
Ketika Liu Chen, Song Quon dan Han Liangyi sedang berbincang bincang diruang tamu, Liu Hongli menghampiri mereka.
"ayah"
"kini siapa lagi yang kau ajak ke rumah Chen'er? apa dia juga temanmu?", Liu Hongli tersenyum.
Liu Chen menggelengkan kepala, "tidak ayah, dia kesini karna ingin meminta makan. Dia tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Karna aku kasihan padanya, aku mengajaknya untuk ke rumah"
"hei, aku memang kemari karna ingin meminta makan padamu. Tapi kau mengajakku kemari bukan karna kasihan padaku. Namun karna aku yang memintanya", Han Liangyi menatap kearah Liu Chen dengan protesannya.
"tapi tetap saja sama. Kau kemari karna ingin meminta makanan", Liu Chen menatap kearah Han Liangyi.
"tapi apa yang kau ucapkan tadi tidak sepenuhnya benar. Kau sama sekali tidak kasihan padaku. Jika saja aku tak memaksamu membawaku, mungkin kau akan meninggalkanku hingga membuatku mati kelaparan"
"hanya karna masalah ini kalian ribut", Song Quon menggelengkan kepala sambil menatap kedua pemuda didekatnya.
"sudah..sudah..tidak perlu dibahas lagi, siapa namamu, nak?", Liu Hongli menatap kearah Han Liangyi.
"oh, namuku Han Liangyi paman"
"Han Liangyi, ya? semoga kau bisa menjadi teman dekat anakku sama seperti Quon'er", Liu Hongli tersenyum kearah Han Liangyi.
"em..mungkin begitu" ucap Han Liangyi.
"ayah, dia hanya kan menumpang makan saja. Setelahnya dia akan pergi", Liu Chen menatap kearah ayahnya.
"kau ini jahat sekali, mengusirku. Kejahatan apa yang kulakukan padamu hingga membuatmu ingin mengusirku?", Han Liangyi cemberut menatap Liu Chen.
"tidak ada hal jahat yang kau lakukan padaku. Tapi kau sudah menggangguku", Liu Chen menatap Han Liangyi dengan acuh tak acuh.
"maksudmu karna aku tadi mengganggumu yang ingin-hmp"
Mulut Han Liangyi langsung dibekap oleh Liu Chen. "hehe, saudara Yi kita lupakan saja masalah tadi. Tidak perlu diceritakan, itu tak penting. Aku akan mengizinkan mu tinggal disini bila ayah dan ibuku juga mengizinkannya"
Han Liangyi menatap Liu Chen yang masih membekap mulutnya. Pemuda itu tertawa canggung kearah lainnya. "hmp..!!", Han Liangyi memberontak, ia melepaskan paksa lengan Liu Chen yang membekap mulutnya.
Setelah lepas, Han Liangyi langsung mengatur nafasnya, "hah..hah..kau ingin membunuhku, ya?!", ia menatap Liu Chen dengan kesal. Jika saja ia tak segera melepaskan tangan Liu Chen, ia akan kehabisan nafas.
"tidak, siapa juga yang ingin membunuhmu? tidak ada gunanya", Liu Chen menatap Han Liangyi dengan acuh tak acuh.
"apa yang ingin kau katakan tadi, Liangyi?", tanya Song Quon.
Liu Chen langsung menatap tajam Han Liangyi, seakan mengisyaratkan agar tak memberitahukan pada siapapun.
"baiklah, baiklah", Han Liangyi hanya mengikuti apa yang Liu Chen isyaratkan.
Iapun menatap kearah Song Quon, "tidak ada apa apa, dia tadi hanya ingin makan dan akupun mengganggunya hingga membuat makanannya jatuh ketanah, lalu akhirnya tak bisa dimakan"
"pergi untuk beli makan, tetapi kau tidak mengajakku Chen?!", Song Quon menatap Liu Chen dengan kesal.
Liu Chen berkedip, iapun tertawa canggung, "ha-ha-ha, maaf Quon. Awalnya aku hanya ingin berjalan jalan, namun ketika aku melihat ada penjual roti, akupun membelinya"
"huh, lain kali ajak aku jika kau ingin pergi membeli makanan. Kau 'kan pasti mentraktirku!", kesal Song Quon sambil memalingkan wajahnya dari Liu Chen.
"kau kekanak kanakan sekali, saudara Quon!", Han Liangyi menatap kearah Song Quon sambil tersenyum mengejek.
