Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
41 -Turnamen Empat Bintang III


__ADS_3

Turnamen terus berlangsung seharian. Kini sudah didapatkan para pemenang turnamen babak pertama. Kini para peserta diperbolehkan istirahat dan besok turnamen akan dilanjutkan.


"Huft..lelah sekali" ucap Song Quon.


"Aku pun lelah. Ternyata banyak juga orang yang hebat. Yah, walaupun begitu, kita tetap saja belum sebanding bila ingin melawan pasukan iblis. Jenderal iblis saja sudah sangat kuat bagi kita. Aku bingung, bagaimana agar kita dapat menang nanti?" ucap Liu Chen sambil menghela nafas.


"Jangan terlalu di fikirkan. Tidak baik terlalu banyak berfikir. Walaupun kau terus berfikir tentang itu, tidak tentu kau mendapatkan jawabannya. Terlalu banyak fikiran hanya akan membuatmu pusing saja tanpa mendapat jawaban yang pasti", Song Quon melirik sedikit ke samping, tepatnya kearah Liu Chen.


Liu Chen tersenyum ke arah Song Quon. "Yah, terimakasih untuk nasehatnya. Jadi aku tak perlu memikirkannya. Hanya saja yang harus kulakukan adalah tindakan"


Song Quon mengangguk. "Ya, jadi bila ingin kau mengetahui caramu mengalahkan Kaisar iblis, maka kau harus mencari tau nya bukan hanya berfikir saja"


Liu Chen menatap kearah depan. Mereka kini sedang berjalan di koridor luar, walau begitu, tidak ada anggota yang berjalan jalan disekitar saat ini. Karna mereka semua sedang istirahat.


"Terimakasih Quon, karna kau selalu ada untukku. Terimakasih karna setiap aku membutuhkan mu, kau selalu ada untukku. Aku berjanji, disaat terdesak apapun, di perang seperti apapun yang akan dilalui, aku takkan meninggalkanmu. Bila tidak dapat membantu, maka aku tidak akan lari. Aku akan terus disampingmu dan mati bersamamu", Liu Chen pun kembali melirik kearah Song Quon dengan senyuman.


Song Quon tersenyum dan mengangguk, "Terimakasih, Chen"


Liu Chen hanya tersenyum. Iapun menatap kearah depan kembali.


Keesokan harinya, semua anggota kelompok sudah berada di ruang turnamen. Ketua dan wakil ketua pun sudah ada disana. Song Quon sudah berada di dalam arena turnamen yang sudah diperbaiki.


"Baiklah, kita akan melanjutkan turnamen empat bintang kali ini. Aturan masih tetap sama, tidak boleh menggunakan racun, berbuat curang seperti menggunakan pil peningkat kekuatan dan membunuh anggota lainnya. Jika melanggar, maka akan didiskualifikasi dan akan mendapatkan hukuman yang sudah kami tentukan! Apa kalian paham?" ucap Song Quon dengan menggunakan Qi nya.


"Paham!"


"Pada babak kedua ini, kalian akan bertarung secara individu. Bila lawan menyerah ataupun tidak sadarkan diri, maka dia adalah pemenangnya dan dia tidak boleh melawan lagi.


Siapa yang memenangkan juara pertama, maka dia akan membantu salah satu ketua dan wakilnya untuk mengurus markas. Lalu, pemenang juara pertama akan mendapatkan sumber daya yang lebih besar lagi dan mendapatkan pedang tingkat tinggi, jurus tingkat menengah.


Sementara juara kedua sampai ketiga mendapatkan hadiah yang sama, yaitu pedang tingkat tinggi dengan jurus tingkat menengah.


Lalu, juara 4 dan 5 hanya akan mendapatkan pedang tingkat tinggi"


Semua anggota nampak bersemangat saat mendengar hadiah dari pemenang turnamen. Namun ada juga yang nampak tak bersemangat, karna mereka tidak masuk babak ke 2.


Melihat semangat mereka, membuat Song Quon menggelengkan kepala dalam hati, "Bila saja kalian tau bahwa pedang tingkat tinggi itu ada banyak dan jurus tingkat menengah ada cukup banyak pada para ketua, mungkin kalian akan terkejut. Hanya dengan hadiah ini saja mereka begitu bersemngat. Lalu bagaimana bila pemenang mendapatkan jurus tingkat tinggi?" batinnya.


