banyak manusia. Ada juga empat orang iblis.


"Chen! Ayo kita pergi dari sini dan membeli banyak makanan!" ucap Song Quon dengan senyuman lebarnya.


"Chen'er, kemari sayang~ Ibu sudah membuatkan makanan kesukaanmu" ucap Li Wei (Ibu Liu Chen) sambil tersenyum.


"Chen'er, kembalilah dengan cepat. Ayah merindukanmu" ucap Liu Hongli.


"Chen'er, aku menunggumu di rumah!" ucap Liu Changyi (Kakak laki laki Liu Chen).


"Gang'er, ayo cepat kembali. Jika tidak, maka ayah akan menghukummu!" ucap Kaisar Xiao.


"Pangeran, cepat kembali. Jika tidak, Kaisar akan marah pada kami" ucap Lin Tian dan Xi Wang bersamaan.


"Ketua Xun, cepat kembali"


"Ketua Xun!"


Liu Chen berbalik dan menatap kerumunan itu. Ia tersenyum. Iapun berbalik kembali dan menatap kembarannya. "Kau lihat? Mereka ada di dekatku dan akan selalu bersamaku"


Kembarannya menggelengkan kepala, "Kau salah. Cepat atau lambat, mereka akan meninggalkanmu. Mereka tidak akan peduli lagi denganmu. Hanya aku.. Hanya aku yang peduli padamu!"


"Aku memiliki banyak orang yang bersamaku" ucap Liu Chen. Ia pun mulai berjalan menuju kerumunan.


"Tidak! Kau tidak bisa pergi meninggalkanku lagi hanya karna mereka! Kau tidak bisa pergi! Hanya aku yang mengerti dirimu! Hanya aku yang akan selalu disisimu dan menerimamu!" ucap kembaran dengan marah.


Namun, Liu Chen tidak menggubris dia sama sekali dan masih berjalan menuju keramaian.


Kembaran nampak putus asa dan marah secara bersamaan, "Kau tidak bisa pergi dariku! Kembalilah! Hanya ada aku yang selalu ada di sampingmu!"


Liu Chen berhenti berjalan. Iapun membalikkan tubuhnya dan menatap kembaran. Disisi lain, kembaran Liu Chen nampak tersenyum melihat Liu Chen yang mulai berjalan kearahnya.


Saat Liu Chen tepat berada di depannya, kembaran langsung berkata, "Kau sudah benar. Jangan pergi dariku. Hanya aku yang mengerti dirimu"


"Kau'lah sebenarnya yang tak mengerti diriku"


"Apa maksudmu?! Akulah yang paling mengerti dirimu"


"Keinginanku, aku ingin ada orang yang dapat mengerti diriku dan setelah aku mendapatkannya... Sekarang kau mencegahku. Jadi kau'lah sebenarnya yang tidak mengerti diriku!"


"Apa kau sudah melupakan apa saja yang sudah kau alami selama kehidupan pertama itu? Apa kau tidak ingat.. bagaimana ucapan ucapan mereka dan perlakuan mereka yang sebenarnya bila dibelakangmu? Saat di kerumunan, kau merasa terasingkan dari mereka. Kau merasa sendiri dan disaat itu.. Siapa yang ada untukmu? Hanya aku! Jangan pergi meninggalkanku hanya untuk orang orang seperti mereka!", mata kembaran Liu Chen nampak berkaca kaca.


"..."


"Ah?"


Liu Chen langsung memeluk kembarannya. "Aku tau itu, saat itu.. Hanya kau yang ada untukku. Maafkan aku karna meninggalkanmu sendiri. Tapi sekarang aku tidak akan meninggalkanmu lagi.. Kita akan bersama sama. Bukan hanya kita, tapi semua yang ada di belakangku juga. Tolong maafkan aku karna sudah melupakanmu. Aku janji tidak akan melupakanmu lagi"


Mata kembaran Liu Chen semakin berkaca kaca. Hingga akhirnya, air mata jatuh membasahi pipi. Iapun membalas pelukan Liu Chen. Iris matanya yang tadi merah, kini berubah menjadi hitam.


Perlahan, kerumunn manusia di belakang Liu Chen berubah menjadi butiran cahaya. Begitupun kembaran Liu Chen.


Melihat bahwa kembarannya menghilang, Liu Chen tersenyum, "Selamat tinggal.. Aku tidak akan melupakanmu lagi"

__ADS_1


__ADS_2