Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
107 -Kekacauan X (Musuh Utama)


__ADS_3

Keadaan di perbatasan kekaisaran Elang putih dan kekaisaran Phoenix api saat ini tidak lebih baik. Karna pasukan kekaisaran Elang putih tak bisa menghabisi pasukan musuh. Musuh yang menyerang mereka hanya sedang dikendalikan, jadi mereka tak boleh membunuh musuh musuh ini.


Lao Tzu menatap ke arah seseorang yang berada cukup jauh di belakang pasukan musuh. Iapun melesat ke arah sana karna melihat bahwa orang itu mencurigakan dan bisa jadi dia adalah pengendali dari semua orang orang ini.


***


Zong Xian, Yang Jia Li dan Chan Jun kewalahan menghadapi musuh. Mereka terlalu banyak hingga tidak bisa diatasi ketiganya.


"Hah.. Hah.. Aku sudah tidak kuat lagi" ucap Yang Jia Li. Iapun berlutut di tanah. Di depannya seekor ular berniat mematuknya. Namun, untungnya Zong Xian segera menarik Yang Jia Li.


"Hampir saja kau terluka bila aku tak menolongmu!" ucap Zong Xian dengan marah.


Yang Jia Li menatap ke arah Zong Xian yang ada di sampingnya saat ini, "Kenapa kau mempedulikanku, huh? Sejak kapan kau peduli aku terluka ataupun tidak?"


Zong Xian tak mengatakan apapun. Ia langsung bertarung kembali sambil melindungi Yang Jia Li, "Entah kenapa aku malah melindunginya. Padahal sudah jelas bahwa aku membenci dia dan ibunya. Apa karna sekarang aku merasa bertanggung jawab sebagai kakak untuk melindungi adiknya?" batin Zong Xian.


Chan Juan berlutut di tanah. Nafasnya tak beraturan. Ia langsung menelan sebuah pil yang diberikan Liu Chen pada semua anggota kelompok saat malam. Tangannya yang menghilang kini tumbuh kembali. "Hebat" gumamnya.


Sekarang matahari sudah menampakkan wujudnya. Namun, pertempuran yang terjadi di berbagai tempat berbeda belum berakhir.


Chan Juan berguling di tanah ketika sebuah serangan dari singa tertuju padanya. Iapun segera menelan satu pil lagi dan membuat tenaganya kembali pulih hanya dalam beberapa detik. Ia langsung berdiri dan menatap tajam singa itu.


***


Song Quon melakukan serangan mematikan. Sebuah pisau angin yang tak terlihat terus menyerang Liu Chen dan membuat Liu Chen terluka. Bahkan satu tangannya terputus karna pisau angin.


Pisau angin tidak dapat dilihat oleh mata biasa. Gerakan serangan itu juga cepat seperti angin. Terlebih, serangan terus dilakukan secara beruntun.


Liu Chen mengatur nafasnya. Ia menahan sakit karna tangannya yang putus. Iapun langsung mengambil pil di dalam cincin ruangnya dan berniat menelan pil itu. Namun, sebuah serangan tiba tiba membuat Liu Chen harus menghindar dan membuat pil terjatuh ke tanah.


Song Quon melakukan cakaran ke arah Liu Chen. Bila cakarnya mengenai tanah, maka tanah akan menjadi cekungan yang cukup dalam. Karna, Song Quon memiliki tubuh setinggi 5 meter. Jadi tentunya cakar miliknya juga besar.


Mau tak mau Liu Chen harus terus menghindar. Iapun langsung terbang di langit dengan cukup tinggi. Ia segera mengambil pil lagi dari dalam cincin ruang dan langsung menelannya.


Seketika, tangan Liu Chen yang putus tumbuh kembali. Pandangannya juga kini semakin tajam dan bisa melihat pisau angin yang tak dapat dilihatnya tadi.


Liu Chen merentangkan satu tangan yang tidak memegang pedang ke arah pisau angin. Seketika, pisau angin yang mengarah padanya berubah menjadi bekuan es dan terjatuh ke tanah. "Aku bisa membekukan serangan Quon" batin Liu Chen. Liu Chen langsung terbang menukik ke bawah dan bertarung kembali dengan Song Quon.


Boomm


Boomm


Tanah semakin rusak menjadi cekungan besar. Pertarungan keduanya sulit dilihat oleh mata biasa. Namun, beberapa kali selalu ada serangan nyasar dan mengarah ke tempat lain. Bahkan ada sebuah serangan yang tertuju pada sebuah hutan yang tak jauh dari tempat keduanya bertarung.


