
Akhirnya Liu Chen, Han Liangyi, Xi Wang dan Lin Tian sampai di depan pintu masuk markas. Disana seperti biasa dijaga oleh dua orang.
"A-ketua Xun, siapa mereka?" ucap seorang penjaga yang sangat penasaran akan identitas dari Xi Wang dan Lin Tian.
"Berbicaralah dengan sopan. Panggil pangeran", Lin Tian langsung mengacungkan pedang ke arah penjaga yang bertanya tadi. Hingga pedang hampir mengenai leher penjaga.
Penjaga itu menelan ludahnya ketika sebuah pedang berada tepat di depan lehernya. Temannya langsung menatap kearah Lin Tian dan berkata dengan marah, "Apa yang kau lakukan? Singkirkan pedangmu"
"Kalian sudah tidak sopan pada pangeran. Sekarang kalian berteriak seperti itu? Sekarang minta maaf pada pangeran" ucap marah Lin Tian. Pedangnya semakin dekat dengan leher seorang penjaga.
Liu Chen menepuk wajah dan mengusapnya. "Huft.. Jenderal Lin, hentikan. Jangan menyakiti mereka"
"Tapi pangeran dia sudah tidak so-"
"Hentikan aku bilang!" bentak Liu Chen. Inilah yang membuatnya tidak suka bila dikawal, apalagi oleh seorang Jenderal. Mereka sensitif bila menyangkut Kaisar maupun pangeran. Bila ada yang mengejeknya, maka mereka takkan segan langsung membunuh orang itu.
Namun untungnya penjaga hanya disebut tidak sopan oleh Lin Tian dan bukan mengejek. Sehingga hanya diberi peringatan. Bila saja mengejek, maka sudah dipastikan penjaga itu akan mati oleh Lin Tian.
Mendengar bentakan Liu Chen, Lin Tian segera menarik pedangnya dan menyarungkan kembali pedang itu. Ia langsung berlutut di depan Liu Chen, "Maafkan hamba bila membuat anda marah, pangeran" ucapnya dengan menyesal.
Liu Chen menghembuskan nafas kasar, "Berdirilah"
Lin Tian segera berdiri. Namun wajahnya menunduk. Ia menyesal karna sudah membuat pangerannya marah.
Liu Chen tertawa canggung kearah penjaga, "Ha ha ha, jangan terlalu dipikirkan tentang kejadian tadi. Kalian bisa membuka pintunya"
"Baik ketua Xun", kedua penjaga segera membuka pintu.
Liu Chen dan yang lainnya pun masuk ke dalam. Penjaga segera menutup pintu kembali. Mereka pun kini baru sadar bila tadi ada Han Liangyi. Padahal seingat mereka, Han Liangyi tidak keluar sama sekali.
"Kenapa dia bersama ketua Xun?"
Penjaga yang satunya langsung menggelengkan kepala, sebagai jawaban dari pertanyaan temannya.
Kini Liu Chen dan yang lain sudah ada di dalam.
Lin Tian dan Xi Wang seperti takjub melihat keadaan sekitar. Padahal mereka berada di bawah tanah, namun tempat ini sangat luas. Banyak juga bangunan yang berdiri kokoh.
"Melihat reaksi Jenderal Lin tadi, membuatku ragu untuk membawa mereka saat aku melatih anggota anggota lainnya. Lalu apa yang harus kulakukan? Mereka tidak akan membiarkanku sendiri " batin Liu Chen. Ia menghembuskan nafas pasrah.
Akhirnya Liu Chen berhenti berjalan. Ia membalikkan tubuhnya. Melihat bahwa Liu Chen berhenti berjalan, ketiga orang yang mengikuti Liu Chen ikut berkenti.
"Jenderal Lin dan Jenderal Xi, saat nanti kita tiba di ruang latihan, kalian jangan melakukan apapun. Kalian hanya boleh duduk diam. Bila saat disana ada yang menyerangku, kalian jangan bertindak. Karna disana adalah tempat latihan. Semua orang memang akan menyerangku disana. Jika aku terluka pun, kalian jangan bertindak apapun sebelum perintah dariku sendiri. Kalian mengerti?" tegas Liu Chen.
Kedua Jenderal ragu sejenak. Bagaimana bila pangeran mereka terluka parah karna latihan yang dikatakannya? Bila itu terjadi, maka tamatlah riwayat mereka.
