Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
37 -Cheng Gong


__ADS_3

Disebuah hutan yang luas, nampak seorang pemuda duduk sambil bersandar disebuah pohon. "Sial, sekarang aku dikejar kejar oleh iblis iblis itu. Kenapa dia tidak ada didunia ini?! Seharusnya dia ada disini. Apa dia sudah keluar dari dunia iblis ini?" gumam nya.


Pemuda itu adalah Han Liangyi, salah satu teman Liu Chen. Ia pernah pergi bersama Liu Chen dan Song Quon pergi ke istana iblis. Namun yang terjadi, ia terjebak di dunia iblis. Sekarang para iblis mengejarnya karna merasa Han Liangyi membohongi mereka tentang reinkarnasi pangeran iblis. Sekarang Han Liangyi menjadi buronan di dunia ras iblis.


"Sial, sial, sial. Kenapa harus seperti ini?! Sebaiknya aku segera keluar dari dunia ini, tapi bagaimana caranya? Grrhh", Han Liangyi menggertakkan giginya dengan kesal.


Disebuah ruangan yang luas, Liu Chen nampak berdiri di tengah tengah ruangan. Ia melihat kesekelilingnya. "Ini kamar untukku? Besar sekali. Aku tidak pernah tinggal ditempat sebesar ini" gumamnya.


Ketika ia dan teman temannya datang, mereka diantarkan pada ruangan masing masing. Untuk ketua dan wakil ketua, kamar sendiri. Sementara anggota lain dalam kamar akan ada 4 orang.


Seperti Wu Anming dan Wu Xianlun, mereka akan sekamar dengan tiga orang lainnya.


Setiap kamar wanita dan pria terdapat ditempat yang berjauhan. Bukan hanya ada kamar kamar saja yang banyak, namun ada juga tempat latihan yang luas, disebuah ruangan. Ada juga sebuah tanaman dalam ruangan, tempat itu adalah taman bunga. Ada juga pemandian air panas, yang tentunya ada dua macam. Untuk wanita dan pria.


Sementara saat itu, Song Quon nampak memperhatikan sekeliling. Dia cukup takjub karna kamar yang ditempatinya luas. "Tempat ini memang sangat besar dan luas" gumamnya.


"Bagaimana perkembangan anak itu?" ucap sebuah suara yang terdengar dikepala Song Quon.


"Perkembangannya cukup baik. Namun dia masih terlalu lemah untuk saat ini" ucap Song Quon kepada sebuah suara yang terdengar dikepalanya.


"Tidak perlu terburu buru. Kita juga belum mendapatkan petunjuk apapun. Kau hanya perlu mengawasinya untuk saat ini"


"Saya mengerti, Tuan"


Suara yang berada dikepala Song Quon pun tidak lagi terdengar.


Song Quon menatap kearah luar jendela dengan datar, "Sebaiknya aku tidak terlalu dekat dengannya. Jika tidak, maka aku akan merasa ragu"


Wu Anming nampak berjalan jalan diluar. Ia terus saja terkagum kagum dengan apa yang dilihatnya. "Ini sangat menakjubkan. Kira kira siapa yang akan menjadi teman sekamarku nanti, ya?" ucapnya dengan semangat.


Ia berjalan di koridor luar. Dibagian samping kiri koridor terdapat pilar pilar yang kokoh berdiri. Ketika melihat ke bagian kiri, maka akan langsung terlihat bagian halaman yang luas. Dengan adanya beberapa tanaman bercahaya. Juga adanya air mancur yang cukup besar ditengah tengahnya.


Ketika Wu Anming tidak fokus berjalan karna fikirannya, iapun tak sengaja menabrak seseorang. Ketika menabrak orang itu, Wu Anming pun langsung terjatuh.


"Aduh", Wu Anming mengucap usap pantatnya yang terasa agak sakit karna mengenai lantai. Iapun menengadah keatas dan melihat siapa orang yang ditabraknya.


Orang itu adalah seorang pemuda dengan tatapan dingin. Pemuda itu menatap kearah Wu Anming yang terjatuh, namun tak menolongnya sama sekali.


"Ma-maafkan aku. Aku tak sengaja menabrakmu tadi", Wu Anming perlahan berdiri dan berniat menjabat tangan pemuda dengan tatapan dingin itu.


Namun, pemuda itu mengacuhkannya. Pemuda tersebut langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Bahkan tatapannya tidak berubah sama sekali.


Wu Anming berbalik dan melihat pemuda yang ditabraknya, pemuda itu terus berjalan kearah yang berbeda dengan arah jalan yang dituju nya.


