
Setelah masuk ke dalam rumah, Li Wei langsung pergi ke dapur dan mengambilkan semua makanan yang tersisa.
Li Wei, Liu Chen dan Song Quon duduk di meja makan dengan makanan yang sudah tersaji rapi di meja makan.
"bibi Wei, apa aku boleh memakan semuanya?", ucap Song Quon dengan senang. Walaupun makanan di depannya tidak sampai 10 porsi, namun itu cukup untuknya makan saat ini, setidaknya dia bisa makan.
Li Wei terkekeh pelan melihat sifat Song Quon, "tentu saja nak, makanlah sepuasmu"
Senyuman Song Quon semakin lebar, iapun langsung memakan semua makanan yang ada di meja dengan sangat cepat.
Ketika Liu Chen akan mengambil makanan di meja, tangannya langsung ditepis oleh Song Quon dan makanan yang akan diambilnya langsung diambil Song Quon.
Liu Chen berniat mengambil makanan yng lain. Namun hal yang sama terulang kembali.Tangannya selalu ditepis dan setiap makanan yang ingin diambilnya langsung diambil Song Quon.
"Quon..!aku ini ingin makan, kenapa kau terus menghalangiku?sisakan untukku!", kesal Liu Chen sambil menatap Song Quon yang dengan lahapnya makan tanpa mempedulikan apapun.
"bibi Wei mengatakan untuk makan sepuasku. Jadi kau jangan mengambil makanan di meja ini. Karna aku akan memakan semuanya. Walaupun ini masih kurang bagiku, namun akan sia sia saja jika dibiarkan begitu saja", ucap Song Quon yang kembali memakan makanan yang ada di meja.
Liu Chen hanya menatap kesal ke arah Song Quon.
"walaupun aku bisa saja tidak makan untuk beberapa hari, namun aku ingin makan sekarang. Jadi berikan aku sedikit makanan itu. Lagi pula makanan itu ibuku yang membuatnya", Liu Chen berniat mengambil sebuah piring di meja yang terdapat makanan.Namun piring langsung diambil oleh Song Quon.
"ini milikku. Bibi Wei mengatakan untuk makan sepuasku. Jadi jangan mengganggu ku. Aku ingin memakan semua makanan ini. Aku sudah sangat lapar, kau tau?"
Liu Chen berusaha mengambil makanan yang Song Quon pegang. Namun Song Quon pun berusaha menjauhkan makanan itu dari Liu Chen.
Li Wei menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat perdebatan itu. Padahal Liu Chen dulu tidak seperti itu dengan kakaknya. Melihat perilaku Song Quon membuatnya merasa bahwa Song Quon dapat menjadi teman akrab anaknya.
"berikan itu, Quon. Kau sudah makan 7 porsi. Itu porsi terakhir untukku. Jadi berikan!", ucap Liu Chen sambil menggapai gapai makanan yang Song Quon jauhkan darinya.
"tidak mau..! kau duduk saja.Jangan menggangguku makan. Aku sangat lapar. Biarkan aku makan dengan tenang", Song Quon beberapa kali menepis tangan Liu Chen maupun menjauhkan makanan yang dipegangnya dari pemuda itu.
"e-eh?!"
Karna Liu Chen terus mendorong dirinya untuk mencapai makanan yang di pegang Song Quon, membuat kursi yang Song Quon duduki semakin miring ke samping hingga akhirnya Song Quon terjatuh begitupun Liu Chen yang terjatuh menindih Song Quon.Juga kursi yang ikut jatuh.
Awalnya Song Quon berniat menyelamatkan makanannya agar tak sampai ke lantai, jadi Song Quon mengangkat makanannya ke atas. Namun tak disangka,muka Liu Chen mengenai makanan yang berada di piring.
Li Wei terkejut ketika melihat kursi yang terjatuh dengan dua pemuda yang ikut terjatuh itu. Iapun langsung tertawa ketika melihat wajah Liu Chen yang mengenai makanan.
