Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
42 -Turnamen Empat Bintang IV


__ADS_3

Wu Anming menatap Lao Tzu yang menahan serangan pedangnya hanya menggunakan tangan yang dialiri Qi. "Aku takkan kalah darimu dan aku takkan mengecewakan ketua pertama. Akan kutunjukkan kekuatanku"


Wu Anming menghilang dari tempatnya berdiri. Iapun muncul disamping Lao Tzu dan mengayunkan pedang kearah pemuda itu. Lao Tzu langsung menghindarinya, namun tetap saja tergores. Kecepatan Wu Anming yang saat ini lebih sulit dilihatnya.


Melihat sasarannya berhasil menghindar, Wu Anming tidak berhenti disana. Ia kembali menyerang Lao Tzu dari berbagai arah. Beberapa serangan dapat Lao Tzu tahan maupun hindari, namun ia tetap saja mendapatkan luka yang cukup banyak. Walaupun itu tidaklah mengancam nyawa.


Wu Anming kini muncul di jarak beberapa meter dari Lao Tzu. Ia nampak kelelahan karna menyerang dengan cepat dan dari berbagai sisi. Apalagi ketika serangannya ditahan oleh Lao Tzu, ia harus mengerahkan lebih banyak Qi nya.


"Menurutmu, siapa yang akan menang? Keduanya terlihat unggul. Jian (Lao Tzu) terlihat dapat bertahan. Qi miliknya juga sepertinya masih lebih banyak dari pada milik Yong (Wu Anming)" ucap seorang penonton.


"Mungkin Jian. Lagi pula, ia masih memiliki Qi yang lebih banyak dari pada Yong" ucap penonton lainnya.


Lao Tzu langsung mengepalkan tangannya ke depan. Nampak beberapa goresan melukai tangannya. Namun ia seperti tak merasakan sakit apapun. Karna ekspresi yang ditunjukannya adalah dingin.


Iapun langsung berlari kearah Wu Anming yang nampak kelelahan saat ini. Bahkan petir yang menyelimuti tubuh pemuda itu sudah menghilang.


Namun Wu Anming terlihat tidak ingin menyerah. Dari tatapannya terdapat sebuah tekad yang kuat. Iapun memaksakan dirinya untuk menyerang. Tubuhnya langsung dialiri oleh petir berwarna biru. Tangan kanannya mencengkram pedang dengan kuat.


Sebuah kepalan tangan langsung terarah padanya. Namun Wu Anming segera menghindrinya dengan mudah karna pergerakannya menjadi lebih cepat saat ini. Iapun muncul disamping Lao Tzu dan berniat memukul lengan pemuda itu.


Namun sebuah tendangan mengarah padanya. Wu Anming yang kini memiliki kecepatan lebih cepat dari Lao Tzu tentunya dapat menghindari serangan dengan cukup mudah.


"Kau sangat tangguh Jian. Melawanmu memang sulit bagiku, walaupun kekuatanmu hanya satu bintang diatasku" ucap Wu Anming.


Lao Tzu tak mengatakan apapun. Ia menatap kearah Wu Anming dengan dingin. Bila saja petir yang menyelimuti Wu Anming masih berwarna kuning, maka Lao Tzu masih dapat melihat pergerakan Wu Anming dengan kemampuan miliknya yang dapat melihat warna jiwa seseorang. Namun karna kini petir yang menyelimuti Wu Anming berwarna biru dan lebih cepat dari pada petir kuning, maka ia lebih sulit melihat pergerakan dari Wu Anming.


Wu Anming langsung melompat tinggi dan berputar di udara. Iapun langsung mengarahkan kakinya pada Lao Tzu, berniat menendangnya.


Karna Wu Anming saat ini dialiri petir berwarna biru, maka kecepatannya saat jatuh juga semakin cepat. Jadi kekuatannya tentu juga semakin besar.


