Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
64 -Pelatihan Liu Chen II


__ADS_3

Banyak tim kali ini yang setuju mendapat komando dari Lao Zhu, akhirnya pemuda itu mengangguk. "Baiklah", Lao Tzu menatap Liu Chen yang masih saja diam di tempatnya tanpa bergerak satu inci pun.


"Tim pemanah, berdiri di barisan belakang dan siapkan busur kalian!" ucap Lao Tzu yang mulai mengomando tim.


Beberapa orang yang merupakan pemanah langsung pergi ke belakang dan mulai menarik busur untuk bersiap.


"Pengguna tombak lindungi tim pemanah!"


Segera, orang orang pengguna tombak melindungi pasukan pemanah.


"Semua penyerang jarak dekat menyebar!"


Segera, semua pengguna pedang menyebar. Sementara pengguna tombak berada di dekat tim pemanah untuk melindungi mereka.


"Sebagian serang ketua Xun sekarang! Dan pemanah, tembakan panah kalian buat perhatian ketua Xun ada pada kalian. Lalu penyerang akan mengambil kesempatan ketika perhatian ketua Xun teralihkan!"


Segera, semua melakukan apa yang Lao Tzu komandokan. Sebagian pengguna pedang langsung berlari kearah Liu Chen dan mulai menyerang. Para pemanah juga menarik busur mereka dan membuat anak panah meluncur menuju kearah Liu Chen. Panah terus berjatuhan karna mereka menembakkan panah secara bergantian.


Liu Chen terus menangkis dan menghindari panah panah yang melesat ke arahnya. Ia juga masih bisa fokus dengan orang orang pengguna pedang yang mulai bergerak menyerangnya.


"Kerja sama tim kali ini lebih baik dari pada tim pertama tadi " batin Liu Chen sambil tersenyum tipis.


Liu Chen tidak menggunakan elemen apapun. Dia hanya menggunakan pedang dengan dialiri Qi miliknya. Gerakannya cepat dan tajam, hampir semua orang yang menyerangnya sudah terduduk di lantai. Kebanyakan dari mereka kehilangan kakinya.


Lao Tzu menatap Yelu, "Yelu, ikat kaki ketua Xun menggunakan elemen logam milikmu"


Yelu mengangguk. Ia pun mulai menggunakan kekuatan miliknya. Beberapa rantai langsung keluar dari tanah dan berniat mengikat kaki Liu Chen yang kini sedang melompat di udara. Bila seseorang berada di udara maka akan cukup sulit bagi orang itu menghindari sebuah serangan yang mengarah padanya. Jadi Lao Tzu baru memerintahkan Yelu menggunakan kemampuannya ketika Liu Chen melompat di udara.


Lao Tzu tau, jika Liu Chen dapat lepas dari rantai milik Yelu. Namun saat pemuda itu akan melepaskan diri dari rantai, tentu akan membuat perhatiannya teralihkan walau hanya sejenak. Jadi ada kesempatan agar dapat melukai Liu Chen. Itulah yang Lao Tzu pikirkan.


Rantai yang keluar dari tanah mengikat kaki Liu Chen yang masih di udara. Rantai itu langsung menarik Liu Chen ke permukaan tanah dengan cepat.


Jatuhnya Liu Chen langsung membuat dedebuan beterbangan ke segala arah dan menutupi pandangan semua orang.


"Serang ketua Xun sekarang juga!" ucap Lao Tzu. Segera, orang orang yang masih dapat berdiri dan bertarung langsung pergi menuju kepulan debu dan melakukan serangan.


Lao Tzu bersiap dengan pedang miliknya. "Pemanah, berhenti memanah"


Segera para pemanah menghentikan aksinya. Mereka diam, namun mereka menatap waspada kearah kepulan debu yang kini terdengar suara benturan senjata.


Saat debu menghilang, terlihat bahwa Liu Chen berdiri tegak tanpa luka disana. Disekitarnya para anggota yang menyerang tadi sudah terduduk di lantai dan mengerang kesakitan. Namun tak berteriak.


