Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
33 -Kota Bulan Merah


__ADS_3

Liu Chen menatap kearah suara yang didengarnya. Dia dapat melihat seorang wanita cantik disana. Namun ia tidak tertarik sama sekali. Bahkan menurutnya, ibunya lebih cantik.


"Sebenarnya apa yang terjadi disini. Kenapa kalian membuat keributan di restoran milikku?!" ucap wanita tersebut.


"Tu-tuan muda Hu?!", kaget wanita tersebut saat melihat keadaan Hu Shiling. Iapun mengarahkan tatapannya pada seorang pelayan yang ada di dekat sana.


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


Pelayan itu hanya menatap manajer wanita tanpa mengatakan apapun. Karna ia tidak mengetahui apapun dengan apa yang terjadi saat ini.


"Kenapa kau tidak menjawabku?" ucap menajer.


Tak lama, seorang pelayan yang berada dibelakang manajer langsung menjawab, "Nona Xiu, saya akan menceritakan kejadiannya"


Manajer yang dipanggil nona Xiu menoleh kearah pelayan itu dan mengucapkan, "Katakan saja"


Manajer itu bernama Xiu Juan.


Pelayan langsung mengatakan kejadian awal pertama Hu Shilin masuk ke dalam restoran. Sampai dirinya dan beberapa temannya pergi kepada manajer.


Mendengar hal itu, membuat Xiu Juan marah, iapun menatap kearah Hu Shilin yang masih terkapar dilantai. "Tuan muda Hu, sebaiknya anda segera pergi sekarang juga. Karna anda telah mengganggu pelangganku"


Hu Shilin langsung berucap dengan kesulitan, "No-nona Xiu, saya adalah anak wali kota. Anda tidak bisa mengusir ku"


"Anda tidak berhak mengatur saya disini, tuan muda Hu. Ini adalah restoran ku. Sebaiknya anda segera keluar dari sini dengan baik baik atau aku akan mengusir anda dengan kasar" ucap Xiu Juan dengan tegas.


Hu Shilin nampak kesulitan berdiri. Melihat hal tersebut, Xiu Juan langsung memanggil penjaga restoran untuk membawa Hu Shilin beserta pengawalnya.


Penjaga langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Xiu Juan. Mereka langsung membawa tuan muda Hu dan semua pengawalnya yang pingsan.


Xiu Juan pun langsung menatap kearah pemuda yang berada di lantai dua. "Tuan, maafkan atas kejadian ini"


Liu Chen menatap Xiu Juan dan mengangguk, "Tidak apa, kalau begitu ini sebagai ganti rugi", iapun langsung melemparkan sekantong koin emas kearah Xiu Juan.


"Tu-tuan, tidak perlu-"


Liu Chen langsung memotong ucapan Xiu Juan, "Kau pasti membutuhkannya untuk merenovasi restoran ini"


"Terimakasih tuan", Xiu Juan langsung memberikan hormat.


Liu Chen langsung membalikkan tubuh dan menatap kearah teman temannya, "Ayo kita pergi dari sini, kita akan mencari tempat lain"


"Baik"


Mereka berempat pun langsung pergi dari restoran.


Xiu Juan nampak merasa bersalah atas apa yang terjadi hari ini. Ia memang tidak menyukai sifat tuan muda Hu yang selalu bertindak seenaknya.


Saat diperjalanan, Liu Chen melihat kearah leher Song Quon. "Kau baik baik saja 'kan? Apa ada yang sakit?"


"Aku baik baik saja, pedang miliknya hanya menggores sedikit leherku", Song Quon tersenyum untuk menenangkan Liu Chen.


"Baiklah, kalau kau baik baik saja", Liu Chen mengangguk.


"Ekhem, sepertinya kau sangat perhatian pada saudara Quon ya?" ucap Wu Anming sambil berjalan agak maju untuk mendekati kedua pemuda dihadapannya ini.


"Apa maksudmu, Anming?" tanya Song Quon dengan heran.