"Ini perintah, jangan membantah. Kaisar tidak akan menyalahkan kalian bila aku terluka. Aku yang akan mengatakannya sendiri bahwa itu bukanlah salah kalian" tegas Liu Chen kala melihat keraguan dari tatapan kedua Jenderal di depannya.
"Baik pangeran!" ucap keduanya dengan tegas.
Liu Chen tersenyum, ia membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali menuju ruang latihan. Kini masalah tentang dua Jenderal itu sudah diselesaikan. Sekarang yang dipikirkannya adalah tentang Han Liangyi.
"Mungkin aku tanya saja nanti, tapi aku tidak tau dia akan menjawabnya atau tidak. Ah iya! Aku lupa, aku lupa menyampaikan pesan guru. Hah.. ", Liu Chen menghembuskan nafas kasar.
"Nanti saja kukatakan salam guru, mungkin tahun depan" gumam Liu Chen.
Akhirnya Liu Chen dan yang lain telah tiba di ruang latihan. Nampak bahwa para anggota masih menunggu Liu Chen. Waktu istirahat saat ini sudah habis. Jadi semuanya sudah berdiri dengan tegak dan menyusun barisan yang rapi.
"Ketua Xun!" ucap mereka serempak.
Liu Chen tersenyum, iapun langsung menatap dua iblis yang berjalan di belakangnya. "Sekarang kalian diam saja di pojok ruangan. Jangan mengganggu pelatihanku pada mereka. Kalian mengerti?"
"Mengerti pangeran!", keduanya segera menyingkir.
Tatapan Liu Chen kini terarah pada Han Liangyi, "Apa yang kau lakukan disini?"
"He he, kalau begitu aku pergi saja", Han Liangyi tersenyum canggung.
"Tentu", Liu Chen kembali menatap kearah para anggota yang terlihat sudah siap.
__ADS_1
Han Liangyi langsung pergi keluar dari ruang latihan.
"Baiklah, kalian bisa menyerangku bersamaan. Tapi jangan asal menyerang, rencanakan sebuah rencana terlebih dahulu, cari informasi tentang kekuatan apa saja yang kupunya, jangan meremehkan lawan hanya karna jumlah maupun penampilan dan yang paling penting adalah kerja sama kalian" ucap Liu Chen dengan tegas. Ekspresinya langsung berubah serius.
"Baik!"
Kini, mereka sudah memilih orang yang akan menjadi ketua tim. Jadi mereka hanya perlu mendengarkan instruksi yang dikatakan oleh ketua tim dan menjalankannya. Ketua tim itu adalah Lao Tzu.
Bukan hanya Lao Tzu saja orang yang berperan penting, namun anggota lain juga berperan penting dalam rencananya. Kerja sama mereka akan sangat dibutuhkan, jadi mereka memiliki peran penting. Juga pengamatan setiap anggota untuk melihat setiap gerakan yang dilakukan Liu Chen. Hal ini menambah informasi tentang lawan dan membuat Lao Tzu semakin cepat membuat rencana, bila sudah banyak informasi yang terkumpulkan.
Segera, 2 orang menyerang Liu Chen dari depan. Mereka mengayunkan pedangnya masih masing kearah Liu Chen. Disusul dengan beberapa anggota lainnya yang menyerang Liu Chen dari belakang.
Waktu terus berlalu hingga akhirnya pelatihan terakhir Liu Chen tiba hari ini. Semua anggota terlihat semangat. Mereka memiliki kepercaya dirian yang tinggi untuk menang. Hal itu bukan tanpa alasan, namun karna mereka sudah menyiapkan rencana yang matang untuk dapat melukai Liu Chen. Mereka juga sudah mengumpulkan banyak informasi cara bertarung Liu Chen dan jurus jurus yang dimilikinya.
Yang membuat mereka kesulitan adalah jurus langkah bayangan milik Liu Chen. Jurus itu 'lah yang sangat merepotkan bagi mereka, selain clone es. Dari pengamatan mereka, mereka mengetahui kapan waktu waktu Liu Chen dapat menggunakan jurus langkah bayangannya. Karna mereka sudah lama bertarung dengan Liu Chen.
Kini, Liu Chen berhadapan dengan para anggota kelompok. Kini tidak hanya setengah anggota yang melawan Liu Chen, namun semua.
