
Di sebuah ruangan besar dengan banyaknya buku di tepi ruangan, ada sebuah meja kerja dengan adanya seseorang yang duduk dibalik meja.
Di depan meja bagian kiri ruangan, ada kursi panjang seperti diperuntukkan untuk tamu. Di kursi juga nampak dua orang pemuda yang duduk disana.
"Kenapa kau tidak bilang bahwa kau akan datang?" ucap pria tampan yang berusia sekitar 35 tahunan di balik meja kerja. Ia adalah Xiao Gui, Kaisar iblis. Di kepalanya nampak sepasang tanduk.
"Nanti akan merepotkan bila aku memberitahu ayah. Jadi aku kemari tanpa mengatakannya padamu," ucap pemuda tampan yang memiliki mata dan rambut hitam pekat. Ia adalah Liu Chen. Ia berdiri di depan meja kerja Xiao Gui.
"Eh, ngomong ngomong... Dimana Jenderal Lin dan Jenderal Xi?" ucap Kaisar Xiao.
"Ah, mereka. Aku menugaskan sesuatu untuk mereka. Aku juga meminta agar mereka tidak ikut. Mereka awalnya menolak dan sangat keras kepala akan ikut. Namun aku terus menolak mereka. Jadi jangan salahkan mereka bila mereka saat ini tidak menjagaku untuk kemari. Karna ini bukan salah mereka. Ini adalah keinginanku sendiri."
Kaisar Xiao menghela nafas, "Kau ini.. Dasar."
"Ayah, kau mendapatkan salam dari seseorang."
"Seseorang? Siapa?"
"Teman lamamu. Sekaligus guruku, bernama Zhao Feng."
Kaisar Xiao melotot tak percaya mendengar nama itu, "Ba- bagaimana kau bisa mengetahui dan mengenalnya?"
"Itu rahasia. Tapi yang jelas, guru berpesan padamu agar kau jangan lagi tersesat. Dia juga mengatakan 'maaf, aku tidak bisa menjadi teman yang baik untukmu'. Itulah yang guru katakan."
"Hahaha, dia bilang 'maaf tidak bisa menjadi teman yang baik untukmu'? Seharusnya aku yang mengatakan itu", Kaisar Xiao tertawa dengan miris. "Aku adalah orang yang membunuh temanku sendiri. Aku juga'lah yang mengacungkan pedang padanya dan membunuhnya tanpa ragu. Dia pasti sekarang membenciku. Karna aku'lah yang membuat dia dan teman temannya mati."
Liu Chen menggelengkan kepala, "Guru tidak membenci ayah. Dia ingin agar kau kembali menganggapnya sebagai teman. Karna guru juga menganggap ayah sebagai temannya."
"Dia masih menganggapku sebagai teman?", Kaisar Xiao menggelengkan kepala. "Padahal aku yang sudah mengambil nyawanya. Tapi dia masih saja memanggilku teman? Sebenarnya dia manusia macam apa? Dia terlalu baik menganggapku teman setelah apa yang kulakukan padanya", Kaisar Xiao terdiam dan mengingat masa masa bersama Zhao Feng.
Pertemuan pertamanya dengan pria itu. Lalu semua hal yang mereka lakukan bersama. Hingga akhirnya mereka saling mengacungkan pedang satu sama lain dan saling menyakiti. Ketika mengingatnya, membuat Kaisar Xiao menghela nafas.
"Ayah, aku akan langsung pergi sekarang. Kami ingin pergi berpetualang di dunia ini. Karna tujuan kami kemari memang untuk itu," ucap Liu Chen.
Kaisar Xiao tersadar dari lamunannya, "Tinggal saja dulu disini."
Liu Chen menggelengkan kepala, "Berhari hari perjalanan untuk kemari, bukan dilakukan untuk beristirahat disini."
"Hah.. Baiklah, kau memang keras kepala. Jika kau sudah memutuskan, sulit untuk mengubahnya. Tapi kau harus pergi bersama beberapa Jenderal iblis, untuk melindungimu."