Lao Tzu langsung berlari secepat yang dirinya bisa dan menyerang Liu Chen menggunakan pedang miliknya. "Hong (Xing Fu) sekarang!"


Xing Fu yang terduduk di lantai langsung meletakkan satu tangannya yang tersisa di tanah. "Elemen tanah:duri tanah"


Seketika, muncul tanah tajam di dekat Liu Chen. Melihat hal itu, Liu Chen segera melompat di udara.


"Yelu, gunakan kemampuanmu. Ikat kaki ketua Xun!" ucap Lao Tzu.


Yelu yang sedang menjaga para pemanah, langsung mengangguk. "Elemen logam:rantai pengikat"


Seketika rantai rantai muncul dari dalam tanah dan melilit kaki Liu Chen. Melihat hal itu, Lao Tzu langsung melompat ke depan Liu Chen dan mengayunkan pedangnya ketika melihat bahwa rantai itu mulai menarik Liu Chen ke permukaan.


Ketika keduanya terjatuh ke permukaan tanah, dedebuan langsung menutupi pandangan semua orang. Semuanya menatap serius kearah dedebuan. Mereka berharap, Lao Tzu dapat memberikan luka pada Liu Chen.


Ketika dedebuan menghilang, mereka dapat melihat bahwa perut Liu Chen terluka. Sementara Lao Tzu berdiri di depan Liu Chen dengan pedang yang terarah ke leher Liu Chen, "Anda sudah kalah ketua Xun"


Liu Chen tersenyum. Perlahan, iapun pecah dan menjadi bongkahan es. Semuanya terkejut melihat hal itu, tak terkecuali Lao Tzu. Dia yakin bahwa pedangnya mengenai Liu Chen tadi. Namun Liu Chen berubah menjadi bongkahan es?


Tak lama, terdengar berbagai teriakan di barisan belakang. Satu persatu pemanah dan pengguna tombak terduduk di lantai karna kaki maupun tangan mereka terpotong dengan cepat. Bahkan mereka tak menyadari serangan itu.


Mendengar suara itu, Lao Zhu membalikkan tubuhnya dan menatap tim barisan belakang. Lalu, sebuah pedang dengan posisi horizontal berada tepat beberapa centi dari depan lehernya. Lao Tzu tidak bergerak maju sama sekali. Karna bila ia bergerak maju, maka lehernya akan terluka.


Di belakang Lao Tzu, terdapat Liu Chen yang memegang sebuah pedang.

__ADS_1


Sebenarnya, saat Liu Chen menghindari duri tanah dan melompat ke atas, dia melihat rantai yang bergerak kearahnya begitupun Lao Tzu yang mulai mengeluarkan pedang miliknya. Bertepatan dengan itu, Liu Chen menggunakan jurus langkah bayangan tahap 3 yang membuatnya dapat berpindah tempat ke bayangan orang lain.


Bersamaan dengan jurus langkah bayangan nya ia gunakan, Liu Chen juga menggunakan elemen es nya dan membuat clone yang terbuat dari es. Disaat Liu Chen tertebas, sebenarnya itu adalah clone es milik Liu Chen. Sementara Liu Chen asli sudah berpindah ke bayangan salah satu pemanah.


Menggunakan dua jurus sekaligus dengan sangat cepat seperti tadi membuat Liu Chen cukup kesulitan. Hal ini juga membuatnya harus mengeluarkan Qi yang lebih.


Lao Tzu langsung menyikut tangannya ke belakang. Berharap serangan siku nya mengenai Liu Chen. Namun pemuda itu segera melompat ke belakang sambil mengayunkan pedangnya pada tangan Lao Tzu yang berniat menyikutnya. Hingga membuat tangan pemuda itu terpotong.


Lao Tzu meringis kesakitan kala tangannya terpotong. Namun tidak berteriak sama sekali.