"Apa kalian memang sebatas teman, ekhem maksudku apa kalian memang hanya berteman atau-"


"Hei berhenti disitu! Aku sepertinya tau maksud apa yang ingin kau ucapkan, jangan berfikiran seperti itu. Aku dan Chen hanya teman baik, tidak lebih dari itu. Jangan berfikir aneh aneh tentang perhatian yang Chen berikan padaku" ucap Song Quon dengan protesannya.


"Memangnya apa yang ingin Anming katakan? Aku tak mengerti" ucap Liu Chen dengan heran.


"Chen jangan dengarkan dia, dia hanya sedang bercanda. Tidak perlu difikirkan terlalu jauh", Song Quon menatap kearah Liu Chen.


"Oh, begitu. Baiklah", Liu Chen mengangguk.


"Apa kita akan pergi makan ke restoran yanglain kak Chen?" tanya Wu Xianlun yang berjalan dibelakang sendirian.


"Ya, kau dan kakakmu pasti lapar. Jadi kita akan pergi kesana", Liu Chen langsung menunjuk sebuah restoran.


Wu Xianlun tersenyum, "Yey, makan!"


Sementara itu, di rumah Wali Kota.


Pak Wali Kota nampak panik melihat kondisi anaknya yang kini terbaring dikasur. Tubuhnya penuh luka, kepala nya juga terlihat berdarah.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" ucap Wali Kota. Ia melirik kearah samping, dimana ada dua orang penjaga dari restoran yang mengantarkan putranya.


"Tuan muda Hu mengganggu seorang pelanggan di restoran kami. Jadi pelanggan itu langsung melawan tuan muda Hu. Bahkan semua pengawal juga dibuat pingsan olehnya. Aku mengetahui itu karna mendengar cerita dari seorang temanku yang menjadi pelayan disana" ucap seorang pengawal.


Wali kota menatap kearah anaknya sambil menggelengkan kepala, "Kenapa kau tidak pernah berubah? Jangan bersikap seenaknya pada oranglain. Kenapa kau tidak pernah menuruti ucapan ayahmu ini?"


"A-ayah, kau memiliki jabatan yang lebih tinggi di kota Melati ini, untuk apa aku harus menghormati mereka? Mereka yang seharusnya menghormatiku!" ucap Hu Shilin dengan kesakitan.

__ADS_1


"Haih..percuma saja berbicara denganmu Lin'er, kau tak pernah berubah", Wali Kota menggelengkan kepala dengan menyesal.


"Tuan Wali Kota, kami pamit karna tugas kami sudah selesai disini" ucap seorang penjaga restoran.


Wali Kota langsung menggangguk, "Terimakasih sudah mengantar anakku pulang", iapun tersenyum.


"Kalau begitu, kami pamit Wali Kota", kedua penjaga langsung pergi dari sana.


"Ini minumlah, Lin'er. Kau akan cepat sembuh setelah meminum ini", Wali Kota langsung memberikan sebuah pil pada Hu Shilin.


Hu Shilin langsung menelannya tanpa ragu. Lalu, hanya dalam beberapa detik semua lukanya menghilang. Begitupun sakit yang dirasakannya.


"Ce-cepat sekali" ucap Hu Shilin dengan terkejut.


"Pil ini memang sangat hebat, tak salah aku membelinya di asosiasi bulan perak", Wali Kota langsung tersenyum.


"Hehe, dengan begini...aku bisa membalasmu. Aku akan mengirimkan pembunuh untuk membunuhmu. Aku takkan melepaskanmu karna kau sudah menginjak harga diriku didepan nona Xiu" batin Hu Shilin sambil tersenyum.


Ia pasti takkan menyangka jika pil itu adalah pil buatan orang yang dibencinya.


Malam harinya, sekelompok orang dengan pakaian gelap terlihat diatap sebuah rumah.


"Dari informasi yang kudapat, dia ada diruang penginapan itu", salah satu orang langsung menunjuk sebuah penginapan.