"Tidak! Aku tidak mau ada Jenderal iblis yang ikut denganku. Itu tidak akan jadi menyenangkan. Mereka akan melarangku banyak hal. Aku tidak akan bisa bersenang senang bila ada mereka." ucap Liu Chen tegas.
"Tidak, kau harus dilindungi oleh beberapa Jenderal."
"Aku tidak mau, jangan memaksaku."
"Tidak ada bantahan. Kau harus menuruti ucapan ayahmu ini."
"Saat itu aku sudah menuruti ucapan ayah yang ingin mengirim dua Jenderal dan aku setuju, walau terpaksa. Jadi sekarang aku menolak. Aku tidak ingin ada Jenderal yang ikut petualanganku."
"Keselamatanmu nomer 1. Kau tidak bisa menolak untuk dikawal Jenderal."
"Tapi aku tidak mau!"
Han Liangyi dan Song Quon hanya menyaksikan saja perdebatan antara ayah dan anak itu. Mereka tidak bisa melakukan apapun. Jadi mereka hanya bisa diam. Mereka juga bahkan terlihat hanya sebagai hiasan hidup.
Setelah 1 jam berdebat, akhirnya Liu Chen menang dalam perdebatan.
"Baiklah aku menyerah. Sikap keras kepalamu itu sangat sulit diatasi," ucap Kaisar Xiao.
"Hehe, seharusnya seperti itu sejak tadi," ucap Liu Chen. Iapun menatap kearah Han Liangyi dan Song Quon yang nampak bosan. "Ayo kita berangkat sekarang."
Kedua temannya mengangguk dengan lelah. Mereka lelah karna harus menunggu lama dan mendengarkan perdebatan dua orang itu.
"Kalau begutu sampai jumpa. Jangan coba coba mengirim Jenderal untuk mengawasiku secara diam diam. Karna bila itu terjadi dan aku mengetahuinya, maka hehe~", Liu Chen tersenyum menyeringai. "Mereka akan menjadi mainanku. Ayah tau bukan, siapapun yang menjadi mainanku akan bernasib seperti apa?", Liu Chen tersenyum jahat.
"Aku tidak akan mengirim satu Jenderal pun untuk mengawasimu secara diam diam" ucap Kaisar Xiao dengan cepat. Iapun menatap Han Liangyi dengan tajam, "Kau harus melindungi anakku. Jika sampai terjadi sesuatu dengannya, maka kau kan tau akibatnya."
Han Liangyi merasa agak sesak setelah Kaisar Xiao menyelesaikan kalimatnya. Karna dia merasakan tekanan besar menimpa tubuhnya. Ia segera berkata dengan cepat, "Ba- baik. Aku akan menjaganya."
Tekanan yang mengenai tubuh Han Liangyi pun menghilang seperti angin. Han Liangyi menghela nafas lega.
"Bagus," ucap Kaisar Xiao sambil tersenyum puas.
Mengapa Kaisar Xiao mempercayakan Liu Chen pada Han Liangyi? Itu karna Han Liangyi memiliki tingkat kultivasi lebih tinggi dari Liu Chen.
"Sampai jumpa", Liu Chen berjalan pergi menuju pintu dan langsung membukanya. Iapun keluar.
Han Liangyi dan Song Quon memberikan hormat pada Kaisar Xiao. "Kami pamit pergi, Kaisar Xiao."
Kaisar Xiao mengangguk, "Jaga diri kalian juga."
Keduanya mengangguk. Han Liangyi dan Song Quon pun langsung pergi keluar.
Ketika berjalan beberapa meter dari ruang kerja, seseorang dari arah samping langsung membungkuk hormat. "Yang Mulia pangeran."
__ADS_1
Liu Chen melirik ke arah iblis itu. "Berdirilah."
Langsung saja, iblis itu berdiri. Iapun menyodorkan sebuah token. "Yang Mulia menyuruh saya untuk memberikan ini pada Yang Mulia pangeran."
Liu Chen menerimanya. Setelah dilihat baik baik, Liu Chen tahu bahwa itu adalah token agar ia bisa kembali ke dunia manusia. Iapun tersenyum kearah iblis itu, "Terimakasih Jenderal Ding."
