Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
74 -Chu Kaili


__ADS_3

"Lepaskan aku!"


Liu Chen melirik kearah pemuda itu. Tatapannya sangat tajam dan terlihat bahwa iris matanya berwarna merah. Iapun langsung melempar pemuda yang dicengkramnya kearah depan hingga membuat pemuda itu terjatuh.


"Ahk, sstt", pemuda itu berdiri kembali sambil membersihkan pakaiannya. Ia melihat kearah depan, tepatnya pada Liu Chen. Ia langsung ketakutan ketika melihat tatapan orang di depannya.


Song Quon sendiri terkejut melihat perlakuan Liu Chen pada pemuda yang berusia sekitar 20 tahun itu. "Apa yang kau laku..", Song Quon tidak melanjutkan ucapannya. Ia terkejut kala melihat ekspresi Liu Chen.


"Sepertinya pangeran akan melakukan itu padanya " ucap Xi Wang dengan telepati pada Lin Tian.


"Melakukan apa?"


"Apa kau belum mendengar rumor, bahwa pangeran akan menyiksa penjahat sampai mati. Bahkan dia menyiksa dengan cara sangat kejam dengan tidak mengampuni penjahat. Apapun alasan mereka melakukan kejahatan, pangeran tidak akan melepaskannya. Intinya, pemuda itu akan mati dengan mengenaskan "


"Aku baru mengetahuinya"


"Haha, akhirnya kau berhenti berlari juga" ucap salah satu pria yang mengejar pemuda itu.


Pemuda itu nampak semakin ketakutan ketika dua orang pria sudah datang.


"Biarkan aku yang mengurusnya" ucap Liu Chen dengan dingin.


"Memangnya siapa kau...", seorang pria langsung berhenti berbicara dan tidak melanjutkan ucapannya. Dia dan temannya ikut ketakutan melihat Liu Chen.


Liu Chen melirik kedua Jenderal di belakangnya, "Kalian, bawa pencuri ini dan ikuti aku", iapun berlalu begitu saja.


"Ba- baik", keduanya segera memegangi tangan pemuda itu. Pemuda tersebut mencoba memberontak. Namun ia tetap tidak bisa melepaskan diri. Akhirnya ia hanya bisa pasrah dibawa kedua orang ini.


Song Quon terdiam sejenak sambil memendang kepergian Liu Chen dan dua Jenderal. Iapun langsung mengikuti mereka. "Apa yang terjadi dengan Chen? Tatapannya.. sangat dingin"


Kedua pria yang mengejar pemuda tadi langsung pergi dari sana. Mereka tidak jadi mengikuti pemuda itu. Karna takut dengan Liu Chen.


Kini Liu Chen dan yang lainnya sudah tiba di sebuah jalan sempit. Disana juga cukup gelap karna cahaya matahari sulit masuk ke jalan itu. "Lepaskan dia", Liu Chen melirik kedua Jenderal yang ada di sampingnya.


Keduanya langsung melepaskan pemuda itu dan mendorongnya agak ke depan. Pemuda itu langsung menatap Liu Chen dengan takut.


Liu Chen tanpa aba aba, langsung menendang tubuh pemuda tersebut hingga membuat pemuda itu terlempar dan menabrak dinding di belakangnya. Ia langsung terbatuk darah karna tendangan yang Liu Chen lakukan, sangat kuat menurutnya.


Pemuda itu terbaring dengan tubuh yang menyamping kearah Liu Chen. "Uhuk.. Uhuk"


Liu Chen mengeluarkan sesuatu dari cincin ruang miliknya. Sebuah belati!


Liu Chen berjalan beberapa langkah mendekat pada pemuda itu. Kemudian ia berhenti. "Apa kau tau apa ini?"


Pemuda itu semakin ketakutan ketika melihat Liu Chen mengeluarkan belati. Apa yang ingin dilakukan orang itu padanya? Pikir pemuda tersebut.


Song Quon semakin terkejut kala melihat Liu Chen mengeluarkan sebuah belati. "Chen, apa yang akan kau lakukan?!"


Liu Chen langsung melepampar belati kearah pemuda itu. Seketika, belati langsung mengenai perut bagian samping pemuda di depannya.