"Hm? Disana ya, baiklah. Ayo kita bergerak dan selesaikan tugas ini dengan cepat"


Mereka langsung masuk ke salah satu ruangan lewat jendela. Namun mereka tak menemukan siapa siapa didalam.


"Bukankah seharusnya dia ada disini? Lalu sekarang dimana dia?" gumam salah satu dari 5 orang.


Mereka adalah 5 orang pembunuh bayaran yang Hu Shilin sewa. Tugas yang diberikan adalah untuk membunuh Liu Chen.


"Apa kalian mencariku?" terdengar sebuah suara dari belakang kelima pembunuh bayaran.


Kelimanya membalikkan tubuh dan menatap kearah sumber suara. "Kenapa kau bisa ada dibelakang kami?"


"Hm? Yah..aku tadi keluar sebentar, jadi aku baru masuk ke dalam kamar lagi" ucap suara tersebut dengan entengnya. Dia adalah Liu Chen.


"Kau! Bunuh dia, semuanya! Setelah selesai, kita akan memberikan tubuhnya pada demonic beast, hahaha"


"Baik!"


Kelima orang berniat menyerang Liu Chen, namun sebelum itu terjadi, mereka sudah mati.


Liu Chen memasukkan kembali pedang yang baru saja diambilnya dari cincin ruang. Iapun menatap mayat mayat didepannya. "Cih, aku jadi harus membersihkannya!"


Dirumah Wali Kota. Hu Shilin nampak berdiri diluar rumah, "Kenapa mereka belum juga kemari?! Mereka lambat sekali dalam mengerjakan tugas!" gummnya.


Tak lama setelah mengatakan hal tersebut, benda jatuh langsung terdengar. Mendengar suara itu, Hu Shilin langsung pergi ketempat dimana dia mendengar benda jatuh tersebut.


Ketika sampai, ia sangat terkejut melihat pembunuh bayaran yang disewanya telah menjadi mayat. "Ba-bagaimana bisa?! Me-mereka semua tewas?!"


"Cih, kau takkan bisa membunuhku dengan pembunuh bayaran lemah seperti mereka! Awalnya aku akan membiarkanmu saja, namun sepertinya aku takkan melakukannya sekarang ini" ucap sebuah suara dari langit.


Hu Shilin menatap kearah sumber suara, iapun terkejut. "Ba-bagaimana kau bisa terbang?!"


"Heh, menurutmu? Bukankah hanya orang orang dengan tingkat kaisar dan lebih besar dari itu, yang bisa melakukannya?" ucap Liu Chen. Sudut bibirnya terangkat.


"Ti-tidak mungkin!"


"Kau tidak perlu menunjukkan ekspresi seperti itu didepanku. Karna kau akan segera menyusul mereka", setelah mengucapkan hal itu, Liu Chen langsung menghilang dari tempatnya berada.


Hu Shilin melihat kesekitar dengan waspada. "Keluarlah! Jangan jadi pengecut!"


"Heh, kaulah yang pengecut. Ingin membunuhku dengan menyewa pembunuh bayaran? Mengapa kau tak langsung mendatangiku dan bertarung denganku? Apa kau takut?" ejek Liu Chen.


Mendengar suara yang berada dibelakangnya, Hu Shilin langsung membalikkan tubuhnya ke belakang. Namun ia tak melihat ada siapapun disana. "Keluarlah!"


"Aku ada disini dan kau..akan pergi dari dunia ini", Liu Chen berdiri dihadapan Hu Shilin.


Namun Hu Shilin sudah menjadi mayat. Kepalanya sudah terpenggal oleh pedang Liu Chen.


"Kau beruntung, karna aku langsung membunuhmu", ucap Liu Chen dengan datar. Iapun langsung memasukkan pedangnya ke dalam cincin ruang dan langsung terbang keatas.


Iapun memegangi kepalanya yang agak pusing, "Uh, kenapa akhir akhir ini aku sering pusing? Mungkin aku terlalu banyak berfikir yang tidak perlu", Liu Chen tidak lagi memikirkan tentang sakit kepalanya, ia langsung terbang dengan cepat menuju penginapan.


