
Liu Chen saat ini telah sampai di depan gerbang istana. Disana, nampak ada banyak prajurit yang berjaga.
"Aku ingin bertemu dengan Tuan putri Jia Li" ucap Liu Chen.
"Siapa kau? Ada urusan apa denga Tuan putri?" ucap tegas salah satu penjaga sambil mengarahkan pedangnya tepat di depan leher Liu Chen.
"Aku memilki urusan dengan Tuan putri. Kalian tidak perlu mengetahui apa urusanku dengannya. Sekarang katakan pada Tuan putri bahwa Chen datang untuk menemuinya" ucap Liu Chen.
Dua penjaga yang paling dekat dengan Liu Chen saling berpandangan. Mereka pun menatap kembali Liu Chen. "Kami tak bisa membiarkanmu langsung masuk. Aku akan meminta izin pada Tuan putri terlebih dahulu"
"Baiklah, tapi jangan lama"
Seorang penjaga langsung pergi ke dalam untuk memberitaukan tentang Liu Chen dan Han Liangyi.
Sementara Liu Chen dan Han Liangyi di tahan di depan gerbang. Bahkan banyak prajurit yang mengarahkan senjatanya tepat pada kedua leher kedua pemuda itu.
"Kenapa kalian mengangkat senjata kalian? Kami sama sekali tak ada niatan jahat" ucap Han Liangyi.
"Sebaiknya kalian berdua diam saja dan tunggu kabar dari teman kami yang menemui Tuan putri" ucap salah satu penjaga.
Han Liangyi berdecak kesal.
Liu Chen bergumam dalam hati, "Penjagaan di istana sepertinya diperketat setelah kematian permaisuri. Apa akan baik baik saja, bila aku menanyakan tentang kematian permaisuri pada Jia Li sekarang? Arkh, terserah aku tidak peduli. Yang kuinginkan sekarang hanyalah bertemu dengan Jia Li dan menanyakan beberapa hal padanya"
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya penjaga yang tadi masuk ke dalam istana telah keluar. "Sebaiknya kalian berdua pergi sekarang. Tuan putri sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun"
"Kenapa seperti itu? Aku sudah jauh jauh kemari untuk menemuinya" ucap Liu Chen.
"Jika kalian masih tidak ingin pergi, maka kami akan mengusir kalian dengan kasar", setelah prajurit itu berucap, semua senjata langsung terarah pada Liu Chen dan Han Liangyi.
"Tck, baiklah aku akan pergi. Tapi katakan pada Jia Li untuk menemuiku nanti malam di restoran mawar putih", Liu Chen langsung pergi begitu saja meninggalkan Hn Liangyi.
"Hei, jangan tinggalkan aku!", Han Liangyi menyusul Liu Chen.
"Heh, dia seenaknya saja berbicara. Jangan pedulikan ucapannya. Kita tak perlu mengatakan apapun pada Tuan putri" ucap seorang prajurit setelah Liu Chen dan Han Liangyi pergi jauh.
Prajurit lain mengangguk mendengar ucapan prajurit itu.
Sementara itu, Liu Chen dan Han Liangyi pergi ke sebuah penginapan dan memesan satu kamar. Tepatnya, Liu Chen lah yang memesan kamar untuknya sendiri.
Ketika Liu Chen sudah tepat berada di depan pintu kanar, ia membalikkan tubuhnya dan menatap Han Liangyi yang terus saja mengikutinya. "Kenapa kau terus mengikutiku?"
"Agar kau tak pergi jauh jauh lagi dariku. Aku akan mengawasimu" ucap Han Liangyi dengan mata menyipit.
Liu Chen mengangkat sebelah alisnya, "Kau aneh sekali. Memangnya ada apa bila aku jauh darimu? Apa kau kesepian, hm?"