"Peserta yang akan maju, dipilih secara acak. Karna jumlah peserta yang masuk babak ke 2 ganjil, maka seorang peserta akan melawan satu peserta yang tidak bisa masuk dalam babak ke 2. Kami yang akan menentukan siapa orang yang menjadi lawannya dan siapa peserta yang akan melawan peserta yang tak bisa masuk ke babak 2 tersebut. Jadi peserta yang tidak masuk babak ke 2 itu, memiliki kesempatan untuk menang" ucap Song Quon.


Semua peserta yang tidak bisa masuk babak ke 2 nampak ingin mendapatkan kesempatan itu. Masih ada harapan bagi mereka, walaupun itu kecil.


"Baiklah, tak perlu lama lama lagi. Kita akan memulai babak ke 2 saat ini. Peserta bernama Jiao (Zhi Shu) dan Hua (Wu Xianlun) silahkan masuk ke dalam arena"


Baik Zhi Shu maupun Wu Xianlun terkejut. Namun mereka segera turun dan menuju arena. Kini mereka pun berada di jarak yang berseberangan dan berada di jarak beberapa meter. Di bagian tengah, Song Quon berdiri untuk mengatakan aba aba.


"Kedua peserta siap?" ucap Song Quon. Iapun melirik ke kiri dan kanannya. Ia segera mendapat anggukan dari kedua peserta.


"Mulai", Song Quon langsung menuju ke tepi arena.


"Tak disangka, ternyata aku akan melawanmu Hua. Kalau begitu, aku takkan kalah darimu!" ucap Zhi Shu.


"Aku juga takkan kalah darimu, Jiao!" ucap Wu Xianlun.


Mereka berdua langsung mengambil senjata masing masing. Wu Xianlun mengambil pedang, begitupun Zhi Shu. Mereka saling menatap dan akhirnya mereka berdua maju secara bersamaan.


Pedang mereka saling berbenturan. Mereka memiliki tingkatan kultivasi yang sama, jadi mereka sama sama kuat. Hanya saja, Zhi Shu memiliki lebih banyak pengalaman dalam bertarung. Tidak seperti Wu Xianlun. Zhi Shu memutar tubuhnya dan langsung menendang Wu Xianlun. Hingga membuat wanita itu terdorong beberapa langkah.

__ADS_1


"Pertarungan mereka sangat memanjakan mata" ucap seorang pria yang nampak bersemangat menatap pertarungan.


"Kau benar, mereka sama sama cantik. Kau pilih yang mana?" ucap pria disampingnya.


"Kalau bisa keduanya. Aku akan mengajak mereka makan malam nanti"


"Heh, kau sama sekali tak pantas mendapatkan satupun dari mereka. Kau saja tidak bisa masuk babak ke 2" ejek temannya yang lain.


"Heh, lalu apa mereka juga ingin denganmu? Kau gendut, tidak ada wanita yang akan menyukaimu" ejek balik si pria tadi.


"Aku tidak gendut, hanya sedikit besar" ucap temannya.


"Heh, kalian sama sekali tak pantas mengatakan hal itu. Kalian bertiga tidak pantas dengan adikku" gumam Wu Anming ketika ia mendengar ucapan ketiga pria yang tak berada jauh darinya.


Wu Xianlun dan Zhi Shu saling membenturkan pedang masing masing. Keduanya terlihat seperti musuh.


"Kau memang hebat, Jiao", Wu Xianlun melentingkan tubuh ke belakang dan pedang yang akan menebasnya nampak melewati Wu Xianlun.


"Kau juga. Ku kira kau hanyalah wanita lemah. Ternyata tidak seperti itu" ucap Zhi Shu.


"Jadi kau selama ini menganggapku wanita yang lemah?!" ucap Wu Xianlun yang agak kesal.


"Hihi tidak juga", Zhi Shu menaikkan kaki kanannya dengan tinggi dan langsung menjatuhkannya ke bawah.


Wu Xianlun langsung menghindar ke samping. Iapun langsung menyerang temannya dari arah samping.


Zhi Shu segera membungkukkan tubuh ke depan hingga pedang temannya hanya melewatinya. Iapun kembali berdiri dengan tegak. Ia memberikan sebuah tendangan samping kaki kanan kearah Wu Xianlun.


Namun Wu Xianlun segera menepisnya menggunakan tangan kiri dan langsung memberikan tendangan balasan kearah Zhi Shu.


Wu Xianlun mengayunkan pedang kearah Zhi Shu. Namun segera ditahan oleh gadis itu. Pedang kembali saling berbenturan terus menerus hingga akhirnya kedua nya kelelahan setelah beberapa menit saling mengadu pedang. Mereka memiliki beberapa luka kecil di tubuhnya.