Liu Chen langsung menapak di permukaan tanah dengan indah. Ia menatap para anggota yang kini terduduk di lantai itu dengan senyuman ramah seperti Liu Chen yang dikenal.


"Kerja sama kalian cukup bagus. Jian (Lao Tzu) kau hebat mengomando tim. Lalu Hong (Xing Fu), kau hebat dalam menyatukan orang yang bertengkar. Hingga akhirnya dapat membuat orang lain dapat bekerja sama"


Xing Fu yang merasa dipuji langsung tertawa senang. Walaupun satu tangannya terpotong, "Haha, ketua Xun bisa saja. Terimakasih atas pujiannya. Ketua Xun terlalu memuji, tapi aku ini memang hebat"


Semua tim yang bersama Xing Fu langsung menatap pemuda itu dengan tajam, "Dasar narsis" ucap mereka serempak.


"Tapi itu memang benar bukan? Bila tidak ada diriku, maka kalian tidak akan pernah bekerja sama. Artinya aku ini memang hebat" ucap Xing Fu.


Semua tim itu mengalihkan perhatian kearah lain. Seakan mereka tak ingin memandang Xing Fu. Jelas mereka kesal dengan kepercayaan diri Xing Fu itu, namun apa yang dikatakannya memang ada benarnya.


Liu Chen menggelengkan kepala, ia pun tersenyum, "Walaupun kalian belum bisa melukaiku, namun kalian sudah berusaha dan kalian mengikuti apa ucapanku tadi pada tim pertama untuk bekerja sama.


Teruslah seperti ini dan tingkatkan kerja sama kalian. Selama 1 bulan ke depan, latihan seperti inilah yang akan kalian jalankan. Tim tidak akan terus sama, karna setiap anggota pada tim akan berubah. Ini dilakukan untuk melihat bagaimana kerja sama kalian bila dengan orang selain tim saat ini dan agar kalian dapat bekerja sama dengan siapapun"


Semua orang terkejut, tak terkecuali tim pertama tadi. 1 bulan latihan seperti ini? Mereka merasa tak sanggup untuk melakukannya.


Melihat tatapan tak semangat semua anggota membuat Liu Chen menghela nafas, "Setiap apa yang kulakukan pasti ada alasannya. Karna aku tidak akan bertindak tanpa alasan"


Wu Anming yang merupakan orang yang dimasukkan ke dalam markas oleh Liu Chen segera mengangkat tangannya. Liu Chen langsung menoleh kearah pemuda itu ketika melihat tangannya terangkat. "Ada apa Yong (Wu Anming)?"


"Mengapa sifat ketua sangat berubah saat ini?" ucap Wu Anming dengan hati hati. Ketika mendengar ucapan Wu Anming, seketika semua orang menatap kearah dirinya. Mengetahui bahwa dirinya ditatap semua orang, Wu Anming pura pura tidak mengetahui tatapan mereka. Padahal dalam hati ia gugup dan berkata, "Apa ada yang salah dengan ucapanku? Aku hanya penasaran saja "


"Yong benar ketua Xun, apa yang terjadi dengan anda?"


"Ketua Xun menyeramkan saat tadi"


"Sifat ketua sangat berubah"


"Aku akan bersikap tegas dan sangat serius pada kalian saat latihan dimulai. Jika saat waktu istirahat seperti ini dan sedang memiliki waktu santai, aku akan bersikap biasa. Dan ya, waktu istirahat saat ini adalah 1 jam" ucap Liu Chen sambil tersenyum.


"Kalian tangkap ini", Liu Chen melemparkan banyak pil pada orang orang yang terluka. Semuanya menangkap pil itu dan mulai menelannya. Mereka langsung menyerap khasiat dari pil buatan Liu Chen. Semua tangan maupun kaki mereka yang terpotong langsung tumbuh kembali. Lagi lagi, ini membuat mereka takjub.


"Aku akan keluar, ketika waktu istirahat sudah habis maka aku akan kembali masuk ke dalam", Liu Chen mulai berjalan keluar dari ruang latihan.