"Anda tidak perlu berterimakasih pada saya, Yang Mulia pangeran," ucap Jenderal yang ternyata adalah Jenderal besar, Ding Bang.
Liu Chen memasukkan token ke dalam cincin ruang miliknya, "Ah iya, beberapa tahun lalu ketika aku berada disini sebagai manusia asing, aku datang bersama teman temanku. Lalu, dua orang temanku kalian ambil. Salah satu temanku dikendalikan dan menyerang kami. Lalu satu temanku lainnya, ingatan masa lalunya kembali. Hm.. Siapa yang membuka segel ingatan yang ada pada temanku itu?" ucap Liu Chen dengan datar. Namun tatapannya menatap tajam Jenderal Ding Bang.
Ia menanyakan hal ini pada Jenderal Ding Bang karna saat itu ia tahu bahwa Jenderal Ding Bang ada di dekat desa yang mengadakan festival lampion itu. Jadi pasti Jenderal Ding Bang mengetahuinya.
"A-ah itu.. Adalah Jenderal Jing Mi," ucap Jenderal Ding Bang sambil menundukkan kepala. "Sepertinya kau akan berada dalam masalah, Jenderal Jing. Aku tidak bisa ikut campur."
"Ah, Jenderal Jing. Hm..aku ingat. Ternyata Jenderal Jing yang sudah membuka segel ingatan temanku. Karna dia, aku mendapatkan masalah. Jenderal Ding, beritahu Jenderal Jing 'ketika aku kembali dari petualanganku, aku ingin Jenderal Jing menemuiku'," Liu Chen tersenyum ramah.
Namun, Jenderal Ding yang melihat senyuman itu merasakan hal yang berbeda. Bukan keramahan yang dirasakannya. Namun intimidasi, seakan Liu Chen mengatakan bahwa dirinya harus melakukan apa yang diperintah pemuda itu dengan baik. Iapun tersentak kala melihat iris mata Liu Chen berubah merah dan memancarkan kilat dingin nan kejam. "Mata itu... Senjata langit," batin Jenderal Ding Bang dengan terkejut.
Tidak banyak yang tahu bahwa mata merah Liu Chen merupakan senjata tingkat langit. Bahkan Liu Chen sendiri tidak tahu bahwa mata merah yang diberikan gurunya merupakan senjata tingkat langit. Tidak banyak yang tahu ada senjata langit yang berbentuk bola mata.
"Ba- baik, saya akan mengatakannya pada Jenderal Jing nanti," ucap Jenderal Ding Bang dengan gugup. Ia sangat penasaran dari mana Liu Chen dapat menemukan senjata langit berbentuk mata itu. Namun ia tidak berani bertanya. Lagi pula, menurutnya itu tidak sopan menayakan sesuatu pada seorang pangeran.
Liu Chen mengangguk puas dan tersenyum, "Bagus. Terimakasih Jenderal Ding. Aku pamit", iapun langsung pergi bersama dengan Han Liangyi dan Song Quon.
Kini iris mata Liu Chen kembali berwarna hitam pekat.
"Apa Yang Mulia tahu tentang senjata langit itu?" gumam Jenderal Ding. Iapun memutuskan untuk menemui Kaisar Xiao, untuk memberitahukan hal ini.
Setelah jauh dari Jenderal Ding Bang, Han Liangyi mulai angkat suara, "Kau mengenalnya?"
Liu Chen mengangguk, "Jenderal Ding sudah hidup lama. Ketika dikehidupan pertamaku juga dia sudah ada. Begitupun Jenderal Jing. Maka dari itu aku mengenal mereka."
Han Liangyi mengangguk, "Tapi dia itu tidak melihat kearahku maupun Quon sama sekali dan dia terlihat tidak mau menatap kami."
"Itu karna Jenderal Ding memang tidak menyukai manusia. Mungkin dia berperilaku baik pada manusia hanya padaku yang setengah manusia dan ibuku yang merupakan manusia seutuhnya. Walau akupun tidak tahu bagaimana dia bersikap di depan ibuku. Namun aku percaya, Jenderal Ding bersikap baik kepada ibu." ucap Liu Chen.
