
Orang berjubah yang menolong Zhang Jiangwu kini telah selesai membereskan 'kor'. Tepatnya, sudah selesai menolong putri angkat guru Zhang Jiangwu. Anak Zhao Yu kini sudah pingsan. Sayap tulang yang ada di punggungnya sudah menghilang.
Cara yang dilakukan orang berjubah untuk membuat anak Zhao Yu sadar, sama dengan apa yang diceritakan Zhao Yu pada Zhang Jiangwu saat itu.
Orang berjubah menghampiri Zhang Jiangwu dan membantunya berdiri. "Apa kau baik baik saja?"
Zhang Jiangwu terkejut, walaupun ekspresinya masih saja datar. Suara yang ia dengar tadi sangat jelas. Suaranya mirip dengan seseorang yang ia kenal. Zhang Jiangwu pun kini berdiri dan menatap mata orang yang menolongnya dengan seksama.
"Hm.. Kau sudah terluka seperti ini. Namun ekspresimu tidak memperlihatkan ekspresi kesakitan sama sekali. Kau hebat juga. Tapi lain kali, jangan melawan orang seperti itu. Kau akan sulit mengalahkannya. Karna kau tidak akan bisa memusnahkannya. Kau hanya akan membunuh orang yang dikendalikan itu" jelas orang berjubah.
"Terimakasih," Zhang Jiangwu agak menundukkan kepala. Ia merasa berterimakasih karna orang di depannya sudah mau menolongnya.
"Ah, tidak masalah. Kalau begitu, kau urus saja gadis itu. Aku akan pergi," orang berjubah membelakangi Zhang Jiangwu dna berniat pergi.
Namun, sebelum itu terjadi, Zhang Jiangwu membuka suara, "Siapa?"
Orang berjubah berbalik dqn menatap Zhang Jiangwu, "Kau bisa memanggilku Steve," setelah mengatakan namanya, Steve langsung pergi meninggalkan Zhang Jiangwu yang kebingungan.
Menurut Zhang Jiangwu, nama itu adalah nama yang aneh. Dia tidak pernah mendengar nama seperti itu. Zhang Jiangwu masih fokus dengan fikirannya. Suara yang ia dengar, postur tubuh dan mata Steve membuat Zhang Jiangwu keheranan karna ia merasa mengenal Steve. Tapi, dari nama orang berjubah, itu sangatlah berbeda.
Engghh
Mendengar suara gumaman, Zhang Jiangwu menoleh ke belakang. Ia melihat bahwa anak angkat gurunya mulai sadar. Iapun segera menghampirinya.
Keesokannya, Zhang Jiangwu dan putri dari gurunya saat ini berada di sebuah kota yang cukup besar. Ia sudah menceritakan semua yang terjadi kepada anak gurunya semenjak dia sadar. Anak angkat gurunya bernama Zhao Wei. Dia terlihat berusia 17 tahun. Namun sebenarnya, dia sudah hidup 1.000 tahun lalu. Hal ini terjadi karna dirinya disegel saat itu yang membuatnya masih terlihat muda.
Zhao Wei nampak sedih semenjak Zhang Jiangwu menceritakan apa yang terjadi pada Zhao Yu. Ia tidak menyangka bahwa ayah angkatnya sudah meninggal. Zhang Jiangwu sendiri tidak bisa melakukan hal apapun untuk menghibur Zhao Wei. Ia tidak hebat dalam bidang ini.
Mereka belum juga sampai di sekte pedang langit karna memang letaknya cukup jauh. Juga, karna sekarang mereka berjalan kaki seperti manusia biasa. Ini dikarenakan Zhao Wei yang tidak bisa bergerak cepat hingga memperlambat Zhang Jiangwu.
Zhang Jiangwu berniat membawa Zhao Wei ke sekte dimana dia tinggal. Karna tak mungkin dia membawa Zhao Wei ke markas. Karna di sana banyak rahasia tentang identitas dari setiap anggotanya yang mana penduduk pun tidak mengetahuinya. Ia tidak sepenuhnya percaya dengan Zhao Wei saat ini.
Setelah berjalan kaki sekitar 1 minggu, mereka akhirnya sampai di sekte pedang langit.
Flashback end~
***
Di dalam markas, Liu Chen bertemu dengan Zhang Jiangwu di ruangan utama. "Kau kemana saja ketua Guang (Zhang Jiangwu)? Kau sangat lama sekali" ucap Liu Chen.
"Urusan" ucap Zhang Jiangwu dengan singkat.
Liu Chen menaikkan sebelah alisnya, "Urusan apa sampai kau tidak juga kembali?"
