
Keesokan paginya, semua sudah bersiap untuk pergi melanjutkan perjalanan. Namun, Han Liangyi belum juga selesai bermeditasi.
"Apa lukanya sangat serius?" ucap Song Quon sambil menatap Han Liangyi.
"Sepertinya begitu," Liu Chen mengangguk. "Kita tunggu saja dia menyelesaikan penyembuhannya. Setelah itu, kita baru berangkat"
Tao Mu dan Song Quon mengangguk. Mereka akhirnya hanya duduk agak jauh dari Han Liangyi agar tidak mengganggu pemuda itu.
Beberapa hari telah berlalu. Han Liangyi mulai membuka mata dan menghembuskan nafas panjang. "Huft.. Untung saja roh ku hanya terluka sedikit" gumamnya.
Iapun melihat ke sekitar. Hingga tatapannya jatuh pada tiga orang pemuda yang duduk agak jauh dari dirinya. Iapun berjalan mendekat. "Kukira, aku akan ditinggal"
"Kau ingin kami tinggalkan?" ucap Song Quon dengan ketus.
"Tidak! Sudah cukup kalian terus meninggalkanku."
Liu Chen mulai berdiri, "Baiklah kita pergi dan melanjutkan perjalanan sekarang. Kita harus segera keluar. Waktu kita sudah habis 5 hari untuk menunggu Liangyi. Belum lagi dihabiskan ketika kita terjebak ilusi. Lalu ketika perjalanan kita menuju kemari. Mungkin kita sudah dua minggu di tempat ini."
Song Quon dan Tao Mu ikut berdiri.
"Chen benar. Kita sudah lama disini. Jadi sekarang kita harus segera melanjutkan perjalanan" ucap Song Quon.
Han Liangyi mengangguk, "Baiklah."
Mereka pun mulai melanjutkan perjalanan, tanpa tahu apa yang akan terjadi di perjalanan ini.
*
CTAARR
Suara keras dari sebuah cambuk mengenai tubuh seseorang terdengar cukup keras di dalam ruangan yang minim cahaya.
Terlihat seseorang terduduk di lantai dan tangannya ke atas karna diikat rantai. Kepalanya tertunduk. Di depannya berdiri 3 orang. Dia'lah yang dicambuk oleh salah satu orang yang berdiri di depannya.
Ia sudah dicambuk ratusan kali saat ini. Pakaiannya sobek di beberapa bagian karna cambuk yang mengenai tubuhnya. Tubuhnya juga terlihat merah bahkan banyak yang berdarah. Ini membuktikan bahwa cambuk yang mengenainya sangat keras.
"Jawab aku! Siapa orang yang menyuruhmu untuk memata matai kami?!" ucap orang yang memegang cambuk dengan kesal. Sudah beberapa kali ia bertanya, namun pemuda yang dicambuk olehnya itu tidak juga menjawab pertanyaannya.
Pemuda yang terduduk di lantai itu mengangkat wajahnya. Iapun tersenyum mengejek, "Heh, aku.. takkan memberitahu.. kalian apapun" ucapnya dengan agak lemas. Walau keadaannya terlihat memprihatinkan dan terluka, namun dirinya masih saja bisa tersenyum mengejek. Seakan yang dialaminya ini bukanlah apa apa.
"Kau keras kepala sekali!" ucap orang yang memegang cambuk. Ia menjadi semakin kesal melihat raut wajah pemuda di depannya. Bukannya merasa kesakitan dan memohon ampun, pemuda ini malah seakan mengejeknya.
CTAARR
CTTARR
CTAARR
Pukulan cambuk terus di layangkan pada pemuda malang itu. Ia adalah seorang mata mata. Ia menyamar menjadi murid sekte besar aliran hitam. Namun tak lama ini, ia sudah diketahui sebagai mata mata oleh para tetua sekte. Ia sudah memata matai sekte ini sekitar 3 bulan.