Han Liangyi dan Song Quon mengangguk paham. "Sekarang kita akan pergi kemana?" ucap Song Quon. Belum sempat Liu Chen menjawab, suara teriakan mengangetkan mereka bertiga.
"Kalian berdua?!" ucap sebuah suara seperti terkejut.
Ketiganya melihat kearah suara. Terlihatlah seorang iblis yang cukup tampan dan terlihat seumuran dengan Liu Chen. Namun sebenarnya iblis itu memiliki usia ratusan tahun. Dia adalah iblis yang pernah Liu Chen dan Song Quon temui. Dia adalah iblis yang pernah menyapa mereka.
"Tao Mu" gumam Liu Chen dan Song Quon.
Liu Chen mengenal Tao Mu saat dirinya dan teman temannya berniat mencari informasi tentang ras iblis.
Iapun langsung menyerang kearah Liu Chen. Namun Liu Chen segera menangkis serangan Tao Mu dengan mudah. Karna tingkat kultivasinya saat ini lebih besar dari Tao Mu.
"Dengarkan aku dulu, jangan asal menyerang" ucap Liu Chen.
"Kenapa aku harus mendengarkanmu?!", Tao Mu kembali menyerang Liu Chen dengan pukulan. Sementara Liu Chen, lagi lagi menepis semua serangan. Ia tidak berniat menyerang Tao Mu sama sekali. Jadi ia hanya menangkis semua serangan iblis itu saja.
Han Liangyi duduk di lantai yang agak jauh dari pertarungan. Ia nampak santai dengan dagu yang ditopang pada tangan kanannya. Disampingnya, Song Quon juga nampak duduk dengan tenang.
"Ayo Chen! Kalahkan dia, jangan terus menangkis serangannya!" ucap Han Liangyi yang nampak memberikan semangat.
"Heh, kau kira Chen sedang mengikuti turnamen? Hah?" ucap Song Quon.
"Yah.. Aku hanya memberikan semangat saja kepadanya," ucap Han Liangyi dengan santai.
"Kalau memberi semangat jangan seperti itu. Tapi seperti ini", Song Quon langsung berdiri. Iapun menarik nafas panjang. "Chen...!! Semangat..!! Jangan kalah darinya..!! Chen kalahkan dia..!!"
Suara Song Quon menggema di dalam istana. Banyak penjaga yang berdatangan karna suara Song Quon yang sangat keras.
Ketika melihat apa yang terjadi, mereka terkejut karna Liu Chen bertarung dengan seseorang.
Tao Mu menghentikan serangan. Ia melompat mudur. "Kenapa kau selalu menangkis seranganku dan bagaimana bisa kau tidak terkena satupun seranganku?!" ucapnya kesal.
Liu Chen menjawab dengan santai, "Heh, mudah saja jawabannya. Karna tingkat kultivasiku denganmu berbeda."
Tao Mu melihat ke sekeliling karna ia dapat melihat banyaknya penjaga yang berkumpul, iapun segera berteriak. "Kalian, tangkap manusia itu. Dia sudah berani datang kemari"
Tidak ada penjaga yang bergeming dari tempatnya. Mereka semua menatap Tao Mu dengan marah. Mendapat tatapan marah dari semua penjaga membuat Tao Mu bingung, "Mengapa kalian menatapku seperti itu?! Cepat tangkap dia dan kedua temannya!"
Bukannya menuruti ucapan Tao Mu, semua penjaga malah mengelilingi iblis itu sambil mengacungkan tombak maupun pedang mereka.
Tao Mu mengakat kedua tangannya, "Apa yang kalian lakukan?! Apa kalian ingin berkhianat dengan membantu manusia manusia itu?!" ucapnya marah.
"Apa anda ingin mati, Jenderal Tao?! Orang yang anda sebut adalah Yang Mulia pangeran bersama kedua temannya!" ucap mereka serempak.
Tao Mu membelalakan matanya, "Pangeran.." gumamnya dengan tatapan kosong.
Liu Chen tertawa melihat ekspresi Tao Mu, "Kita bertemu lagi, ya? Tao Mu. Kalian semua, singkirkan senjata kalian dari Tao Mu."