"memangnya ada masalah?", Song Quon menatap Han Liangyi dengan dingin. Tatapan yang tidak pernah Song Quon tunjukan pada Liu Chen maupun keluarganya.
Mendapat tatapan seperti itu, Han Liangyi tertawa canggung, "a-ha-ha-ha kita lupakan saja apa yang kukatakan tadi"
Tatapan Song Quon kembali seperti semula, ia nampak kesal dengan Liu Chen karna dia tak diajak oleh pemuda itu untuk makan.
Liu Chen berkedip ketika melihat tatapan dingin Song Quon yang diarahkan pada Han Liangyi, "sepertinya masih ada sifat yang tersembunyi darinya"
"hahaha, kalian akrab sekali" ucap Liu Hongli.
"tidak juga, ayah", Liu Chen tersenyum tipis kearah ayahnya.
Setelah beberapa waktu berbincang, Li Wei datang, "makanan sudah siap, ayo makan bersama sama. Eh? ada tamu?", Li Wei tersenyum kearah Han Liangyi.
"dia bukan tamu, lebih tepatnya penumpang. Penumpang makan dan tempat tinggal, ibu" ucap Liu Chen.
"hei, sembarangan saja kalau bicara!" protes Han Liangyi.
"bukankah kenyataannya seperti itu? Kau kemari karna ingin meminta makanan dan kau ingin menginap disini, padahal aku tak mengenalmu sama sekali", ucap Liu Chen dengan malas sambil menatap Han Liangyi.
"benar juga, Tapi..."
"sudahlah, ayo kita makan. Ayo semuanya! makanan tidak akan menghampiri kita dengan sendirinya. Jadi kita yang hampiri makanan", Song Quon berdiri dan mulai berjalan menuju ruang makan.
"dia itu tak tahu malu ya?" ucap Han Liangyi sambil menatap Song Quon yang terus menjauh.
"heh, kau tak sadar? dirimu juga seperti itu, kau tau?" batin Liu Chen sambil menatap Han Liangyi dengan sulit diartikan.
"siapa namamu, nak?", Li Wei tersenyum kearah Han Liangyi.
Han Liangyi terpana untuk beberapa waktu ketika melihat senyuman Li Wei. "namaku Han Liangyi. Siapa namamu?"
__ADS_1
"sepertinya dia menganggap ibuku seumuran dengannya?ppfft..", batin Liu Chen sambil menahan tawa ketika melihat sikap Han Liangyi.
"namaku Li Wei, aku akan perkenalkan juga suamiku, dia bernama Liu Hongli", Li Wei langsung menggandeng tangan Liu Hongli. Hingga membuat pria paruh baya itu menoleh kearah istrinya. Li Wei hanya tersenyum kearah suaminya itu.
"su-suami?! a-ah, maaf kukira anda masih muda kira kira seumuran saya", ucap Han Liangyi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tertawa canggung.
Hingga ia menyadari sesuatu, "Liu, apa anda adalah-hmp"
Sebelum Han Liangyi selesai berbicara, dirinya langsung dibekap oleh Liu Hongli. "hehe, nak. Lebih baik kita langsung ke ruang makan saja, ayo!"
Liu Hongli tersenyum, ia memaksa Han Liangyi untuk ikut dengannya. Liu Hongli juga masih membekap mulut pemuda itu.
Liu Chen memandang aneh kearah kedua orang yang kini sudah pergi ke ruang makan. Yang tersisa saat ini adalah Liu Chen dan Li Wei.
"ibu, sebenarnya kenapa ayah membekap mulutnya seperti itu? juga, kenapa ibu memberitaukan marga ayah? bukankah kalian melarangku untuk mengatakannya kepada sembarang orang?", Liu Chen menatap ibunya dengan penuh penasaran.
"ibu memberitaukan marga ayahmu karna ibu percaya padanya. Ayahmu membekap mulutnya karna ingin mengajak temanmu itu ke ruang makan..", Li Wei sulit menjelaskannya pada putranya ini.
"..sudahlah, ayo kita makan bersama. Untungnya ibu memasak sangat banyak hari ini, huh..itu cukup melelahkan"
"apa ibu baik baik saja?" ucap Liu Chen dengan khawatir.
"ibu baik baik saja Chen'er. Tidak perlu mengkhawatirkanku. Oh ya, sekarang ceritakanlah mengapa kau tidak pulang bertahun tahun kemari?"
"ah, itu..karna aku tak bisa melakukannya. Singkatnya aku berlatih, jadi tak bisa pulang ke rumah bergitu saja", Liu Chen tersenyum. Ia berharap ibunya tidak menanyakan lebih dari ini, karna ia tidak tau harus menjelaskan seperti apa.
