
Setelah terbang selama berhari hari, Liu Chen, Song Quon, Han Liangyi dan Tao Mu akhirnya sampai di depan sebuah hutan yang tertutup kabut putih yang tebal. Bahkan hutan itu hampir tidak kelihatan seperti sebuah hutan karna sekelilingnya tertutup kabut.
"Kita sudah sampai pangeran," ucap Tao Mu. Ia menelan ludah ketika melihat hutan kabut darah dari luar. Ia merasakan aura yang mencekam dari hutan, mungkin itu karna banyaknya iblis mati disana. Sehingga membuat hawa yang mencekam di hutan.
"Kukira kabutnya berwarna merah. Sehingga dikatakan hutan kabut darah" ucap Liu Chen sambil memegang dagunya.
"Aku juga berpikiran sama seperti Chen" ucap Han Liangyi.
"Hutan ini.. Sangat berbahaya. Kabut yang berada di dalam hutan adalah kabut beracun," ucap Song Quon. Ia memiliki indra perasa yang lebih tinggi karna ia merupakan demonic beast.
"Kau benar, iblis lain pernah mengatakan bahwa kabut ini beracun. Jadi banyak iblis yang mati karna racun yang ada di dalam kabut", Tao Mu mengangguk.
"Kalau begitu, bagaimana cara kita masuk ke dalam? Tidak mungkin kita menahan nafas terus menerus disana. Karna kita akan kehabisan oksigen nanti" ucap Liu Chen.
"Bila di hutan ini terdapat racun, lalu bagaimana bisa tanaman tanaman yang ada di dalam sana bisa tumbuh? Padahal beberapa tanaman itu adalah tanaman yang biasa tumbuh di hutan hutan lainnya. Lalu bagaimana mereka bisa tetap hidup?" ucap Han Liangyi dengan heran.
Song Quon menatap ke arah hutan, "Walaupun ada beberapa tanaman yang biasa berada di hutan hutan, namun mungkin saja tanaman itu sebenarnya adalah tanaman lain. Tapi tanaman tanaman itu memiliki bentuk sama dengan tanaman biasa yang berada di hutan."
"Bagaimana bila kita mencoba masuk saja? Agar kita bisa mengetahui bagaimana tanaman di dalam hutan bisa tetap hidup?" ucap Liu Chen.
"Bagaimana bila kabut di dalam sana sangat beracun? Jangan mencoba hal yang bodoh, Chen" ucap Song Quon dengan tegas.
"Aku sudah memikirkannya terlebih dahulu Quon, bagaimana kemungkinan terburuk bila kita masuk ke dalam dan menurutku, kita tidak akan mendapat masalah yang terlalu besar bila masuk ke dalam sana," ucap Liu Chen yang juga tegas.
"Itu hanyalah pikiranmu saja. Terkadang kenyataan tidak akan sesuai perkiraan."
"Kalau begitu, bagaimana bila aku mencoba menggunakan clone es ku terlebih dahulu dan kita akan lihat apa yang akan terjadi nanti."
"aku setuju dengan rencana itu. Rencana itu lebih baik dari pada langsung masuk ke dalam untuk mencoba kabut di hutan."
Liu Chen langsung membuat dua clone es. Iapun menyuruh kedua clone-nya masuk ke dalam.
Semuanya memperhatikan bagaimana clone mulai melangkah masuk ke dalam. Setelah satu langkah masuk ke dalam hutan, tiba tiba clone menghilang. "Eehh?!"
Kini, ingatan kedua clone-nya masuk ke dalam pikiran Liu Chen. "Yang menyebabkan clone ku hilang adalah karna di dalam hutan tidak bisa dimasuki oleh kekuatan. Karna clone ku terbuat dari kekuatan elemen es, maka clone akan hilang. Begitu juga bila ada serangan menuju kearah hutan ini, maka serangan itu akan menghilang dengan sendirinya."