Boomm


Dedebuan menutupi kedua pemuda itu saat Wu Anming sudah mulai terjatuh. Saat dedebuan menghilang, mereka dapat melihat bahwa Lao Tzu menahan kaki Wu Anming menggunakan tangan yang disilangkan keatas. Kaki Lao Tzu nampak agak masuk ke dalam tanah karna menahan kekuatan dari Wu Anming.


"Qi ku terkuras banyak" batin Wu Anming. Iapun langsung melompat mundur dengan pijakannya merupakan tangan Lao Tzu yang disilangkan.


Wu Anming mengatur nafasnya, "Sulit sekali mengalahkan dia"


"Kau cukup hebat"


Wu Anming terkejut mendengar pujian yang Lao Tzu katakan. Selama ini, pemuda itu tak pernah mengatakan pujian apapun pada dirinya. Apalagi dengan sifatnya yang dingin, tidak mungkin pemuda itu akan mengatakan kata kata pujian. Namun kali ini, ia mengatakannya.


Entah kenapa, namun Wu Anming merasa senang mendengar pujian dari Lao Tzu. Iapun tersenyum. "Terimakasih, namun sepertinya aku akan kalah"


Lao Tzu langsung berlari kearah Wu Anming dan memutar tubuhnya. Iapun langsung memberikan tendangan lurus pada Wu Anming.


Wu Anming langsung menahannya dengan pedang. Namun tentunya, itu takkan bisa menahan serangan yang dilakukan Lao Tzu. Hingga akhirnya Wu Anming harus terlempar beberapa meter dan tergeletak di tanah.


Wu Anming memuntahkan seteguk darah. Ia sekarang sudah sangat lelah dan kesakitan hingga akhirnya, iapun berkata. "A-aku..menyerah"


"Pemenang pertandingan kali ini adalah Jian!" ucap Song Quon.


Lao Tzu langsung berjalan mendekat kearah Wu Anming dan langsung membantunya berdiri.


"Kukira..kau takkan menolongku", Wu Anming pun terbatuk.


Lao Tzu tak mengatakan apapun. Ia merangkul Wu Anming dan membawanya menuju tempat ketua berada.


Saat sampai di tempat ketua, Liu Chen langsung memberikan Wu Anming pil dan pil itu langsung ditelan Wu Anming. Hanya dalam beberapa detik saja, luka yang didapatkan Wu Anming telah sembuh, hanya tinggal memulihkn Qi nya saja. Liu Chen juga memberikan pil yang sama pada Lao Tzu dan langsung ditelan pemuda itu. Seketika, luka yang diterimanya juga menghilang.


"Terimakasih ketua pertama" ucap Wu Anming dan Lao Tzu secara bersamaan.


Liu Chen mengangguk.


Wu Anming menundukkan kepalanya, "Maaf ketua, aku tidak bisa memenangkan turnamen ini. Aku memang sangat lemah. Maaf membuatmu kecewa karna aku kalah, ketua"


Liu Chen tersenyum, "Aku tidak kecewa sama sekali. Kau sudah berusaha yang terbaik. Lagi pula, Jian memiliki tingkatan diatasmu. Jadi wajar saja bila kau kalah"


"Tapi ketua, tetap saja aku kalah. Aku mengecewakanmu"


"Aku tidak kecewa sama sekali. Bila kau ingin membuatku bangga, maka berlatihlah dengan giat. Semua membutuhkan proses. Tanpa proses maka kita takkan bisa mencapai apa yang kita mau. Hal itu seperti pedang. Awalnya pedang hanyalah bongkahan besi. Namun besi itu terus ditempa. Besi itu dibakar, dan ditempa hingga akhirnya jadilah pedang yang dapat digunakan dan berguna.

__ADS_1


Intinya, jangan menyerah dalam keadaan sesulit apapun. Usaha yang kau lakukan pasti akan membuahkan hasil. Karna usaha takkan mengkhianati hasil. Hanya ada satu hal yang membuat mimpi menjadi mustahil tercapai, yaitu takut akan kegagalan. Bila kau memiliki impian untuk menjadi kultivator yang kuat, maka jangan pernah takut akan kegagalan yang akan terjadi padamu suatu saat nanti. Apa kalian mengerti apa yang kuucapkan tadi?" ucap Liu Chen sambil tersenyum.


