Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
73 -Chapter 73


__ADS_3

Hari kini sudah sore, namun bila di bawah tanah, maka itu tak bisa dipastikan siang atau malam. Karna di bawah tanah, tidak dapat melihat langit.


Yelu saat ini masuk ke dalam kamar Song Quon dengan mengendap endap. Tidak mungkin dia meminta izin. Karna ia kemungkinan tidak akan diperbolehkan masuk. Lagi pula, ia melakukan ini karna latihan.


Ia memeriksa sekeliling kamar dengan teliti agar tidak melewatkan apapun. Ia mencoba mencari pintu rahasia yang kemungkinan ada di kamar Song Quon.


Setelah satu jam mencari, Yelu tidak menemukan apapun yang mencurigakan. "Tidak ada pintu rahasia apapun di kamar wakil Qiang. Artinya, pilihanku hanya satu lagi yaitu kamar ketua Guang"


Yelu berniat keluar dari kamar karna tak menemukan apapun yang dicarinya. Namun, belum sempat ia akan keluar, pintu mulai membuka. Melihat itu, Yelu menjadi panik. Ia melihat ke kanan dan kiri dan akhirnya ia masuk ke dalam bawah kasur.


Yelu pun menyembunyikn hawa keberadaannya dan menatap kearah satu pasang kaki yang dilihatnya dari bawah kasur. "Bagaimana caraku keluar, bila wakil Qiang ada disini? " batinnya.


Satu pasang kaki itu semakin dekat dengan kasur. Hal ini, membuat Yelu semakin panik. Namun ia berusaha agar tetap tenang. Kaki itu langsung berjongkok di dekat kasur.


"Semoga dia tidak melihatku. Semoga dia tak melihatku " batin Yelu.


Sosok pemilik satu pasang kaki itu langsung melihat ke bawah kasur. "Aaaaa!!"


Yelu dan sosok itu berteriak dengan terkejut. Karna terlalu terkejut, kepala Yelu mengenai kasur dengan keras. "Bruukk"


"Aakh sstt", Yelu mengelus kepalanya.


"Yelu, kenapa kau ada disini?" ucap sosok yang merupakan pemilik sepasang kaki itu.


Yelu mulai keluar dari bawah kasur. Ia masih mengelus kepalanya. Ia menatap kearah wanita cantik di depannya.


"Apa yang kau lakukan disini, Yelu?" ucap Wu Xianlun. Ya, wanita itu adalah adik dari Wu Anming.


"Bagaimana dengan dirimu sendiri? Kenapa kau ada disini? Ini 'kan kamar wakil Qiang dan wakil Qiang adalah laki laki. Jangan jangan kau kesini untuk mengintip wakil Qi-"


Plakk


Wu Xianlun langsung menjitak kepala Yelu karna pemuda itu memikirkan hal yang macam macam tentangnya. "Jangan memikirkan hal yang macam macam tentangku. Aku bukanlah orang sepeti itu!" bentak Wu Xianlun dengan marah.


Yelu kembali mengelus kepalanya. Kali ini, terlihat bahwa kepalanya benjol. "Iya- iya maaf"


Wu Xianlun memalingkan wajahnya dari Yelu karna masih kesal dengan pemuda itu.


"Ngomong ngomong, kenapa kau kemari?" ucap Yelu.


"Huh, kau sendiri?" jawab cuek Wu Xianlun.


"Aku kemari untuk mencari pintu rahasia yang kemungkinan merupakan jalan menuju bawah tanah dan di ruang bawah tanah itu mungkin ada ketua Xun"


Wu Xianlun langsung menatap kearah Yelu. "Aku juga berpikir hal yang sama denganmu. Maka dari itu, aku kemari untuk mencari pintu rahasia itu"


"Kalau begitu, kita memiliki pemikiran yang sama. Ketua Xun selama ini bersembunyi di bawah tanah"


Wu Xianlun mengangguki ucapan Yelu. Ia juga berpikir demikian. "Lalu, apa kau mendapatkan petunjuk disini?"


