Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
76 -Mata Mata


__ADS_3

Hanya dalam waktu 2 hari, berita tentang toko obat senja langsung tersebar ke seluruh kota Awan. Banyak yang datang ke toko obat itu. Bukan hanya karna harganya yang murah, namun kemurniannya hampir 100%.


Pelanggan yang biasa membeli pil di toko obat Chu bahkan pindah ke toko obat senja setelah mendengar berita ini. Memang, bila dibandingkan dengan toko obat Chu, harga pil di toko obat senja lebih murah. Bahkan kualitasnya lebih bagus sedikit dari toko obat Chu.


Semakin hari, pelanggan di toko obat senja semakin banyak. Bahkan sekarang Liu Chen harus membuat pil lebih banyak lagi. Padahal saat itu, ia sudah memberikan semua pil miliknya yang memiliki kualitas hampir sama dengan milik toko obat Chu kepada Wu Xianlun untuk dijual. Namun tetap saja, itu masih kurang. Karna semakin hari, pelanggan semakin banyak.


Berkebalikan dengan toko obat Chu, sekarang toko obat itu semakin sepi pelanggan setelah adanya berita toko obat baru di kota Awan. Perlahan, semua pelanggan mereka pergi ke toko obat yang baru itu. Hal ini, membuat penghasilan keluarga Chu menurun setiap harinya.


Di ruangan kerja kepala keluarga Chu~


Kepala keluarga Chu bernama Chu Gao. Dia nampak membaca laporan masalah toko obat. Mengetahui bahwa toko obatnya semakin sepi pembeli, Chu Gao langsung merobek kertas laporan itu.


Iapun langsung memukul meja dengan keras. Bahkan menggunakan Qi nya. Karna terlalu kesal yang menyebabkan, meja terbelah menjadi dua. "Sialan! Sebenarnya siapa pemilik toko obat itu?! Apa dia ingin menantang keluarga Chu ku?!"


Orang yang berada di sampingnya langsung menenangkan Chu Gao. "Tenanglah Tuan Gao. Kita akan mencari tau siapa pemilik toko obat itu. Kita juga akan mencari tau siapa alkemis yang membuat pil pil yang dijual oleh toko obat senja"


Chu Gao mencoba menenangkan dirinya. Iapun menghela nafas kasar dan berdiri sambil menatap wakilnya. "Baiklah, kau cari tau siapa alkemis itu. Kita akan mengajaknya ke pihak kita dengan menawarkan keuntungan yang lebih besar dari pada toko obat senja dan cari tau juga siapa pemilik toko obat senja itu. Aku akan memberikannya perhitungan"


"Baik, Tuan Gao. Saya permisi"


Wakil dari kepala keluarga Chu pun langsung pergi untuk melakukan perintah kepala keluarga. Ia akan memerintahkan seorang mata mata untuk memata matai toko obat senja.


Tanpa mereka ketahui, seorang penjaga yang ada di dekat ruang kerja kepala keluarga Chu merupakan mata mata. Ia mendengar semua ucapan kedua orang yang ada di dalam tadi. Ia merupakan seorang pemuda. Dia ditugaskan untuk berada di wilayah keluarga Chu. Ya, dia adalah Yelu.


Yelu bersembunyi kala pintu mulai dibuka dari dalam. Untungnya, wakil kepala keluarga Chu yang keluar itu tidak tau keberadaan Yelu. Ia tersenyum menyeringai, "Heh, kalian ingin memata matai toko obat senja milik kelompok kami? Itu takkan mudah. Kalian hanya akan mengantar nyawa, bila kesana sebagai mata mata"


Pada sore hari, 5 hari semenjak buka nya toko obat senja. Keluarga Chu mengirim mata mata untuk melihat situasi di dalam toko obat senja. Dia berpura pura sebagai pembeli yang akan membeli banyak pil. Ia membutuhkan puluhan menit agar bisa masuk ke dalam toko karna ramainya pengunjung.