"Sebaiknya aku lebih berhati hati saat berjalan, agar tidak menabrak orang lagi" gumam Wu Anming. Iapun kembali melanjutkan jalannya.


"Ternyata Xian sialan itu dapat membuat markas yang hebat juga" ucap seorang wanita yang sangat cantik. Disampingnya, berjalan seorang wanita yang tidak kalah cantik dengannya.


Wanita yang berbicara itu adalah Yang Jia Li. Salah satu ketua dari kelompok topeng bayangan dan merupakan anak dari kaisar. Ia cukup sulit meminta izin untuk keluar. Karna ayahnya melarang dia untuk keluar sendiri. Jadi, dia keluar secara diam diam.


Wanita disamping Yang Jia Li merupakan wakilnya. Sekaligus teman dekatnya yang tidak terlalu lama ia kenal. Wanita itu bernama Chan Juan.


"Hanya saja, dia sangat menjengkelkan. Kenapa aku menjadi ketua keempat?! Dia bahkan tidak mendiskusikan tentang ini denganku dan dua orang itu!", kesal Yang Jia Li.


"Anda tenang saja ketua Xinxin, itu hanyalah sebutan saja. Jangan difikirkan" ucap Chan Juan mencoba menenangkan wanita disampingnya ini.


Saat Yang Jia Li, Zong Xian, Liu Chen maupun Zhang Jiangwu dan anggota lainnya berada di markas, maka mereka harus memanggil dengan nama samaran. Itulah aturan yang sudah diputuskan oleh keempat ketua kelompok ini.


"Huft..kau ada benarnya juga", Yang Jia Li/ Xinxin mengangguk.


Iapun pergi ke sebuah taman bunga yang ada tak jauh dari tempat air mancur. Disana, tumbuh berbagai bunga yang indah.


Yang Jia Li dan Chan Juan duduk berhadapan di taman itu. "Tempat ini memang bagus. Dia juga bilang bahwa disini ada tempat latihan. Seperti apa ya kira kira?" gumam Yang Jia Li.


Semua anggota dari Zong Xian sudah mengetahui siapa saja empat ketua dalam kelompok. Jadi, walaupun Yang Jia Li terlihat sangat cantik, namun semua anggota pria tidak ada yang berani mengganggu wanita itu.


Berbeda dengan anggota Zong Xian, anggota dari Liu Chen, Yang Jia Li dan Zhang Jiangwu, tidak ada yang mengetahui ketiga ketua lainnya atau mungkin dua ketua lainnya. Mereka hanya mengetahui satu hingga dua ketua. Namun ada juga yang mengetahuinya tiga ketua.


"Kakak dimana, ya? Tempat ini sangat luas" ucap seorang wanita yang berjalan menuju taman dimana Yang Jia Li berada disana. Wanita itu adalah Wu Xianlun.


"Maaf, sepertinya aku mengganggu kalian. Aku akan pergi saja", ketika melihat dua orang wanita yang nampak sedang mengobrol di taman yang dituju olehnya, Wu Xianlun merasa dirinya menjadi pengganggu.


"Tidak apa, kemarilah. Kau memang ingin datang kemari bukan?" ucap Yang Jia Li.

__ADS_1


Wu Xianlun berbalik dan menatap wanita yang berbicara padanya, "Ah, tidak apa. Aku hanya sedang mencari kakakku"


"Oh, baiklah. Lalu siapa namamu?" ucap Yang Jia Li.


"Nama samaranku Hua" ucap Wu Xianlun.


"Katakan saja nama aslimu"


"Nama asliku adalah Wu Xianlun"


"Salam kenal. Nama samaranku XinXin. Sementara nama asliku adalah Yang Jia Li"


Wu Xianlun nampak terkejut mendengarnya. Iapun langsung membungkukkan badan, "Maafkan saya. Saya tak mengenali putri kaisar dan ketua"


Yang Jia Li langsung tertawa pelan, "Tak apa. Jangan terlalu kaku seperti itu"


"Um..baik", Wu Xinlun kembali berdiri tegak. "Kalau begitu, saya permisi ketua Xinxin"


"Baiklah"


Wu Xianlun pun langsung pergi dari sana untuk kembali mencari kakaknya.


Song Quon nampak berjalan di koridor luar. "Tempat ini sangat luas" gumam nya.


Ada beberapa orang yang nampak berpapasan dengannya. Baik wanita maupun pria.


"Mereka semua terlalu lemah untuk melawan ras iblis. Tapi aku tidak peduli. Lagi pula, mereka takkan melawan ras iblis nanti saat kaisar iblis bangkit" batin Song Quon.


"Hoi, hoi, bukankah dia adalah wakil ketua kedua?"