Ia termasuk hebat karna dapat melakukannya selama itu. Karna dikatakan bahwa sekte aliran hitam yang ia mata matai adalah sekte yang sangat teliti dan memiliki penjagaan yang ketat terhadap sektenya. Bisa menjadi mata mata selama itu di sekte ini, tidak tentu orang lain dapat melakukannya. Apalagi orang orang sekte ini adalah orang yang kuat.
"Ini.. Bukan apa apa dibandingkan dengan pelatihan ketua Xun.. Sepertinya aku pahan dengan ucapan ketua Xun saat itu" batin pemuda tersebut. Ia adalah salah satu anggota kelompok topeng bayangan divisi informasi.
"Aku melatih kalian dengan sangat keras karna 3 alasan. Pertama, agar mental kalian menjadi semakin kuat. Kedua, agar tubuh kalian juga semakin kuat dan kalian memiliki lebih banyak pengalaman bertarung. Ketiga, berguna saat kalian tertangkap sebagai mata mata. Bila mereka menyiksa kalian untuk mencari informasi dari kalian, maka itu tidak akan berguna. Karna apa yang mereka lakukan pada kalian tidaklah ada apa apanya dibandingkan dengan latihan yang kuberikan pada kalian"
Ucapan tersebut terlintas pada si pemuda itu.
"Sekarang aku hanya perlu menunggu mereka tiba" batin pemuda divisi informasi. Ia sudah tertangkap sebagai mata mata kemarin.
"Percuma saja menyiksanya terus menerus. Dia tidak akan mengatakan informasi yang kita inginkan sampai kapanpun. Lebih baik kita tinggalkan dia dan membuatnya mati karna luka cambukan itu" ucap salah satu tetua yang ada di sekte aliran hitam ini.
"Cih!", orang yang memegang cambuk berdecih kesal. Iapun langsung pergi. Padahal biasanya, setiap ada mata mata dan tertangkap, dia menyiksa mereka sampai membuat mereka mengatakan informasi yang dibutuhkan. Namun baru pertama kalinya ia gagal mengorek informasi dari seorang mata mata yang tertangkap.
Ketika pria berotot pengorek informasi itu akan pergi, dia tiba tiba saja terjatuh dengan kepala terpenggal. Hal ini mengejutkan kedua temannya.
Kedua tetua itu langsung menatap kearah pintu menuju luar. Nampak seseorang berjubah putih dengan campuran biru dan kuning berjalan mendekat. Ia juga memakai topeng rubah berwarna putih.
"Siapa kau?!" ucap salah satu tetua sambil menatap tajam sosok tersebut.
"Cih, semut sepertimu tidak berhak mengetahui siapa aku!" ucapnya dengan dingin. Iapun menghilang dari tempatnya.
Hal ini membuat kedua tetua menatap waspada sekitar.
CRASHH
CRRASH
Dua buah kepala terjatuh dari tempatnya berada. Dua tubuh dari tetua juga langsung ambruk ke lantai.
__ADS_1
Sosok bertopeng melihat kearah pemuda yang terlihat terluka parah itu. Iapun berjalan mendekat.
Pemuda tersebut menatap sosok yang berjalan mendekat padanya. Setelah tadi mendengar suara sosok itu, ia tahu siapa dia. "Tuan.. Lin"
Ya, itu adalah salah satu Jenderal iblis yang ditugaskan menjaga Liu Chen oleh Kaisar Xiao, Lin Tian. Namun kini Liu Chen memberinya tugas lain.
Jenderal Lin Tian biasa dipanggil Tuan Lin. Sementara Jenderal Xi Wang biasa dipanggil Tuan Xi.
Jenderal Lin Tian langsung memotong rantai yang mengikat tangan pemuda di depannya. Iapun langsung menangkap tubuh pemuda itu, ketika pemuda tersebut akan jatuh ke lantai.
"Telan ini", Jenderal Lin Tian memberikan pil pada pemuda itu. Tanpa ragu, pemuda tersebut menelannya. Secara perlahan, semua luka di tubuhnya mulai pulih dengan cepat.
Pemuda itu perlahan berdiri dibantu oleh Jenderal Lin Tian. "Terimakasih Tuan Lin", ia sedikit menundukkan kepala sebagai rasa hormat.
