
Song Quon yang berada di kamar tamu nampak memperlihatkan ekspresi terkejut dan heran. Tidak ada orang lain di sana selain dirinya. "Maaf bila saya lancang . Tapi kenapa anda ingin mempercepat rencana, Tuan?"
"Karna kita sudah mengetahui dimana letak pedang itu, untuk apa kita menunggu lebih lama lagi? Terlebih, 'dia' kini sudah menjadi cukup kuat. Saat aku melawannya, aku dapat merasakan energi besar di dalam tubuhnya. Kau tau bukan? Apa yang harus kau lakukan?"
"Mengerti, Tuan. Tapi berikan saya waktu untuk dapat menyelesaikannya. Setidaknya, sekitar 3 bulan."
"Sepertinya kau agak ragu untuk melakukan rencana kedua ini, Quon kecil. Apa kau berniat menentang dan mengkhianatiku?"
"Ti- tidak Tuan. Saya tidak berani melakukannya. Maafkan saya. Saya membutuhkan waktu karna saya harus memikirkan bagaimana cara melakukannya," Song Quon kini berkata dengan gugup dan takut takut.
"Bagus kalau begitu. Ingatlah, ras manusia sudah membunuh semua keluarga dan kawananmu. Mereka bahkan ingin membunuhmu. Padahal kau tidak melakukan salah apapun pada mereka. Jika saja saat itu aku tidak datang, maka kau sudah mati saat ini."
Song Quon menatap ke arah luar jendela. Langit nampak sudah malam dan dihiasi bintang bintang yang terang. "Saya mengingatnya, Tuan. Anda juga pernah bilang agar aku tidak pernah terpengaruh oleh sikap mereka. Karna mereka melakukan sesuatu pasti karna ada yang mereka inginkan."
"Bagus. Jadi jangan mudah terpengaruh oleh mereka. Fokus saja pada rencana."
"Baik, Tuan"
Setelahnya, sambungan telepati terputus. Song Quon masih menatap ke arah luar jendela. "Jangan sampai aku terpengaruh oleh sikapnya" gumam Song Quon.
***
Setelah satu bulan dihukum, akhirnya Liu Chen terbebas dari hukuman. Ia dan kedua temannya langsung pergi. Tidak hanya mereka bertiga. Tapi Tao Mu juga ikut. Itu karna Liu Chen yang ingin mengawasi iblis itu. Bukan karna curiga bahwa Tao Mu akan melakukan hal buruk di dunia iblis atau pada siapapun. Namun Liu Chen mengkhawatirkan iblis itu.
Liu Chen meminta izin membawa Tao Mu dan hal itu langsung diizinkan oleh Kaisar Xiao. Kaisar Xiao mengizinkan Tao Mu agar iblis itu dapat menjadi pelindung tambahan putranya.
Liu Chen dan yang lainnya sudah sampai di markas. Sebelum masuk, Liu Chen sudah memberikan segel yang sama seperti milik Jenderal Xi dan Jenderal Lin kepada Tao Mu.
Saat mereka sudah ada di dalam markas, kondisi nampak cukup sepi. Hanya beberapa orang berlalu lalang. Mereka langsung memberikan hormat pada Liu Chen dan Song Quon.
Liu Chen dan Song Quon mengangguk. Akhirnya semua anggota kembali mengangkat kepala mereka. "Dimana anggota lainnya? Kenapa kulihat hanya ada 5 orang di markas ini. Dua orang berjaga di depan pintu. Sementara tiga lainnya adalah kalian?" ucap Liu Chen.
Salah satu anggota menjawab, "Beberapa orang dari divisi penyerang dan pembunuh saat ini sedang mengajarkan anggota baru. Sementara kami divisi pertahanan yang ada di dalam markas hanya kami bertiga dan dua orang yang sedang berjaga di depan pintu masuk. Sisa anggota divisi pertahanan lainnya saat ini menyebar di sekitar hutan dekat markas untuk menjaga wilayah kita."