Han Liangyi mendengus, "Huh, banyak orang yang ingin bertemu dengan ku, kau tau! Jadi tidak mungkin aku kesepian"
"Kalau begitu kau pergi saja dengan orang orang yang ingin bertemu denganmu itu", Liu Chen membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Aku akan ikut masuk"
"Tidak! Kau pesan penginapan saja sendiri. Aku sedang tidak menerima orang lain", Liu Chen langsung menutup pintu dan membiarkan Han Lingyi berdiri di depan kamar.
Han Liangyi langsung menggedor gedor pintu, "Hei, aku ingin masuk. Jangan menutup pintunya!" teriak Han Liangyi.
Namun, tidak ada balasan sama sekali dari dalam kamar. Beberapa orang melirik Han Liangyi yang berisik. Mereka menjadi agak terganggu dengan kebisingan pemuda itu.
"Hei, kau. Diamlah, jangan berisik. Kau mengganggu" ucap seorang pria.
Han Liangyi berhenti menggedor pintu. Dirinya pun melihat kearah seorang pria, "Aku tidak mengganggumu sama sekali. Jika kau merasa aku mengganggumu, lebih baik bila kau pergi saja dari sini" ucap Han Liangyi dengan ketus.
"Kau berani sekali denganku" ucap pria.
"Ya, memangnya kenapa? Aku tak takut sama sekali denganmu"
Pria dan Han Liangyi saling menatap tajam.
Segera pelayan yang kebetulan ada disana melerai kedua pria ini. Ia cukup kesulitan melerai keduanya agar tidak bertengkar.
"Pastikan agar dirimu tidak lagi bertemu denganku. Karna bila tidak, maka kau akan menyesal" ucap pria. Ia pun berlalu begitu saja meninggalkan pelayan dan Han Liangyi.
"Cih, aku ingin keluar saja", Han Liangyi pergi keluar penginapan.
__ADS_1
Pelayan disana menghela nafas melihat kedua orang itu. Memang terkadang selalu saja ada orang yang ribut di penginapan.
Saat sudah berada di luar, Han Liangyi melihat bahwa jendela dimana kamar Liu Chen berada terbuka. "Hehe, aku bisa masuk melalui jendela itu"
Ia langsung melompat tinggi kearah jendela dan masuk ke dalam. Namun, disana tidak ada siapapun. "Eh? Kenapa dia tidak ada disini?" gumam Han Liangyi.
Sementara itu, di tempat lain. Di kamar Yang Jia Li. Sebuah bayangan tiba tiba saja berubah menjadi manusia tepat didepan Yang Jia Li.
Yang Jia Li terkejut. Ia memasang sikap waspada dengan belati di tangannya, khawatir bila bayangan dihadapannya adalah musuh.
"Wah, wah tenang Tuan putri"
Yang Jia Li terkejut dengan orang yang ada di hadapannya saat ini. "Kenapa kau bisa ada disini?", ia mulai menyimpan kembali belati miliknya.
"Karna kau tidak mau menemuiku. Jadi terpaksa aku melakukan cara ini agar bisa bertemu denganmu", dia adalah Liu Chen. Setelah tadi ia masuk ke dalam kamar, ia langsung menggunakan jurus langkah bayangan tahap ke 2 yang dapat membuatnya berubah menjadi bayangan.
"Kenapa kau ingin bertemu denganku?" ucap Yang Jia Li.
Liu Chen menatap wanita itu dengan serius. Iapun mengeluarkan secarcik kertas dari dalam cincin ruangnya. Ia langsung memperlihatkan kertas itu pada Yang Jia Li, "Kenapa kau membiarkan poster ini tersebar begitu saja? Kau ingin membuat Xian dalam masalah?"
"Aku tidak peduli dia mendapatkan masalah atau tidak. Yang jelas aku hanya ingin dia ada di hadapanku sekarang dan lalu aku akan menyiksanya terlebih dahulu sebelum membunuhnya" ucap Yang Jia Li dengan dingin menatap mata Liu Chen.