Keesokan paginya, seluruh orang dikejutkan dengan berita tentang kematian tuan muda Hu. Ada banyak orang yang senang ketika mendengar berita seperti ini, namun mereka juga jadi kasihan dengan Wali Kota. Wali Kota adalah orang yang baik, keluarga yang dimilikinya juga hanyalah tuan muda Hu yang merupakan anaknya.


Wali Kota dan orang orang yang tinggal dirumah nya tidak memberitau tentang adanya oranglain selain mayat Hu Shilin. Karna mereka juga tak mengetahui siapa mereka.


Wali Kota sebenarnya kesal dengan pelaku pembunuh anaknya, namun ia juga faham apa alasan pelaku melakukan itu. Ia sudah beberapa kali memperingatkan anaknya untuk tidak bersikap sembarangan dan seenaknya karna itu dapat memperkecil hidupnya. Bila ia tak sengaja menyinggung orang kuat atau mungkin seseorang dengan latar belakang tak biasa.


Saat itu adalah hari dimana Wali Kota tak akan bisa melupakan hari ini. Karna hari ini adalah hari kematian anaknya.


Setelah pakaian yang Liu Chen pesan sudah selesai, dia dan teman temannya pergi menuju kota Biru. Liu Chen sudah diberitaukan tentang letak dari tempat yang akan menjadi markas mereka.

__ADS_1


Ketika hari sudah sore, mereka berniat singgah di kota yang tak jauh ada di depan mereka.


"Lebih baik kalian pergi sekarang juga dari sini" ucap seorang penjaga dengan tegas.


"Kenapa kalian mengusir kami?" ucap Wu Anming dengan agak kesal.


"Sebaiknya kalian tidak masuk ke dalam kota ini. Kalian pergi saja atau kalian akan menerima akibatnya!" bentak penjaga lainnya.


"Memangnya apa yang akan kalian laku-"


Ucapan Wu Anming terpotong oleh ucapan Liu Chen, "Tenangkan dirimu. Jangan mudah marah seperti itu"


Wu Anming langsung diam. Dia menatap kesal penjaga yang ada di gerbang ini.


Liu Chen melepaskan sentuhan tangannya dari pundak Wu Anming. Iapun menatap kearah para penjaga, ia dapat melihat ada ketakutan pada tatapan mereka. "Sebenarnya apa yang terjadi di kota ini? Kenapa kalian terlihat ketakutan?"


"Sebaiknya kalian pergi saja dan jangan kembali ke kota ini lagi" ucap seorang penjaga.


"Sebaiknya kalian katakan apa yang terjadi di kota ini. Mungkin kami bisa membantu" ucap Liu Chen dengan ramah.


Kedua penjaga saling bertatapan.


"Cepat jawab saja apa yang saudara Chen tanyakan!" bentak Wu Anming.


"Baik, baik. Sebenarnya terjadi sebuah kejadian dikota kami ini"


"Kejadian apa itu?" tanya Wu Xianlun.


"Sebenarnya kami tak mau menjelaskannya. Tapi, ini demi kebaikan kalian juga. Setiap malam, akan terdengar suara seruling dan setiap suara seruling terdengar, maka akan ada saja penduduk yang tewas"


Liu Chen mengerutkan kening, "Apa anda bisa menjelaskannya lebih jelas?"


"Yang pasti, semua penduduk akan mengikat diri mereka sendiri dikasur maupun tembok saat hari sudah malam. Karna ketika suara seruling mulai terdengar, maka para penduduk akan menggila. Kejadian ini sudah terjadi sejak satu bulan lalu"


"Maksud pak penjaga bagaimana?" tanya Wu Xianlun yang nampak masih tak mengerti.


"Lebih baik kalian pergi saja sekarang dari sini. Kami tidak ingin ada korban lagi"


"Kalau seperti itu, kenapa kalian tidak pergi saja dari kota ini?" ucap Liu Chen.