"Pantas saja aku melihat beberapa orang anggota kita ada di luar tadi. Ternyata begitu. Tapi tunggu dulu, kau bilang anggota baru? Siapa yang membawa mereka? Aku juga tidak mendapatkan kabar apapun dari kalian."
"Kami awalnya ingin memberitahu ketua Xun. Namun kami tidak bisa melakukan telepati dengan ketua Xun. Jadi kami memutuskan untuk memberitahu anda ketika anda sudah datang kemari. Lalu yang membawa mereka adalah ketua Xinxin (Yang Jia Li) dan ketua Haocun (Zong Xian)."
Liu Chen cukup terkejut mendengar ucapan salah satu anggota divisi pertahanan itu, "Apa mereka sudah berbaikan? Dimana mereka? Dan apa pengumuman tentang ketua Haocun yang dicap sebagai buronan sudah dihilangkan?"
"Ketua Xinxin dam ketua Haocun sepertinya sudah berbaikan. Namun mereka terlihat tidak sedekat saat itu. Mereka tidak ada di markas. Karna mereka pergi untuk meningkatkan kekuatan. Ketua Haocun yang dicap sebagai buronan kini telah hilang, sekitar 2 minggu lalu.
Tapi di sini ada adik ketua Haocun. Ketua Haocun menitipkannya pada kami untuk dididik dan dijaga. Jadi, kami memutuskan bahwa yang mendidik adik ketua Haocun adalah orang orang dari divisi penyerang. Maaf tidak mengatakan hal ini sebelummya pada ketua. Tapi kami sudah mendapatkan izin dari wakil Duan (Lu Tuoli) dan wakil Gong (Feng Ying)."
Liu Chen mengangguk faham. "Lalu bagaimana dengan anggota divisi pembunuh dan penyerang lainnya. Karna kau tadi bilang hanya beberapa orang dari mereka yang melatih anggota baru. Jadi dimana yang lainnya?"
__ADS_1
"Divisi penyerang sedang melawan sekte aliran hitam yang berniat menyerang sekte aliran putih. Bila tidak dihentikan, maka sekte aliran putih itu akan musnah dan sekte aliran putih pun akan berkurang yang menyebabkan kejahatan semakin besar. Jadi semua anggota penyerang langsung melakukan perlawanan pada sekte aliran hitam itu.
Sementara divisi pembunuh saat ini sedang membunuh para wali kota dan kepala desa yang suka melakukan korupsi. Kejadian itu terjadi di beberapa titik kekisaran 'Yang' ini. Lalu ada juga beberapa anggota divisi pembunuh yang pergi untuk membunuh seorang tetua yang berkhianat di sekte aliran putih."
Liu Chen mengangguk puas ketika mengetahui bahwa ia mendapatkan semua jawaban yang ia butuhkan hanya dengan menanyakannya pada satu orang anggota kelompok saja. "Lalu sekarang dimana Jenderal Lin dan Jenderal Xi?"
"Um.. Jenderal Lin mengawasi orang orang divisi penyerang yang melakukan penyerangan terhadap sekte aliran hitam. Sementara Jenderal Xi.. Dia.. Dalam masalah."
Liu Chen mengerutkan keningnya, "Masalah apa? Bagaimana bisa Jenderal Xi mendapatkan masalah? Dia itu orang yang kuat. Siapa orang yang bisa membuatnya berada dalam masalah? Apa ia berada dalam masalah karna diserang sekelompok orang? Terluka? Atau-"
"Bukan ketua Xun. Masalah ini lebih serius dari itu..."
Ketika anggota divisi pertahanan itu ingin menjelaskan sesuatu, tiba tiba datang seekor kucing yang lucu. Kucing itu menghampiri Liu Chen dan yang lainnya.
Melihat seekor kucing, Liu Chen segera berjongkok dan mengelus kepala kucing. "Imutnya~"
"Miaaoo"
Liu Chen mengangkat kucing itu dan memperlihatkannya pada Song Quon maupun Han Liangyi. "Bukankah dia terlihat imut?"