"berlatih? dengan siapa?", ucap Li Wei dengan heran.
"itu-"
"jangan merebut makanan ku!"
Terdengar sebuah teriakan dari ruang makan yang membuat kedua ibu dan anak ini langsung menoleh kearah suara. Mereka pun langsung pergi ke ruang makan.
Ketika sampai, keduanya terkejut melihat meja makan yang hanya tersisa beberapa makanan.
Bahkan Liu Hongli terlihat pasrah melihat perdebatan kedua orang yang saling menarik piring makanan.
"lepaskan tanganmu dari makananku!"
"kau itu sudah banyak makan. Kali ini aku yang akan memakan ini"
Ucapan Song Quon dan Han Liangyi dapat didengar jelas.
"kau sudah menghabiskan hampir sebagian makanan, jadi berikan ini padaku!" ucap Han Liangyi.
Beberapa makanan sudah diambil terlebih dahulu oleh Song Quon hingga membuat makanan tinggal satu porsi. Akhirnya Han Liangyi berniat merebut makanan itu dari Song Quon.
Bahkan Liu Hongli tidak sempat makan. Liu Hongli berusaha melerai kedua pemuda ini, namun sia sia saja. Kedua pemuda ini terus saja saling tarik menarik piring.
"apa yang kalian lakukan?!" teriak Liu Chen.
Keduanya menoleh kearah sumber suara.
"dia mengambil makananku!" ucap Song Quon dengan tak tahu malunya berkata bahwa makanan itu adalah miliknya. Bahkan Liu Hongli maupun Li Wei belum memakannya sedikitpun.
"dia sudah makan terlalu banyak, saudara Chen. Karna hanya tersisa ini, aku mencoba merebutnya dari dia" ucap Han Liangyi.
"apa kalian tidak sadar, ibu dan ayahku saja belum makan. Lalu kalian menghabiskannya?!", marah Liu Chen.
"tapi.."
"kalian, letakkan makanan itu dimeja. Lalu ikut denganku ke kamarku!", Liu Chen menatap kearah kedua pemuda itu.
Mendengar ucapan Liu Chen, mereka akhirnya menurut. Mereka menyimpan satu porsi tersisa dengan berat hati.
Liu Chen menatap kearah ibu dan ayahnya, "maafkan mereka ayah..ibu..aku akan mengajarkan mereka bagaimana berperilaku dirumah orang lain"
"tidak apa, Chen'er", Liu Hongli tersenyum pahit sambil menatap meja yang kini hanya tersisa satu porsi makanan.
"kalian cepat, ikut denganku!", Liu Chen langsung pergi ke kamarnya.
Han Lingyi dan Song Quon saling berpandangan, "sepertinya ini akan sulit", mereka memiliki pemikiran yang sama. Mereka pun langsung mengikuti Liu Chen yang berjalan menuju kamarnya.
Setelah mereka bertiga berada didalam kamar, Liu Chen menyuruh kedua pemuda itu agar menutup pintu.
Liu Chen menatap kedua pemuda didepannya dengan tajam, "apa kalian tau apa kesalahan kalian?!"
Mereka diam saja tanpa menjawab.
"kalian keterlaluan! kalian makan enak dan sama sekali tak memikirkan ibuku yang lelah karna memasaknya. Namun kalian tak menyisakan makanan yang banyak untuknya!"
"um..semua makanan itu dimakan oleh saudara Quon", Han Lingyi menatap kearah Song Quon sambil menunjuknya.
"kenapa kau menyalahkanku?!" protes Song Quon sambil menatap Han Liangyi dengan kesal.
"kalian berdua sama saja! kalian tidak seharusnya menghabiskan makanan itu. Kalian tidak memikirkan ibu dan ayahku yang belum makan?! dan kalian hanya mementingkan diri sendiri?! sadarlah, sekarang kalian berada dimana! kalian jangan melakukan sesuatu seenaknya disini", Liu Chen menatap kedua pemuda didepannya ini dengan marah.
__ADS_1
Ibunya susah payah memasakkan makanan dan belum memakannya, namun sudah dihabiskan terlebih dahulu oleh kedua pemuda ini. Bahkan jika dia tak datang secepatnya tadi dengan ibunya, mungkin tidak akan ada makanan sama sekali yang tersisa. Ibunya yang susah payah, sementara kedua orang ini enak, langsung memakan habis masakan ibunya. Bahkan tak memikirkan ibu maupun ayahnya!