Song Quon belum bereaksi, ia masih terkejut.Begitupun Liu Chen, ia belum bereaksi karna terlalu terkejut.
Hingga Liu Chen langsung menjerit, "aaa!!Quon..! apa yang kau lakukan?!"
Liu Chen langsung berdiri dengan cepat.Ia pun langsung pergi menuju kamar mandi dengan cepat.
Song Quon masih terbaring di lantai dengan piring yang masih ia pegang ke atasnya. "uh, makanan ini jadi percuma. Padahal aku ingin memakannya, tapi makanan ini sudah dicap oleh wajah Chen", Song Quon akhirnya mulai berdiri. Ia meletakkan piring di meja dan mengangkat kursi agar bisa ia duduki kembali.
Setelah dirinya duduk, Song Quon menatap kearah Li Wei, "bibi Wei,apa kau memiliki makanan lagi?makanan ini sudah dicap oleh wajah Chen"
Dengan tanpa malunya, Song Quon bertanya seperti itu. Dia juga bahkan tak meminta maaf atas kejadian tadi.
Li Wei menggelengkan kepala pelan, "tidak ada lagi makanan di rumah ini, Quon'er. Maaf"
Song Quon cemberut,"tak apa. Besok bibi beli saja makanan yang banyak agar bibi Wei tidak kehabisan makanan di rumah"
Li Wei tersenyum canggung. Sepertinya apa yang ia duga memang benar, bahwa Song Quon akan menjadi teman akrab anaknya dengan sifat Song Quon yang seperti itu.
"bibi Wei, apa dirumah ini ada kamar yang kosong?aku ingin tidur", ucap Song Quon.
"akan bibi tunjukan kamarnya. Quon'er kau tidur bersama Chen'er", Li Wei pun berdiri dari duduknya.
Song Quon mengangguk, "baik bibi Wei"
Song Quon pun mengikuti Li Wei menuju kamar Liu Chen yang dulu dan masih tetap ada dan terawat.
Setelah selesai membersihkan wajahnya, Liu Chen langsung pergi ke ruang makan kembali.Disana,dia hanya melihat Li Wei yang membereskan piring piring makanan.
"ibu, dimana Quon?"
Li Wei menoleh ke arah Liu Chen, iapun tersenyum. "Quon'er ada di kamarmu, dia sedang istirahat. Kau juga istirahatlah, Chen'er"
"apa perlu aku membantumu ibu?", ucap Liu Chen ketika melihat ibunya membereskan piring piring yang kotor.
"tidak perlu, ibu bisa sendiri. Sekarang kamu masuklah ke kamar dan istirahat. Ibu akan memberitaukan ayahmu besok bahwa kau datang. Dia pasti akan sangat senang ketika tau putranya masih hidup", Li Wei tersenyum lembut ke arah putra keduanya itu.
"em..ibu..maaf tentang sikap Quon. Dia memang seperti itu, dia banyak makan", Liu Chen menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa ringan.
Li Wei terkekeh pelan, "tidak apa. Sepertinya dia akan menjadi teman yang akrab denganmu Chen'er"
"uh, entahlah..sifatnya itu menyebalkan ketika banyak makan. Ibu tadi lihat sendiri, dia tidak menyisakan makanan untukku"
__ADS_1
"apa kamu lapar Chen'er?", Li Wei menatap ke arah Liu Chen.
Liu Chen menggelengkan kepala, "tidak terlalu ibu, jadi tak perlu khawatir"
"kalau begitu, besok ibu akan membeli banyak makanan untuk kita makan"
"oh ya ibu, ngomong ngomong soal makanan, apa Quon meminta ibu agar membelikan banyak makanan untuknya?", Liu Chen agak berbisik pada Li Wei.
"Quon'er hanya mengatakan agar ibu membeli banyak makanan, agar ibu tidak kehabisan makanan di rumah"
"dia itu..", Liu Chen menggelengkan kepalanya. Iapun langsung mengambil koin emas dari cincin penyimpanannya.