"Hachu..!!", Han Liangyi langsung bersin. Iapun mendorong kucing yang ada di genggaman Liu Chen hingga membuat kucing terjatuh. Tidak sampai disitu, Han Liangyi langsung menendang kucing yang menyebabkan kucing terlempar sampai akhirnya mendarat pada jarak beberapa meter.
"Liangyi..?!" Liu Chen berucap dengan terkejut. Begitupun Song Quon. "..Apa yang kau lakukan?! Kenapa malah menendangnya?!"
"Walaupun aku suka memberikan kucing kucing di markas ini makanan, namun aku tidak pernah sedekat itu dengan mereka karna aku alergi dengan bulunya" ucap Han Liangyi sambil mengusap usap hidungnya yang merah.
Ketiga orang divisi pertahanan yang ada di depan Liu Chen nampak berwajah pucat. Mereka serempak menutupi bagian bawah mereka masing masing. "Itu pasti sakit Tuan Xi " batin mereka.
Liu Chen langsung berlari perlahan ke arah kucing yang kini tergeletak di tanah. Saat melihat keadaan kucing yang baik baik saja, membuat Liu Chen bernafas lega. Ia tidak memperhatikan ekspresi wajah ketiga orang divisi pertahanan yang ia temui sama sekali.
Namun Song Quon, Tao Mu dan Han Liangyi kini memperhatikan ketiganya dengan aneh. Apalagi ketiga orang itu menutupi bagian bawah mereka masing masing. "Ada apa dengan kalian?", Song Quon memberikan tatapan aneh pada ketiga orang itu.
Belum sempat menjawab, kini seseorang datang dengan berjalan perlahan. Wajahnya berkeringat. Ia nampak kesakitan sambil memegangi bagian bawahnya. "Siapa.. Siapa yang melukai kucingku?!" ucapnya sambil menahan sakit. Suaranya cukup tinggi.
Liu Chen yang sudah mengangkat kucing tadi kini melirik orang yang berbicara. Bukan hanya dirinya, namun Song Quon dan yang lain juga sama.
Dia adalah seorang pria yang terlihat berusia 40 tahun. Namun padahal, umurnya lebih dari itu. Ia adalah Jenderal Xi Wang. Ia menatap Song Quon, Han Lingyi, Tao Mu dan tiga orang anggota divisi pertahanan dengan kesakitan. Namun tatapannya masih bisa tajam.
"Kucing yang Jenderal Xi maksud adalah itu?", Song Quon menunjuk Liu Chen yang mulai berjalan ke arah dirinya dan yang lain sambil membawa kucing.
Jenderal Xi menatap ke arah yang ditunjuk. Iapun terdiam membeku melihat siapa yang membawa kucingnya. Ia adalah pangeran Xiao. Ia jadi berfikir bahwa yang melukai kucing itu adalah Liu Chen. Bila demikian, dia tidak bisa melawan atau memberi hukuman.
"Jenderal Xi, kau kenapa? Apa yang terjadi denganmu? Wajahmu berkeringat sekali dan kenapa kau..," Liu Chen tidak melanjutkan ucapannya. Ia langsung menatap ke bawah dimana salah satu tangan Jenderal Xi berada.
Jenderal Xi langsung menegakkan tubuhnya. Tangannya juga langsung ditegakkan kembali. Namun di wajahnya masih terdapat keringat. Ia berkata, "Pangeran.. Apa anda yang sudah melukai kucingku?"
__ADS_1
Liu Chen menggelengkan kepala. Iapun menunjuk Han Liangyi, "Dia menendang kucing ini tadi. Lalu kucing ini terlempar."
Jenderal Xi menatap Han Liangyi dengan tajam. Orang yang ditatap langsung berkedip beberapa kali. Ia tidak tahu apa salah yang ia perbuat. Namun sepertinya Jenderal Xi sangat marah padanya.
"Apa kau bisa mengatakan apa masalah yang kau hadapi Jenderal Xi? Kulihat kau baik baik saja" ucap Liu Chen. Iapun mengelus kepala kucing untuk menenangkan binatang itu.