"Bukan urusanmu."
__ADS_1
"Sudah kuduga, kau akan menjawabku seperti itu" gumam Liu Chen. Walaupun hanya gumaman, namun Zhang Jiangwu bisa mendengarnya dengan jelas. Karna di ruangan utama hanya ada dirinya dan Liu Chen.
Liu Chen kembali menatap Zhang Jiangwu. Ia mengerutkan kening, "Kenapa kau memperhatikanku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?"
Zhang Jiangwu menggelengkan kepala. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa seseorang mirip dengan Liu Chen. Tepatnya, orang yang sudah menolong Zhang Jiangwu mirip dengan Liu Chen.
"Aku akan pergi," Zhang Jiangwu langsung berdiri dan pergi meninggalkan Liu Chen di dalam ruangan utama.
Liu Chen hanya menatap punggung Zhang Jiangwu yang semakin menjauh. Iapun ikut berdiri dan keluar ruangan. Ia tidak berjalan bersama Zhang Jiangwu. Karna arah tujuan keduanya berbeda.
Tak jauh dari Liu Chen, Wu Xianlun nampak berjalan ke arah Liu Chen. Ia membawa sesuatu di tangannya.
Ketika Liu Chen berpapasan dengan Wu Xianlun, ia menyapa seperti biasa. "Hua, kau mau kemana?"
Wu Xianlun mengangkat wajahnya yang tertunduk, ia menatap ke arah Liu Chen. "A- anu.. Ketua Xun.. Sa- saya ingin memberikan ini untuk anda," Wu Xianlun menyodorkan mangkuk berisi makanan.
Liu Chen menerimanya dengan senang hati, "Apa kau yang membuatnya?"
Wu Xianlun mengangguk. "Se- semoga ketua Xun suka. Sa- saya belajar memasak cukup lama."
"Kelihatannya ini enak. Walaupun aku sedang tidak lapar sekarang, tapi aku akan memakannya. Terimakasih Hua. Belajarlah yang rajin," Liu Chen tersenyum. Tangan kanannya pun terulur dan mengelus kepala Wu Xianlun yang kembali tertunduk.
Liu Chen langsung berlalu pergi meninggalkan Wu Xianlun. Ia tidak menyadari sama sekali perubahan wajah Wu Xianlun yang menjadi merah.
Wu Xianlun langsung pergi dengan cepat. Ia pergi ke arah yang berbeda dengan Liu Chen. Jantungnya berpacu dengan kencang seakan sudah mengikuti lomba maraton.
Liu Chen duduk di salah satu meja kosong. Ia duduk di pojok ruangan. Tidak ada anggota kelompok yang berani mengganggu ketenangan Liu Chen.
Liu Chen langsung menyimpan mangkuk makanan pemberian Wu Xianlun. Di dalam mangkuk terdapat sup daging yang nampak lezat.
Ketika akan memakan sup itu, meja tiba tiba saja digebrak oleh seseorang hingga membuat sebagian kuah dalam sup jatuh ke meja. Liu Chen melirik orang di samping yang sudah mengebrak mejanya.
Ternyata dia adalah teman baiknya. "Qiang. Kenapa kau menggangguku?"
Song Quon terkekeh, "Hehe maaf. Aku hanya ingin mengejutkanmu tadi, "Song Quon duduk berhadapan dengan Liu Chen. Iapun langsung saja merebut sup yang ada di dekat Liu Chen. Bahkan ia juga merebut sendok yang dipegang pemuda itu.
Song Quon mulai mencicipi kuah dari makanan. "Uhuk.. Uhuk.."
"Ada apa?" bingung Liu Chen.
"Kenapa rasanya sangat asin? Apa semua jenis garam dimasukkan ke dalam sini dengan jumlah yang banyak? Sebenarnya siapa yang membuat ini?! Karna rasa makanan ini sangat buruk", Song Quon menjauhkan mangkuk sup. Ia juga menaruh kembali sendoknya.
Liu Chen mengangkat sebelah alisnya, "Hua yang membuatnya. Dia mengatakan bahwa dia yang sudah membuat ini. Dia juga bilang bahwa dia sudah belajar memasak cukup lama, lalu ini hasilnya. Memangnya seburuk itu?"
"Kua coba saja sendiri. Rasanya seperti memakan garam," walaupun sudah tidak memakan sup itu lagi, namun lidah Song Quon masih terasa asin.
__ADS_1
Liu Chen mencoba kuah dari sup, ia juga tersedak dan terbatuk beberapa saat. Ia pun langsung mendorong mangkuk hingga berada di tengah meja, "Kau benar. Ini sangat asin."