"Kalian bisa memulainya kapanpun" ucap Liu Chen. Ia memegang pedang tingkat tinggi di tangannya.
"Mulai rencana" ucap Lao Tzu.
"Baik!"
Segera, para pemanah berbaris di belakang. Sebagian pengguna tombak menjaga para pemanah. Semua pengguna tombak yang tersisa menyebar dan mengelilingi Liu Chen.
Pengguna pedang berdiri di depan maupun sisi kanan dan kiri Liu Chen. Sekarang Liu Chen seperti dikepung banyak orang dengan berbagai senjata berbeda.
"Tembakkan anak panah sekarang!"
Seketika, para pemanah secara bergantian menembakkan panah secara terus menerus kearah Liu Chen. Namun Liu Chen dapat menghindari semuanya dengan baik.
Setelah beberapa menit, Lao Tzu kembali memberi komando. "Berhenti memanah. Rencana selanjutnya"
Seketika semua pemanah menghentikan aksinya. Kini sebagian penyerang jarak dekat di bagian sisi kiri Liu Chen mulai menyerang pemuda itu.
Liu Chen terus melompat mundur hingga membuat ayunan pedang lawan hanya mengenai udara kosong.
Tiba tiba, di belakang Liu Chen muncul tanah tajam. Liu Chen sedikit melirik ke belakangnya. Iapun langsung melompat ke belakang, seketika, ia sudah berada di pucuk tanah. Liu Chen langsung menjadikan tanah itu pijakan untuknya melompat tinggi ke depan.
Kini Liu Chen berada di belakang penyerang yang tadi menyerangnya. Penyerang penyerang itu membalikkan tubuhnya dan menatap kearah Liu Chen.
Beberapa dari mereka langsung melakukan gerakan tangan. "Elemen air:gelembung air"
Seketika gelembung gelembung air tercipta mengelilingi Liu Chen. Kini panah mulai dilepaskan lagi menuju kearah Liu Chen. Mereka tak perlu dikomando lagi, karna mereka sudah mengetahui rencana dan bagian bagian apa saja yang harus mereka lakukan.
Saat melihat anak panah dibalik banyaknya gelembung, Liu Chen langsung melompat tinggi di udara. Namun saat di udara, ada 5 buah panah yang mengarah padanya.
Karna Liu Chen berada di udara, maka ia akan sulit menghindar. Jadi Liu Chen langsung memotong panah itu menggunakan pedangnya. Panah panah itu pun terpotong potong.
Akhirnya Liu Chen kembali mendarat di tanah. Gelembung masih saja ada. Ia mengayunkan pedangnya dengan tekanan Qi yang cukup besar.
Boomm
Gelembung gelembung langsung meledak kala pedang Liu Chen mengenainya. Tembakan panah masih terjadi. Melihat keadaan saat ini, Liu Chen memutuskan berpindah tempat melalui bayangan seseorang. Karna akan sulit bila ia harus menangani gelembung yang meledak bersamaan dengan tembakan anak panah yang terus menghujaninya.
Liu Chen muncul di bayangan Lao Tzu. Iapun langsung menyerang pemuda itu. Merasakan adanya bahaya, Lao Tzu langsung melompat tinggi keatas dan menghindari ayunan pedang Liu Chen.
Lao Tzu pun kembali menapak di tanah dengan mulus. Ia menatap kearah Liu Chen yang tadi menyerangnya. Dari arah belakang Liu Chen, beberapa anggota mulai menyerang kearahnya.
Liu Chen melirik ke belakang. Iapun membalikkan tubuhnya sambil mengayunkan pedangnya. Beberapa orang langsung melompat mundur. Sementara beberapa orang lainnya terkena serangan hingga membuat mereka sedikit terluka. Karena mereka tidak sempat menghindar.
Setelah menyerang seperti itu, dari dalam tanah langsung muncul banyak rantai. Namun kali ini, ujung dari rantai itu tajam dan terlihat seperti ekor kalajengking. Rantai rantai itu menyerang kearah Liu Chen.
Pemuda itu terkejut sejenak. Karna baru pertama kali melihat serangan seperti ini. Namun ia langsung merespon kala rantai itu menyerang. Liu Chen terus melompat mundur ke belakang. Ia menghindar ke kanan dan ke kiri.