"Terimakasih ketua Xun!"


Liu Chen berbalik dan berhenti sejenak. Iapun tersenyum kearah para anggota itu. Sepertinya mereka melupakan tentang dua kubu itu untuk sejenak. Liu Chen kembali berjalan dan membuka pintu.


Ketika menutup pintu, Liu Chen terkejut saat membelakangi pintu itu karna di hadapannya sudah ada Song Quon. "Huft.. Kau membuatku kaget saja"


"Hehe, aku tadinya hanya ingin melihat latihan mu saja" ucap Song Quon sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.


"Huh, lalu kenapa tidak langsung masuk saja?"


"Karna kau sudah keluar, sebelum aku masuk kemari"


"Qiang jangan lupa saat sore sampai tengah malam, aku dan Guang akan berlatih dengan kalian. Jadi tidak hanya anggota anggota ini saja yang berlatih. Namun wakil dan ketua juga harus berlatih. Aku akan menjadi lawan tanding mu, Duan (Lu Tuoli) dan Gong (Feng Ying)" ucap Liu Chen dengan tegas.


"Kau tidak memberitau kami saat kemarin. Kenapa tiba tiba mengatakan bahwa kau akan menjadi lawan tandingku, Duan dan Gong juga?"


"Karna aku lupa mengatakannya kemarin. Jadi aku baru sekarang mengatakannya padamu"


"Huft.. Baiklah. Oh ya, bagaimana bila kita keluar sebentar untuk menghirup udara segar? Aku bosan terus di dalam markas seperti ini. Tidak ada yang bisa kulakukan sekarang. Karna kau yang akan mengajari anggota anggota itu selama sebulan ini. Jadi aku tidak memiliki pekerjaan"

__ADS_1


"Baiklah, ayo"


Liu Chen dan Song Quon langsung pergi menuju keluar. Karna, waktu istirahat yang Liu Chen berikan juga satu jam. Jadi dia memiliki waktu untuk berjalan jalan di luar.


Setelah sampai di luar gua, Song Quon merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara dalam dalam dan menghembuskannya.


"Kau seperti terkurung bertahun tahun saja" ucap Liu Chen sambil tersenyum.


Song Quon langsung menatap Liu Chen. Tangan yang direntangkannya perlahan turun. "Rasanya sangat membosankan, kau tau? Udara di luar juga jauh lebih segar dari pada di dalam markas"


Liu Chen mengangguk angguk, "Baiklah-baiklah, aku paham"


"Kita berkeliling hutan saja"


Liu Chen mengangguk. Mereka pun berjalan mengelilingi hutan. Hari masihlah pagi, burung burung berkicauan di dahan pohon.


"Ah iya, bila pelatihan 1 bulan yang kau lakukan untuk mereka sudah selesai, apa yang akan kau lakukan setelahnya?" ucap Song Quon.


Liu Chen sedikit melirik Song Quon, iapun kembali menatap ke depan. "Maaf saat kemarin aku juga belum memberitaukan apapun padamu dan yang lainnya. Aku berniat akan mengelompokkan mereka menjadi 4 divisi"


"Mengelompokkan mereka? Hm.. Divisi apa saja?"


"Divisi informasi. Orang orang ini akan kita sebarkan ke seluruh tempat. Bahkan ke dalam sekte sekte untuk mencari tahu informasi apapun yang ada. Bila ada informasi mengenai adanya pengkhianat di sebuah sekte aliran putih, maka kita akan mengirimkan orang dengan divisi pembunuh untuk membunuh orang itu secara diam diam.


Itu lah tugas dua dari empat divisi. Lalu dua divisi lainnya adalah divisi penyerang dan pertahanan. Aku akan memberitaukan pemikiranku ini pada Jiangwu dan wakil ketua lainnya. Tentunya, bila kita membagi mereka menjadi 4 divisi ini, pelatihan yang mereka lakukan akan berbeda setiap divisi.