Semua orang terkejut mendengar itu. Tak terkecuali Tao Mu. Ia tidak mengetahui hal ini sama sekali. Lagi pula, ia mendengar cerita tentang hutan kabut darah dari iblis lain. Ini pun baru pertama kalinya ia pergi kemari.
"Hebat sekali hutan ini. Aku baru pertama kali menemukan hutan seperti ini," ucap Han Liangyi. Ia menggelengkan kepala dengan takjub sambil menatap hutan.
Liu Chen menatap hutan, "Tidak ada pilihan lain. Kita harus masuk ke dalam hutan secara langsung."
"Tapi bagaimana dengan kabut beracun yang ada di hutan ini?" ucap Song Quon sambil menatap hutan dengan serius.
"Aku sudah memperkirakan bahwa tidak akan terjadi masalah yang serius, bila kita masuk ke dalam. Namun itu masih perkiraan"
"Kita tidak akan tahu sebelum mencoba," ucap Han Liangyi.
"Tujuan kita kemari bukan untuk memperhatikan hutan kabut darah dari luar saja. Tapi tujuan kita kemari adalah untuk masuk ke dalam dan menjelajahi hutan ini" ucap Liu Chen.
Song Quon menghela nafas, "Sepertinya tidak apa. Namun bila terjadi sesuatu, kita harus segera keluar dari dalam."
Semua orang mengangguk. Mereka pun mulai melangkah masuk ke dalam hutan secara bersamaan. Mereka juga bahkan menutup hidung agar tidak mencium aroma kabut di hutan.
Mereka perlahan melangkah ke depan dengan hati hati. Namun setelah 20 menit masuk, mereka tak merasakan apapun ketika berada dalam hutan.
Namun, Tao Mu tiba tiba saja tergeletak di tanah. Hal ini membuat semuanya terkejut. Mereka langsung pergi kearah Tao Mu dan memeriksa keadaanya. Ternyata Tao Mu hanya pingsan.
Mereka mengira bahwa Tao Mu tidak kuat lagi menahan nafas. Jadi, akhirnya iblis itupun pingsan. Tapi keadaan yang sama mulai terjadi pada Song Quon. Pemuda itu langsung tergeletak di tanah.
Liu Chen dan Han Liangyi yang melihat itu, berniat akan membawa Tao Mu dan Song Quon keluar dari hutan saja agar tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk dari ini.
Sebelum mereka sempat melakukannya, pandangan mereka mulai buram dan berputar putar. Akhirnya, mereka ikut pingsan.
*
__ADS_1
Di sebuah hutan yang luas, nampak seorang pemuda berdiri tegak. Di depannya terlihat banyak seekor serigala. Namun bukan serigala biasa. Mereka terlihat besar dan memiliki bulu berwarna biru muda. Di bagian dahi, nampak gambar seperti pusaran angin berwarna putih.
Sekumpulan demonic beast berwujud serigala sedang memakan buruan mereka. Daging yang mereka dapatkan sangat banyak dan besar besar.
"Mereka.." gumam pemuda itu. Ia tak lain adalah Song Quon. Di hadapannya merupakan kawanan serigala yang pernah bersama dengannya. "..kenapa ada disini? Mereka sudah mati" gumamnya.
Tak lama, segerombolan manusia langsung datang dan menyerang para demonic beast yang sedang menyantap makanan mereka. Melihat banyak manusia menyerang, para demonic beast tidak lari. Mereka melawan balik manusia manusia itu.
"Sebenarnya.. Aku berada di tempat seperti apa sekarang?" gumam Song Quon. Dirinya seperti tidak dapat dilihat para demonic beast serigala angin maupun manusia. Dia seperti menjadi penonton.
*
Di sebuah gubuk kecil, terlihat seorang anak berusia sekitar 10 tahun nampak membawa beberapa potong kayu. Di depannya ada seorang pria dewasa yang juga membawa potongan potongan kayu.
"Akh, berat sekali. Kenapa potongan kayu ini sangat berat? Dan kenapa aku menjadi seperti ini?" batin anak 10 tahun.