Setiap rantai mengenai permukaan tanah, maka rantai itu akan membuat sebuah retakan pada tanah.
"Yelu semakin hebat menggunakan elemen logam miliknya " batin Liu Chen sambil tersenyum.
__ADS_1
Kini rantai rantai itu semakin banyak dan semakin cepat menyerang Liu Chen. Saat Liu Chen mencoba menangkisnya, rantai itu sangat kuat hingga tak bisa ditangkis oleh nya.
Liu Chen hanya bisa terus menghindar. Tak lama, serangan anak panah menghujani dirinya dan membuat Liu Chen sedikit kesulitan. Ia langsung menggunakan dua jurusnya sekaligus.
Salah satu rantai langsung mengenai tubuh Liu Chen. Namun tak lama kemudian, Liu Chen berubah menjadi bongkahan bongkahan es.
"Waspada semua!" ucap Lao Tzu.
Semua orang mengangguk. Para pemanah menghentikan aksinya saat ini dan menatap sekitar dengan waspada. Liu Chen langsung muncul pada bayangan Lao Tzu. Ia kembali menyerang pemuda itu. Alasannya karna Lao Tzu adalah ketua tim, juga pemuda itu merupakan orang yang membuat rencana. Bila Lao Tzu terluka, maka tidak akan ada yang mengomando tim.
Namun yang tidak diketahui Liu Chen adalah mereka sudah mengetahui bagiannya masing masing. Mereka sudah merencanakan ini beberapa hari yang lalu. Jadi, bila mereka tidak dikomando pun, mereka tetap bisa bergerak sesuai rencana. Namun tentunya berbeda lagi bila saja rencana mereka gagal. Bila tidak dikomando lagi, maka sudah dipastikan mereka akan kalah.
Rantai rantai kembali menyerang Liu Chen yang tengah melawan Lao Tzu. Mengetahui bahwa dirinya kembali diserang oleh rantai rantai itu, Liu Chen melompat mundur dan menghindari setiap rantai yang menyerang.
"Rantai ini semakin cepat " batin Liu Chen.
Rantai kembali masuk ke dalam tanah. Hal ini, membuat Liu Chen agak heran karna tiba tiba rantai itu tidak menyerangnya lagi. Lalu, tak lama Lao Tzu menyerang Liu Chen.
Mendapat serangan dadakan seperti itu tidak membuat Liu Chen terluka. Karna dia langsung menghindar dengan melompat ke atas.
Lao Tzu mengeluarkan sesuatu dari pakaiannya. Iapun langsung melemparkan itu pada Liu Chen. Liu Chen langsung menangkap sebuah belati dengan dua jarinya dan melemparkannya ke sembarangan arah.
Setelah Liu Chen mendarat di tanah, dirinya dan Lao Tzu dikurung dalam kubah tanah. Lao Tzu langsung berlari kearah Liu Chen dan menyerangnya.
Liu Chen menangkis semua serangan Lao Tzu. Iapun mengerutkan kening, "Apa yang direncanakan olehnya? Mengapa Hong (Xing Fu) menggunakan kubah tanah ini untuk mengurungku dan Jian (Lao Tzu)? "
Liu Chen tau, ini merupakan jurus Xing Fu. Karna hanya pemuda itu saja yang bisa menggunakan jurus kubah tanah dan di dalam kelompok, memang tidak banyak orang berelemen tanah.
Liu Chen menendang Lao Tzu hingga membuat pemuda itu membentur dinding. Dinding tanah seketika retak. Lao Tzu kembali berdiri. Namun dia tidak langsung berlari kearah Liu Chen.
Kubah tanah langsung hancur karna Xing Fu menyudahi jurusnya. Bersamaan dengan hancurnya kubah, panah panah dengan dialiri percikan petir langsung melesat kearah Liu Chen. Panah kali ini lebih cepat dari pada panah biasa. Panah juga terlihat sudah dekat dengan Liu Chen, seperti sudah di lepaskan sejak akan hancurnya kubah.
Bagaimana mereka bisa mengetahui keberadaan Liu Chen yang berada dalam kubah tanah? Sehingga sebelum kubah hancur, mereka sudah melepaskan panah? Itu karna Lao Tzu yang terbanting dan mengenai kubah yang membuat kubah retak. Mereka tau, tidak mungkin Liu Chen yang terlempar karna serangan Lao Tzu dan membuat kubah itu retak karna hantamannya.