Wu Anming dan Lao Tzu mengangguk faham dengan apa yang Liu Chen katakan.


"Sekarang kalian kembalilah. Bila kalian lelah, kembali saja ke kamar kalian dan istirahat" ucap Liu Chen.


Wu Anming menggelengkan kepala, "Tidak, aku akan tetap di tempat turnamen ini"


"Baiklah, sekarang kalian bisa kembali ke tempat duduk kalian" ucap Liu Chen sambil menatap Lao Tzu dan Wu Anming satu persatu.


Keduanya mengangguk. Mereka pun langsung pergi menuju tempat mereka duduk sebelumnya.


"Orang yang kau bawa memang hebat, Guang", Liu Chen kembali ke tempat duduknya dan menatap pemuda dengan tatapan datar disampingnya.


Zhang Jiangwu hanya mengangguk. Tanpa mengalihkan tatapannya dari arena turnamen.


Waktu terus berlalu, sudah banyak pertarungan yang dilakukan setiap anggota kelompok topeng bayangan. Kini adalah pertarungan terakhir.


"Akhirnya, sekarang pertarungan babak ke 2 yang terakhir telah tiba. Peserta Hong (Xing Fu) dan peserta bernama Kai dapat masuk ke dalam arena sekarang" ucap Song Quon.


Kai adalah anggota yang tidak masuk ke dalam babak ke 2 karna saat babak pertama, ia dan tim nya kalah. Kai dan Xing Fu masuk ke dalam arena. Mereka berada di jarak beberapa meter.


"Kalian siap?", Song Quon melirik kearah kanan dan kirinya. Iapun mendapat anggukan dari kedua belah pihak. "Kalau begitu, mulai!"


Song Quon menuju ke tepi arena.


Xing Fu dan Kai saling bertatapan. Namun terlihat pada tatapan Kai bahwa ia sangat berambisi untuk menang.


Kai memiliki tubuh yang besar dan nampak kuat. Ia memakai senjata tombak. Iapun mengambil tombak yang ada dipunggungnya.


"Ayo kita mulai saja, Hong" ucap Kai.


Xing Fu mengangguk, "Baiklah, sepertinya kau juga sudah tidak sabar untuk kalah dariku, ya?"


"Cih, jangan sombong! Aku akan mengalahkanmu", Kai langsung berlari kearah Xing Fu dan langsung mengayunkan tombak kearah pemuda itu.


Xing Fu segera melompat keatas hingga tombak hanya melewatinya di bawah. Kakinyapun langsung menapak pada tombak yang Kai pegang. Ia segera berlari diatasnya dan langsung menendang wajah Kai hingga membuat pria itu langsung termundur. Bahkan hidungnya nampak berdarah.


Xing Fu menapak ditanah dengan mulus, iapun menatap Kai dengan senyum mengejek. "Heh, hanya itu saja? Dasar lemah! Kau hanya banyak bicara!"


Kai langsung menghapus darah yang ada dihidungnya. Iapun menatap Xing Fu dengan marah karna dikatakan lemah. Iapun memutar tombaknya ke atas. Sebuah tornado cukup besar langsung tercipta diatas tombak.


Kai pun langsung melemparkan tornado itu kearah Xing Fu. Melihat hal itu, Xing Fu langsung meletakkan kedua tangan di tanah. "Elemen tanah:dinding tanah"


Seketika, sebuah dinding yang terbuat dari tanah muncul dihadapan Xing Fu dan menahan tornado angin itu. Terlihat bahwa dinding tanah dapat menahan tornado yang Xing Fu ciptakan. "Apa hanya itu saja, kemampuanmu? Cih, lemah!"


Tiba tiba saja, Kai berada diatas dinding tanah. Ia menatap Xing Fu dengan marah, iapun langsung melompat dari atas dinding tanah itu dan langsung mengayunkan tombak kearah Xing Fu.