"Hahaha, sepertinya potongan kayu itu berat bagimu, ya? Lihatlah ayah, ayah bisa membawanya dengan mudah," ucap pria dewasa.
"Iya ayah!"
"Kenapa tubuhku menyusut seperti ini? Dan kenapa aku tidak memiliki kekuatan sama sekali? Apa yang terjadi dengan tubuhku dan kenapa aku bisa ada disini?" batin anak 10 tahun itu. Banyak pertanyaan di benaknya saat ini. Ia adalah Tao Mu.
Tao Mu awalnya tiba tiba saja sudah berada di sebuah hutan. Ada seorang pria dewasa yang memberikannya potongan kayu untuk dibawa. Awalnya ia merasa heran karna saat melihat pria dewasa itu, pria itu terlihat sangat tinggi darinya. Awalnya Tao Mu tidak ambil pusing tentang ini.
Namun, ketika dirinya mulai mengangkat kayu yang seharusnya sangat mudah dibawa olehnya, ia tiba tiba terjatuh karna tidak siap menahan beban kayu yang disimpan ke tangannya.
Disitulah, ia menyadari bahwa tubuhnya mengecil dan ia juga tidak memiliki kekuatan apapun. Pria dewasa yang bersamanya memang ayahnya. Namun ia masih agak ragu dengan itu. Karna ia tiba tiba saja ada disini dan menjadi anak kecil. Lalu, bagaimana dengan pria dewasa itu? Apa dia benar benar ayahnya?
Ketika sudah meletakkan potongan kayu di depan rumah, Tao Mu langsung merebahkan diri di tanah dengan lelah. Tubuhnya basah oleh keringat. "Hah.. Hah.. Melelahkan sekali. Hanya mengangkat kayu ini saja aku kesulitan, sial."
"Terimakasih sudah membantu ayah, Mu'er"
Tao Mu menggelengkan kepala, "Tidak masalah ayah. Aku senang bisa membantu, walau sebenarnya agak terpaksa. Aku tidak terbiasa menggunakan tubuh ini."
Tak lama, datanglah beberapa orang penagih hutang. Mereka memiliki tubuh kekar.
"Tuan, maaf saya tidak bisa membayarnya sekarang. Minggu depan, saya akan bayar. Sementara untuk sekarang, saya belum memiliki uang yang cukup" ucap ayah Tao Mu dengan memohon. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Pria kekar langsung melakukan tamparan keras kearah pipi ayah Tao Mu hingga membuat pria dewasa itu terjatuh. Melihat hal itu, Tao Mu langsung menghampiri ayahnya dan menolongnya. "Apa ayah baik baik saja?"
"Ayah baik baik saja, Mu'er", ayah Tao Mu kembali berdiri. "Tolong berikan saya waktu lagi, minggi depan. Minggu depan saya pasti akan membayarnya."
"Ahk, banyak alasan! Ujung ujungnya kau tetap tidak membayar hutangmu seperti bulan lalu! Jadi sekarang aku akan mengambil anakmu untuk melunasi hutangmu!", pria kekar langsung menyuruh anak buahnya menangkap Tao Mu.
Segera, kedua anak buahnya melakukan apa yang diperintah. Mereka memegangi kedua tangan Tao Mu. "Dengan ini, hutangmu lunas", pria kekar berniat pergi. Namun tangannya segera ditahan.
"Jangan membawa anakku! Aku akan membayarnya minggu depan!"
"Lepaskan tangan kotormu itu dariku!", pria kekar menatap ayah Tao Mu dengan jijik. Ia pun mencoba lepas dari cengkramn tangan pria dewasa di hadapannya.
Ayah Tao Mu tetap tidak melepaskan cengkraman tangannya. "Saya mohon, jangan bawa anak saya!"
Pria kekar langsung mengepalkan tangan dan melepaskan tinju pada perut ayah Tao Mu hingga membuat pria itu tergeletak di tanah dengan darah di sudut bibirnya.