"Tapi pangeran.. Jenderal Tao.."
__ADS_1
"Biarkan saja. Eh?! Jenderal?! Jadi, kau adalah seorang Jenderal, Tao Mu?!", kaget Liu Chen.
Tao Mu masih menatap Liu Chen dengan kosong. Ia tak menyangka ternyata orang yang pernah ditemuinya saat itu adalah pangeran. Bahkan ia sempat sempatnya menyerang pangeran. Namun untungnya tadi dia belum serius sama sekali.
Liu Chen kembali berkata setelah menenangkan dirinya, "Kenapa kalian diam saja? Aku sudah bilang, singkirkan senjata kalian dari Tao Mu"
"Ba- baik pangeran", semua penjaga langsung menyingkirkan senjata masing masing.
"Sekarang kalian bisa kembali ke tempat kalian masing masing. Lalu, jangan ceritakan hal ini pada siapapun. Kalian mengerti?!" ucap Liu Chen dengan tegas.
"Baik pangeran, kami permisi", semua prajurit yang berjaga langsung memberikan hormat. Setelahnya, mereka langsung pergi.
"Haish..", Liu Chen menggelengkan kepala. Iapun berjalan mendekat pada Jenderal Tao Mu, begitupun Han Liangyi dan Song Quon. Tatapan Jenderal Tao Mu nampak kosong setelah mendengar ucapan semua prajurit tadi.
"Jenderal Tao, kan?" ucap Liu Chen.
Tao Mu hanya mengangguk dengan tatapan kosong kearah Liu Chen. Ia terlihat seperti mayat hidup saja.
Liu Chen melambaikan tangannya di depan wajah Tao Mu karna sedari tadi, pemuda yang terlihat berusia sama dengannya itu nampak terdiam. "Halo, Tao Mu! Apa kau mendengarku?"
Tiba tiba Tao Mu menjatuhkan dirinya ke lantai dan terlihat seperti bersujud. "Maafkan atas ketidak sopanan hamba tadi, pangeran! Saya benar benar tidak mengetahuinya. Hukum saya pangeran! Hukum saya!"
Han Liangyi dan Song Quon tercengang melihatnya. Tadi tatapan Jenderal Tao Mu terlihat seperti mata ikan mati. Tapi sekarang? Iblis itu terlihat seperti anak kecil yang ketakutan karna akan ditinggalkan orangtuanya.
Liu Chen berjongkok di depan Jenderal Tao Mu. Iapun membantu Tao Mu mengangkat tubuhnya agar berdiri. "Berdiri. Jangan seperti ini."
Tao Mu menuruti ucapan Liu Chen. Iapun kini berdiri. Namun wajahnya tertunduk ke tanah. Ia menyesal dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Liu Chen menggelengkan kepala melihatnya, "Angkat kepalamu. Aku ingin bertanya. Aku tidak akan menghukum mu dan tidak akan memberitahukan kejadian ini pada ayah maupun yang lainnya."
Walaupun Liu Chen berucap dengan tulus dan ramah, namun Tao Mu masih tidak mau memandang wajah Liu Chen. Dia merasa sangat bersalah atas kejadian tadi. Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Jenderal Tao! Angkat wajahmu dan tatap diriku. Jangan terus merasa bersalah atas kejadian tadi. Ini bukan salahmu. Wajar saja kau menyerangku karna kau mengira aku manusia asing. Jadi ini semua bukan salahmu. Sekarang tatap diriku," ucap Liu Chen dengan tegas.
Akhirnya Jenderal Tao Mu menatap kearah Liu Chen.
"Jangan tatap aku dengan rasa bersalah. Tatap aku dengan tegas. Kau itu Jenderal," ucap Liu Chen dengan tegas.
"Baik!" ucap Jenderal Tao Mu. Kini tatapannya menjadi tegas.
Liu Chen tersenyum, "Nah.. Aku ingin bertanya padamu. Dimana tempat yang misterius dan belum terjamah oleh iblis lain di dunia ini? Aku ingin pergi berpetualang kesana."
"Itu.. Hutan kabut darah, pangeran."
