
Terdengar suara benturan antar pedang di ruang latihan. Namun itu semua tidak mengganggu para anggota yang tengah tidur saat ini. Karna ruang latihan di tutup oleh pintu besar dan ruangannya juga cukup kedap suara.
"Kau hebat dalam memakai tombak, Haocun" ucap Liu Chen.
"Heh, kau juga hebat menggunakan pedang Xun atau harus ku panggil pangeran, hm?" ucap Zong Xian. Nadanya terdengar ada sebuah ejekan.
Liu Chen berdecak, "Kau ini mengejekku, ya?"
"Tidak, aku tidak mengejekmu sama sekali, um..mungkin hanya sedikit" , Zong Xian langsung melompat ke belakang dan melemparkan tombaknya yang berapi kearah Liu Chen ketika dirinya sendiri masih ada di udara.
Liu Chen segera menepisnya menggunakan pedang. Liu Chen mengalirkan Qi pada pedang untuk membelokkan arah tombak ke samping. Hingga akhirnya tombak menancap di tembok dan menimbulkan sedikit retakan pada dinding.
Liu Chen maju ke arah Zong Xian dan langsung menyerang pemuda itu menggunakan pedang miliknya. "Kau sudah tidak memegang senjata lagi"
"Siapa bilang aku tak memegang senjata lagi?", Zong Xian terus melompat ke belakang. Setelah diberi waktu oleh Liu Chen untuk diam, Zong Xian langsung mengarahkan tangannya pada tombak yang tertancap.
Seketika, tombak miliknya langsung melesat menuju arah Zong Xian. Dia pun langsung mencengkramnya dan menghentakkan bagian tumpulnya ke tanah. "Kau lihat? Aku masih memegang senjata"
Liu Chen tersenyum, "Sudah kuduga bahwa tombak mu itu bisa kembali padamu"
Mereka kembali melesat dan beradu senjata. Bukan hanya itu, mereka juga beradu pukulan dan tendangan. Namun mereka tidak bertarung secara serius agar tidak membuat markas rusak atau bahkan runtuh.
Setelah 2 jam bertarung, mereka berhenti. Mereka saling berhadapan di jarak beberapa meter. Keduanya mengatur nafas masing masing. Tidak ada yang terluka secara berat. Hanya luka ringan saja.
"Sudah cukup" ucap Liu Chen.
"Apa kau terlalu lelah, hingga akhirnya menyerah?", Zong Xian tersenyum mengejek.
Liu Chen menggelengkan kepala, "Aku tidak menyerah padamu sama sekali. Namun kita sudah cukup lama bertarung. Kita harus mengajar para anggota nanti. Bila kita tidak segera berhenti, maka kita akan kelelahan"
"Bukankah ada pil penambah stamina yang kau miliki?"
Liu Chen menggelengkan kepala, "Sudah habis aku berikan untuk dijual pada Asosiasi Bulan Perak. Tidak baik juga bila terus mengonsumsi pil penambah stamina"
Zong Xian mengangguk, "Baiklah kita berhenti sekarang", iapun memasukkan tombaknya ke dalam cincin ruang.
Liu Chen mengangguk. Ia juga ikut memasukkan pedang miliknya ke dalam cincin ruang.
"Xun", panggil Zong Xian.
"Hm?"
"Apa yang akan kau lakukan bila mengetahui ada seseorang yang menyakiti perasaan ibu mu?"
Liu Chen mengerutkan kening. Karna tak biasanya Zong Xian mengatakan hal seperti itu, "Bila aku mengetahui ada yang berani menyakiti perasaan ibuku, maka aku akan memberinya pelajaran"
"Lalu, bagaimana bila ibu mu kecewa terhadap seseorang dan langsung membunuh dirinya sendiri karna orang itu? Apa yang akan kau lakukan? Apakah membalaskan dendam pada orang yang membuat ibumu kecewa dan sedih itu?"
Liu Chen makin tak mengerti dengan ucapan Zong Xian. Pemuda itu kenapa sangat tiba tiba menanyakan hal hal seperti ini?
"Tentu aku akan membalasnya. Apalagi bila orang itu menyakiti perasaan ibuku hingga membuat dirinya bunuh diri. Tapi aku tentu tidak akan membiarkan hal itu terjadi"
Zong Xian mengangguk, "Apa kau sangat menyayangi ibu mu?"
Liu Chen mengangguk.
"Sepertinya ibu mu juga sangat menyayangimu, ya?", Zong Xian tersenyum tipis.