Misalnya divisi pembunuh, aku akan mengajarkan orang itu bagaimana cara membunuh secara diam diam tanpa diketahui oleh orang lain. Lalu divisi pertahanan, fokus mereka adalah pada kekuatan pertahanan yang dimiliki"


Song Quon mengangguk angguk paham. "Oh ya, Chen. Bagaimana dengan Kekaisaran Salju Putih yang ada di benua utara? Apa kau dan keluargamu akan pergi kesana untuk menemui Kaisar?"


Liu Chen menggelengkan kepala, "Itu terserah ayahku. Aku tidak akan ikut campur masalah ini. Quon, apa kau mengetahui sesuatu tentang Liangyi?"


Song Quon mengerutkan keningnya, "Memangnya ada apa dengan pria itu? Apa kau curiga bahwa dia akan memberitaukan tentang kelompok ini pada orang lain?"


Liu Chen menggelengkan kepala dan tersenyum, "Dia tidak akan memberitaukan apapun tentang kelompok ini pada orang lain. Kau tau kenapa? Karna aku sudah memasang segel kesetiaan padanya. Dia tidak akan bisa memberitaukan apapun tentang kita pada orang lain. Karna segel yang ku pasang padanya lebih kuat dari pada anggota kelompok lainnya"


Song Quon mengangguk, "Lalu apa maksudmu 'mengetahui sesuatu tentang Liangyi'?"


"Saat itu aku pernah tak sengaja menelan pil mata tembus pandang-"


"Apa yang kau lakukan dengan pil itu? Apa tujuanmu menggunakan pil semacam itu?", Song Quon langsung berpikir yang tidak tidak tentang Liu Chen.


"Memangnya apa yang kau pikirkan tentang pil tembus pandang yang kukatakan? Maksudku pil itu dapat membuat penggunanya dapat menembus pandangan hingga ke organ dalam seseorang yang di tatapnya. Itu juga dapat mempertajam penglihatan, walau hanya sekejap"


Song Quon bernapas lega, "Kukira kau ingin melihat apa dengan pil itu"


Liu Chen memiringkan kepalanya tak mengerti, "Memangnya apa?"


Song Quon menggelengkan kepala dan tertawa canggung melihat tatapan Liu Chen, "Tidak ada, lupakan saja. Lalu apa yang kau lihat dengan pil yang kau katakan itu?"


"Saat itu, ketika aku berada di tempat Xian. Ketika Xian dan Liangyi sedang memperdebat sesuatu, aku langsung menelan sebuah pil. Kukira itu adalah pil yang dapat mengembalikan Qi. Namun ternyata aku salah mengambil pil. Ternyata pil itu adalah pil tembus pandang.


Saat aku menatap kearah Liangyi, aku terdiam ketika melihat kualitas tulang dari pria itu. Kau tau berada kualitas tulang miliknya?"


Song Quon menggelengkan kepala, "Memangnya berapa?"


"Kualitas tulang miliknya adalah 1.000 tahun lebih"


Song Quon terkejut mendengar ucapan Liu Chen, "Bagaimana bisa? Bukankah seharusnya kualitas tulang miliknya hanya 18-20 tahun saja?"


Liu Chen menggelengkan kepala, "Aku tidak tau. Apa kau mengetahui sesuatu tentang Liangyi?"


Setelah menenangkan diri dari keterkejutannya, Song Quon menggelengkan kepala dan mulai menjawab, "Aku tak mengetahui apapun tentangnya"


Liu Chen mengangguk, "Dia bisa menghentikan waktu, membuat orang lain melupakan suatu kejadian yang baru saja menimpanya. Siapa dia sebenarnya?" batin Liu Chen. Ia sangat penasaran dengan identitas pria itu yang menurutnya pastilah tidak biasa. Lalu bagaimana bisa Han Lingyi masih terlihat seperti berusia sekitar 18-20? Bila umur pria itu adalah 1.000 tahun lebih? Bahkan gurunya saja yang memiliki kekuatan besar masih bisa menjadi tua.

__ADS_1


__ADS_2