Han Liangyi dan Song Quon menundukkan kepalanya, "maafkan kami, Chen"
Liu Chen menghembuskan nafasnya dan menenangkan diri, "sekarang kalian pergi keluar dan beli makanan yang sudah matang sekarang", ia langsung melemparkan 2 keping emas kepada Song Quon.
"pergi dan beli sekarang juga, jangan membuat orangtuaku menunggu"
"a-ah baik!"
Keduanya langsung pergi keluar untuk melakukan apa yang Liu Chen suruh.
Diluar, Song Quon dan Han Liangyi pergi ke pasar untuk membeli makanan.
Diperjalanan, Han Liangyi terus menyalahkan Song Quon. Sebab, memang pemuda itulah yang menghabiskan makanan. Bahkan dirinya belum makan sedikitpun dari masakan Li Wei.
"semua ini salahmu, seharusnya kau yang diperintahkan olehnya. Kenapa sekarang aku ikut disuruh suruh seperti ini?!" protes Han Liangyi.
"itu karna nasibmu yang kurang baik, haha" ucap Song Quon dengan entengnya.
"cih!"
"oh ya, apakah kau bisa berbicara denganku nanti malam?" ucap Song Quon tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.
"hah?! memangnya mau apa? aku tak mau! ketika denganmu, aku malah mendapat nasib kurang baik seperti ini", ucap Han Liangyi dengan kesal.
"hehe, jangan menyalahkanku begitu! salahkan dirimu sendiri"
"cih!"
"kita kembali pada pembicaraan, apa kau ada waktu untuk menemuiku di depan rumah Chen nanti malam?"
"hah?! apa kau ingin mengajakku kencan?! aku menolak!"
"sialan! Siapa juga yang ingin mengajakmu kencan!", kesal Song Quon sambil menatap pemuda disampingnya ini.
"maaf maaf, aku bercanda. Ada urusan apa kau ingin mengajakku berbicara denganku malam nanti?"
"aku takkan menjelaskannya sekarang. Tapi jawab aku, apa kau bisa berbicara denganku nanti malam di depan rumah Chen? Namun tentunya kita takkan berbicara didepan dirumahnya. Aku akan mengajakmu pergi ke hutan dekat desa ini. Bagaimana?"
"terserah, nanti aku menemuimu di depan rumah Chen. Lagi pula, aku akan tinggal dirumahnya" ucap Han Liangyi dengan tak peduli.
"hah?! Kau akan tinggal?"
"memangnya kenapa?"
"aku takkan membiarkanmu merebut makananku seperti tadi"
"hei, aku saja tidak mendapatkan makanan itu. Semua kau yang memakannya!"
"tapi tadi kau tetap saja berebut makanan denganku. Jadi aku takkan membiarkanmu dapat berebut makanan denganku lagi"
"hah..terserah kau saja, dasar otak makanan!"
"apa kau bilang?! aku mendengarnya tadi!"
"otak makanan, memangnya kenapa? dipikiranmu itu, yang kau pikirkan hanya makanan"
"uh, terserah kau saja!", Song Quon memalingkan muka kearah lain seakan merajuk.
"aku juga ingin mendapat jawaban darimu atas pertanyaanku nanti malam", Han Liangyi berkata dengan datar.
"tanyakan saja, namun tentunya aku takkan menjawab semua pertanyaanmu" ucap Song Quon dengan acuh tak acuh.
"ah, itu! kita beli roti dilapak itu saja!", Han Liangyi menunjuk sebuah lapak dagang yang menjual roti.
"idemu bagus juga, aku juga tidak tau harus membelinya apa. Jadi aku setuju saja" ucap Song Quon.
Mereka pun langsung membeli banyak roti bahkan mereka menghabiskan sebagian roti milik penjual karna mereka membeli sebanyak 2 koin emas.
Setelah selesai, Han Liangyi memasukkannya ke dalam cincin ruang.
"kau memiliki cincin ruang?" tanya Song Quon.
"yah, begitulah. Kau juga bisa membelinya di pelelangan atau asosiasi jika kau ingin"
"sekarang lebih mudah, aku jadi tak perlu membawa banyak roti itu", Song Quon menghela nafas.
"dibalik kelakukanmu, kau adalah sesuatu" batin Han Liangyi sambil sedikit melirik kebelakang. Tepatnya kearah Song Quon yang berjalan dibelakangnya.
Jangan lupa like, favorite ataupun vote.
__ADS_1
Terimakasih pada para pembaca 'kelompok topeng bayangan'🙏