"Haocun, kenapa kau tiba tiba menanyakan hal seperti ini padaku? Tidak biasanya kau membahas hal hal tentang ini", Liu Chen mengerutkan keningnya dan menatap Zong Xian dari atas sampai bawah.
Zong Xian tersenyum dan hanya menggelengkan kepala tanpa menjawab apapun pertanyaan yang Liu Chen lontarkan padanya.
"Xun, minggu depan aku akan ikut dengan Xinxin" ucap Zong Xian secara tiba tiba.
"Heh, kau mau apa ikut dengannya? Apa kau memiliki sebuah urusan? Urusan apa yang kau miliki dengan Xinxin?"
"Kau ingin tau saja"
"Terserahmu saja. Aku tak peduli. Ngomong ngomong, apa kau sudah mengatakannya pada Xinxin bahwa kau ingin ikut dengannya?"
Zong Xian menggelengkan kepala, "Aku akan mengatakannya nanti pagi"
"Haha, kita lihat apakah dia akan mengizinkanmu ikut dengannya ataukah tidak. Tapi menurutku, kau akan ditolak untuk ikut dengannya. Lagi pula, kau selalu membuatnya marah, bukan?"
"Heh, jangan berpikir seperti itu. Dia pasti membiarkanku ikut dengannya dan bila itu terjadi, maka kau harus mentraktirku makan"
Liu Chen mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa aku? Kau saja bayar makanan mu sendiri. Aku tidak tertarik untuk membayarkanmu. Lagi pula, kau masih memiliki banyak uang, bukan?"
"Cih, banyak kau bilang? Uangku sudah habis untuk membangun markas ini. Seharusnya aku menagih uang pada kalian untuk menggantikan uangku yang habis", kesal Zong Xian.
"Huh, itu derita mu. Kau sendiri yang ingin mencarikan markas untuk kami. Jadi semua biaya ditanggung olehmu", Liu Chen tersenyum sinis.
"Kau jahat sekali, Xun" ucap Zong Xian dengan merajuk.
"Tidak perlu memperlihatkan ekspresi seperti itu. Kau terlihat lebih jelek dari biasanya" ucap Liu Chen sambil menahan tawa.
__ADS_1
Zong Xian mendengus kesal, "Terserah apa katamu. Aku tak peduli", iapun mulai berjalan menuju pintu keluar.
"Hei, bagaimana denganku? Bagaimana bila kau pergi? Apa aku harus mengajari semua anggota sendirian?" ucap Liu Chen sambil memandang Zong Xian yang sudah berada di depan pintu.
Zong Xian membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Liu Chen, "Kau bisa melatih mereka dengan wakilmu, wakilku dan wakil Guang. Bila Guang sudah kembali, kau juga bisa mengajaknya"
"Kau tau, bukan? Itu akan lama bila menunggunya"
"Huh, itu derita mu bukan aku" ucap Zong Xian yang sedikit menirukan ucapan Liu Chen tadi.
Liu Chen mendengus, "Memangnya apa tujuanmu mengikuti Xinxin ke kerajaannya? Apa kau ingin melihat seperti apa kerajaan itu?"
"Aku akan melamarnya dan mengatakannya langsung pada Kaisar" ucap Zong Xian sambil terkekeh.
Liu Chen terkejut bukan main, "A-apa kau serius?! Aku tidak salah dengar, 'kan?! Atau kau sedang bercanda denganku?!"
"Hehe, aku hanya bercanda", Zong Xian terkekeh.
"Kau itu membuatku sangat terkejut. Tapi ternyata itu hanya candaan mu saja", Liu Chen menggelengkan kepala.
"Kenapa kau terkejut? Apa kau cemburu bila aku menikah dengannya?", goda Zong Xian.
Liu Chen mendengus, "Aku tidak cemburu pada apapun, yang ku pikirkan hanyalah tentang kelompok kita dan ras iblis"
Zong Xian mengangguk angguk. "Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kamar"
"Terserah kau saja", cuek Liu Chen.
Ketika Zong Xian memegang pegangan pintu, ia langsung membuka suara tanpa menoleh ke arah Liu Chen, "Seberapa berartinya kelompok ini dan semua anggota ini bagimu, Xun?"
"Semua anggota disini seperti saudara bagiku. Jadi mereka sangat berharga bagiku. Kau termasuk salah satunya. Begitu juga dengan Quon, Jiangwu, Tuoli, Ying, Jia Li, Juan. Kalian sudah kuanggap seperti keluarga"
Zong Xian mengangguk, "Lalu bagaimana bila kau kehilangan kami?"