"Kami tak bisa melakukannya", penjaga itu menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut, "Sudah ada beberapa penduduk yang pergi dari kota. Namun mereka selalu tak bisa melakukannya, karna mereka akan ditemukan tewas dengan berbagai kondisi. Penduduk asli disini tidak akan bisa pergi dari kota. Mereka seakan terikat disini hingga mereka tak bisa pergi dari sini"


"Ka-kalau begitu saudara Chen, lebih baik kita pergi saja dari sini sekarang juga. Aku memiliki firasat yang buruk tentang ini" ucap Wu Anming yang terlihat agak ketakutan.


"Kita akan tetap masuk ke kota ini. Lagi pula, kita semua sudah lelah, aku juga ingin makan" ucap Song Quon.


"Tapi saudara Quon, nyawa lebih berharga dari pada makanan. Kita tak bisa masuk ke dalam kota ini", Wu Anming menatap kearah Song Quon.


"Heh, kau bisa hidup sampai sekarang karna apa? Tentu karna makan, bukan? Jadi makanan itu sangat penting!" ucap Song Quon.


Song Quon pun menatap kearah para penjaga, "Sebaiknya kalian membiarkan kami masuk sekarang juga. Kami tak percaya dengan cerita kalian sama sekali"


"Anak muda sekarang sangat nekat. Kami sudah memberitaukan bahaya bila masuk ke dalam. Kenapa kalian tidak pergi saja?" ucap seorang penjaga dengan kesal.


"Tentu, karna aku tak mempercayai cerita kalian. Mana ada orang yang akan menggila ketika mendengar suara seruling. Mungkin orang yang memainkan seruling tidak pandai bermain seruling hingga membuat suaranya tidak enak didengar" ucap Song Quon dengan acuh tak acuh.


"Yang jelas, kami sudah memberitau kalian. Jika kalian ingin masuk, maka sebaiknya ikat diri kalian saat malam. Sekarangpun hari akan menjadi malam" ucap seorang penjaga lainnya.


"Terimakasih atas peringatan kalian. Kami akan tetap masuk ke dalam. Maafkan temanku" ucap Liu Chen sambil tersenyum canggung.


"Jangan salahkan kami bila terjadi sesuatu pada kalian, kami akan segera pergi setelah menutup gerbang"


Liu Chen mengangguk. Ia dan teman temannya pun mulai memasuki kota.


Angin dingin berhembus menerpa tubuh mereka berempat. Bersamaan dengan berhembusnya angin, suasana yang mereka rasakan juga terasa berbeda.


"Kenapa kita tetap masuk ke dalam? Mereka sudah memberitau kita tentang kota ini" ucap Wu Anming yang agak ketakutan. Hanya dengan masuk ke dalan kota saja, membuat perasaannya tidak enak.


"Perasaanku jadi tidak enak, semenjak masuk ke dalam kota ini" ucap Wu Xianlun yang nampak ikut ketakutan juga.


"Heh, kalian terlalu penakut. Para penjaga itu hanya mengarang cerita saja. Tidak mungkin ada suara seruling seperti itu, bukan?" ucap Song Quon dengan entengnya.


Liu Chen melihat kebelakang. Ia dapat melihat. Para penjaga mulai pergi dan gerbang juga sudah mulai ditutup.


Iapun menghembuskan nafas, "Sudahlah teman teman. Sebaiknya sekarang kita cari tempat menginap saja dan besok pagi, kita akan pulang"


"Jangan lupakan makan!" ucap Song Quon.


"Huh, dasar otak makanan! Pikiranmu hanya makan saja!", dengus Wu Anming.


"Kau tak berhak mengaturku!" ucap Song Quon dengan tak peduli.


"Aku sempat melihat nama dari kota ini dan nama kota ini aneh. Bulan merah, kenapa namanya seperti itu?" ucap Liu Chen.


"Entahlah", Song Quon menggelengkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2