Ketika itu juga, tornado angin langsung menghilang. Begitupun dinding tanah. Kini yang terlihat adalah Xing Fu terus menghindari semua serangan yang Kai lakukan.


Kai nampak menyerang dengan bruntal dan tanpa arah. Sehingga ia hanya menyerang secara asal saja.


Xing Fu tersenyum tipis, "Elemen tanah:duri tanah", ia pun langsung menghentakkan kakinya. Seketika, muncul tanah tajam dan itu tepat mengenai tombak yang Kai pakai untuk menyerang Xing Fu.


Tombak Kai langsung terlempar karna pria itu tidak memegang tombak dengan kuat saat serangan tiba tiba muncul. Iapun langsung melompat mundur dan berniat mengambil tombaknya kembali.


Sebelum itu terjadi, tanah tajam muncul tepat dihadapan Kai. Bahkan tanah itu menggores pipinya hingga membuat pipi kanannya berdarah.


Kai menatap Xing Fu dengan kesal. Sementara Xing Fu sendiri tersenyum mengejek kearah Kai.


Kai langsung mengambil tombak miliknya secepat mungkin. Iapun menatap kearah Xing Fu yang berada dijarak beberapa meter darinya. Ia langsung berlari kearah Xing Fu. Kini larinya cukup cepat dari pada saat pertama kali menyerang.


Tanah tajam muncul tepat dihadapan Kai. Namun pria itu langsung menghindarinya dan tetap berlari kearah Xing Fu. Namun lagi lagi tanah tajam selalu muncul dan menghalangi jalannya. Hingga Kai terlihat berlari secara zig zag.


Saat Kai baru saja akan berlari ke bagian kiri karna ia mengira tanah tajam akan kembali muncul di bagian kanan, tiba tiba tanah yang ada dibagian kiri dihadapannya saat ini muncul tanah tajam.


Kai terkejut. Namun ia berlari menaiki tanah itu dan melompat tinggi keatas. Setelahnya, Kai pun menapak ditanah dan kembali berlari menuju Xing Fu.


Saat berada tepat dihadapan pemuda itu, Kai langsung menggerakkan tombaknya kearah Xing Fu dengan kuat.


Namun pandangannya kini berubah. Awalnya ia melihat Xing Fu ada dihadapannya, namun saat ini dihadapannya adalah sebuh tanah.

__ADS_1


"Menyerah saja!" ucap Xing Fu yang berada dibalik tanah.


Ya, Xing Fu membuat kubah tanah dan mengurung Kai didalamnya.


"Sialan! Aku tidak akan menyerah padamu!", Kai langsung mengeluarkan sejumlah Qi di telapak tangannya. Di tangannya, nampak angin yng berputar. Tangan Kai nampak seperti bor dan pria itupun langsung menancapkan tangannya pada tanah. Ia cukup kesulitan saat mencoba membebaskan diri dari dalam kubah tanah milik Xing Fu. Namun, lama kelamaan kubah itu pun retak.


Sudut bibir Xing Fu terangkat. Ia memang sengaja tidak menguatkan kubah tanah sekuat saat dibabak pertama. Karna ia tak ingin lebih lama lagi menyelesaikan pertarungan ini dan ingin segera menyelesaikannya.


Ketika kubah sudah hancur, pedang Xing Fu terangkat dan berada tepat didepan leher Kai bahkan sedikit menggores leher pria itu.


Para penonton bertepuk tangan melihat hal itu.


"Menyerahlah sekarang atau kau akan terluka lebih parah lagi" ucap Xing Fu.


"Heh, seharusnya aku yang mengatakan hal itu!" ucap Kai. Iapun langsung menarik tangan Xing Fu yang memegang pedang dan iapun langsung menendang Xing Fu menggunakan lututnya. Setelah itu, Kai langsung melemparkan Xing Fu hingga membuat pemuda itu terlempar beberapa meter.


Semua penonton terkejut melihat kejadian itu. Mereka fikir, Xing Fu akan menang dengan cepat. Namun ternyata, Xing Fu mendapatkan serangan yang Kai lakukan.