Hal tersebut membuat Li Wei terkejut, "nak,kamu dapat darimana cincin ruang ini?!"
"ibu, ini pemberian guruku. Dia yang memberikan cincin ini. Guru juga yang memberikan isi di dalamnya", Liu Chen pun memberikan kantong kecil yang berisi koin emas kepada ibunya. "ibu, koin emas ini untukmu. Besok aku akan memberikannya lagi pada ibu"
Li Wei kembali terkejut, "nak, simpan saja koin emasmu. Itu akan lebih berguna jika kau yang menggunakannya"
"tidak ibu, ini hanya sedikit. Aku masih memilikinya lebih banyak lagi. Jadi ibu terima saja. Jika ibu tak menerimanya, aku akan marah padamu", Liu Chen terlihat merajuk.
Li Wei menggelengkan kepala melihat sikap Liu Chen. Dia sudah besar, tapi bertingkah seperti anak kecil. "yasudah ibu akan menerimanya. Ibu akan menggunakan nya untuk membeli banyak makanan untuk persediaan"
Liu Chen pun memberikan kantong uang itu pada Li Wei, "kalau begitu aku akan beristirahat sekarang,bu. Ibu juga harus cepat istirahat"
Li Wei mengngguk, "ibu akan segera beristirahat nanti"
Liu Chen tersenyum, "selamat malam ibu"
"Chen'er besok kau harus mengatakan alasan kenapa kau tidak pulang beberapa tahun ini. Ibu akan mendengar ceritamu besok"
Liu Chen tersenyum, "iya ibu, selamat malam"
"selamat malam Chen'er"
Liu Chen pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Sementara Li Wei membereskan meja makan.
Ketika masuk ke dalam kamarnya, ia dapat melihat Song Quon yang tertidur dengan nyenyak. Song Quon menghabiskan tempat untuk tidur. Sehingga tidak ada tempat lagi untuk tidur. Padahal kasur itu bisa dipakai untuk berdua.
Liu Chen berusaha memindahkan kaki Song Quon yang dekat dengan tepi kasur. Ketika sudah dipindahkan, kakinya kembali lagi ke posisi semula, yaitu dekat tepi kasur.
Liu Chen mencoba memindahkan Song Quon berkali kali. Namun Song Quon kembali lagi keposisi terbaringnya pertama kali.
Namun Song Quon tidak mendengarkan apa yang Liu Chen katakan. Tidurnya terlalu nyenyak saat ini hingga tak menghiraukan apapun.
"dia ini..Quon!berikan tempat untukku!", kesal Liu Chen.
Liu Chen berniat menyeret Song Quon agar turun dari kasurnya.Ia menarik narik tangan Song Quon.
Tubuh Song Quon terasa sangat berat,"uh, kau ini terlalu banyak makan. Kau menjadi berat!", keluh Liu Chen.
Liu Chen tidak menggunakan Qi nya untuk menyeret Song Quon, sebab bisa saja ia malah melukai temannya.
Ketika Song Quon agak terseret, maka Song Quon langsung memberontak dengan mata yang masih menutup.
Karna memberontak Liu Chen melepaskan tarikannya. Namun setelahnya Song Quon kembali seperti posisi semula bagaimana ia tertidur.
"tck, menyebalkan. Hah, aku sangat lelah. Karna tak mendepat tempat, aku lebih baik berkultivasi saja", Liu Chen pun akhirnya duduk bersila di dekat tempat tidur. Punggungnya hampir mengenai kasur karna membelakanginya.
Ketika Liu Chen akan mulai fokus, kepalanya tiba tiba saja terhantam sesuatu.Liu Chen menepis sebuah kaki yang mengenai kepalanya. Ia membanting kaki Song Quon ke kasur karna kesal. "kau ini sebenarnya mau apa, hah?!"