Ia kini sudah ada di dalam. "Um.. Permisi, apa aku bisa menemui pemilik toko ini atau manajer toko? Karna saya ingin memesan banyak pil padanya" ucapnya pada seorang pelayan cantik.


Pelayan cantik itu tersenyum, hal ini membuat mata mata keluarga Chu terdiam dan nampak kagum dengan kecantikan wanita di depannya.


"Mari Tuan, saya akan mengantar anda" ucap pelayan wanita dengan sopan. Ia berniat pergi dan menjadi penunjuk arah bagi pria itu. Namun tangannya segera dicengkram. Iapun membalikkan tubuhnya dan menatap pria itu. "Ada apa, Tuan?"


"Um.. Ah.. Ti- tidak ada apa apa" ucap pria yang langsung melepaskan cengkramannya.


Pelayan wanita tersenyum, "Kalau begitu, mari ikut saya", ia kembali menjadi penunjuk jalan.


Pria itu mengikuti pelayan. "Setelah toko ini ada di genggaman keluarga Chu, kau akan menjadi milikku", ia tersenyum.


"Cih, bila saja aku sedang tidak menyamar, akan kucongkel matamu karna sudah berani menatapku seperti itu" batin pelayan wanita. Walaupun dia kesal. Namun di luar, ekspresi wajahnya masih nampak ramah.


Dia bisa berpikir sekejam itu karna beberapa hari pelatihan yang Liu Chen berikan. Bukan hanya dia, namun semua anggota empat divisi adalah orang orang yang kini hampir sekejam Liu Chen. Karna, empat divisi dilatih beberapa hari oleh pemuda itu secara bergantian.


"Heh, mata mata dari keluarga Chu akhirnya datang juga " ucap pelayan wanita lain dengan menggunakan telepati.


"Sepertinya pria itu akan menjadi bagian Jie. Karna pria itu sudah membuat Jie marah. Jadi kita tidak perlu mengganggu Jie yang ingin menyiksa pria itu " ucap pelayan wanita di sebelah dengan menggunakan telepati.


"Kau benar. Dia kemari hanya untuk mengantarkan nyawa. Padahal dia tidak perlu repot repot kemari. Karna kita juga akan mengunjungi keluarganya dua hari lagi. Aku sudah tak sabar untuk 'bertamu' ke keluarga Chu"


"Aku juga sudah tidak sabar untuk 'bertamu' ke keluarga mereka"


Kini, pelayan wanita dan pria yang merupakan mata mata dari keluarga Chu telah sampai di dalam ruang kerja Liu Chen. Seseorang nampak memunggungi mereka berdua. Orang itu juga terlihat menatap ke luar jendela.


"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda. Dia bilang ingin memesan banyak pil pada kita" ucap pelayan wanita yang memiliki nama samaran Jie.


Liu Chen membalikkan tubuhnya dan tersenyum, "Ah begitu? Baiklah, mari ikut saya Tuan. Saya akan mengantar anda pada alkemis kami dan ya, perkenalkan saya adalah pemilik toko obat ini. Sekarang mari ikut saya"


Pria itu mengangguk dan tersenyum, "Terimakasih"


"Ternyata pemilik toko obat ini masih sangat muda. Dia juga bahkan bodoh karna menunjukkan dimana alkemis itu berada sebelum menanyakan pil apa saja yang akan kubeli" batin pria itu sambil tersenyum mengejek. Namun ia tak memperlihatkannya pada Liu Chen.


Liu Chen langsung berjalan mendekat pada pria itu. Iapun langsung menatap rak buku besar yang ada di samping dan langsung menggeser ke depan rak buku itu. Seketika, rak buku membuka seperti pintu. Liu Chen kembali menatap pria itu dan tersenyum, "Mari masuk Tuan. Alkemis kami ada di dalam. Kebetulan ia juga sedang membuat beberapa pil"

__ADS_1


Pria itu tersadar dari rasa takjubnya ketika mendengar suara Liu Chen. Iapun mengangguk dan masuk ke dalam.


