
Terdengar suara ledakan yang begitu besar dengan dibarengi cahaya yang semakin meluas disebuah titik kota. Cahaya sampai mencakup ratusan rumah penduduk.
Wu Anming dan Wu Xianlun berhenti berlari menuju asal cahaya. Mereka berusaha berdiri tegak dan berusaha menahan sapuan angin yang kencang menuju kearah mereka.
Angin yang kencang membawa dedebuan hingga menutupi pandangan banyak orang.
Angin kencang perlahan mereda. Perlahan tapi pasti, dedebuan juga ikut menghilang.
Wu Anming dan Wu Xianlun membuka mata secara perlahan kala tak merasakan adanya angin kencang lagi. Merekapun langsung terkejut kala melihat apa yang ada dihadapan mereka.
Rumah rumah yang tercakup dengan cahaya tadi, nampak rusak. Tanah pun menjadi cekungan yang besar. Semua orang orang yang berada dirumah itu tewas.
"Ti-tidak mungkin", Wu Anming menggelengkan kepala dengan tak percaya. Ia tau, kedua temannya tadi berlari ke tempat ini. Jadi saat melihat keadaan yang terjadi saat ini, membuatnya tak percaya. Bahkan hatinya mengatakan kedua temannya sudah tewas bila terkena cakupan cahaya tadi.
"Kak Chen..kak Quon...tidak-tidak mungkin!" ucap Wu Xianlun sambil menutup mulut dengan tangan. Ia nampak tak percaya melihat hal yang ada dihadapannya.
"Xian'er, kau tunggu disini. Kakak akan pergi menuju pusat dari cekungan ini", Wu Anming melirik kearah adiknya.
"Kakak..aku ikut" ucap Wu Xianlun dengan tatapan memohon.
Wu Anming mengangguk, "Baiklah"
Mereka berdua pun berlari menuju pusat dari cekungan, yang mereka yakini disanalah tempat ledakan terjadi.
"Saudara Chen, saudara Quon, semoga apa yang aku pikirkan tidak terjadi. Semoga kalian baik baik saja" batin Wu Anming.
Dipusat cekungan, nampak darah dan tubuh yang berceceran dimana mana. Namun sesuatu terjadi. Ditempat dimana darah dan daging itu berceceran, nampak sebuah cahaya yang memanjang dan membentuk melingkar keatas langit. Cahaya itu nampak terang karna hari masihlah malam.
Cahaya yang memanjang dan membentuk melingkar menuju langit, terlihat seperti membentuk pilar.
Perlahan, darah dan daging yang berceceran menyatu dengan butiran butiran cahaya kecil yang mengelilinginya dan membentuk sebuah tubuh. Bukan hanya satu, namun ada dua.
Ketika kedua tubuh sudah terbentuk, pilar cahaya itu langsung berubah menjadi serpihan serpihan cahaya kecil. Mereka langsung menyebar menuju rumah rumah penduduk yang rusak karna ledakan.
Semua orang yang melihat pilar itu langsung terkagum, karna pilar cahaya nampak indah dilihat saat malam hari. Banyak orang yang bertanya tanya tentang pilar itu.
Wu Anming dan Wu Xianlun nampak berhenti kala melihat serpihan cahaya melewati mereka. Mereka juga nampak kagum, namun seketika mereka kembali teringat dengan kedua temannya. Mereka kembali berlari menuju pusat cekungan.
Dipusat cekungan, nampak dua tubuh yang berlutut dengan satu kaki ditanah. Keduanya langsung terbatuk.
"Uhuk..uhuk..apa yang terjadi?" ucap salah satunya. Dia adalah Liu Chen.
Sementara satu orang disampingnya merupakan Song Quon. Ia nampak melihat ke sekitar. "Bukankah tadi kita melawan wanita itu? Tunggu! Cekungan tanah yang besar? Cekungan ini terlihat seperti terkena ledakan besar"
Liu Chen mengangguk. Diapun mulai berdiri perlahan. Begitupun Song Quon.