"Ya, aku mengetahuinya dari ketua pertama. Tapi bukankah dia terlalu lemah untuk menjadi wakil?"


Song Quon berhenti di jarak beberapa meter dari dua orang yang ada dihadapannya saat ini. Ia tau siapa orang yang dimaksud kedua orang itu, tentunya itu adalah dirinya.


"Kau benar, menurutku dia tidak pantas menjadi wakil ketua sama sekali. Bahkan kekuatanku jauh lebih tinggi dari orang itu" ucap seorang pria dengan nada mengejek.


Orang dismpingnya mengangguk, "Um..benar, benar. Kau yang lebih pantas menjadi wakil ketua. Karna memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari orang itu. Tapi kenapa harus dia yang dipilih?"


Yang dapat mereka berdua lihat saat ini, kekuatan Song Quon hanya berada ditingkat master. Jadi mereka menganggap Song Quon lemah dan tidak pantas menjadi wakil ketua.


"Kau berani denganku, ya? Sadarlah, kekuatanmu berada dibawahku. Kau akan langsung mati hanya dengan beberapa pukulan. Hm? Sepertinya aku harus memberimu pelajaran terlebih dahulu", ucap pria yang nampak berusia 30 tahunan itu.


"Kau benar, Bing. Dia harus diberi pelajaran agar sadar seberapa lemah kekuatan miliknya dan tentunya dia takkan bisa melawanmu. Jadi dia tak boleh berani padamu" ucap pria disampingnya.


Pria yang nampak berusia 30 tahunan itu bernama Cheng Gong. Dengan nama samaran Bing. Ia berada ditingkat grandmaster bintang 5.


"Cih, dasar lemah. Berani melawanku. Jangan kira karna kau wakil ketua, aku takkan berani padamu. Aku akan memberikan beberapa pelajaran" ucap Cheng Gong dengan sinis.


"Orang lemah memang banyak bicara" ucap Song Quon dengan nada datarnya.


"Apa kau bilang?!"


"Lebih baik aku buktikan siapa yang lemah!", sebuah suara terdengar dibelakang Cheng Gong.


Mendengar suara yang sangat dekat dengannya dari arah belakang, Cheng Gong ingin menengok ke belakangnya. Namun ia segera terlempar, begitupun teman disampingnya.


Song Quon berdiri ditempat Cheng Gong berdiri sebelumnya.


"Ba-bagaimana kau bisa secepat itu?!" ucap Cheng Gong yang sudah berdiri tegak kembali. Ia terkejut saat melihat pergerakan wakil ketua kedua yang sangat cepat.


"Tidak ada gunanya berurusan dengan orang lemah sepertimu, yang hanya bisa banyak bicara tanpa membuktikannya" ucap Song Quon. Iapun mulai berjalan menjauh meninggalkan kedua orang yang kini masih terdiam.


"Bagaimana orang lemah sepertimu bisa mengalahkanku?!" teriak Cheng Gong dengan kesal.


"Bukan aku yang lemah, tapi kau lah yang lemah!" ucap Song Quon tanpa berbalik dan tanpa menghentikan jalannya.


Cheng Gong menggertakkan giginya karna dikatakan lemah. Iapun berlari kearah Song Quon dan berniat memukulnya. "Hiiaa!"


Song Quon langsung menghilang dari tempatnya berada. Seketika itu juga, Cheng Gong berdiri mematung.


Song Quon kini berada dibelakang pemuda itu. "Kau sekarang tau bukan, siapa yang lemah diantara kita?" bisik Song Quon.


Ia mengeluarkan auranya hingga tingkat kaisar bintang 3 dan membuat Cheng Gong tak bisa bergerak. Bahkan kaki pria itu nampak bergetar. Aura yang Song Quon lepaskan hanya bisa dirasakan oleh Cheng Gong. Sehingga teman dari pria itu tak mengetahui apapun tentang alasan Cheng Gong yang hanya diam mematung.

__ADS_1


"Sebaiknya kau tidak memberitaukan apapun tentang ini pada siapapun. Bila kau mengatakannya, maka kau akan tau akibatnya" bisik Song Quon. Iapun langsung menghilangkan aura nya dan langsung pergi tanpa Cheng Gong maupun temannya ketahui kapan perginya Song Quon.


Teman Cheng Gong langsung berlari kearah Cheng Gong.


Cheng Gong nampak berlutut dan nafasnya agak tidak beraturan. "Sebaiknya aku tidak mengganggunya"


"Apa kau baik baik saja? Ada apa denganmu?"