Yelu menggelengkan kepala, "Aku sudah mengeceknya. Tidak ada hal yang aneh disini. Disini juga tidak ada pintu rahasia apapun"


"Kalau begitu, aku akan pergi saja dan mencari di tempat lain", Wu Xianlun langsung pergi.


"Hei, jangan tinggalkan aku", Yelu menyusul Wu Xianlun yang keluar.


Sementara itu, di kamar Zhang Jiangwu. Pemuda itu nampak sedang menulis. Ia menulis menggunakan senjata tingkat langit. Selama ini, ia selalu membuat cerita untuk dijadikan senjatanya.


Ketika sedang menulis, tiba tiba lantai di sudut ruangan sedikit terangkat keatas dan keluarlah sosok pemuda yang tampan. Zhang Jiangwu tidak mempedulikan itu sama sekali. Karna ia tau siapa pemuda yang keluar itu.


Liu Chen langsung keluar dari bawah tanah. Ia membuat pintu menuju tempat persembunyiannya di kamar milik Zhang Jiangwu. Karna ia merasa, semua orang tidak akan berani masuk sembarang ke dalam kamar pemuda itu.


"Huft.. Di bawah sangat membosankan. Guang, apa kau akan terus menulis seperti itu?", Liu Chen berjalan menghampiri Zhang Jiangwu.


Zhang Jiangwu tidak menjawab ucapan Liu Chen. Hal ini membuat Liu Chen agak kesal karna diacuhkan. "Kenapa kau selalu mengacuhkanku saat aku bertanya seperti ini? Aku jadi seperti berbicara dengan tembok saja" protes Liu Chen.


"Berisik" ucap Zhang Jiangwu.


"Apa kau tidak bisa mengatakan ucapan lain selain itu? Kau membosankan. Pantas saja tidak banyak orang yang dekat dengan mu" ucap Liu Chen.


Zhang Jiangwu lagi lagi tak mempedulikan protesan dari Liu Chen.


Liu Chen menjadi penasaran dengan apa yang Zhang Jiangwu tulis. Ia pun langsung bertanya, "Sebenarnya apa yang sedang kau tulis?"


"Cerita", setelah cukup lama, akhirnya Zhang Jiangwu selesai dengan tulisannya. Ia menghela nafas.


Liu Chen mengangkat sebelah alisnya. Iapun memegang buku yang sudah ditulis Zhang Jiangwu. "Sebenarnya cerita apa yang sedang kau tu.."


Zhang Jiangwu terkejut karna Liu Chen memegang buku yang sudah ditulis olehnya. Walaupun ia terkejut, namun ekspresinya terlihat biasa.


Liu Chen langsung menghilang dari tempatnya berada karna pemuda itu sudah masuk ke dalam kisah cerita di dalam buku.

__ADS_1


Zhang Jiangwu menepuk keningnya. "Dasar ceroboh"


Jika saja ia tau Liu Chen akan memegang bukunya, dia pasti akan langsung menghentikannya. Seharusnya Liu Chen bertanya dahulu padanya. Bukan main pegang bukunya. Sekarang, Liu Chen sudah berada di dalam cerita miliknya.


Zhang Jiangwu hanya bisa berharap Liu Chen baik baik saja dan dapat menyelesaikan semua masalah yang ada di dalam cerita miliknya. Agar pemuda itu dapat keluar.


Liu Chen terkejut ketika pandangannya berubah. Disekitarnya bukanlah kamar Zhang Jiangwu. Namun tempat yang tidak ia kenal sama sekali.


"Dimana in.."


Liu Chen tak menyelesaikan ucapannya. Karna tiba tiba ada demonic beast berwujud badak menyerang dirinya. Ia pun langsung membekukan badak itu.


Liu Chen berada di sebuah desa yang terlihat berantakan. Rumah rumah sudah rusak, lalu tidak ada penduduk sama sekali di tempat ini. Ditambah, banyaknya demonic beast yang berkeliaran.


Demonic beast lain langsung berlari kearah Liu Chen, berniat memangsa pemuda itu. Melihat bahwa dirinya banyak dikelilingi oleh demonic beast, Liu Chen segera menyiapkan kuda kuda untuk menyerang. Ia juga langsung mengeluarkan pedang phoenix api miliknya.