"Apa kau yakin orang yang membunuh permaisuri adalah Xian? Kurasa tidak mungkin", Liu Chen menggelengkan kepalanya.
"Kau terlalu mempercayai pria itu. Jelas jelas, aku mendengarnya sendiri dari dia bahwa dialah yang membunuh ibuku", Yang Jia Li menatap tajam Liu Chen.
"Apa alasan dia melakukan ini?"
"Dia mengatakan balas dendam. Aku tidak mengerti sama sekali dengan ucapannya. Namun yang pasti, aku ingin segera menangkapnya dan menyiksanya sebelum aku membunuhnya. Sebaiknya kau membantuku agar cepat menangkapnya"
"Baiklah"
Yang Jia Li tersenyum tipis, "Bila kau sudah menemukannya, maka bawa dia padaku"
Liu Chen tak mengatakan apapun. Dia sudah berubah menjadi bayangan dan pergi. Yang Jia Li terkejut melihat jurus yang digunakan Liu Chen. Karna ini adalah pertama kalinya bagi Yang Jia Li melihat jurus itu.
Setelah bertemu Yang Jia Li, Liu Chen muncul di sebuah gang kecil dan sudah berubah kembali menjadi manusia. "Sepertinya tidak ada prajurit yang menyadari diriku tadi saat di istana" gumam nya.
Ia pun berencana keluar dari gang kecil itu. Namun pendengarannya langsung menangkap sebuah suara.
Liu Chen langsung pergi ke asal suara berada. Dia pun dapat melihat seorang anak kecil yang dipukuli oleh dua orang pria dewasa. "Hei, berhenti"
Kedua pria dewasa itu menghentikan kegiatannya dan menoleh kearah Liu Chen. "Heh, bocah sebaiknya kau pergi dari sini. Bila tidak maka kau akan menyesal" ucapnya dengan sombong.
Liu Chen menaikkan sebelah alisnya. Iapun tersenyum tipis, "Sepertinya aku mendapatkan mainan. Aku juga sedang memiliki waktu senggang sekarang. Ah, tepat sekali" gumam nya.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa kau sudah tidak sabar dengan kematianmu?" ucap seorang pria.
"Heh, bukan kematianku. Tapi kematian kalian", Liu Chen menghilang dari sana.
Bersamaan dengan itu, tak lama kedua pria dewasa juga ikut menghilang dan hanya menyisakan anak kecil yang kini terbaring tak sadarkan diri di tempat itu.
Liu Chen dan dua pria dewasa muncul di sebuah gang tempat Liu Chen pertama kali muncul setelah keluar dari istana.
Kedua pria itu terkejut melihat sekitarnya berbeda dari tempat tadi. Mereka memang masih berada di gang yang cukup sempit. Namun ini adalah tempat yang berbeda. Awalnya kerah belakang mereka di tarik oleh seseorang dan kini mereka muncul disini.
Keduanya menatap kearah Liu Chen, "Siapa kau sebenarnya?!"
"Aku?", Liu Chen menunjuk dirinya sendiri.
Kedua pria dewasa mengangguk mendengar ucapan Liu Chen.
Serigaian muncul di wajah Liu Chen, "Aku adalah malaikat kematian bagi kalian. Yang akan kalian lihat terakhir kali adalah diriku"
Dia pun kembali menghilang. Bersamaan dengan itu, kedua pria dewasa sudah diikat tali yang dialiri Qi. Padahal, kedua pria ini hanyalah manusia biasa. Namun Liu Chen tetap mengikatnya menggunakan tali Qi.
Kedua orang itu terikat secara terpisah. Tangan mereka terikat ke belakang dengan posisi mereka duduk. Keduanya kembali terkejut dengan hal ini.
"A-apa yang ingin kau lakukan?" tanya salah satu pria dengan ketakutan.
Liu Chen kini ada di hadapan mereka dengan sebuah belati di tangannya. Iapun mengelus dagunya, "Hm.. Apa yang akan kulakukan, ya?"