Liu Chen menutup mata sejenak, ia seperti berfikir tentang apa yang Zong Xian ucapkan. Ia pun kembali membuka matanya dan menatap punggung Zong Xian yang kini ada di dekat pintu. "Kenapa kau mengatakan hal itu?"
"Karna jika perang terjadi, maka siapa saja bisa mati. Termasuk aku dan anggota lainnya. Lalu disaat itu, apa yang akan kau lakukan?"
"Entahlah"
"Lalu apa yang akan kau lakukan bila seorang anggota kita mendapatkan masalah? Apa kau akan menolongnya? Atau membiarkannya karna merasa bahwa itu bukanlah urusanmu"
"Aku akan membantunya sebisaku. Tapi Haocun, kenapa kau tiba tiba berkata semua hal yang sangat aneh seperti ini?"
Zong Xian menggelengkan kepala, iapun menoleh ke belakang tanpa mengubah posisi tubuhnya, iapun tersenyum. "Terimakasih karna sudah menjawab semua pertanyaan yang ku lontarkan padamu"
Liu Chen hanya diam disana. "Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa tiba tiba menanyakn hal hal yang aneh seperti itu?" gumam nya.
Ketika pagi tiba, semua anggota sudah berkumpul. Mereka semua sudah sarapan dengan makanan yang koki buatkan. Di markas memang ada beberapa koki untuk memasak makanan. Jadi semua anggota tidak perlu memasaknya sendiri.
Koki yang bekerja di dalam markas kelompok ini diberikan gaji. Mereka juga bukanlah anggota. Jadi mereka dilarang keluar masuk seenaknya. Bukan hanya koki, namun ada juga petugas kebersihan yang akan membersihkan markas setiap hari. Dia juga akan di gaji setiap bulan.
Petugas kebersihan adalah orang orang yang dibawa Chan Juan karna wanita itu sempat bertemu mereka dan merasa kasihan dengan kehidupan yang mereka jalankan. Sehari, mereka dapat tidak makan karna tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Bahkan pakaian mereka kotor dan sobek sobek. Belum lagi dengan tempat tinggal mereka.
Sementara para koki adalah orang orang yang dibawa oleh Zong Xian saat itu untuk menjadi koki. Sekarang ini yang membayar para koki bukanlah dirinya. Namun para koki dibayar dari pendapatan yang di dapatkan dari menjual pil yang Liu Chen buat.
Para koki dan petugas kebersihan ini juga diberikan tanda segel agar mereka tidak membocorkan keberadaan markas, apabila saat mereka berada di luar nanti.
Saat melihat adanya Yang Jia Li, Zong Xian langsung berkata pada orang yang ia ajari, "Kau tunggu disini sebentar. Aku ada urusan"
"Baik ketua pertama", orang itu pun langsung menyimpan tombaknya di punggung.
Zong Xian mengangguk. Ia pun mulai mendekat pada Yang Jia Li. "Minggu depan nanti, aku akan ikut denganmu pulang ke tempatmu"
Yang Jia Li dan Chan Juan yang baru saja datang ke ruang latihan langsung terkejut mendengar ucapan Zong Xian. "Heh, aku tidak mau membawamu. Lagi pula apa urusannya denganmu?" ucap Yang Jia Li.
"Heh, terserahku saja. Jika aku bilang ingin ikut dirimu pulang, maka aku akan ikut. Tidak ada yang bisa melarangku" ucap Zong Xian.
"Memangnya apa alasanmu ikut denganku? Aku tidak mau!" ucap Yang Jia Li sambil menggelengkan kepala dengan cepat.
"Huh, aku akan tetap ikut", Zong Xian kembali ke tempat dia mengajari salah satu anggota nya.
Yang Jia Li mendengus kesal, "Huh, sebenarnya apa tujuannya ikut denganku?!"
"Apa jangan jangan ketua pertama ingin melamar anda, ketua Xinxin" ucap Chan Juan yang ada di samping Yang Jia Li.
Yang Jia Li tersentak. Dia rekfleks memukul pucuk kepala wakilnya itu. "Jangan sembarangan berbicara! Lagi pula bila itu terjadi, aku tidak akan menerimanya!"
Chan Juan mengusap kepalanya dan menatap Yang Jia Li, "Yah..itu hanya kemungkinan ketua Xinxin"
"Cih, jangan mengatakan hal itu lagi. Juga aku ini masih muda, jadi lebih menyukai kebebasan!" ucap Yang Jia Li dengan ketus.