........


Waktu terus berlalu dengan cepat. Liu Chen sudah menyelesaikan berbagai masalah yang menimpanya. Dimulai dari saat ia datang pertama kali kemari. Lalu, dirinya harus menyelesikan masalah tentang persawahan di sebuah desa.


Permasalahan politik, keamanan sebuah kota dan banyak hal lainnya yang harus ia lakukan. Ketika ia telah menyelesaikan permasalahan politik di sebuah kekaisaran, tubuhnya langsung bercahaya. "Apa yang terjadi?."


Liu Chen saat ini berada di sebuah tempat yang sepi. Jadi tidak ada orang yang mengetahui kejadian yang terjadi pada Liu Chen. Tak lama kemudian, Liu Chen berubah menjadi serpihan cahaya dan menghilang dari tempat itu.


Liu Chen muncul kembali di kamar milik Zhang Jiangwu. Namun, tidak ada pemuda itu disana. "Sebenarnya apa yang terjadi denganku?", ia melihat ke sekitarnya.


Tak lama, pintu kamar di buka. Liu Chen langsung melihat kearah pintu dan melihat seorang pemuda dengan ekspresi datar masuk ke dalam. "Aku ingin meminta penjelasan darimu", Liu Chen segera menghampiri Zhang Jiangwu.


Zhang Jiangwu merasa lega karna akhirnya Liu Chen dapat keluar dari cerita miliknya. Ia kira, Liu Chen akan bertahun tahun terjebak dalam cerita buatannya. Ternyata tidak.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganku?" ucap Liu Chen dengan penasaran.


Zhang Jiangwu mulai menjelaskan bahwa ia memiliki senjata tingkat langit, pena keajaiban cerita. Dia juga mengatakan bagaimana cara kerja dari senjata itu. Liu Chen tiba di seuatu tempat yang tidak dikenal karna Liu Chen masuk ke dalam cerita miliknya.


Liu Chen mengangguk paham. "Lalu, berapa lama aku terjebak di dalam ceritamu itu?"


"5 bulan" ucap Zhang Jiangwu dengan tenang.


Liu Chen terkejut, "Li- lima bulan?! Kenapa aku bisa selama itu terjebak disana?!"


Liu Chen memang merasa 5 bulan terjebak di dalam cerita. Namun, ia tak menyangka ternyata waktu di dunia nyata sama dengan yang berada di dalam cerita.


"Lain kali, aku tak ingin memegang buku milikmu lagi. Sudah cukup dengan ini" ucap Liu Chen.


Zhang Jiangwu menggelengkan kepala. Ia menjelaskan bahwa semua anggota tidak melihat Liu Chen sama sekali. Biasanya mereka bertemu dengannya, walaupun hanya clone. Itupun tanpa mereka ketahui bahwa Liu Chen yang mereka temui hanya clone.


Karna mereka tidak melihat Liu Chen sama sekali, Lu Tuoli dan Feng Ying mengubah pelatihan mereka. Sehingga Liu Chen tidak lagi menjadi target pelatihan yang dilakukan kedua divisi itu.


Mendengar hal tersebut, Liu Chen menghela nafas. "Huft.. Akhirnya mereka tidak mencariku lagi. Kalau begitu, aku bisa keluar seka..."


Liu Chen tidak melanjutkan ucapannya. Karna tiba tiba terjadi goncangan. Goncangan hanya terjadi beberapa saat saja. "Apa yang terjadi?"


Bukan hanya dia dan Zhang Jiangwu saja yang merasakan goncangan. Namun beberapa orang juga merasakan adanya goncangan. Mereka segera pergi ke asal goncangan berada. Begitupun Liu Chen dan Zhang Jiangwu.


Ternyata, asal goncangan terjadi, tidak jauh dari kamar Zhang Jiangwu. Jadi mereka sampai lebih cepat.


Liu Chen terkejut dengan apa yang dilihatnya. Kamar miliknya menghilang?! Tidak, bukan. Tetapi ruangannya masuk ke dalam tanah dan nampak tergenang oleh air.