"Kita sepertinya seimbang, ya? Jiao", Wu Xianlun tersenyum.


"Kita sama sekali tak seimbang, aku disini", Zhi Shu mendadak menghilang dari hadapan Wu Xianlun dan kembali muncul di belakang temannya. Iapun langsung melompat tinggi dan berputar di udara. Zhi Shu segera menendang Wu Xianlun.


Wu Xianlun yang mendengar suara dari belakangnya, langsung membalikkan tubuhnya. Namun, sebuah tendangan langsung saja mengenai perut Wu Xianlun hingga membuat gadis itu terlempar beberapa meter karna tak siap dengan serangan kejutan yang dilakukan Zhi Shu.


Wu Xianlun segera memuntahkan seteguk darah dari mulutnya. Ia menatap kearah Zhi Shu yang kini sudah menapak di tanah dengan mulus. "Ba-bagaimana kau bisa ada dibelakangku?"


Zhi Shu tersenyum, "Aku memiliki jurus yang dapat mempercepat langkahku. Awalnya aku tak menggunakannya karna ingin melihat kekuatan milikmu. Jadi aku baru memakainya sekarang. Sebaiknya kau menyerah, Hua"


"Kau memang hebat, Jiao. Aku menyerah"


"Pemenangnya adalah Jiao. Hua, kau bisa pergi menemui ketua pertama" ucap Song Quon.


Wu Xianlun mengangguk. Zhi Shu langsung membantu temannya berdiri dan merangkulnya. "Maaf tadi aku menyakitimu"


Wu Xianlun menggelengkan kepala, "Tidak apa"


Mereka pun langsung pergi menuju Liu Chen. Karna pemuda itu memiliki pil yang dapat menyembuhkan luka dengan cepat. Liu Chen juga lah yang menyuruh Song Quon agar memberitaukan peserta yang terluka untuk datang padanya.


"Ah, ya. Saya lupa memberitau kalian. Akan ada babak tambahan. Dibabak ke 3 ini, hanya 10 orang yang paling kuat diantara semua peserta yang lolos dari babak ke 2 dan orang yang akan melanjutkan ke babak 3 dipilih oleh empat ketua dan wakil ketua. Lalu 10 orang itupun akan bertarung secara individu. Setelah mendapatkan 5 orang pemenang, maka merekalah yang akan mendapatkan hadiah dari kami" ucap Song Quon.


Semua peserta langsung terkejut dengan pemberitauan ini. Artinya, kesempatan menang bagi mereka semakin tipis.


"Tidak perlu kecewa bila tidak menang, karna tahun depan kami akan mengadakan kembali turnamen empat bintang bagi kalian! Jadi berjuanglah dan cepatlah bertambah kuat agar kita dapat mengalahkan ras iblis!" ucap Song Quon sambil tersenyum. Ia berusaha menyemangati anggota anggota ini.

__ADS_1


Mendengar hal itu, semua orang yang awalnya merasa pesimis, kini bersemangat. Bila mereka tak menang kali ini, namun mereka masih memiliki kesempatan menang di tahun depan.


"Baiklah, sekarang kita lanjut ke pertarungan berikutnya"


Waktu terus berlalu, sudah ada puluhan orang yang bertarung. Para ketua dan wakil ketua pun terus memperhatikan dengan seksama pertarungan setiap anggota. Karna mereka harus memilih 10 orang dari babak ke 2 yang menang, untuk melanjutkan ke babak selanjutnya. Mereka juga tidak boleh sembarangan memilih.


"Peserta bernama Yong (Wu Anming) dan Jian (Lao Tzu), silahkan naik keatas arena" ucap Song Quon.


Kedua pemuda itu langsung naik keatas arena. Mereka saling menatap.


"Kenapa aku harus melawannya? Apa tidak ada peserta lain saja yang menjadi lawanku? Sepertinya dia ini sulit ditebak" batin Wu Anming.


"Yong, apa kau sudah siap?", Song Quon menatap kearah Wu Anming. Iapun mendapatkan anggukan dari pemuda itu.


"Jian, apa kau sudah siap?", Song Quon menatap kearah Lao Tzu. Iapun mendapatkan anggukan dari Lao Tzu.


"Baiklah, kalian bisa mulai!", Song Quon langsung mengingkir dari arena.


Wu Anming langsung mengambil pedangnya yang tersarung dipinggangnya. Iapun menatap Lao Tzu dengan waspada.