"Ayah!", Tao Mu menjadi panik melihat itu. Ia berusaha lepas, namun apa daya. Saat ini ia hanyalah bocah kecil yang lemah. "Lepaskan! Lepaskan aku!"
Pria kekar berniat pergi. Namun kini kakinya ditahan oleh sepasang tangan, "Jangan bawa Mu'er ku!"
"Cih, lepaskan tanganmu!", pria kekar langsung menginjak tangan ayah Tao Mu.
"Aarkh"
"Ayah! Hentikan!"
Pria kekar kembali menginjak ayah Tao Mu. Namun kali ini yang ia injak adalah kepalanya. Ia dengan keras menempelkan telapak kaki pada kepala ayah Tao Mu. "Aarrkkhh"
__ADS_1
Pria kekar memberikan sebuah tekanan pada kakinya sehingga membuat ayah Tao Mu sangat kesakitan. "Inilah akibatnya karna berani menyentuhku dengan tangan kotormu itu. Jangan menghalangi jalanku!"
Pria kekar memperbesar tekanan hingga akhirnya, "Krakk"
Tulang tengkorak ayah Tao Mu mulai retak. Hal ini membuatnya semakin berteriak keras kesakitan. Melihat hal ini, semakin membuat Tao Mu panik. Segala cara ia lakukan agar dapat lepas dari cengkraman kedua anak buah penagih hutang. Namun semua sia sia.
Hingga akhirnya, kepala ayah Tao Mu hancur lebur bersama otaknya. Itu terlihat mengerikan. "Heh, rasakan itu! Ayo cepat"
Dengan kedua matanya sendiri, Tao Mu menyaksikan bagaimana ayahnya mati. Tatapan matanya kosong, namun air mata mulai terjatuh membasahi pipinya. "Ayah..", ucap Tao Mu dengan lirih.
"Ayo cepat, bawa anak itu!" ucap pria kekar. Ia mulai berjalan diikuti kedua anak buahnya yang masih mencengkram tangan Tao Mu.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" teriak Tao Mu. Ia mulai memberontak kembali. Namun lagi lagi, semua usaha yang dilakukannya sia sia.
"Heh, bocah kau diam saja. Aku akan menjualmu dengan harga yang lumayan untuk melunasi semua hutang ayahmu itu dan kusarankan padamu agar kau tidak perlu terlalu sedih untuk saat ini. Karna hari hari yang lebih kejam, akan kau lakukan sebagai seorang budak!" ucap pria kekar. Ia nampak tak bersalah sama sekali atas apa yang dilakukannya.
"Aku sangat lemah.. Aku tak bisa melindungi ayah.. Aku tak berguna.." gumam Tao Mu dengan tatapan kosong.
Lalu, setelah berminggu minggu kini hari yang Tao Mu jalankan sangat berbeda. Setelah ia dibeli sebagai seorang budak oleh seseorang, ia diperlakukan dengan kasar. Ia harus membantu budak lain membangun sebuah bangunan. Dengan kekuatannya yang sekarang, tentu itu sangat sulit bagi Tao Mu. Ia ingin membalaskan dendam, namun ia tak memiliki kekuatan sama sekali.
*
Di sebuah taman yang luas dengan banyaknya pepohonan dan bunga bermekaran dimana mana. Taman nampak sejuk dan indah.
Seorang pemuda berjalan menuju salah satu kursi sambil membawa semangkuk bubur. Iapun langsung duduk dan menyantap bubur miliknya. Ia tidak memperhatikan keadaan sekitar sama sekali.
"Ah~ enaknya. Tapi aku masih heran, kenapa aku bisa ada disini" ucapnya. Ia adalah Han Liangyi.
Setelah beberapa detik memakan bubur, akhirnya ia sudah menghabiskan semua. Iapun melihat sekitar untuk melihat keadaan. Ia terdiam mematung. Angin yang berhembus sejuk tidak membawa kesenangan sama sekali pada Han Liangyi. Mengapa?