Kedua pria di hadapannya sudah sangat ketakutan ketika melihat sebuah belati di tangan Liu Chen.
__ADS_1
Liu Chen muncul tiba tiba di belakang mereka berdua dan sedikit menggores leher salah satu pria dengan belati. "Arrk-"
Liu Chen segera membekap mulutnya, "Kau jangan teriak, nanti akan ada banyak orang yang tau kita ada disini. Kau mengerti?"
Pria itu segera mengangguk dan menjerit di dalam hati. Entah apa yang akan pemuda ini lakukan pada mereka. Namun yang pasti, ini bukanlah hal yang baik.
Liu Chen tiba tiba muncul tepat dihadapan pria itu. Ia menggoreskan belati miliknya ke pipi dari pria yang ia lukai tadi. Darah langsung menetes. Pria itu ingin berteriak namun mulutnya selalu saja langsung dibekap oleh Liu Chen. "Aku sudah mengatakan padamu, untuk tidak berteriak tadi", Liu Chen menatap pria itu dengan dingin.
Mendapat tatapan itu, si pria langsung bungkam. Kedua matanya mengalirkan air mata karna menahan sakit. Sementara temannya ketakutan dan tak bisa melakukan apapun.
Perlahan, kulit pada pipi kanan pria itu terkelupas dan memperlihatkan daging dari pipi.
Liu Chen menyerigai, "Kalian sungguh beruntung karna bisa mendapatkan siksaan dariku. Ah, tepatnya aku yang beruntung karna mendapatkan mainan baru"
Mendengar kata 'mainan baru' membuat kedua mata pria dewasa itu langsung melotot. Bukankah artinya sudah ada orang selain mereka yang disiksa oleh pemuda dihadapan mereka ini?
"Kalian tahu? Aku ini sangat tidak menyukai orang yang menatapku dengan sombong, serakah, angkuh. Yah, tadi kalian menatapku dengan sombong dan kalian merasa hebat dariku. Padahal kalian itu lemah",
Liu Chen menguliti kulit pria di hadapannya hidup hidup hingga membuat banyak darah pada tubuh pria tersebut. Hal itu dapat menyebabkan kematian bagi si pria. Namun Liu Chen segera memaksa agar pria di hadapannya menelan pil miliknya yang dapat menambah darah.
Karna terus dipaksa, pria itu hanya bisa pasrah. Dia menelannya. Temannya yang duduk di samping sudah pingsan ketika melihat dirinya dikuliti hidup hidup. Sungguh, itu adalah hal terkejam yang pernah dilihatnya.
Pria yang disiksa itu hanya dapat menangis dalam hati. Wajahnya hanya memperlihatkan daging dagingnya dan dirinya terlihat menyeramkan saat ini. Apalagi dengan darah yang masih terus mengalir di wajahnya.
Namun hal itu tidak membuat Liu Chen takut sedikitpun. Dirinya terlihat tambah semangat melihat kesengsaraan pria di hadapannya. Dia juga tidak tau, sejak kapan dia suka melakukan hal sekejam ini pada orang lain. Bahkan orang dari sekte aliran hitam pun tak akan melakukan hal semacam ini. Mungkin hanya dirinyalah yang dapat melakukan hal seperti ini.
Beberapa menit kemudian, pria yang disiksa oleh Liu Chen kini telah menjadi mayat. Kondisinya sangat mengenaskan. Kulitnya terkelupas dan memperlihatkan daging dagingnya. Lalu, organ dalamnya berceceran dimana mana.
Liu Chen berdiri di depan mayat itu. Seringaiannya tak pernah pudar dari wajahnya yang tampan. Ada beberapa bercak darah di wajah dan pakaiannya. Di tangannya, nampak dua benda berbentuk bulat. Disana juga nampak terdapat darah.