"Hm.. Tidak masalah. Sebaiknya kau diam saja disini dan istirahat. Biar kami yang mengurus sekte ini" ucap Jenderal Lin Tian.
"Tidak, aku juga akan ikut."
"Tapi kau baru saja sembuh."
"Saya akan tetap ikut. Bagaimana bisa saya diam saja disini. Sementara yang lainnya bertarung?", pemuda itu menatap Jenderal Lin Tian dengan tegas.
Sudut bibir Jenderal Lin Tian terangkat, "Bagus. Itu baru orang orang yang pernah di didik pangeran. Ayo!"
Pemuda itu mengangguk. Sebenarnya ia masih penasaran mengapa Jenderal Lin Tian memanggil ketua Xun nya dengan sebutan pangeran. Bukan hanya dia, namun semua anggota juga belum tahu tentang Liu Chen yang juga merupakan pangeran iblis.
Saat menuju keluar, di beberapa titik ada mayat mayat penjaga. Itu tentu disebabkan oleh Jenderal Lin Tian.
Saat sampai di luar ruang penyiksaan, mereka dapat melihat banyaknya pertarungan yang terjadi saat ini.
Boomm
Boomm
Ledakan beruntun terus terjadi, begitupun dentingan senjata yang terus terdengar. Mayat mayat berceceran dimana mana. Keadaan semua mayat itu nampak tidak utuh. Mereka mati tanpa tangan, kaki dan kepala terpenggal. Bahkan ada yang matanya tertusuk, mulut terbuka dengan panah yang menusuknya hingga menembus tenggorokan. Ada juga orang yang sekarat dan dibiarkan mati kehabisan darah.
Orang orang yang menyerang sekte besar aliran hitam ini adalah divisi penyerang dan divisi pembunuh dari kelompok topeng bayangan. Mereka nampak ganas. Walaupun wajah mereka tertutup topeng. Mereka dikatakan ganas karna cara mereka membunuh yang sangat kejam. Aliran hitam bahkan tidak ada yang sampai seperti ini. Mereka hanya akan langsung memenggal kepala musuh. Tapi berbeda dengan kelompok ini.
"Arrkk!"
Teriakan teriakan kesakitan terdengar. Walaupun jumlah murid dari sekte aliran hitam ini lebih banyak dan banyak juga yang kuat. Namun, mereka dapat dipukul mundur. Itu disebabkan karna anggota kelompok dua divisi yang menyerang adalah orang terlatih dan memiliki lebih banyak pengalaman bertarung dari pada murid murid sekte.
Banyak tetua yang keluar dan menuju tempat pertarungan karna mendengar suara keras. Bahkan patriarch yang sedang berkultivasi tertutup pun langsung pergi menuju pertempuran. Ia memiliki firasat buruk bahwa musuhnya tidak akan mudah dihadapi atau bisa dikatakan, ia tidak akan bisa mengalahkan musuhnya. Tapi ia harus tetap pergi untuk membantu anggota sektenya. Tidak mungkin ia lari seperti pengecut.
"Heh, mereka akhirnya datang," gumam Jenderal Xi Wang. Iapun terbang menuju kearah para tetua dan patriarch berada saat ini.
Salah satu tetua yang melihat pertempuran langsung merasa geram, "Sebenarnya siapa yang berani menyerang sekte kita?! Dia sepertinya tidak tahu seberapa kuatnya sekte ini!"
Tak lama, para tetua yang berkumpul terkejut karna melihat seseorang terbang kearah mereka dan kini sudah ada di hadapan mereka. "Cih, aku sudah menunggu dari tadi. Kalian baru saja datang?" kesal Jenderal Xi Wang.
Semua tetua mengangkat sebelah alis mereka. Salah satu langsung berkata dengan marah, "Apa kau adalah orang yang memimpin penyerangan ini?!"
"Ya, memangnya kenapa?" ucap Jenderal Xi Wang dengan santai.