Hal ini disebabkan karna es yang mencair. Cairan dari es juga banyak hingga memenuhi ruang persembunyian Liu Chen dan membuat tanah di atas permukaan semakin melunak seperti lumpur. Akhirnya, tanah pun ambles ke bawah. Itu hanya terjadi pada kamar Liu Chen saja.


Walaupun kamar Zhang Jiangwu merupakan jalur menuju tempat persembunyian Liu Chen, namun jalur untuk jalan kesana tidak luas dan cukup sempit. Jadi kamar Zhang Jiangwu tidak ikut masuk semakin dalam ke tanah.


Beberapa orang yang baru saja sampai di tempat kejadian ikut terkejut dengan apa yang ada di hadapan mereka.


"Kamar- ku" ucap Liu Chen dengan tak berdaya.


Mendengar suara Liu Chen, para anggota yang ada disana langsung menatap pemuda itu. Mereka terkejut karna melihat adanya Liu Chen disana. Padahal selama 5 bulan ini, mereka tak melihat pemuda itu berada di markas.


"Akh! Sialan! Kamarku hancur!", kesal Liu Chen.


Liu Chen nampak kesal karna baru saja dia dapat keluar dari sebuah cerita, kini masalah datang lagi.


"Sejak kapan ketua Xun ada disini?"


"Ketua Xun, kau kemana saja?"


"Sabar ketua Xun. Anda bisa pindah ke kamar lain"


"Sabar, ya? Ketua Xun"


Berbagai suara dilontarkan para anggota itu. Mereka menatap Liu Chen dengan berbagai ekspresi, bingung, penasaran, kasihan dan berbagai ekspresi lainnya. Orang orang ini dari divisi pertahanan dan penyerang.

__ADS_1


Selama 3 bulan ini, Jenderal Xi Wang dan Jenderal Lin Tian tidak ingin mengajari mereka. Karna kedua Jenderal itu fokus mencari Liu Chen. Mereka cemas dengan keadaan Liu Chen. Sehingga orang orang dari divisi pertahanan dan penyerang tidak memiliki jadwal. Jadi mereka bisa bebas pergi ke segala sudut markas.


Satu minggu kemudian, kini Liu Chen sudah pindah ke kamar lain. Begitupun Zhang Jiangwu. Walaupun kamarnya tidak rusak seperti kamar Liu Chen, namun ia tidak mau bila kamarnya ikut ikutan ambles seperti kamar Liu Chen. Karna kamarnya berada di samping kamar Liu Chen, ada kemungkinan retakan bertambah. Jadi iapun pindah.


Kamar milik Liu Chen kini diurus oleh para pengendali tanah. Hanya ada sedikit orang dengan elemen tanah. Mereka 'lah yang akan memperbaiki kamar rusak milik Liu Chen.


Jenderal Xi Wang dan Jenderal Lin Tian yang mendengar bahwa Liu Chen telah kembali, langsung bernafas lega. Untung saja tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada pangeran mereka.


Liu Chen membuka matanya perlahan. Ia saat ini berada di kamar barunya. Liu Chen berjalan kearah kamar mandi dan langsung membersihkan diri. Setelah selesai, ia langsung keluar dari kamar.


Di luar, nampak Jenderal Xi Wang dan Jenderal Lin Tian yang berjaga. Mereka memang akan menjaga kamar Liu Chen dan mengikuti Liu Chen bila mereka sudah selesai melatih anggota kelompok.


"Anda sudah bangun pangeran" ucap Jenderal Xi Wang.


"Mn", Liu Chen membalas dengan gumaman pelan.


"Ketua Xun!" ucap sebuah suara.


Liu Chen melirik ke asal suara. Dia dapat melihat Song Quon berjalan ke arahnya.


"Ada apa?" ucap Liu Chen.


"Apa aku harus memiliki alasan untuk bertemu denganmu?", Song Quon tersenyum.


"Hah.. Tidak juga"


"Kenapa kau terlihat sangat lemas seperti itu? Apa kau sakit?", Song Quon mengerutkan keningnya. Dia dapat melihat bahwa Liu Chen nampak lemas.