"manusia..manusia yang lezat..", suara Song Quon terdengar. Ia terlihat sedang bermimpi.
Liu Chen menghembuskan nafas panjang dan mengelus dadanya. Ia menatap ke arah temannya yang tertidur itu, iapun menggelengkan kepala ketika mendengar suara Song Quon tadi. "kau ini ingin menjadi manusia kanibal, hah?!kau ini sepertinya sedang bermimpi sangat aneh"
Liu Chen memilih duduk lebih jauh dari Song Quon dan langsung berkultivasi.
Keesokan paginya, Liu Chen mulai membuka matanya, "sudah pagi"gumam nya.
Liu Chen pun berdiri dan melihat temannya yang masih tertidur. "sudah pagi dia belum juga bangun. Padahal dia duluan yang tidur. Dia seperti ayah"
Liu Chen pun memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah selesai, Liu Chen pun keluar dari kamarnya.
Ketika ia keluar, dia tiba tiba saja tersentak. Karna, di depannya saat ini sudah ada seseorang yang dikenal nya. Seorang pria yang terlihat masih muda dengan wajah yang tampan ada di depan Liu Chen.
"Chen'er, apa itu kau?", ucap pria yang tak lain adalah Liu Hongli, ayah Liu Chen.
"a-ayah kenapa kau sudah-", ucapan Liu Chen terhenti karna dirinya terkejut dengan pelukan tiba tiba yang dilakukan ayah nya.
"Chen'er, ibumu sudah mengatakannya padaku tadi malam bahwa kau kembali. Awalnya aku tak percaya dengan ucapan ibumu. Tapi karna aku ingin memastikan ucapan ibumu, ayah kemari ketika pagi hari seperti ini. Kau kemana saja Chen'er?
Ayah khawatir padamu. Kau baik baik saja kan?apa ada yang luka?bagaimana kondisimu saat ini?jawab Chen'er, jangan diam saja. Ayah khawatir padamu"
__ADS_1
"ayah..aku baik baik saja, bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan ayah jika ayah tidak berhenti berbicara tadi?", Liu Chen terkekeh pelan.
Setelah beberapa waktu memeluk anaknya, akhirnya Liu Hongli pun melepaskannya. "syukurlah jika kau baik baik saja, Chen'er. Lain kali jangan pergi tanpa mengatakannya pada ayah, kau membuatku khawatir"
"maafkan aku ayah, awalnya saat itu aku hanya ingin pergi berburu di hutan untuk mencari pengalaman. Tapi aku juga tidak tau bahwa akan terjadi sesuatu yang tak diduga"
"baiklah, yang terpenting kau baik baik saja", Liu Hongli pun tersenyum senang, karna ternyata putranya ini masih hidup dan kembali dengan keadaan yang sehat.
Liu Hongli maupun Li Wei tak mengetahui bahwa Liu Chen saat ini sudah berada di tingkat kaisar, sebab Liu Chen menekan kekuatannya dan ia terlihat seperti manusia biasa.
"ayah, aku pamit ingin berjalan jalan di luar sebentar saja. Aku takkan pergi jauh, jadi jangan mengkhawatirkan ku. Jadi aku boleh berjalan jalan keluar kan?", Liu Chen menatap ke arah ayahnya dengan tatapan memohon.
Melihat tatapan itu membuat Liu Hongli tersenyum, "baiklah, tapi jangan terlalu lama dan jangan terlalu jauh. Nanti kau tersesat", Liu Hongli tertawa.
Liu Chen memanyunkan bibirnya seperti anak kecil yang tak diberi uang, "ayah ini..."
"hahaha, ayah bercanda. Kau boleh pergi berjalan jalan"
Liu Chen tersenyum, "terimakasih ayah"
Iapun pamit dan langsung pergi ke luar untuk berjalan jalan.
Langit terlihat sudah cerah karna matahari sudah mulai menampakkan wujudnya.