"Bukankah kita seharusnya mati? Lalu kenapa kita masih hidup seperti ini?", bingung Liu Chen.
Song Quon menatap kearah Liu Chen dan menggelengkan kepala, "Aku tak ingin memikirkan hal ini lebih jauh lagi. Karna itu tak berguna, kita takkan mendapat jawabannya bila hanya memikirkan saja"
Liu Chen mengangguk mendengar ucapan Song Quon.
"Hei, ada apa dengan keningmu itu?" ucap Song Quon sambil menunjuk dahi Liu Chen.
Dikening Liu Chen, tepatnya diantara kedua matanya, nampak daun semanggi berdaun empat dengan warna kuning keemasan.
"Memangnya ada apa?", bingung Liu Chen. Ia tak mengerti sama sekali apa yang temannya ini katakan.
Perlahan, tanda dikening Liu Chen menghilang.
Song Quon menghela nafas, "Lupakan saja"
"Saudara Chen, saudara Quon! Kalian masih hidup?!", tiba tiba saja Wu Anming berteriak.
Mendengar teriakan itu, Liu Chen dan Song Quon menoleh kearah suara. Hingga mereka tiba tiba terkejut dengan apa yang Wu Anming lakukan. Pemuda itu memeluk mereka dengan cukup erat.
Song Quon langsung mendorong Wu Anming dengan agak keras hingga membuat pemuda itu jatuh ketanah. "Apa yang kau lakukan, sialan?!" ucap Song Quon kesal.
Wu Anming mengusap usap punggungnya yang sakit, "Aduh..kau jahat sekali mendorongku"
Wu Xianlun membantu kakaknya itu untuk berdiri, "Apa kakak baik baik saja?"
"Ya, aku baik baik saja", Wu Anming mengangguk setelah ia kembali berdiri dengan tegak.
"Cih, jangan peluk peluk sembarangan!", Song Quon membuang muka sambil berdecak kesal.
"Itu karna aku sangat senang melihat kalian baik baik saja. Kukira kalian tewas karna ledakan itu. Lalu bagaimana cara kalian masih hidup?" ucap Wu Anming.
"Kami-"
Ucapan Liu Chen dipotong oleh Song Quon, "Kau tak perlu tau. Kami malas menjelaskannya. Lebih baik kita segera pergi dari sini"
__ADS_1
Liu Chen menatap kearah Song Quon dengan bingung. Namun temannya itu mengisyaratkan untuk tetap diam. Jadi Liu Chen hanya diam saja.
Saat mereka berjalan menuju restoran, mereka langsung terkejut ketika melihat mayat mayat yang bergeletak dirumah rusak, dikelilingi oleh pecahan pecahan cahaya kecil. Perlahan, tubuh mereka yang berceceranpun menyatu membentuk tubuh.
Hingga tak lama setelah itu, semua orang yang seharusnya sudah mati, kini kembali hidup. Ketika itu juga, serpihan serpihan cahaya langsung menghilang.
"Aduh..!! Apa yang terjadi denganku?"
"Rumahku..!! Kenapa rumahku bisa rusak seperti ini?!"
Berbagai suara mulai terdengar ketika para penduduk itu hidup kembali.
"Ba-bagaimana bisa orang yang seharusnya sudah mati, kini kembali hidup lagi?!", kaget Wu Xianlun.
"Kejadian ini sama sepertiku dan Quon" batin Liu Chen.
"Apa semua kejadian ini ada hubungannya dengan Chen? Tapi bagaimana cara dia membangkitkan semua yang sudah mati? Bagaimana mungkin? Apa dia memiliki sebuah artefak yang memiliki kemampuan dapat menghidupkan orang mati? Tapi sepertinya tidak ada artefak seperti itu" batin Song Quon yang bingung.