Liu Chen langsung meremas dua bola mata di tangannya hingga hancur. Ya, sebelumnya dia mencongkel mata mayat pria dewasa sebelum pria itu akhirnya tewas karna kehilangan banyak darah. Sungguh, dia sangat tidak manusiawi saat ini.
Liu Chen mengalihkan pandangannya pada pria yang masih hidup, namun kini sedang pingsan. "Ah, kenapa dia pingsan? Akan membosankan bila menyiksa orang pingsan. Lebih baik aku membangunkannya" gumam nya.
Liu Chen segera memukul wajah pria itu hingga membuat wajah pria tersebut lebam. Namun, pria tersebut tidak juga membuka matanya.
"Tck, dia sulit sekali untuk dibangunkan. Bagaimana aku membangunkannya? Apa kutusuk kepalanya?", Liu Chen menggelengkan kepala. "Bila aku melakukan itu, maka dia akan langsung mati"
Liu Chen memegang dagunya dan berfikir. "Ah mungkin itu bisa dilakukan", iapun langsung menusuk mata pria dihadapannya.
"Aarkk- Hmph!"
Liu Chen segera membekap mulut pria itu. "Jangan berisik. Nanti kita ketahuan oleh warga disini"
Pria itu tak habis pikir dengan ucapan Liu Chen ini. Itulah yang ingin dia lakukan. Ia ingin ada warga yang mengetahui keadaannya dan temannya. Namun seakan pemuda di depannya sedang bermain petak umpat. Kini dia hanya bisa melihat dengan satu matanya saja. Pandangannya pun terarah ke belakang Liu Chen.
Pria itu terdiam membeku melihat temannya mati dengan sangat mengenaskan. Apa ini semua ulah dari pemuda di depannya?
Kini ia sangat ketakutan dengan apa yang akan dilakukan pemuda dihadapannya. Jangankan melihat apa yang akan pemuda itu lakukan padanya, membayangkannya saja dia tak sanggup.
Mata Liu Chen berubah merah semenjak dia mulai menyiksa pria tadi. Seringaian juga masih nampak di wajahnya. "Kau fikir, apa yang akan kulakukan padamu?"
Pria itu menggelengkan kepala dengan cepat.
"Sekarang duduklah dengan tegak" ucap Liu Chen.
Pria dihadapannya langsung menuruti Liu Chen. Walaupun dengan kesulitan saat ia akan duduk.
"Karna kau tidak mengetahui apa yang akan kulakukan, maka lebih baik kau merasakannya sendiri"
Pria itu menggelengkan kepala dengan cepat. Mata yang ditusuk Liu Chen tadi nampak mengeluarkan darah.
Liu Chen tidak menghiraukan ketakutan pria itu sama sekali. Ia langsung melakukan hal yang sama pada pria itu.
Akhirnya setelah beberapa menit, Liu Chen menghentikan aktifitasnya. Dia berdiri di depan dua mayat pria yang disiksanya. Keduanya terlihat sangat mengenaskan.
Liu Chen melihat kearah belati miliknya dan sedikit menjilat darah yang ada di belati miliknya. "Darahmu lumayan enak dari pada temanmu"
Liu Chen segera mengayunkan belatinya dari atas ke bawah secara menyamping dan membuat darah pada belati langsung jatuh ke tanah.
"Aku lupa! Bagaimana keadaan anak kecil itu?" gumam Liu Chen. Iapun langsung memasukkan belatinya dan pergi ke tempat dia menemukan anak kecil tadi.
Hanya dalam sekejap, dia sudah ada dihadapan anak kecil yang ditolongnya. Anak kecil itu masih pingsan.
__ADS_1
Mata Liu Chen yang berwarna merah kembali seperti semula yang berwarna hitam. Iapun menggelengkan kepala, "Dia kasihan sekali. Aku akan membawanya ke penginapan", iapun langsung membawa anak kecil itu di punggungnya dan menghilang dari gang dengan cepat.