"Biar aku saja yang melakukannya, ketua" ucap Jie sambil tersenyum.


Liu Chen mengangguk. "Baiklah, benda apa yang kau butuhkan?"


"Belati, tali Qi dan cambuk"


Liu Chen mengeluarkan ketiga benda yang diminta oleh Jie dan memberikannya pada wanita itu. "Selesaikan dengan caramu sendiri. Aku akan membuat pelindung kedap suara di balik rak buku ini " ucap Liu Chen dengan telepati.


"Baik", Jie kemudian masuk ke dalam dan pintu rak pun segera ditutup oleh Liu Chen. Setelahnya, Liu Chen langsung membuat pelindung kedap suara.


Liu Chen langsung duduk di balik meja kerjanya dan mulai mengerjakan dokumen yang ada disana. "Cukup banyak juga pesanannya" gumam Liu Chen.


Di balik rak buku, pria itu tak menemukan siapapun. Di dalam juga hanya ada sedikit cahaya. Ia berbalik dan berniat menanyakan keberadaan alkemis yang dikatakan Liu Chen. Ia pun terhenti kala melihat Jie menghampirinya.


"Bukankah tadi pemilik toko obat ini mengatakan ada alkemis di dalam? Lalu dimana dia sekarang?" ucap pria itu. Iapun menatap Jie dari atas sampai bawah. "Apa kau alkemis yang dikatakan itu?"


Jie tersenyum sebagai balasan. Ia menyembunyikan kedua tangannya di belakang. Pria itu bahkan tidak menyadari bahwa dirinya memegang sesuatu di belakang punggung.


Pria itu melihat ke kanan dan kiri. Ia juga melihat kearah belakang Jie dan mengetahui hanya ada dirinya dan Jie di dalam. "Apa hari ini adalah hari keberuntunganku?" batinnya sambil tersenyum penuh arti. Ia menatap kearah Jie. Namun, ia terkejut karna Jie sudah tidak ada di tempatnya berada.


"Kemana wanita itu?" batin pria tersebut. Ia berniat melihat ke belakang. Namun, dirinya tiba tiba saja terhantam ke lantai dengan keras dengan posisi kepala belakang membanting lantai.


"Ahhk", sekarang dia merasa sangat pusing karna kepalanya menghantam lantai dengan keras. Awalnya, kepalanya tadi dicengkram dari belakang oleh seseorang. Lalu, kepalanya pun langsung menghantam lantai dengan keras. Ketika ia baru saja duduk, tangannya sudah terikat ke belakang. "A- apa yang terjadi?!"


Pria itu kini terduduk di lantai. Ia menatap sekitarnya. Pandangannya agak berputar karna kepalanya yang sakit. Namun, perlahan pandangannya kembali jelas. Ia dapat melihat Jie ada di hadapannya dengan sebuah belati dan cambuk di kedua tangan wanita itu.


"A- apa yang kau lakukan?"


Jie tersenyum tanpa rasa bersalah sama sekali, iapun menjawab dengan santai, "Apa yang aku lakukan? Hm.. Aku hanya ingin membersihkan kecoak yang menjijikan di depanku"


Pria itu sadar bahwa yang dimaksud Jie adalah dirinya. Iapun menggertakkan gigi dengan marah sambil menatap Jie, "Kau hanyalah pelayan. Jangan macam macam denganku, aku berasal dari keluarga Chu. Kau akan mendapat masalah bila berani melukaiku" ucapnya sombong.


"Heh, kau bilang aku hanyalah pelayan? Yah.. Kau memang benar, aku seorang pelayan. Tapi itu hanya identitas palsu. Aku sebenarnya adalah orang dari divisi pembunuh kelompok topeng bayangan. Kau seharusnya bangga bisa mati di tangganku yang merupakan salah satu anggota dari kelompok itu.