"Hehe maaf, maaf, jangan marah" ucap Chan Juan dengan tersenyum memohon.
Yang Jia Li mendengus kesal, iapun kembali menatap Chan Juan. "Lebih baik nanti kita berangkat saat malam hari. Agar dia tidak mengikuti kita"
__ADS_1
"Baik ketua Xinxin", Chan Juan mengangguk.
***
"Bagaimana, Haocun?" ucap Liu Chen sambil menghampiri Zong Xian.
"Hehe, tentunya dia memperbolehkanku ikut" ucap Zong Xian.
"Huh, kau kira aku tak melihatnya tadi? Aku tadi lihat kau ditolak olehnya untuk ikut. Tapi kau memaksa" ucap Liu Chen dengan cuek.
"Hehe", Zong Xian hanya tertawa pelan. "Kalau begitu, aku akan kembali melatih yang lain", iapun langsung pergi dari hadapan Liu Chen.
"Sebenarnya mau apa dia ikut dengan Xinxin? Bahkan dia sampai memaksa ikut" gumam Liu Chen sambil memperhatikan punggung Zong Xian yang semakin menjauh darinya.
Liu Chen segera menemui Feng Ying karna ingin membahas sesuatu.
"Haocun akan pergi minggu depan. Jadi kau tidak perlu ikut. Karna dia tidak mau siapapun mengikuti dirinya. Karna Niu (Chan Juan) akan ikut bersama Xinxin, maka kau yang akan mengurus masalah penjualan kita pada Asosiasi Bulan Perak.
Lagi pula, ku dengar bahwa kakakmu bekerja disana. Jadi tidak masalah bukan, bila kau yang mengurus tentang penjualan ini?" ucap Liu Chen.
"U-um..ya", Feng Ying mengangguk. "Huft..bagaimana bila aku bertemu kakak? Mungkin aku akan dimarahi habis habisan. Tapi aku bisa memakai jubah dan topeng yang sama seperti Niu, jadi kakak tidak akan menyadarinya" batin Feng Ying.
"Baiklah, minggu depan kau dan Duan (Lu Tuoli) yang akan mulai melatih para anggota. Karna aku akan mulai membuat banyak pil, sementara Guang (Zhang Jiangwu), Haocun (Zong Xian), Xinxin (Yang Jia Li) dan Niu (Chan Juan) pergi. Sementara Qiang (Song Quon) belum kembali. Tapi kalian bisa menunjuk dua orang anggota yang menurut kalian dapat membantu kalian nanti" ucap Liu Chen.
Feng Ying mengangguk dengan pasrah. Menurutnya ini seperti tugas yang besar baginya, "Baiklah. Aku mengerti"
Liu Chen tersenyum, "Kalau begitu terimakasih"
Satu minggu kemudian, Yang Jia Li dan Chan Juan pergi keluar markas malam hari secara diam diam agar tidak diketahui Zong Xian. Sementara, Zhang Jiangwu sudah pergi beberapa hari lalu untuk menyelidiki tentang pihak yang membunuh semua anggota dalam 4 sekte berbeda.
Ketika Yang Jia Li dan Chan Juan melompat diantara pepohonan, mereka sedikit mendengar langkah seseorang. Mereka berdua saat ini memakai jubah dan topeng dari kelompok topeng bayangan. Itu dilakukan Yang Jia Li agar semua orang yang bertemu dengannya nanti tidak mengenali bahwa dia putri Kaisar.
Keduanya menghentikan langkah dan membalikkan tubuh mereka ke belakang. Namun, tidak ada siapapun disana.
"Aku yakin ada seseorang" ucap Yang Jia Li dengan suara pelan.
Chan Juan mengangguk. Dia juga dapat mendengar suara langkah seseorang tadi.
Yang Jia Li mengeluarkan busur es miliknya. Iapun mengalirkan Qi pada busur. Seketika, tali yang ditarik Yang Jia Li muncul 3 panah sekaligus. Iapun melepaskan panah kearah tempat yang di duga adanya seseorang.
Tiga panah mengenai batang pohon dan membuat batang pohon sedikit membeku. Lalu, seseorang keluar dari balik batang pohon.
"Kau ingin membunuhku, ya?!" ucap orang tersebut. Dia juga memakai jubah dan topeng yang sama dengan Yang Jia Li dan Chan Juan.
Mendengar suara yang tak asing baginya, Yang Jia Li menurunkan busurnya. Lalu iapun berucap dengan kesal, "Xian sialan! Kenapa kau mengikutiku?!"