Liu Chen melihat kearah kanan maupun kiri sambil tersenyum, "sudah lama aku tak berjalan jalan seperti ini di desa"
Wanita wanita yang sedang ada disekitar memperhatikan kearah Liu Chen. Sebab,wajah Liu Chen yang terlihat menawan hingga membuat banyak wanita langsung menyukainya.
Beberapa pria yang nampak lebih tua dari Liu Chen maupun yang seumuran dengannya ada yang merasa iri.
"hei, siapa dia?"
"entahlah, tapi dia terlihat tampan"
"aku ingin memilikinya. Dia sangat tampan"
Ucap beberapa wanita. Walaupun mendengar pujian pujian para wanita, Liu Chen juga mendengar suara iri dari beberapa pria.
"dia enak sekali dapat banyak perhatian seperti itu hanya karna wajahnya. Sementara aku?aku bahkan tidak pernah mendapat perhatian banyak seperti itu dari wanita", ucap seorang pria yang terlihat gemuk.
"artinya mereka pintar karna lebih memilih emas dari pada karung beras", ucap seorang pemuda yang ada di samping pria gemuk itu.
"hah?!kau mengajakku bertarung, ya?!"
"tidak, untuk apa bertarung denganmu. Tidak akan ada gunanya"
"hah?!apa kau bilang?!"
"hei, bagaimana jika kita pukuli saja dia hingga membuat wajahnya rusak. Setelah itu, pasti tidak akan ada yang memperhatikannya terus", ucap seorang pemuda lainnya.
"kau benar Shing. Lebih baik kita beri dia pelajaran!", ucap pria gemuk.
"hehe, kita ajak dia ke tempat yang sepi", ucap orang yang dipanggil Shing itu. Ia adalah Wang Shing, orang yang selalu mengejek dan mengganggu Liu Chen ketika Liu Chen masih kecil.
Yang lainnya mengangguk setuju dengan Wang Shing.
Mereka pun langsung mengikuti Liu Chen dengan hati hati agar tak diketahui pemuda yang mereka incar.
Sebenarnya, Liu Chen sudah mengetahui bahwa ada beberapa orang yang mengikutinya. Namun Liu Chen tak langsung mengambil tindakan, ia hanya pergi menuju tempat yang sepi.
"hm?sebenarnya apa yang mereka mau?", batin Liu Chen.
Setelah beberapa menit berjalan, Liu Chen akhirnya berhenti di sebuah gang yang cukup lebar. Di depannya saat ini adalah jalan buntu.
Tak lama setelah Liu Chen tiba disana, ia mendengar suara tawa.
"hahaha, akhirnya kau pergi ke tempat yang sepi juga", ucap pria gemuk.
Liu Chen membalikkan tubuhnya. Ia tak mengatakan apapun dan hanya menatap mereka satu persatu. Liu Chen mengetahui bahwa mereka adalah orang orang yang selalu mengganggunya ketika ia masih kecil.
Walaupun mereka sudah berubah, namun Liu Chen dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang yang dikenalnya.Senyuman muncul di wajahnya yang menawan.
"apa kalian adalah teman teman Wang Shing?", ucp Liu Chen sambil tersenyum ramah.
"hahaha, sepertinya aku terkenal ya? Akulah Wang Shing"
"oh begitu kah?hm..lalu apa yang ingin kalian lakukan dengan mengikutiku?"
"hm..tentu saja merebut perhatian orang orang darimu.Aku akan menghancurkan wajahmu hingga tidak akan ada orang yang melirikmu sedikitpun. Lalu,perhatian mereka pun akan terarah padaku. Karna aku adalah orang paling tampan di desa ini", ucap Wang Shing dengan sombong.
"baiklah, aku sudah mengetahui niat kalian. Awalnya aku berniat memaafkan kalian, namun sepertinya kalian harus kuberi pelajaran terlebih dahulu", seringaian muncul di wajah Liu Chen yang menawan itu.
__ADS_1