"A- apa yang ingin kau lakukan? Jangan coba macam macam denganku atau kau akan mendapat masalah dari keluarga Chu" ancam pria itu. Ia menyembunyikan rasa takutnya ketika melihat seringaian jahat wanita di depannya. Sungguh, dia tidak menyangka, wanita yang disukainya itu adalah wanita yang menyeramkan.


"Hoho, sebaiknya kuberitau kau tujuan kami kemari. Yah.. Aku memberitaukannya sekarang agar arwah mu tidak bergentayangan karna penasaran nanti.


Tujuan kami kemari sebenarnya adalah membantai keluarga Chu. Kau pikir keluarga Chu mu adalah keluarga yang berkuasa dan kuat sehingga kalian bisa berlaku seenaknya?


Heh, kalian hanyalah katak di dalam sumur yang tidak mengetahui luasnya dunia. Masih banyak orang yang bahkan lebih kuat dari kalian. Jadi jangan sombong hanya karna kalian keluarga terkuat di kota Awan ini"


"Kalian? Apa semua pegawai termasuk pemilik toko obat ini termasuk-"


Jie memotong ucapan pria di depannya, "Ya, semua pegawai disini adalah bagian anggota kelompok. Lalu, pemilik toko obat ini adalah salah satu ketua kami. Kau beruntung dapat mengetahui identitas salah satu ketua di kelompok kami dan kami akan mendatangi keluarga Chu, dua hari lagi dan lalu membantai mereka tanpa sisa"


"Kalian takkan bisa melakukannya! Kalian adalah orang lemah, tidak mungkin kalian dapat membantai keluarga Chu!" bantah pria itu.


"Hehe itu hanyalah menurutmu. Kau tidak tau saja seberapa hebatnya kami" ucap Jie yang mulai menyombongkan diri.


"Sebenarnya apa alasan kalian ingin membantai keluarga Chu?!", kesal pria itu.


"Ah~ itu karna keinginan salah satu anggota kami yang sepenuhnya dibimbing oleh ketua. Baiklah, kita sudahi saja pembicaraan ini. Aku tak ingin membuat ketua menunggu lama", ia pun kembali menyeringai.


Pria itu menelan ludahnya. "Apa yang ingin kau lakukan?!", ia langsung panik ketika melihat Jie mulai mencambukkan cambuknya ke lantai.


"Ah, bukan apa apa", Jie langsung mencambuk pria di depannya.


Chetarrr


"Arrkhh, hentikan"

__ADS_1


"Ini baru satu kali dan kau sudah kesakitan? Lemah!"


Chetarrr


"Aarrkhh, hentikan kubilang!"


Chetarrr


Chetarrr


Cambukan terus menerus mengenai tubuh pria itu. Ia bahkan langsung terkapar di lantai setelah menerima cambukan yang ke-8 nya. Tubuhnya nampak berdarah. Karna Jie tidak memakai cambuk level bawah. Namun level menengah. Ditambah dengan Jie yang mengalirkan Qi miliknya hingga membuat cambuk semakin tajam.


"Cih, hanya ini saja kau sudah kesakitan seperti itu? Lemah. Baiklah, aku akan menggunakan benda kedua yang ku bawa", Jie menaruh cambuknya dan menggenggam belati di tangan kanannya.


Pria itu nampak sangat kesakitan saat ini. Tubuhnya merah dan berdarah. "Si- sial, apa lagi yang i- ngin kau laku- kan?!"


"Hehe", Jie hanya tertawa ringan. Ia mendekat kearah pria di depannya yang terbaring.


Jlebb


"Aaarrhkk!"


Jie langsung menusukkan belati ke mata pria itu dan langsung mencongkelnya. Jeritan kesakitan terdengar sangat memilukan.


"Ini karna kau berani menatapku dengan tidak sopan" ucap Jie.


Pria itu tidak mendengarkan sama sekali ucapan Jie. Karna ia sangat kesakitan. Matanya baru saja dicongkel keluar. Ia memegangi mata kanannya yang dicongkel. Darah menetes dan keluar melalui sela sela jarinya.