"Kurang ajar! Akan kubuat kau menyesal karna sudah menyerang sekte ini!"
"Silahkan saja, aku juga sudah lama tidak berolah raga. Kalian datang di waktu yang tepat"
Semua tetua semkin geram melihat sikap Jenderal Xi Wang. "Akan kubuat kau mati dengan menyakitkan!!"
Salah satu tetua langsung mengedarkan Qi ke seluruh tubuh. Iapun langsung melesat kearah Jenderal Xi. Dilain sisi, Jenderal Xi hanya tersenyum. "Terlalu cepat untuk kalian melawanku"
*
Liu Chen, Song Quon, Tao Mu dan Han Liangyi kini berada di depan gerbang besar setelah terbang selama setengah hari. Mereka turun disini dan tidak melanjutkan perjalanan karna saat mereka mulai mendekati gerbang, mereka tidak bisa terbang. Karna ada suatu jurus yang membuat orang lain tak bisa terbang di langit.
Saat diarea ini juga, Qi mereka terkunci tiga perempat dari kekuatan asli. Hingga membuat tingkat kultivasi mereka menurun.
"Sebenarnya tempat seperti apa ini? Kekuatan kita menurun dengan drastis" ucap Tao Mu.
"Lebih baik kita segera membuka gerbang ini agar bisa melanjutkan perjalanan. Gerbang ini juga terlihat tidak berat sama sekali", Song Quon berjalan mendekat dan mulai menempelkan kedua telapak tangan miliknya pada gerbang.
Song Quon mengalirkan semua Qi yang ia punya dan memusatkannya pada tangan dan kaki. "Hiiaaa!!"
"Kurasa.. Gerbang itu tidak bergerak membuka sama sekali, Quon" ucap Liu Chen sambil tersenyum, ia menahan tawanya ketika melihat bagaimana usaha Song Quon untuk membuka gerbang.
"Hahaha, gerbang itu sama sekali tidak bergeser sedikitpun. Kau terlalu lemah", Han Liangyi tertawa mengejek.
Song Quon menghentikan aksinya. Iapun menatap Han Liangyi dengan kesal, "Kalau begitu, kau saja yang membukanya!"
__ADS_1
"Haha, baik- baik. Akan kuperlihatkan padamu, bagaimana cara membuka gerbang ini. Gerbang ini bukanlah masalah besar untukku" ucap Han Liangyi dengan percaya diri. Iapun berjalan mendekat pada gerbang dan menempelkan kedua telapak tangannya.
Song Quon kini berdiri di samping Liu Chen. Ia melipat tangan di dada dan memasang wajah kesal.
"Hiiaa!!", Han Liangyi mendorong gerbang dengan sekuat tenaga miliknya. Namun hasilnya nihil, gerbang itu tidak terdorong sedikitpun.
"Kau lihat? Kau sendiri tidak bisa membuka gerbang itu. Kau bilang bahwa gerbang itu bukan masalah untukmu. Tapi sekarang?" ucap Song Quon dengan nada mengejek.
"Diamlah!", Han Liangyi menghentikan aksinya. Ia juga kembali ke tempat dimana dia berdiri tadi dengan eskpresi kesal.
"Lalu, bagaimana sekarang? Kami tidak bisa membukanya" ucap Song Quon.
"Kita dorong bersama sama. Gerbang pasti akan terbuka" ucap Liu Chen.
Ia dan ketiga temannya langsung berjalan mendekat pada gerbang. Mereka juga langsung memusatkan Qi pada tangan dan kaki.
"Kita dorong bersama sama, dengarkan aba aba ku" ucap Liu Chen.
Song Quon, Han Liangyi dan Tao Mu mengangguk dengan cepat. Mereka menatap serius kearah gerbang.
"Satu.."
Mereka berempat mulai memperkuat pijakan kakinya.
"Dua.."
Mereka memperkuat tangan.
"Tiga!"
Liu Chen, Song Quon, Han Liangyi dan Tao Mu langsung memperkuat pijakan kaki dan memperkuat dorongan tangan. Mereka mendorong sekuat tenaga juga ditambah dengan Qi. "Hiiaaa!!"