"Aku hanya lelah karna membuat banyak pil dari beberapa hari lalu sampai sekarang. Kau tau bukan? Bila lima bulan ini kita tidak mengirimkan pil ke Asosiasi Bulan Perak. Jadi aku harus membuat lebih banyak pil" ucap Liu Chen dengan lelah.


"Kalau begitu, bagaimana bila kita berjalan jalan di kota saja? Mungkin kau akan menjadi lebih bersemangat" ucap Song Quon.


"Entahlah, aku sangat lelah"


"Kau ikut saja", Song Quon memegang tangan Liu Chen. Ia melirik kearah kedua Jenderal yang ada di belakang Liu Chen. "Aku pinjam dia sebentar. Kalian tenang saja, aku akan menjaganya", Song Quon langsung menarik Liu Chen.


"E.. Eh? Baiklah. Kalian pergi saja. Jangan mengikutiku" ucap Liu Chen.


"Tapi kami harus mengikuti pangeran agar kami dapat menjamin keamanan anda", Jenderal Lin Tian langsung menyusul Liu Chen. Begitupun Jenderal Xi Wang.


Liu Chen menghembuskan nafas pasrah, "Terserah kalian saja. Asalkan kalian tidak mengangguku"


"Sepertinya sangat menyenangkan, ya? Menjadi pangeran?", Song Quon melirik Liu Chen dan tersenyum.


"Huh, menjadi pangeran itu merepotkan kau tau? Aku tak bisa bebas dari pengawalan", Liu Chen mendengus kesal.


"Tapi ini demi keselamatan anda, pangeran" ucap Lin Tian.


"Iya.. Iya!"


Song Quon tersenyum melihat wajah Liu Chen yang nampak kesal. Ia tau bila kedua orang yang mengikuti Liu Chen adalah Jenderal iblis. Karna ia diberitau oleh Liu Chen. Ia juga bahkan diberi tau identitas dari Liu Chen.


"Huh? Qiang, mengapa tanganmu agak dingin?", Liu Chen mengerutkan kening dan menatap Song Quon. Tangannya masih dipegang oleh pemuda di sampingnya.


Song Quon langsung melepaskan pegangan tangannya dari Liu Chen. Iapun tersenyum kearah temannya itu, "Aku hanya kedinginan saja. Jangan khawatirkan aku"


"Tapi aku tidak merasa kedinginan sama sekali"


"Mungkin karna kau memiliki elemen api atau es. Jadi kau tidak merasa kedinginan"


"Tapi-"


"Sudahlah jangan dipikirkan, itu tudak penting", Song Quon menatap kearah depan seakan menghindari tatapan Liu Chen.


Liu Chen hanya mengangguk, "Baiklah"


Mereka pergi ke kota terdekat. Ya, dimana lagi bila bukan kota Biru?


Mereka melihat lihat sekitar.


"Sudah cukup lama aku tidak kemari" ucap Liu Chen.


Song Quon mengangguk, "Aku juga sudah lama tidak kemari. Kau kemana saja selama 5 bulan ini?"


"Ahaha itu.. Nanti kujelaskan", Liu Chen tertawa canggung.


Song Quon mengangguk.


"Hei, berhenti disitu pencuri" teriak sebuah suara. Suara itu terdengar beberapa meter di depan Liu Chen dan Song Quon berada.


Liu Chen dan yang lain menatap kearah suara. Lalu, tak lama seseorang berlari kearah mereka. Tepatnya kesamping Liu Chen berniat melewatinya. Namun, Liu Chen segera mencengkram tangan orang itu.

__ADS_1


"Haha, berhenti disana. Kau tak bisa lari lagi"


Orang itu adalah seorang pemuda yang terlihat berumur 20 tahun. Pemuda itu melihat kearah belakang. Ketika melihat orang orang yang mengejarnya semakin dekat, dia menatap kearah tangannya yang dicengkram. Iapun berusaha lepas. Namun ia tidak bisa melepaskan cengkraman kuat itu. "Lepaskan aku!"


__ADS_2