"Apa yang kulihat saat ini tak bisa diterima oleh pemikiranku" ucap Wu Anming sambil menggelengkan kepala.
"Kita pergi dari kota ini sekarang juga" ucap Song Quon.
"Tapi bagaimana dengan penduduk disini?" ucap Liu Chen.
"Wali Kota pasti akan mengurusnya", Song Quon menatap kearah Liu Chen.
Liu Chen mengangguk. Iapun tak sengaja menatap kearah bulan. Bulan kini tidak lagi berwarna merah, namun kini terlihat seperti bulan pada umumnya.
"Ayo sekarang pergi, Chen" ucap Song Quon yang langsung menarik Liu Chen.
Mereka pun langsung pergi dari sana. Mereka memilih langsung pergi dari kota Bulan Merah ini agar tak terlibat masalah yang lainnya lagi.
Semalaman itu, Liu Chen dan teman temannya pergi menjauh dari kota Bulan Merah.
Hingga akhirnya pagi telah tiba, mereka baru istirahat disebuah hutan yang luas.
"Hah..lelah sekali, kenapa kita harus berjalan selama semalaman?" ucap Wu Xianlun.
"Yang terpenting sekarang kita sudah berada jauh dari kota itu" ucap Song Quon. Ia dan Liu Chen tentunya tidak lelah, karna memiliki tingkat kultivasi yang tinggi.
"Kenapa dari tadi kau diam terus, saudara Chen?", Wu Anming menatap kearah Liu Chen.
Liu Chen hanya menggelengkan kepala, tatapannya terlihat agak kosong. Ia terlihat melamun.
Di dalam dunia batin milik Liu Chen, ia nampak berdiri dihadapan sebuah bola cahaya yang melayang. Liu Chen berada ditempat yang semuanya putih.
"Jadi semua yang terjadi padaku itu karnamu", kaget Liu Chen sambil menatap bola kecil dihadapannya.
"Tuan dan orang disamping Tuan, juga semua penduduk yang tewas akibat ledakan bisa hidup kembali karna ku. Bisa dikatakan, aku seperti 3 nyawa Tuan. Tuan seharusnya sudah mati begitupun teman Tuan dan beberapa penduduk. Namun karna Tuan memakanku saat itu, 3 nyawa menjadi milik Tuan.
Kesempatan Tuan bisa hidup kembali 1 kali lagi, bila Tuan mati. Namun jika setelah satu kali itu sudah terjadi, maka kematian Tuan selanjutnya, anda tidak bisa hidup seperti ini"
"Bukankah kau bilang aku sekarang seperti memiliki 3 nyawa dan aku baru mati satu kali ini. Seharusnya masih ada dua kesempatan" ucap Liu Chen dengan bingung.
"Itu karna satu kesempatan itu sudah saya gunakan untuk menghidupkan kembali teman Tuan dan penduduk yang tadi terkena ledakan. Sementara orang yang mati bukan karna ledakan tadi, saya tidak menghidupkannya lagi. Jadi 1 kesempatan dipakai oleh Tuan dan satu lagi dipakai untuk teman Tuan dan penduduk sekitar"
Liu Chen mengangguk, "Aku harus berterimakasih juga pada orang itu"
"Jangan menyia nyiakan hidup anda, Tuan" ucap bola cahaya yang melayang dihadapan Liu Chen.
"Aku tau, terimakasih", Liu Chen mengangguk dan tersenyum.
"Sebaiknya anda segera kembali pada kesadaran anda, Tuan"
Liu Chen mengangguk. Iapun perlahan berubah menjadi serpihan serpihan cahaya dan menghilang dengan sendirinya.
Liu Chen pun kini kembali pada kesadarannya. Ia melihat kesekitar. "Apa kita sudah berada jauh dari kota Bulan Merah itu?"
"Eh? Akhirnya kau mau bicara lagi, saudara Chen" ucap Wu Anming.
Liu Chen mengangguk, "Um..ya"
"Sepertinya aku dikendalikan bola cahaya itu tadi" batin Liu Chen.