Jie memegangi mata yang baru saja ia congkel itu. Iapun langsung menjatuhkannya dan menginjaknya seakan itu hanyalah sampah tak berguna. "Baiklah, sekarang sudah selesai bersenang senangnya. Akan kuakhiri ini dengan cepat"


"Aarrrkkh"


Di luar rak buku, sekarang bukan hanya ada Liu Chen saja disana. Namun anggota yang menyamar menjadi pegawai pun ada disana. Sekarang toko obat sudah tutup. Karna mereka memang tutup malam hari.


"Bagaimana kondisi toko obat sekarang? Apa semua berjalan lancar?" ucap Liu Chen.


"Ya, ketua Xun" ucap 7 orang yang merupakan anggota divisi. Anggota yang menyamar hanya berjumlah 8 orang, termasuk Jie. Sementara sisanya mengawasi keluarga Chu dari jauh. Ada juga yang mencari orang untuk menggantikan mereka menjadi pelayan toko. Karna mereka tentu tidak akan tinggal lama di kota Awan.


"Jie agak lama juga" ucap Liu Chen.


Tak lama setelah berkata demikian, rak buku diketuk dari balik rak buku. Liu Chen tersenyum. Iapun langsung menghilangkan pelindung kedap suara yang tadi dibuatnya.


Dari balik rak buku, keluarlah seorang wanita cantik. Tangannya nampak bernodakan darah. Semua pandangan tertuju pada wanita itu.


"Kau lama sekali. Baru selesai?" ucap Wu Xianlun.


Jie hanya tertawa kecil, "Yah.. Begitulah", iapun menatap Liu Chen dan memberikan ketiga benda yang dipinjamnya tadi. "Terimakasih sudah meminjamkan ini semua pada saya, ketua"


Liu Chen mengangguk dan memegang satu persatu dari ketiga benda itu. Semua darah yang ada di ketiga benda itu langsung menguap setelah Liu Chen menggunakan elemen api miliknya untuk menghilangkan darah yang ada disana.


Liu Chen pun kembali memasukkan ketiga barang itu ke dalam cincin ruang miliknya.


Seorang wanita divisi pembunuh yang menyamar langsung menggunakan kekuatannya dan membuat bola air. Ia langsung mengarahkan bola air pada tangan Jie dan akhirnya membuat tangan wanita itu bersih dari darah.


"Terimakasih", Jie tersenyum kearah temannya itu.


Wanita tersebut membalas dengan senyuman. Gelembung air yang ada di tangan Jie langsung kembali pada dirinya setelah tangan Jie sudah diperkirakan bersih. Pada gelembung air, terdapat campuran warna merah karna darah yang ada di tangan Jie tadi.


Liu Chen membuat bola api dan mengarahkannya pada gelembung air. Seketika, gelembung air langsung menguap bersama dengan darah yang ada di dalamnya.


Liu Chen menghilangkan apinya. Setelah gelembung air menguap sepenuhnya. Iapun menatap satu persatu anggota di depannya. "Sepertinya keluarga Chu akan mengirim mata mata lagi kemari. Bila itu terus terjadi dan kita menghabisi mereka semua, maka mereka akan curiga bahwa kita memiliki orang kuat. Dengan begitu, mereka pun akan waspada"


Semua anggota divisi pembunuh yang menyamar menjadi pelayan dan penjaga menyembuyikan tingkatan kultivasi mereka. Mereka hanya memperlihatkan tingkatan kultivasi di bawah dari tingkatan sebenarnya. Jadi orang orang hanya mengetahui bahwa penjaga dan pelayan di toko obat ini tidak terlalu kuat atau bisa dibilang juga memiliki kekuatan rata rata.

__ADS_1


"Jadi sebelum mereka menjadi waspada, kita akan menyerang mereka terlebih dahulu. Jadi rencana pembantaian di keluarga Chu bisa saja dipercepat. Kalian harus bersedia dalam keadaan apapun, mengerti?" ucap Liu Chen.


"Mengerti ketua!" ucap para anggota serempak.


__ADS_2