Zong Xian membuka topeng miliknya dan tertawa ringan, "Kau pikir aku tidak tau kau akan berangkat malam hari? Huh..hampir saja kalian meninggalkanku. Jahat sekali" ucapnya dengan merengek.
"Cih, kau pulang saja. Lagi pula, kenapa kau ikut denganku?", kesal Yang Jia Li sambil menatap Zong Xian.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh? Ini sudah jauh dari markas. Mana mungkin aku kembali begitu saja" ucap Zong Xian dengan menyebalkan.
"Cih, terserah kau saja", Yang Jia Li membalikkan tubuhnya dan kembali melompat diantara pepohonan. Melihat bahwa Yang Jia Li pergi, Chan Juan langsung mengikuti dari belakang.
"Huh, kenapa mereka meninggalkanku?", kesal Zong Xian. Ia pun kembali memakai topeng dan mengikuti Yang Jia Li dengan berlari di permukaan tanah.
Walaupun hari masihlah malam, namun mereka dapat melihat jalan.
Tanpa mereka sadari, mereka terus diikuti oleh seseorang yang memakai jubah hitam dengan tudung yang menutupi kepalanya. Langkahnya seperti angin, tidak terdengar suara. Dia sepertinya sangat ahli dalam mengintai orang lain dari pergerakan yang dirinya lakukan.
"Aku penasaran, kenapa Jenderal menyuruhku untuk mengikuti pemuda itu dan memberikan informasi apa yang dilakukannya? Tapi Jenderal bilang, ini merupakan salah satu rencana mereka. Seperti apa ya, rencana yang dimaksud?" batinnya.
Sudut bibirnya terangkat, "Yang pasti, ini akan menyenangkan"
Dia adalah Jenderal iblis yang terus mengikuti Zong Xian dan teman temannya semenjak mereka mulai berburu demonic beast di dunia iblis.
Flashback ketika Zong Xian dan Lu Tuoli di tangkap.
Mereka dibawa ke tempat yang minim akan cahaya dan diikat dengan rantai yang terdapat di tembok. Mereka di bawa dengan keadaan pingsan.
"Hm..mungkin bila aku melihat masa lalunya, aku akan tahu siapa mereka" gumam Jenderal iblis yang menangkap Zong Xian dan Lu Tuoli. Dia adalah Jenderal iblis, Jing Mi.
Dia memiliki kemampuan yang sama seperti Han Liangyi. Dia dapat melihat masa lalu seseorang. Kemampuannya sangat berguna untuk mengumpulkan informasi. Namun dia tidak dapat menghentikan waktu. Seperti Han Liangyi.
Jenderal Jing Mi langsung menempelkan telunjuknya pada dahi Zong Xian yang masih pingsan dengan tubuh banyak luka.
Beberapa menit kemudian, Jenderal Jing Mi melepaskan telunjuknya dari kening Zong Xian. "Ada sebuah segel yang menyegel sebagian ingatannya" gumam Jenderal Jing Mi.
Jenderal Jing Mi langsung meletakkan telapak tangannya di pucuk kepala Zong Xian. Diapun kembali menjauhkan tangannya dari Zong Xian. Di telapak tangannya, nampak sebuah gambar rantai berwarna hitam. Jenderal Jing Mi langsung mengepalkan tangannya. Seketika itu juga, rantai langsung berubah menjadi serpihan cahaya dan menghilang.
"Baiklah, akan kulihat ingatan apa yang sebenarnya tersegel dalam bocah ini"
Iapun langsung menempelkan kembali telunjuknya pada kening Zong Xian. Seketika, ia dapat melihat ingatan yang tadinya tersegel itu.
Jenderal Jing Mi melepaskan tangannya dari kening Zong Xian. "Kau memiliki masa lalu yang kelam juga bocah. Hm? Ingatannya juga berhubungan dengan salah satu anggota kalian", sudut bibirnya terangkat kala memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Perlahan, dia akan mengingat ingatannya itu. Yang kulihat juga, dia adalah orang yang pendendam bila tentang keluarganya. Kemungkinan besar dia akan membalaskan dendam nya bila mengingat ingatan itu. Baiklah, aku akan menunggu mu mengingatnya dan akan ku tunggu perpecahan antara kelompokmu itu yang tentunya disebabkan oleh dirimu sendiri" ucap Jenderal Jing Mi sambil tersenyum sinis menatap kearah Zong Xian.