"Akkhh", darah langsung keluar di bagian luka tusuk itu.


Liu Chen mengeluarkan belati lainnya dari dalam cincin ruang. Iapun berjalan mendekat kearah pemuda di depannya. "Hm.. Bagaimana aku menyiksamu, ya? Merebusmu? Mencincang tubuhmu? Mengulitimu hidup hidup? Membakarmu dalam keadaan hidup?"


Pemuda itu yang mendengar ucapan Liu Chen, semakin ketakutan. Apalagi tatapan ingin membunuh yang Liu Chen berikan padanya.


Mendengar ucapan Liu Chen, kedua Jenderal iblis bergidik ketakutan. Walaupun mereka adalah iblis yang kejam, namun mereka tidak pernah memiliki pemikiran untuk menguliti seseorang hidup hidup ataupun membakar seseorang hidup hidup. Sepertinya rumor itu benar, itulah pikir mereka.


Song Quon terkejut mendengar ucapan Liu Chen. Ia langsung mendekat kearah Liu Chen dan memegang tangan temannya dari arah samping. "Chen yang kukenal bukanlah orang seperti ini. Jadi hentikan ini semua!" tegasnya.


Liu Chen melirik kearah Song Quon. Iris mata merahnya menatap lekat mata Song Quon. Iapun memegangi kepalanya dengan tangan kiri. Tak lama, iris matanya kembali berwarna hitam. Kepalanya terasa sedikit pusing saat ini. Ia pun menjatuhkan belati yang dipegangnya.


Liu Chen langsung terduduk di tanah sambil memegangi kepala dengan kedua tangan.


"Chen, apa yang terjadi?", Song Quon berlutut di samping Liu Chen.


Jenderal Xi Wang dan Jenderal Lin Tian berjalan mendekat dan ikut berlutut di samping Liu Chen. "Apa yang terjadi, pangeran?"


"Apa anda baik baik saja?" ucap Xi Wang.


Liu Chen menggelengkan kepala berkali kali untuk menyadarkan dirinya dari rasa pusing. Perlahan, rasa pusing itu hilang. Ia menatap kearah Song Quon dan dua Jenderal secara bergantian. "Aku baik baik saja. Hanya sedikit pusing"


Liu Chen langsung berdiri. Ia berjalan kearah pemuda yang berusia sekitar 20 tahunan di depannya.


"Ja-jangan sakiti aku!" ucap pemuda itu dengan ketakutan. Ia tidak bisa melakukan apapun lagi. Karna ia sudah terluka. Darahnya terus keluar dari bagian luka tusuk belati.


"Chen!", Song Quon mendekat kearah Liu Chen.


Liu Chen sendiri langsung berjongkok di depan pemuda berusia 20 tahunan itu. Ia langsung mencabut belati yang menusuk perut samping pemuda itu. "Maafkan aku"


Pemuda itu terkejut karna Liu Chen meminta maaf padanya. Namun dia masuh takut pada Liu Chen. Jadi dia tidak mengatakan apapun. Ia juga saat ini masih menahan rasa sakit di perutnya.

__ADS_1


Liu Chen segera memegang luka yang ada pada pemuda itu. Seketika, pemuda itu dapat merasakan rasa dingin di bagian luka. Liu Chen kembali menarik tangannya. Ia baru saja membekukan darah pemuda itu agar darahnya tidak terus mengalir. Tapi tentunya pemuda itu masih merasakan sakit, walau darahnya tidak keluar lagi dari luka.


Liu Chen langsung membantu pemuda di depannya untuk duduk. Pemuda itu langsung menurut saja pada Liu Chen. Karna takut bila ia melawan, maka Liu Chen langsung membunuhnya.


Liu Chen menyodorkan sebuah pil. "Telan ini"


Pemuda itu langsung menelan pil yang diberikan Liu Chen. Sementara Liu Chen membantu pemuda itu menyerap khasiat dari pil.


Hanya dalam beberapa detik, luka dan rasa sakit yang pemuda itu terima langsung berkurang. Pemuda itu terkejut dengan hal ini. Dalam beberapa detik, lukanya mulai sembuh. Rasa sakitnya juga berkurang.