Hal ini menyebabkan hutan rusak karna serangan. Demonic beast dan hewan biasa yang ada di sana juga lari ketakutan kala serangan nyasar terus mengarah pada hutan.


Beberapa tanah berubah menjadi beku bahkan ada yang berubah menjadi gosong karna serangan yang dilakukan Liu Chen.


Ketika keduanya bertarung, tiba tiba sesuatu jatuh tepat diantara keduanya. Mereka berdua segera melompat mundur dan saling menjaga jarak kala sesuatu menghantam di tempat antara keduanya.


Kepulan asap menutupi sesuatu yang jatuh dari langit itu.

__ADS_1


Song Quon menatap ke arah atas, "Ggrrhh"


Di atas, seseorang melayang. Dia adalah seorang pria paruh baya dengan iris mata berwarna kuning. Sementara pupil matanya memanjang seperti ular. Mata itu sama seperti mata Song Quon saat ini.


Liu Chen ikut melihat ke arah atas.


"Kita bertemu lagi, pangeran Xiao" ucap pria paruh baya yang tak lain musuh utama dari Liu Chen.


Liu Chen mencengkram kuat pedang phoenix api, "Kau..!!"


Hanya dengan aura yang terpancar dari tubuh pria paruh baya itu saja sudah membuat Liu Chen bergetar. Bisa dikatakan, bila Liu Chen cukup takut dengannya.


"Kau lama sekali menyelesaikan tugasmu, Quon kecil. Apa kau tidak berniat untuk menyelesaikannya?", pria paruh baya menatap ke arah Song Quon.


Song Quon berubah menjadi manusia dan berlutut ke arah pria paruh baya itu, "Maafkan aku Tuan.. Aku.. Tak bisa melakukannya" ucap Song Quon dengan takut.


Liu Chen terkejut mendengar ucapan Song Quon. Ia kira, Song Quon mulai serius menyerangnya tadi. Karna dia terluka cukup parah setelah menerima serangan Song Quon terus menerus tadi.


"Sudah kuduga kau tidak bisa melakukan hal seperti ini, Quon kecil" ucap pria paruh baya dengan dingin. Ia bernama Long Shilin.


"Ma- maafkan aku Tuan" ucap Song Quon dengan takut.


"Baiklah, biar aku saja yang menyelesaikan ini" ucap Long Shilin. Iapun menatap ke arah Liu Chen yang sudah bersiap untuk menahan serangan.


Long Shilin mengangkat satu tangannya dan mengarahkannya pada Liu Chen. Partikel cahaya mulai berkumpul di tangannya dan terlihat seperti siap ditembakkan kapan saja.


"Chen takkan bisa menahannya" batin Song Quon. Ia langsung berubah menjadi serigala angin dan berlari ke depan Liu Chen untuk melindungi Liu Chen dari serangan.


Liu Chen terkejut ketika melihat Song Quon yang sudah berubah menjadi serigala berdiri di depannya. Sebuah angin yqng membentuk perisai tercipta di depan Song Quon.


Perisai angin menahan serangan milik Long Shilin. "Oh, kau ingin melindunginya Quon kecil? Kalau begitu, terima ini!"


Boomm


Song Quon terdorong terus menerus. Perisai angin yang ia ciptakan perlahan rusak, "Gawat."


Merasa bahwa perisai yang ia ciptakan akan segera rusak, Song Quon berbalik. Tangannya terlihat melindungi Liu Chen dari arah sisi kanan dan kiri. Sementara tubuhnya menutupi tubuh Liu Chen dari pandangan Long Shilin.


Krraakk


Krakkk


Boomm


Serangan langsung menghantam tubuh Song Quon secara langsung, "Gggrrhhh."


Perlahan, serangan mulai mengecil dan hilang. Bersamaan dengan itu, tubuh Song Quon ambruk ke tanah dan menimbulkan dedebuan di sekitar beterbangan.


Tubuh Song Quon kembali menjadi manusia. Ia tergeletak tak jauh dari Liu Chen dengan posisi tengkurap. Tubuhnya banyak mengeluarkan darah.


Liu Chen segera lari menghampiri Song Quon, "Quon!"

__ADS_1


Iapun langsung duduk di tanah dan memangku kepala Song Quon. Sudut bibir Song Quon mengeluarkan banyak darah dan beberapa kali pemuda itu terbatuk. "Ggrhh."


Song Quon merasa sangat kesakitan saat ini. Baru pertama kali dirinya terluka separah ini. Tulangnya terasa hancur, organ dalamnya terasa berantakan. Sementara rohnya seperti ditarik keluar.