"Hutan macam apa itu? Namanya saja terdengar mengerikan," ucap Han Liangyi. Tubuhnya sampai merinding mendengar namanya saja.
Liu Chen menempelkan jempolnya di dagu. "Begitukah? Kalau begitu, kita kesana saja Liangyi, Quon!" ucapnya semangat.
"Tapi pangeran.. Disana berbahaya. Tidak pernah ada iblis yang selamat setelah masuk ke dalam. Bahkan iblis dengan tingkat kultivasi bumi tidak bisa kembali hidup hidup. Mereka semua menghilang tanpa kabar apapun," ucap Jenderal Tao Mu dengan khawatir.
"Tenang saja. Kami akan kembali dengan selamat", Liu Chen tersenyum. "Oh ya, karna kami tidak mengetahui tempatnya.. Jadi kau harus mengantarkan kami kesana, Mu. Sekaligus, kau bisa melindungiku disana nanti."
Tao Mu menelan ludahnya sendiri. Ia nampak tak berani pergi kesana. Namun ia tidak mungkin menolak permintaan Liu Chen secara terang terangan. Jadi iapun berkata, "Maaf pangeran, saya memiliki bagian berjaga di istana sekarang. Jadi saya tidak bisa ikut."
"Oh sebentar. Aku akan mengatakannya pada ayah", Liu Chen tersenyum.
"Ayah, aku ingin mengajak Jenderal Tao Mu ikut denganku ke hutan kabut darah. Jangan melarangku pergi kesana," ucap Liu Chen menggunakan telepati.
"Hutan kabut darah?! Tidak, tidak! Jangan kesana, Gang'er. Disana sangat berbahaya. Tidak pernah ada iblis yang keluar hidup hidup dari sana! "
"Tenang saja, Jenderal Tao Mu akan ikut denganku. Juga, ayah pasti tahu ada satu orang temanku yang memiliki tingkat kultivasi lebih tinggi dariku. Jadi aku akan baik baik saja. Tidak ada penolakan. Jika ayah menolak permintaanku, maka aku tidak akan kembali kemari lagi dan tidak akan menemuimu lagi."
"Haih.. Baiklah, tapi berhati hatilah. Aku mengizinkan Jenderal Tao ikut denganmu."
"Wah, terimakasih ayah!", Liu Chen menghentikan telepatinya.
Iapun menatap Jenderal Tao Mu, ia berkata sambil tersenyum, "Ayah sudah mengizinkan kau ikut denganku. Jadi kau tidak memiliki alasan lagi untuk tidak ikut denganku."
"Tapi pangeran saya memiliki kekuatan yang masih lemah dari pada anda. Bagaimana bisa saya mengawal anda?" ucap Jenderal Tao Mu yang masih mencari alasan.
"Tidak apa, hitung hitung sebagai pengalaman untukmu. Jadi kau harus ikut."
"Huhuhu, pangeran apa kau tidak mengerti hutan itu berbahaya" batin Tao Mu menangis dalam hati. Iapun mengangguk dengan pasrah, "Baiklah saya akan mengikuti dan menjaga anda disana sebisa saya pangeran."
Liu Chen tersenyum puas. "Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang!"
"Sekarang pangeran?"
"Ya, ada apa?"
Tao Mu menggelengkan kepala, "Tidak ada pangeran."
"Jenderal Tao, kau harus menjaga anakku dengan baik. Jika terjadi sesuatu padanya, maka kau akan tahu apa yang akan kulakukan padamu."
Jenderal Tao Mu menelan ludahnya ketika mendapatkan pesan telepati, "Baik Yang Mulia."
__ADS_1
"Ayo berangkat. Apalagi yang kau tunggu, Mu?", Liu Chen sudah berjalan lebih dulu. Lalu diikuti Song Quon dan Han Liangyi.
"Baik pangeran", Tao Mu langsung mengikuti Liu Chen. "Aku bahagia bisa bertemu pangeran. Tapi.. Pertemuan tadi kurang baik dan.. Setelah bertemu pangeran, aku harus mengantar nyawa ke hutan kabut darah, huhuhu. Semoga kami baik baik saja dan bisa kembali dengan selamat," batin Jenderal Tao Mu.