Lao Tzu tidak menggunakan senjata apapun. Namun tangannya terkepal ke depan dan seperti siap bertarung.


Disekitar tubuh Wu Anming muncul petir petir kecil berwarna kuning. Iapun langsung menghilang dari tempatnya berdiri dan muncul di belakang Lao Tzu dan siap menyerang pemuda itu dari atas.


Namun pergerakannya terlalu mudah dibaca menurut Lao Tzu. Iapun langsung membalikkan tubuhnya sambil mengangkat kaki ke atas. Ia memusatkan Qi pada kakinya dan langsung memberikan tendangan samping kearah Wu Anming yang tak siap menerima serangan tiba tiba miliknya.


Wu Anming segera terlempar. Agar menghentikan tubuhnya terlempar semakin jauh, Wu Anming menggunakan pedangnya untuk ditancapkan ditanah. Garis dari pedang pun terbentuk ditanah. Kini posisinya berlutut sambil memegang pedang yang tertancap ditanah itu.


Wu Anming menatap kearah Lao Tzu dengan teliti. "Dia dapat membaca pergerakanku. Walaupun aku tau dia memiliki tingkatan diatasku, namun itu hanya satu bintang saja. Lalu kenapa dia bisa langsung tau dimana aku akan muncul? Apa dia juga sebenarnya memiliki jurus yang dapat mempercepat pergerakannya?" batin Wu Anming.


Lao Tzu berjalan kearah Wu Anming.


Wu Anming langsung berdiri kala melihat Lao Tzu berjalan kearahnya. Iapun langsung memegang pedang menggunakan kedua tangan dengan erat dan bersiap menyerang Lao Tzu kembali.


Lao Tzu mengepalkan tangannya dan berlari kearah Wu Anming. Kedua kepalan tangannya terisi Qi yang terkumpul hingga dapat membuat serangan semakin kuat.


Lao Tzu mulai menyerang Wu Anming menggunakan kepalan tangannya. Ia mengarahkan sasaran pada perut Wu Anming. Namun serangannya selalu dihindari Wu Anming.


Wu Anming agak membungkukkan tubuhnya ke depan dan berniat menusuk Lao Tzu. Namun pemuda itu segera melompat ke atas dan berputar di udara. Iapun langsung mengumpulkan Qi di telapak kakinya dan berniat menginjak Wu Anming.


Sebelum itu terjadi, Wu Anming segera menghindari nya hingga kaki Lao Tzu hanya mengenai tanah dan membuat cekungan. Dedebuan menutupi pandangan Wu Anming saat ini. Namun ia tetap bersiap bila saja ada serangan dadakan yang dilakukan Lao Tzu dan benar saja, Lao Tzu keluar dari kepulan debu dan mengarahkan kepalan tangannya pada Wu Anming.


Wu Anmung langsung menyilangkan tangannya ke depan dan menahan serangan kuat Lao Tzu. Ia memusatkan Qi pada kedua tangannya. Namun tetap saja, dirinya terdorong karna Lao Tzu memiliki kekuatan yang kuat.


Ketika Wu Anming sedang menahan kepalan tangan Lao Tzu, sebuah tendangan kuat dari Lao Tzu langsung mengenai pinggangnya dan membuatnya terlempar.


"Lemah" ucap Lao Tzu dengan dingin.


Wu Anming terbatuk sesaat. Iapun langsung kembali berdiri dengan bantuan pedang. Wu Anming langsung memuntahkan seteguk darah dari mulutnya. "Serangan yang dilakukannya sangat kuat. Aku takkan menang darinya. Apa aku menyerah saja?" pikir Wu Anming. Iapun menatap kearah Lao Tzu yang masih berdiri di tempatnya.


Tiba tiba iapun terfikir tentang Liu Chen, "Tidak, aku tidak akan mengalah padanya dan menyerah begitu saja. Aku tak boleh mengecewakan saudara Chen" batinnya.


Seluruh tubuhnya langsung dialiri oleh petir. Namun kali ini, petir yang dikeluarkan berwarna biru dan petir ini nampak lebih kuat. Wu Anming menatap Lao Tzu.


Tiba tiba, Wu Anming menghilang dan muncul tepat didepan Lao Tzu dengan pedang yang diayunkan ke arah Lao Tzu. Menyadari adanya serangan, Lao Tzu langsung menahannya menggunakan tangan yang disilangkan ke depan, karna ia tak sempat menghindar.


Pergerakan Wu Anming kali ini lebih cepat dari pada saat petir yang menyelimutinya berwarna kuning.

__ADS_1


__ADS_2