Karna semua kursi di sekitar dan di sekeliling taman, semua orang tidak sendiri. Mereka berdua dengan kekasihnya masing masing. Hanya dia'lah yang sendiri disini.
Ada yang saling tertawa bersama, mengobrol dan saling menyuapi makanan. Sementara Han Liangyi? Ia hanya diam sendiri di kursinya. Melihat semua orang memiliki pasangan masing masing dan hanya dirinya yang tidak memiliki pasangan, membuat hati jomblo Han Liangyi memberontak kesal. "Kenapa hanya aku yang sendiri disini?!" kesalnya.
Han Liangyi pun berdiri dan berniat pergi dengan hati yang buruk. Iapun tak sengaja menabrak seseorang. "Eh? Ma- maafkan aku. Apa kepalamu baik baik saja?"
Han Lingyi memperhatikan kepala seorang wanita di depannya yang masih menunduk sambil mengusap kepala. Wanita itupun mengangkat wajahnya. "Tidak apa, aku baik baik saja", ia tersenyum.
"Manisnya~ Apa dia tidak memiliki pasngan seperti yang lain? Ah, kalau seperti itu, bagaimana bila aku mengajaknya jalan jalan saja?" batin Han Liangyi sambil tersenyum.
"Ah, nona maafkan aku. Tadi aku tidak sengaja menabrakmu"
"Tidak apa", wanita itu tersenyum. Ia terlihat cantik dengan rambut merah muda yang dikepang satu ke belakang dan iris mata hitamnya.
"Apa kau sendiri disini? Bagaimana bila aku mengajakmu berjalan jalan sebagai permintaan maafku. Aku akan membelikan apapun untukmu."
"Aku-"
"Sayang, kau sedang apa?" ucap seorang pemuda yang menghampiri Han Liangyi dan wanita di depannya.
Wanita itu menoleh ke asal suara. Begitupun Han Liangyi. Mereka dapat melihat seorang pemuda tampan dengan rambut cokelat panjang yang terikat ke belakang dan ada sedikit rambut yang tersisa di depan sebagai poni. Ia nampak membawa semangkuk bubur yang sama seperti Han Liangyi beli tadi. Namun yang ini lebih besar.
"Sayang, kau lama sekali" ucap wanita itu sambil tersenyum manis kearah pemuda yang merupakan kekasihnya itu.
"Ahaha maaf, maaf. Tadi banyak yang beli. Jadi aku harus menunggu. Aku kekasih Yin'er, kau siapa?" ucapnya sambil melirik Han Liangyi dengan tajam.
"Ke-ka-sih", tiga kata itu sudah cukup untuk mengetahui identitas wanita yang ditemui Han Liangyi.
"Aku bukan siapa siapa, aku pergi dulu. Semoga kalian bisa terus bersama selamanya" ucap Han Liangyi yang langsung pergi. "Huhuhu, kenapa takdir sangat kejam padaku? Pertama, aku muncul di tempat yang tidak diketahui. Sekarang..? Hatiku rasanya sakit. Baru saja aku pertama kali menyukai seorang wanita. Namun ternyata dia sudah memiliki pasangan, huhu"
*
Di sebuah padang rumput luas, tanpa adanya pepohonan sama sekali.
Sebuah cahaya muncul. Ketika cahaya mulai redup, seseorang terlihat di balik cahaya. Dia adalah seorang pemuda tampan dengan rambut dan mata hitamnya. Ya, dia adalah Liu Chen. "Kenapa aku bisa ada disini?" gumamnya. Liu Chen merasa heran karna ia tiba tiba saja berpindah tempat.
__ADS_1
Liu Chen melihat kearah kanan dan kiri. Namun tak melihat apapun selain langit malam dan padang rumput yang luas. Iapun mulai membalikkan tubuhnya.
Liu Chen mematung melihat apa yang ada dihadapannya saat ini, "K-kau.." gumamnya dengan suara bergetar.