"Maafkan kekasaranku tadi. Aku tak sengaja" ucap Liu Chen dengan menyesal.


Pemuda itu diam saja. Wajahnya terus menunduk, seakan tak berani menatap Liu Chen.


"Hei jangan diam terus seperti itu. Jangan mengabaikan pange-"


Liu Chen memotong ucapan Jenderal Lin Tian, "Diam Jenderal Lin. Jangan mencampuri urusanku"


Jenderal Lin Tian langsung membungkam mulutnya. Ia tak berani melawan.


Karna pemuda itu tidak juga merespon dirinya, Liu Chen bertanya, "Ngomong ngomong, apa alasanmu mencuri dan apa yang kau curi?"


Pemuda itu tidak juga mengatakan apapun.


"Apa dia sangat takut padaku? Ah, ini salahku. Aku tak bisa mengendalikan diri tadi" batin Liu Chen.


"Bila kau lapar, aku akan memberikanmu makan. Bila kau butuh sesuatu, katakan saja padaku. Ini sebagai permintaan maaf dariku" ucap Liu Chen.


"Kenapa.. Kenapa sekarang kau peduli padaku? Bukankah tadi kau menyerangku dan ingin menyiksaku?" ucap pemuda itu.


"Ah, itu karna..", Liu Chen terlihat bingung ingin menjawab apa. Tidak mungkin dia menjawab bahwa dia tadi tidak bisa mengendalikan dirinya saat melihat ada pencuri, bukan?


"Kalian.. Memang tak perlu alasan untuk menyiksa seseorang. Karna kalian adalah orang orang kuat. Kalian bisa menindas orang yang lemah sesuka kalian" ucap pemuda itu.


"Aku bukan orang seperti yang kau pikir-"


"Kalian sama saja. Kalian sama saja dengan yang lain. Berbuat seenak kalian, para orang orang kuat, kepada yang lemah", pemuda itu langsung berdiri dan seperti tak mempedulikan rasa sakit yang masih agak terasa olehnya. Wajahnya masih tertunduk ke bawah.


Liu Chen ikut berdiri. "Jangan berpikir aku adalah orang orang yang sama seperti mereka yang kau katakan"


Pemuda itu menatap mata Liu Chen. Kini, tidak ada raut ketakutan sama sekali di wajahnya saat menatap Liu Chen.


"Tatapan itu... Tatapan kebencian " batin Liu Chen.


"Hei, kami bukan orang seperti itu. Lagi pula, kenapa kau jadi marah seperti ini? Temanku memang salah. Tapi dia sudah meminta maaf padamu" kesal Song Quon.


Pemuda itu berniat pergi. Namun tangannya segera dicengkram oleh Liu Chen. Ia melirik kearah orang yang mencengkram tangannya. "Lepaskan aku"


Liu Chen menggelengkan kepala, "Tidak, sebelum kau menjelaskan apa saja yang terjadi padamu. Seharusnya aku memang tidak memaksa orang lain menceritakan masa lalunya. Tapi melihatmu seperti ini, sepertinya kau memiliki masalah. Kau bisa menceritakannya padaku"


"Tidak. Sekarang lepaskan tanganmu dariku", pemuda itu berusaha melepaskan cengkraman tangan Liu Chen. Namun bukannya lepas, cengkraman itu semakin kuat hingga membuatnya agak kesakitan.


"Maaf", Liu Chen melonggarkan cengkramannya kala mengetahui cengkramannya terlalu kuat hingga membuat pemuda di depannya kesakitan.


"Kenapa kau terus mencegahku untuk pergi, HAH?!" ucap pemuda itu yang semakin kesal.


"Karna aku tertarik denganmu" ucap Liu Chen dengan tenang.


"Tertarik?" gumam Xi Wang, Song Quon dan Lin Tian. Mereka mengartikan kata itu dengan arti yang berbeda.


"Mengapa kau tertarik denganku? Aku tidak memiliki apapun. Aku bahkan sangat lemah" ucap pemuda tersebut.