Pasti itu adalah Lao Tzu yang terbanting. Bila Lao Tzu berada di tempat retaknya kubah, maka Liu Chen berada di arah yang berlawanan dari pemuda itu. Sehingga para pemanah sudah menembakkan anak panah mereka sebelum kubah retak dan mereka juga menembak pada sasaran yang tepat.
Liu Chen yang melihat sangat banyaknya panah menuju dirinya, apalagi panah panah itu sudah sangat dekat dengannya, ia langsung menggunakan elemen es nya. "Ice control:Freeze"
Seketika, panah panah dengan kecepatan tinggi itu membeku dan berjatuhan ke permukaan tanah.
Sebagian pengguna pedang dan tombak langsung menyerang Liu Chen secara bersamaan. Mereka melompat tinggi di udara dan mengayunkan senjata masing masing. Ada juga yang menggunakan elemen petir agar dirinya lebih tinggi lagi saat melompat.
Bukan hanya serangan udara saja, namun ada serangan dari arah depan. Yaitu Lao Tzu dan beberapa orang lainnya. Mereka mulai berlari kearah Liu Chen beberapa detik sebelum serangan di udara mulai dilakukan.
Melihat bahwa dirinya sedang diserang berbagai arah, Liu Chen tidak menghindar. Dia akan menerima semua serangan itu, tepatnya berbalik menyerang mereka. Liu Chen langsung menggunakan pedang miliknya dan menyerang orang orang yang menyerangnya dari permukaan tanah terlebih dahulu. Karna jarak mereka yang lebih dekat dengannya saat ini.
Boom boom boom
Banyak orang terlempar dengan tangan maupun kaki yang terpotong di permukaan tanah. Bahkan Lao Tzu pun terlempar dengan salah satu tangannya yang terputus.
Kini yang harus Liu Chen selesaikan adalah orang orang yang menyerangnya di udara. Orang yang menyerang di udara lebih banyak dari pada orang orang yang menyerang dari permukaan. Mereka sudah mengayunkan pedang kearah Liu Chen.
Melihat hal itu, Liu Chen melompat tinggi dan membuat dirinya sejajar dengan orang orang yang menyerangnya dari udara. Liu Chen memutar tubuh di udara dan menendang beberapa orang. Ia juga menggunakan pedangnya untuk menyerang mereka semua. Banyak orang yang langsung terjatuh menghantam tanah dengan keras. Beberapa ada juga yang tangannya patah setelah menghantam tanah, adapun yang disebabkan oleh pedang Liu Chen.
Dengan cepat, Liu Chen dapat mengatasi penyerang udara. Iapun langsung terjun ke permukaan tanah dan mendarat di tanah.
Bersamaan dengan akan mendaratnya Liu Chen, tanah di bawah Liu Chen retak dan keluar seseorang yang langsung mengayunkan senjata. Senjata itu adalah belati. Pergerakan orang itu saat keluar dan mengayunkan belati, cukup cepat. Apalagi dengan serangan yang sangat tidak terduga itu.
Srraaatt
Liu Chen terkejut karena tidak menduga sama sekali dengan adanya serangan dari bawah tanah. Liu Chen akhirnya menapak di tanah. Begitupun orang yang menyerangnya dari bawah tanah.
Semua anggota yang melihat kearah Liu Chen langsung lupa bernafas. Ada rasa ketidak percayaan, senang dan berbagai macam perasaan lainnya mereka rasakan saat ini.
Terdapat goresan pada pipi Liu Chen hingga membuat pipinya mengeluarkan darah. Liu Chen sendiri terkejut saat melihat orang yang ada di hadapannya.
Orang itu memiliki tatapan yang sama dengan anggota lainnya. Ada rasa ketidak percayaan dengan apa yang baru saja dia lakukan dan saat melihat luka di bagian pipi Liu Chen. Ia bahkan lupa bernafas karna saking terkejutnya.
Liu Chen menyentuh luka di pipinya. Ia pun melihat tangannya yang berdarah setelah menyentuh pipinya. Ia langsung tersenyum sambil menatap orang dihadapannya, "Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Apalagi orang yang melukaiku ternyata adalah kau, Yong (Wu Anming)"
__ADS_1