Siang harinya, mereka melanjutkan perjalanan menuju kota Biru. Butuh waktu 3 hari lagi bagi mereka agar sampai di kota Biru.
Mereka sudah melewati hutan hutan maupun desa dan padang rumput bersama. Waktu terasa sebentar saat kau bersama teman teman dekatmu. Waktu juga terasa singkat ketika menghabiskannya dengan hati yang gembira sepanjang waktu. Mereka menikmati saat saat bersama.
Kini mereka sudah tiba didepan sebuah goa.
"Apa disini, saudara Chen?"
__ADS_1
Liu Chen mengangguk, "Kita masuk saja. Aku sudah menghubungi Zong Xian bahwa aku akan sampai disini hari ini. Jadi dia pasti ada di dalam gua sekarang"
Wu Anming mengangguk. Mereka berempat pun mulai masuk ke dalam goa. Di dalam, goa terlihat gelap. Cukup sulit melihat disana. Namun Liu Chen segera menggunakan api miliknya untuk menerangi jalan.
Waktu terus berlalu, akhirnya mereka sampai di ujung goa. Mereka dapat melihat seseorang yang berada disana. Diujung goa pun nampak beberapa kristal cahaya.
"Halo! Sudah lama tak bertemu, Chen!" ucap pemuda itu, yang tak lain adalah Zong Xian.
Liu Chen tersenyum dan mendekat kearah Zong Xian bersama teman temannya. "Ya, sudah lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik. Kau tau, aku sangat lelah membuat markas ini. Membutuhkan kerja keras. Aku bahkan tidak tidur dan makan selama berhari hari hanya untuk menyelesaikannya. Ya, walaupun aku dibantu oleh beberapa orang teman yang baru saja kukenal. Aku juga mengajak mereka masuk ke dalam kelompok"
"Sepertinya begitu, dilihat dari wajahmu yang nampak kelelahan. Apa kau baru menyelesaikannya?"
Zong Xian mengangguk mendengar ucapan Liu Chen, "Aku baru saja menyelesaikannya. Baru kau yang datang. Sementara kedua orang itu belum juga datang"
"Kukira aku yang terakhir datang kemari, ternyata bukan"
"Yah, begitulah. Ini untukmu dan teman temanmu. Teteskan darah kalian pada token itu. Maka token itu hanya bisa digunakan oleh kalian"
Liu Chen menerima empat token yang diberikan Zong Xian dan membagikan token itu kepada ketiga temannya.
Mereka sama sama meneteskan darahnya pada token. Seketika, darah itu terlihat terserap oleh token.
Wu Anming dan Wu Xianlun nampak terkagum. Karna ini pertama kalinya bagi mereka melihat hal seperti ini. "Hebat.."
"Sekarang kalian tempelkan kartu pada dinding goa ini. Jangan dibagian dindin lain, karna itu takkan berfungsi", Zong Xian menunjuk dinding goa dibelakangnya.
"Baiklah", Liu Chen maju dan menempelkan token miliknya pada dinding goa. Seketika, dinding itu terbuka keatas dan dibawah nampak sebuah tangga menuju bawah tanah. "Woah! Kau hebat sekali, Xian"
"Mulai dari sini, kau panggil aku dengan nama samaranku. Kau ingat 'Kan namanya?" ucap Zong Xian.
"Haocun"
Zong Xian mengangguk dan tersenyum. "Ternyata kau ingat. Sekarang kau dan yanglainnya masuklah ke dalam dan jangan terkejut saat sampai nanti. Karna dibawah sana ada hal yang menakjubkan"
"Baiklah, lalu kapan kedua orang itu datang?"
"Mereka juga datang hari ini. Jadi aku akan menunggu disini"
"Kalau begitu, sampai jumpa. Ayo semuanya", ajak Liu Chen. Iapun mulai menuruni tangga.