"Kau memiliki sesuatu yang menarik dan langka"


"Jangan membohongiku. Aku tidak memiliki apapun. Aku hanyalah sampah tidak berguna yang bisa dibuang kapan saja"


Liu Chen menggelengkan kepala, "Mungkin kau atau orang yang berada di sekitarmu tidak bisa merasakannya"


"Aku tidak percaya padamu! Lepaskan aku sekarang juga"


"Kau takkan ku lepaskan sebelum menjawab apa yang ingin kudengar darimu"


Perlahan, kaki pemuda di hadapan Liu Chen membeku. "A- Apa yang kau lakukan?!", pemuda itu terkejut karna kakinya sudah membeku hingga lutut.


"Sebaiknya kau ceritakan saja apa yang terjadi denganmu", Liu Chen menatap pemuda itu dengan tajam.


"Ba- baiklah. Tapi setelah itu, kau harus melepaskanku"


"Tentu"


Pemuda itu bernama Chu Kaili. Dia merupakan anggota keluarga Chu. Hanya saja, dia dibuang oleh saudara saudaranya. Ia tidak memiliki ayah dan ibu karna kedua orang itu sudah meninggal.

__ADS_1


Chu Kaili adalah anak yang tidak berbakat dalam kultivasi. Ia adalah orang yang paling lemah dari keluarga Chu lainnya. Keluarga Chu memiliki bisnis obat obatan yang sangat maju di kotanya. Jadi, keluarga Chu merupakan salah satu keluarga yang disegani.


Bukan karna itu saja keluarga Chu disegani oleh warga di kota itu. Namun karna kekuatan keluarga Chu juga yang terbilang cukup kuat. Hampir setara dengan sekte menengah.


Dengan adanya kehadiran Chu Kaili, nama keluarga Chu seakan ternodai karna Chu Kaili adalah pemuda yang tidak berbakat dalam kultivasi. Padahal, anak anak dari keluarga Chu adalah orang yang berbakat. Jadi, bisa dikatakan bahwa Chu Kaili adalah sampah disana.


Kepala keluarga Chu dan anggota keluarga Chu lainnya membenci Chu Kaili karna hal itu. Mereka pun memperlakukan Chu Kaili dengan buruk. Padahal, Chu Kaili merupakan anak dari kepala keluarga sebelum kepala keluarga saat ini. Namun, tetap saja mereka memperlakukannya dengan buruk.


Kepala keluarga saat ini adalah adik dari ayah Chu Kaili. Jadi kepala keluarga saat ini adalah paman dari Chu Kaili. Walau begitu, perlakuannya pada Chu Kaili sangat buruk. Begitupun saudara saudara Chu Kaili yang memperlakukan Chu Kaili seperti seorang budak.


Setiap hari, Chu Kaili selalu mendapat ucapan ucapan tidak baik dari keluarganya. Itu sudah seperti makanan sehari hari baginya.


Hingga suatu hari, ketika Chu Kaili berumur 16 tahun, ia langsung diajak pergi berjalan jalan di luar kota. Chu Kaili yang mendengar itu agak heran. Namun ia berfikir positif tentang hal ini. Iapun ikut dengan mereka.


Berhari hari mereka menaiki kereta kuda hingga akhirnya sampai di sebuah hutan. Chu Kaili langsung ditinggalkan disana. Chu Kaili sendiri berusaha mengejar para saudara saudaranya. Namun ia tidak bisa mengejar kecepatan kereta kuda yang cukup cepat itu.


Chu Kaili mencoba keluar dari hutan. Ia beberapa kali mendapatkan masalah disana. Ia juga pernah terluka parah karna ada hewan buas yang menyerang. Akhirnya, Chu Kaili tiba di kota Biru saat itu.


Chu Kaili mulai menjalani hidup disana dengan mencuri makanan atau mencuri uang milik orang lain. Ketika ketahuan, maka terkadang dia dipukuli hingga babak belur. Ia tidak ingin kembali ke keluarga Chu. Karna perlakuan mereka akan tetap buruk padanya.


Sejak itu, ia sangat membenci orang orang kuat. Dia selalu berfikir bahwa semua orang yang memiliki kekuatan besar dan memiliki kekuasaan adalah orang orang yang tak dapat dipercaya dan orang orang seperti itu hanya akan memperlakukan orang lemah dengan buruk.


Ingin rasanya membalas perlakuan mereka. Namun bagaimana? Dia saja tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi diri sendiri. Bagaimana dia bisa membalas dendam?