"A- ah kalau begitu kami akan pergi kembali melanjutkan tugas kami, ketua Xun, Wakil Qiang dan Tuan Xi," ketiga orang divisi pertahanan memberikan hormat. Setelahnya, mereka langsung pergi dengan cepat. Bahkan sebelum Liu Chen maupun yang lain mempersilahkan.
Liu Chen tidak mepermasalahkan sifat mereka. Dia hanya penasaran dengan apa yang terjadi pada Jenderal Xi.
"Sebenarnya.."
Jenderal Xi mulai bercerita bahwa dia saat itu tak sengaja menemukan kucing yang saat ini Liu Chen pegang. Kucing pun merasa terancam dengan kedatangan Jenderal Xi yang terus mendekat padanya. Lalu, tiba tiba di seluruh tubuhnya muncul asap dan manutupi diri kucing maupun Jenderal Xi.
Sejak saat itu, jiwa Jenderal Xi dan kucing seakan terhubung. Tepatnya, hanya jiwa Jenderal Xi yang seakan terhubung dengan jiwa kucing itu. Setiap kucing terluka, maka Jenderal Xi juga akan terluka dibagian tubuh dimana luka yang dialami kucing itu. Bahkan luka yang didapatnya akan lebih parah dengan yang dialami kucing.
Sementara, bila Jenderal Xi yang mendapatkan luka, maka kucing itu akan baik baik saja. Jadi, bila kucing itu sampai mati, maka Jenderal Xi juga akan mati. Sementara bila Jenderal Xi yang mati, kucing tidak akan terpengaruh sama sekali.
Dari kejadian ini, Jenderal Xi kini harus sangat menjaga kucing dengan hati hati. Ia Tadi berkeringat dan merasakan sakit karna kucing itu merasakan sakit. Terlebih, karna tendangan yang diberikan Han Liangyi tadi, kini ia merasakan sakit di bagian bawah tubuhnya. Rasa sakitnya berkali kali lipat dari apa yang kucing itu rasakan.
Mendengar penjelas Jenderal Xi, Liu Chen mengangguk faham. Begitupun Song Quon dan Tao Mu. "Jadi itu alasan kenapa Jenderal Qi merasakan sakit di bagian bawahmu" ucap Liu Chen. Ia menjadi ngeri membayangkannya. Ia masih mengelus kucing yang berada di pangkuannya.
Han Liangyi langsung berwajah pucat. Jenderal Xi pasti sangat marah padanya saat ini.
"Jadi pangeran.. Apa saya bisa meminjam teman anda sebentar? Hanya sebentar.. Aku ingin memberinya hukuman saja" ucap Jenderal Xi sambil tersenyum.
Han Liangyi bukannya melihat senyuman baik dari Jenderal Xi. Bahkan ia merasakan firasat buruk melihat senyumannya saja.
"Tidak masalah. Kau ambil saja dia" ucap Liu Chen dengan santai.
"Terimakasih pangeran, kalau begitu apa saya bisa menitipkan kucingku sebentar? Maaf bila saya lancang" ucap Jenderal Xi.
"Tidak apa. Aku akan menjaganya sementara. Kau bawa saja Liangyi pergi dari sini"
Jenderal Xi memberikan hormat terlebih dahulu. Iapun menatap Han Liangyi dengan serigaian mengerikan. Han Liangyi berniat kabur. Namun segera ditahan oleh Jenderal Xi dan langsung ditarik oleh pria itu.
"Quon! Chen! Mu! Tolong aku!"
"Heh, diam saja. Aku hanya ingin memberimu sedikit hukuman."
"Tidak! Tidak! Tidak!"
Liu Chen, Tao Mu dan Song Quon tertawa bersamaan ketika melihat eskpresi wajah Han Liangyi. "Hahaha."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Menurut kalian, chapter ini lucu atau tidak? Author berusaha bikin beberapa chapter ada komedinya. Agar tidak terlalu serius. Silahkan berikan pendapat kalian dan tulis di komentar.