"Ayo!" ucap semangat Wu Anming dan Wu Xianlun. Kakak beradik itu langsung mengikuti Liu Chen.
Ketika Song Quon berpapasan dengan Zong Xian, ia mendengar suara bisikan dari pemuda itu hingga membuat Song Quon berhenti berjalan. "Kau memiliki mata yang sama seperti saat aku dulu. Tapi bukankah kau memiliki sesuatu saat ini?"
Song Quon melirik kearah samping dan melihat Zong Xian yang tersenyum kearahnya dengan senyuman yang menyembunyikan sebuah arti. "Apa maksudmu?" ucap Song Quon.
"Seharusnya kau mengerti apa yang ku maksudkan, bukan? Tidak mungkin kau tak mengerti apa maksudku. Sebaiknya kau buang pikiran itu dan menatap ke depan"
"Maksudmu-"
"Quon, ayo! Kenapa kau masih belum masuk?!", terdengar suara Liu Chen dari tangga bawah tanah.
"Baiklah, tunggu aku" ucap Song Quon sambil melirik kearah tangga. Iapun kembali menatap Zong Xian sejenak, sebelum masuk ke tangga bawah tanah untuk mengikuti Liu Chen.
"Seharusnya kau mengerti apa yang kumaksudkan, bukan? Tidak mungkin kau tak mengerti apa maksudku. Sebaiknya kau buang pikiran itu dan menatap ke depan"
Song Quon memikirkan apa yang diucapkan oleh Zong Xian. Ia sepertinya mengerti apa yang pemuda itu katakan. "Mungkin kau benar, aku memilikinya. Namun aku mencoba untuk tak berfikir seperti itu. Karna sesuatu itu, akan pergi dariku" batin Song Quon.
"Wah! Kristal kristal ini bercahaya, indah sekali" ucap Wu Xianlun yang berjalan sambil memperhatikan beberapa kristal yang tertempel pada dinding.
"Kau benar Xian'er. Kristal ini terlihat indah", Wu Anming mengangguk. Ia nampak kagum hanya dengan melihat kristal cahaya itu saja.
Setelah beberapa waktu menuruni tangga, akhirnya mereka sampai di tangga terakhir. Mereka dapat melihat sebuah pintu yang sangat besar dihadapan mereka. Dismping pintu juga nampak dijaga oleh dua orang pemakai tombak.
"Selamat datang di markas, ketua kedua dan kalian semua!", kedua penjaga langsung memberikan hormat.
"Eh, ketua kedua? Kurasa dia belum memberitaukan apapun tentang ini padaku dan dua orang itu" gumam Liu Chen. Iapun hanya mengangguk sambil menatap dua orang itu.
Kedua orang itu mulai membukakan pintu besar. Mereka nampak memakai Qi untuk membukanya karna pintunya sangat besar dan terlihat berat.
Ketika pintu terbuka, Liu Chen dan teman temannya terkejut melihat pemandangan dihadapan mereka saat ini.
Di dalam, nampak sangat luas. Bukan itu saja yang membuat keempat orang ini terkejut. Namun bangunan bangunan yang nampak megah dan tinggi dipinggir pinggir. Semua bagunan pun nampak terhubung. Semua bangunan berwarna putih bercampur biru dan kuning keemasan.
Dibagian tengah, terdapat sebuah air mancur yang cukup besar. Tempat itu nampak amat sangat luas. Walaupun berada dibawah tanah, nyatanya tempat itu tidak gelap.
Liu Chen dan ketiga temannya masuk ke dalam sambil melihat sekitar. Mereka seakan tak percaya sedang berada dibawah tanah. Karna luas tempat ini dan besarnya bangunan.
"Menakjubkan" gumam Liu Chen.
__ADS_1
"Besar sekali dan luas. Apa aku memang berada dibawah tanah?" gumam Wu Anming.
"Xian memang bersungguh sungguh membuatnya" batin Liu Chen.