Liu Chen mengangguk ketika Chu Kaili sudah menceritakan semua hal padanya.


"Sekarang lepaskan aku" ucap Chu Kaili.


"Bukankah kau bilang ingin balas dendam?", Liu Chen tersenyum.


"Ya, memangnya kenapa? Walaupun aku ingin ,tapi aku tak bisa melakukannya. Aku tak memiliki kekuatan untuk itu"


"Kau bisa melakukannya bila kau mau bergabung denganku"


"Bergabung? Aku tidak percaya dengan orang orang seperti kalian"


"Bila kau bergabung denganku, maka kau bisa membalaskan dendam dan kau juga bisa bertambah kuat. Bukan hanya itu, kau akan mendapatkan tempat tinggal dan hal lainnya lagi. Jadi kau tidak perlu mencuri"


Chu Kaili nampak termenung, "Apa kau berniat membohongiku? Pasti kau akan membuangku setelah kau tidak membutuhkanku lagi, bukan? Aku sudah tau pikiran orang orang seperti kalian"


Liu Chen menggelengkan kepala, "Tidak sama sekali. Kau bahkan akan menjadi orang yang sangat berguna. Bergabunglah denganku. Maka kau dapat membalaskan dendam mu, kau bisa membalas semua perbuatan mereka", Liu Chen mengulurkan tangan.


"Apa kau mengatakan hal yang sebenarnya?"


Liu Chen mengangguk.


Chu Kaili mulai mendekatkan tangannya dengan tangan Liu Chen dan bersalaman dengan pemuda itu. "Aku akan bergabung dengan mu"


Liu Chen mulai melepas jabatan tangannya begitupun Chu Kaili. Ia tersenyum, "Bagus. Pilihan yang tepat"


Es yang membekukan kaki Chu Kaili langsung pecah.


Liu Chen langsung memasang segel kesetiaan pada Chu Kaili. Chu Kaili memandangi telapak tangannya. "Apa ini?"


"Itu adalah segel kesetiaan..", Liu Chen langsung menjelaskan fungsi yang dimiliki segel itu dengan detail.


"Jadi jangan coba coba mengkhianatiku" ucap Liu Chen.


"Aku mengerti. Tapi kau harus memegang kata katamu tadi. Kau harus membantuku membalas dendam"


"Baiklah, lagi pula aku adalah orang yang memegang kata kataku"


"Oh ya, apa maksudmu tertarik denganku? Memangnya apa yang kumiliki hingga membuatmu tertarik?"


"Kau memiliki tubuh yang langka. Tubuhmu memiliki hawa keberadaaan yang sangatlah tipis hingga membuat orang lain akan sulit menyadari kehadiranmu. Bahkan bila kau menyerangku secara diam diam, aku akan sulit menyadarinya karna hawa keberadaanmu yang tipis itu. Namun, jangan pernah mencoba menyerangku secara diam diam. Karna kau akan tau akibatnya" ancam Liu Chen.


"Maksudmu, Kaili akan sangat berguna menjadi anggota bagian divisi pembunuh?" ucap Song Quon yang sedari tadi hanya diam.


Liu Chen menatap Song Quon dan mengangguk, "Bukan hanya divisi pembunuh. Tapi Kaili akan sangat berguna jika menjadi divisi informasi. Dirinya bisa menyelinap secara diam diam untuk mendapat informasi yang minim orang ketahui. Karna hawa keberadaannya yang tipis, dia tidak akan disadari oleh orang lain. Namun tetap saja dia harus berhati hati"


Song Quon mengangguk paham.


Liu Chen menatap kearah Chu Kaili. "Kau akan berada di bawah bimbinganku langsung"


"Terserah kau saja" ucap Chu Kaili.


"Sebelum kita kembali ke markas, sebaiknya kita membelikan pakaian untuk Kaili" Liu Chen menatap Chu Kaili dari atas sampai bawah.


"Kau benar, tapi kita juga harus membeli makanan" ucap Song Quon.


"Dasar, pikiranmu sepertinya hanya ada makanan saja" canda Liu Chen.

__ADS_1


"Huh, terserah aku saja"


__ADS_2