"Lebih baik kau buang saja sup itu. Kau mungkin akan sakit karna memakan makanan yang asinnya luar biasa seperti itu" ucap Song Quon.
"Aku tidak bisa membuangnya. Hua membuat ini susah payah. Aku juga sudah mengatakan padanya bahwa aku akan memakan sup ini. Bila aku membuangnya, berarti aku tidak menghargainya," Liu Chen kembali mendekatkan mangkuk sup padanya. Iapun memasukkan sup ke dalam mulutnya lagi. "Uhuk.. Uhuk.."
"Sudahlah, tidak perlu memaksakan dirimu untuk memakannya. Itu sangat asin. Kau tidak mungkin bisa menghabiskan makanan itu."
Liu Chen tidak mendengarkan Song Quon. Ia kembali memakan sup di depannya. Walaupun terkadang ia terbatuk. Melihat hal itu, Song Quon menggelengkan kepala. "Aku akan pergi terlebih dahulu," iapun berdiri.
Liu Chen hanya mengangguk sebagai balasan. Setelah itu, Song Quon pergi untuk mencari Wu Xianlun.
Setelah belasan menit mencari, akhirnya Song Quon bertemu dengan wanita itu di taman bagian halaman markas. Iapun menghampirinya, "Hua."
Wu Xianlun yang sedang duduk bersama temannya langsung berdiri, "Ya? Ada apa wakil Qiang?"
"Sebaiknya kau tidak memberikan makanan lagi pada ketua Xun" ucap Song Quon dengan tegas.
"Um.. Bagaimana wakil Qiang tahu?" batin Wu Xianlun. "Apa ada yang salah dengan makanan saya, wakil Qiang?"
"Makananmu sangat asin. Walaupun begitu, ketua Xun masih saja memaksakan untuk memakannya. Beberapa kali ia terbatuk karna asinnya sup buatanmu itu. Ia tidak mau membuangnya karna ia menghargaimu. Jadi sebaiknya, kau tidak pernah memberikan ketua Xun makanan buatanmu lagi. Apa kau mengerti?"
Wu Xianlun tampak murung. Namun ia segera mengangguk, "Saya mengerti, saya tidak akan memberikan makanan buatan saya pada ketua Xun lagi."
Song Quon mengangguk, "Bagus. Sekarang dia ada di ruang makan," iapun pergi meninggalkan Wu Xianlun bersama seorang teman wanita itu.
Teman Wu Xianlun berdiri dan memeperhatikan wajah Wu Xianlun, "Ada apa?"
"Aku memberikan makanan pada ketua Xun. Lalu, ketua Xun memaksa memakan sup buatanku yang asin. Aku jadi merasa bersalah," sudut mata Wu Xianlun mulai berair seperti ingin menangis.
Temannya mengusap punggung Wu Xianlun, "Jangan salahkan dirimu."
Wu Xianlun mengapus air mata yang agak keluar. Iapun langsung berlari menuju ruang makan. Temannya langsung berlari mengikuti Wu Xianlun.
***
Di tempat makan markas. Saat ini Liu Chen terlihat seperti menjadi sorotan mata para anggota di sana. Karna beberapa kali dirinya terbatuk. Semua anggota tidak berani mendekat. Bukan karna takut bila Liu Chen sakit dan menularkan penyakitnya pada mereka. Namun, karna Liu Chen sendiri yang mengatakan agar tidak mengganggunya.
Tak lama kemudian, Wu Xianlun datang dan merampas mangkuk yang ada di depan Liu Chen. Sontak saja kejadian ini membuat para anggota terkejut. Tak terkecuali Liu Chen sendiri.
"Sebaiknya ketua Xun tidak perlu memakan ini lagi" ucap Wu Xianlun.
"Tapi aku sudah mengatakan akan memakannya. Aku tidak mungkin-"
"Saya tidak mau anda kenapa napa. Jadi sebaiknya tidak perlu memakan masakan saya lagi. Saya tidak akan marah pada anda, karna ini adalah salah saya. Maafkan saya," Wu Xianlun langsung pergi meninggalkan Liu Chen.
__ADS_1
Teman Wu Xianlun yang mengikutinya berbalik arah. Karna Wu Xianlun sudah akan pergi.
Setelah kepergian kedua wanita itu, ruang makan langsung menjadi hening. Tidak ada yang berbicara satu kata pun. Semuanya masih mencerna apa yang terjadi tadi. Hal ini tidak terduga. Bahkan bagi Liu Chen sendiri. Ia tidak menduga akan terjadi hal seperti ini.