"Aku baik baik saja. Sebaiknya tidak perlu dipikirkan lagi. Kita pergi sekarang dan jangan mengganggu wakil ketua kedua" ucap Cheng Gong.


Temannya langsung menatap aneh Cheng Gong. "Kenapa kau tiba tiba-"


"Jangan membahas ini lagi, kita pergi sekarang!", potong Cheng Gong.


Song Quon berjalan jalan di koridor luar. "Cih, dasar mengganggu. Rasanya ingin kusingkirkan mereka. Tapi aku harus menahan keinginn itu, karna tak mungkin aku membunuh mereka disini"


Ketika ia sedang berjalan jalan, terdengar suara yang keras disebuah ruangan. "Semua anggota kelompok diharapkan semua berkumpul di aula pertemuan. Tak terkecuali"


Mendengar hal itu, Song Quon berhenti berjalan. "Memangnya dimana aula pertemuan itu?" gumamnya. Iapun melihat beberapa orang yang nampak berlari menuju suatu tempat.


"Aku ikuti saja mereka", Song Quon pun langsung mengikuti rombongan itu dari belakang.


Ketika sampai, Song Quon dapat melihat sebuah ruangan yang amat luas dengan beberapa orang di dalamnya. "Sepertinya ini adalah aula pertemuan yang dimaksud" gumamnya.


Aula itu memiliki ruangan yang sangat luas. Dengan dibagian depan terdapat permukan lantai yang lebih tinggi, hingga orang yang berdiri diatasnya bisa dilihat semua yang ada dibawah.


Di bagian permukaan lantai yang lebih tinggi, terdapat empat orang berdiri diatasnya. Mereka berempat tentunya adalah empat ketua kelompok.


Lama kelamaan, orang yang masuk ke dalam aula pertemuan semakin bertambah hingga jumlahnya sampai ratusan.


"Sepertinya sudah semua" gumam Zong Xian atau Haocun.


"Sepertinya semua anggota sudah berkumpul disini. Kalau begitu, mari kita mulai"


Semuanya bingung dengan apa yang Zong Xian ucapkan. Namun tidak ada yang berani bertanya maupun berisik. Mereka tau, keempat orang yang ada dihadapan mereka saat ini memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari mereka. Walaupun keempat orang ini menyembunyikan kekuatan sebenarnya.


Zong Xian melirik kearah samping. Dimana ketiga ketua ada disana.


Liu Chen dan Zhang Jiangwu mengangguk. Mereka mengulurkan satu tangan ke depan dada dengan telapak tangan menghadap keatas. Seketika ditelapak tangan Liu Chen terdapat api, namun api itu nampak membentuk sebuah tulisan.


Sementara diatas telapak tangan Zhang Jiangwu muncul sebuah topan kecil, namun itu juga langsung membentuk sebuah tulisan.


Keduanya langsung mengulurkan tangan kesamping. Liu Chen ke kanan memakai tangan kanan, Zhang Jiangwu ke kiri dengan memakai tangan kiri.


Tangan Liu Chen dan Zhang Jiangwu hampir bersentuhan. Kedua elemen berbeda yang ada diatas tangan mereka seketika bersatu dan membentuk sebuah tulisan yang sama ketika elemen itu belum bergabung. Mereka berdua langsung mengayunkan tangan keatas.


Seketika, tulisan itu langsung meledak saat berada di udara. Setelah meledaknya tulisan itu, pecahan pecahan cahaya berjatuhan kearah para anggota kelompok.


Semua cahaya mengenai tangan para anggota dan menghilang begitu saja. Semua anggota yang melihatnya menjadi takjub, mereka menatap tangan sendiri.


Saat melihat telapak tangan, mereka terkejut ketika melihat sebuah tanda api berwarna putih.


"Apa ini?" ucap orang orang.


"Tanda yang ada ditelapak tangan kalian adalah sebuah segel kesetiaan. Jika kalian berkhianat pada kelompok, maka warna dari api itu akan berubah warna menjadi hitam. Juga, tubuh kalian akan meledak. Jadi sebaiknya kalian tidak berfikiran untuk berkhianat", Zong Xian tersenyum.


Semua orang kembali terkejut mendengar penjelasan dari Zong Xian. Seketika semua anggota tidak ada yang berani berkhianat pada kelompok. Karna resikonya adalah kematian bagi diri sendiri.


______________________________


Nama samaran:


Liu Chen\= Xun


Zhang Jiangwu\= Guang


Yang Jia Li\= Xinxin


Zong Xian\= Haoucun


Song Quon\= Qiang


Wu Xianlun\= Hua

__ADS_1


Wu Anming\= Yong


Cheng Gong\= Bing


__ADS_2