Gerbang perlahan mulai membuka. Melihat itu, semuanya semakin memperkuat dorongan. "Lebih kuat lagi!!" ucap Liu Chen. Nampak urat urat muncul di pelipisnya. Ini menandakan bahwa gerbang di depannya sangatlah berat, walau sudah memakai tiga perempat dari kekuatan mereka.
"Hiiaa!!"
Gerbang akhirnya terbuka. Melihat hal itu, mereka bernafas lega. Mereka pun berhenti mendorong dan menyeka keringat yang ada di dahi mereka.
"Yeay! Terbuka!" ucap Han Liangyi dengan senang.
"Akhirnya terbuka juga" ucap Tao Mu.
Belum sempat mereka merayakan kemenangan, gerbang kembali tertutup. "Eehh?!", keempatnya terkejut.
"Pintu ini.. Otomatis akan menutup setelah beberapa saat terbuka" ucap Song Quon ketika membaca tulisan kecil di salah satu titik gerbang.
Keempatnya langsung menjadi kesal. Mereka sudah susah payah mendorong gerbang ini dan sskarang? Gerbang ini harus mereka dorong lagi karna menutup kembali.
"Sialan! Kita sudah susah payah mendorongnya, sekarang pintu ini tertutup lagi?!" teriak kesal Song Quon.
"Kita dorong bersama sama lagi. Kali ini, langsung masuk ke dalam" ucap Liu Chen. Ia sudah meletakkan kedua telapak tangannya di gerbang.
Tao Mu mengikuti ucapan Liu Chen. Ia menempelkan telapak tangan kepada pintu gerbang.
"Arrkh!", Han Liangyi berteriak kesal. Iapun hanya bisa ikut melakukan apa yang Liu Chen katakan. Song Quon pun demikian. Mereka menempelkan telapak tangan pada gerbang.
"Kita lakukan seperti tadi. Aku akan memberikan aba aba"
"Satu.."
"Dua.."
"Tiga..!!"
Mereka berempat memperkuat pijakan dan memperkuat dorongan tangan. Semua Qi yang tersisa di tubuh mereka langsung digunakan untuk dorongan terakhir ini. "Hiiaa!!"
Gerbang perlahan terbuka. "Gerbang mulai terbuka, lebih kuat lagi teman teman!" ucap Liu Chen.
"Hiiiaaa!!!"
Urat urat menonjol di pelipis keempatnya. Mereka mendorong sekuat tenaga hingga akhirnya gerbang terbuka. Melihat itu, keempatnya langsung masuk ke dalam sebelum gerbang kembali tertutup seperti pertama kali.
Benar saja, setelah mereka masuk, gerbang langsung menutup.
Liu Chen, Song Quon, Han Liangyi dan Tao Mu mengatur nafas mereka yang tidak beraturan.
"Gerbang itu.. hah.. hah.. terlihat mudah dibuka. Namun saat mencobanya.., kenapa gerbang itu sangat.. berat sekali?" ucap Han Liangyi. Kini ia tidak memiliki Qi untuk membuat jurus apapun. Begitupun Liu Chen, Song Quon dan Tao Mu, mereka sudah kehabisan Qi. Lalu, Liu Chen juga tidak membawa pil apapun karna lupa membawanya. Selama perjalanan ini pun, Liu Chen tidak menemukan tanaman herbal. Jadi dia tidak bisa membuat pil.
Setelah mengatur nafas, akhirnya mereka berempat menatap kearah depan. Karna mereka tidak fokus pada sekitar sesaat tadi. Mereka terkejut ketika melihat apa yang ada di hadapan mereka saat ini.
__ADS_1
"Yang Benar Saja?!" ucap mereka serempak dengan kesal dan agak takut. Sekarang mereka tidak memiliki kekuatan apapun. Di sekitar juga tidak ada Qi sama sekali. Namun sialnya, di hadapan mereka saat ini sudah ada harimau besar berukuran 5 meter yang nampak ganas.