Xing Fu berdiri dengan perlahan. Iapun menatap Kai. Matanya pun melebar, "Ke-kenapa aku tak bisa melihat tingkatan kultivasinya?! Bukankah dia berada ditingkatan yang sama denganku saat tadi?!" gumam Xing Fu.


"Haha, kau akan mati Hong karna sudah mempermalukanku di depan banyak orang", Kai langsung berlari kearah Xing Fu dan langsung mengepalkan tangannya.


Kai langsung memukul perut Xing Fu dengan keras hingga membuat pemuda itu kembali terlempar.


Xing Fu memuntahkan seteguk darah, "Aku..menye-"


Belum selesai mengatakan sesuatu, Xing Fu kembali terlempar. Ia terlempar beberapa meter dari tempatnya berada tadi.


"Aku takkan melepaskanmu" gumam Kai sambil menatap Xing Fu yang tergeletak di tanah dan berusaha bangkit lagi.


"Aku menye-"


Kai kembali menendang Xing Fu sebelum pemuda itu mengucapkan sesuatu. Hingga Xing Fu terlempar kembali.


Melihat hal ini, membuat Lao Tzu marah. Iapun langsung melompat keatas arena dan menghalangi Kai yang berniat menuju temannya. Ia menatap dingin Kai.


"Apa yang dilakukan Jian?! Kenapa dia masuk ke dalam arena?" ucap para penonton.


"Heh, jangan ikut campur dalam pertempuranku" ucap Kai. Iapun langsung berlari kearah Lao Tzu dan berniat memukulnya.


Walaupun Lao Tzu mengetahui, ia takkan bisa menang melawan Kai, namun ia takkan menyingkir.


Saat Kai akan memukul Lao Tzu, sebuah tangan langsung menggenggam kepalan tangannya.


"Kenapa kau masih saja menyerangnya? Padahal dia akan mengatakan 'menyerah'. Kenapa kau juga ingin melukai peserta yang bukan lawanmu" ucap orang yang menggenggam tangan Kai.


Saat melihat orang orang dihadapannya, Kai menjadi terkejut.


Krakk


Patahan tulang terdengar karna orang yang mencengkram kepalan tangan Kai memperkuat cengkramannya. Ya, orang itu adalah Liu Chen. Dia sudah tau bahwa Kai baru saja menggunakan pil penguat yang dapat menguatkan kekuatannya, walaupun hanya beberapa saat dan itupun tentunya memiliki resiko.


Bukan hanya ada Liu Chen, namun ketiga ketua lainnya juga ada disamping Liu Chen. Wakil setiap ketua pun ada disekitar sana, termasuk Song Quon.


"Aarrkk, maafkan saya ketua kedua!" ucap Kai dengan kesakitan saat merasakan tulangnya patah.


Liu Chen melepaskan cengkraman tangannya pada Kai dengan kasar. Ia menatap Kai dengan datar, "Apa kau berniat membunuhnya, hm? Kau juga melakukan pelanggaran"


"Ti-tidak ketua, sa-saya"


Kai tidak melanjutkan ucapannya lagi ketika merasakan sebuah tekanan yang menerpa tubuhnya. Itu adalah tekanan yang Zhang Jiangwu berikan.


"Kau sudah melakukan dua pelanggaran. Pertama, kau berniat membunuh peserta dan kedua, kau menggunakan pil penguat tubuh sementara" ucap Zong Xian dengan datar.


"Kau akan mendapatkan hukuman yang berat" ucap Yang Jia Li.


Melihat bahwa para ketua dan wakil ketua bahkan teman baiknya menolongnya, Xing Fu menjadi bersyukur. Iapun lngsung dibantu berdiri oleh Lao Tzu.


"Kau baik baik saja?" ucap Lao Tzu. Walaupun nada bicara dan ekspresinya dingin, tapi sebenarnya dia khawatir pada temannya. Ia tidak mau kejadian lalu terulang kembali.


Xing Fu mengangguk, "Um..ya, hanya saja tubuhku agak sakit"

__ADS_1


__ADS_2