"Kenapa kau menahan serangan itu?! Kau tau bukan serangan tadi sangat kuat! Apa kau sudah gila, hah?!" bentak Liu Chen. Ia mengambil pil dari dalam cincin ruang dan berniat memasukkannya ke dalam mulut Song Quon. Namun, pemuda itu menahan tangannya.


"Kau harus segera meminum pil ini agar kembali sehat. Tapi kau malah menghentikanku!" bentak Liu Chen.


Song Quon berkata dengan kesulitan, "Uhuk.. Grrh.. Percuma saja.. Ggrrh.. Rohku sudah.. Hancur.. Aku takkan bisa.. Disembuhkan oleh apapun.. Uhuk.. Aku tak bisa bertahan lama."


Liu Chen terkejut mendengar ucapan Song Quon, "Kau bercanda bukan?! Kau pasti bercanda! Serangan tadi seharusnya tidak melukai rohmu!"


"Bukan.. Serangan itu.. Yang menjadi alasannya.. Uhuk.. Tapi hadiah yang.. Diberikan Tuan-ku.. Beberapa.. Waktu lalu.. Uhuk.. Uhuk.. Tuan memberiku kesempatan untuk.. Meminjam tiga kali.. kekuatannya.. Sebagai bayaran.. Dari itu semua.. Energi kehidupanku diambil setiap waktu.. Oleh Tuan dan kapanpun.. Tuan juga bisa.. Menghancurkan.. Rohku sesukanya.."


Liu Chen kembali terkejut mendengar penjelasan Song Quon. Bila roh seseorang hancur, maka dia akan menghilang selamanya dari dunia ini. Dia juga takkan bisa masuk ke alam berikutnya. Dia juga takkan memiliki kesempatan untuk bereinkarnasi sama sekali. Dia menghilang selamanya dari dunia.


"Chen.. Maafkan aku.. Karna mendekatimu dengan niat yang.. Tidak baik.. Dan aku.. Berniat menghabisimu.. Maafkan aku.. Uhuk.. Maafkan aku.. Dan.. Terimakasih.. Karna mau menerimaku.. Menjadi temanmu.. Aku senang.. Bisa mengenalmu.. Aku ingin.. Kau segera.. Uhuk.. Pergi dari.. Tempat ini dan.. Menjauh dari Tuanku. Sekarang pergilah!"


Liu Chen menggelengkan kepala, "Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu di sini sendiri."


"Kau.. Harus tetap.. Hidup.. Pergilah.. Sekarang juga! Sampai.. Jumpa.. Bila aku diberi kesempatan.. Hidup lagi.. Maka aku akan.. Menemuimu," Song Quon menutup mata. Ekspresinya nampak bahagia.


Melihat hal itu, Liu Chen menjadi panik, "Buka matamu Quon! Quon!"


Tangan Song Quon yang menghalangi tangan Liu Chen yang ingin memberinya pil tadi langsung terjatuh ke tanah. Liu Chen segera memeriksa suhu tubuh Song Quon dan merasakan tubuh yang dingin.


Hatinya langsung gelisah. Ia mengecek detakan jantung. Namun, tidak ada sama sekali. Ia langsung memeluk Song Quon, "Bangunlah! Jangan tinggalkan aku seperti 'dia' meninggalkanku!"


Dadanya terasa sesak ketika orang yang sudah ia anggap berharga pergi begitu saja meninggalkannya. Cairan bening nan hangat tak bisa ia tahan lagi. Air mata keluar begitu saja.


Song Quon berubah menjadi butiran cahaya dan terbang ke langit. Liu Chen menengadah ke atas dan menatap cahaya cahaya kecil itu terbang ke langit yang cerah. Ia berusaha menggapai gapainya. Namun, sekeras apapun berusaha, cahaya kecil itu terus naik ke langit.


"Uhuk.."


Pandangan Liu Chen menjadi buram. Bukan hanya karna air mata yang mengalir membasahi pipinya. Namun, cairan merah keluar dari bagian perutnya.


"Dantian milikmu sangat mudah diambil dan dantianmu juga sudah cukup kuat. Kau bisa membohongi Quon kecil tentang letak pedang kaisar langit. Tapi tidak denganku. Pedang itu selama ini tertanam pada tubuhmu" ucap Long Shilin dari belakang tubuh Liu Chen. Tangannya saat ini menembus tubuh Liu Chen.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa terus dukung author dengan:


*Like


*Vote


*Share


*Favorite


*Komen

__ADS_1


*Rate 🌟🌟🌟🌟🌟


__ADS_2