Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
92 -Sadar


__ADS_3

92 -Sadar


Berjam jam Song Quon dan Liu Chen bertarung di udara. Hingga akhirnya kini pertarungan mereka telah selesai. Liu Chen tergeletak di tanah tak sadarkan diri dengan luka luka di tubuhnya.


Sementara Song Quon berdiri di samping Liu Chen yang terbaring. Ia juga mendapatkan banyak luka karna pertarungan yang dilakukan tadi.


Daerah sekitar rusak parah. Kini tanah sudah menjadi cekungan besar. Daerah lainnya yang sempat menjadi tempat pertarungan juga rusak sangat parah. Kini tidak ada tanaman sama sekali di sekitar yang tumbuh. Di beberapa titik tempat, tanah retak dan menjadi sebuah jurang yang cukup dalam.


Nafas Song Quon tersengga sengga. Iris matanya yang berwarna kuning keemasan berubah kembali menjadi warna biru. Lalu, pupil matanya juga kembali seperti semula. Tubuh Song Quon langsung jatuh ke tanah dengan wajah menghadap langit. "Hah.. Hah.. Hah.."


"Terimakasih..Tuan" batin Song Quon.


Song Quon melirik ke arah Liu Chen yang terbaring pingsan di sampingnya. "Sebenarnya.. Apa yang terjadi.. Dengannya.. Tadi?"


Setelah belasan menit, Han Liangyi dan Tao Mu datang menghampiri Song Quon. Mereka terkejut melihat keadaan Liu Chen dan Song Quon. Banyak darah di tubuh kedua pemuda itu.


"Apa yang terjadi?", To Mu langsung pergi menuju Liu Chen dan memeriksa keadaannya.


Sementara Han Liangyi langsung membantu Song Quon yang ingin mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menatap kearah Song Quon, "Apa dua kilatan cahaya yang terjadi tadi akibat ulah kalian?"


Song Quon mengangguk, "Chen sulit dikalahkan saat tadi. Ia tidak seperti biasanya," kini nafasnya sudah mulai stabil kembali.


"Jadi itu memang benar benar kalian? Tapi dampaknya bagi sekitar sangat parah. Juga, tekanan yang kalian keluarkan tadi sangatlah kuat" ucap Han Liangyi.


"Begitukah? Mungkin karna aku terlalu fokus untuk menyadarkan Chen, aku tidak sadar bahwa kemampuanku meningkat. Mungkin seperti itu," Song Quon tertawa canggung.


"Kita harus bagaimana? Sekarang pangeran pingsan. Kita juga tidak tahu jalan keluar dari sini" ucap Tao Mu.


Han Liangyi dan Song Quon langsung menatap ke arah suara. "Mau tak mau kita akan tinggal di istana yang sebagian rusak itu. Lagi pula, dari pada beristirahat di tempat terbuka, lebih baik di istana yang sudah rusak itu" ucap Han Liangyi.


"Apa itu akan baik baik saja? Lagi pula, bangunan itu sudah runtuh. Bagaimana bila ada bangunan yang atapnya runtuh dan lalu jatuh menimpa pangeran?", Tao Mu menatap Han Liangyi dengan ragu. Begitupun Song Quon.


Han Liangyi melambaikan tangannya, "Tenang saja.. Bahan bahan bangunan itu adalah bahan terbaik dan kuat. Namun karna pertarungan Quon dan Chen saja yang menyebabkan istana rusak."


Song Quon mengangguk, "Yasudah, aku setuju saja untuk kita tinggal sementara di istana."

__ADS_1


Han Liangyi tersenyum lebar, iapun menepuk pundak Song Quon, "Nah begitu. Ini baru temanku."


Song Quon menyingkirkan tangan Han Liangyi dari pundaknya, "Huh, siapa yang ingin jadi temanmu?" ucapnya sambil mendengus.


"H-hei, kita sudah melewati berbagai kejadian bersama, hari bersama dan banyak hal hal bersama. Tapi kau tidak juga menganggapku teman?" ucap Han Liangyi.


Song Quon tidak menjawab. Ia langsung menemui Tao Mu untuk membantunya membawa Liu Chen. "Biarkan saja Liangyi di sini. Kita harus segera pergi ke istana itu."


Tao Mu mengangguk. Ia dan Song Quon langsung pergi dan membawa Liu Chen. Kini hanya ada Han Liangyi di sana. Ia menggembungkan pipinya kesal, "Kenapa aku selalu ditinggalkan dan tak diacuhkan? Huh," akhirnya Han Liangyi mengikuti Tao Mu dan Song Quon.


***


Beberapa minggu telah berlalu. Namun Liu Chen belum juga sadar. Hal ini membuat Tao Mu cemas dengan konsinya. Bukan hanya Tao Mu, tapi Song Quon juga sangat cemas dengan keadaan Liu Chen. Lagi pula, dia sudah menganggap Liu Chen seperti sahabatnya.


Han Liangyi sebenarnya khawatir juga. Namun ia tidak menunjukkan kekhawatiran itu. Ia hanya terus membersihkan lingkungan sekitarnya.


Setelah satu bulan berlalu, akhirnya Liu Chen mulai membuka mata. Awalnya pandangannya buram. Namun perlahan menjadi jelas. Iapun melirik ke arah sekitar. Namun tak ada siapa siapa.


"Aku.. Dimana?" gumamnya.


"Apa yang terjadi Quon?" Liu Chen berniat mengubah posisinya menjadi duduk. Iapun dibantu oleh Song Quon.


Song Quon mulai bercerita dengan apa yang terjadi pada Liu Chen dan di mana pemuda itu berada saat ini. Mendengar penjelasan Song Quon, Liu Chen mengangguk paham.


"Kita tidak tahu bagaimana cara keluar dari si-"


"Quon! Ayo cepat kemari!" ucap sebuah suara. Suaranya terdengar seperti milik Han Liangyi.


Song Quon menatap ke arah Liu Chen, "Aku akan pergi dulu menemuinya dan menanyakan apa yang terjadi. Kau tunggu di sini dan pulihkan dirimu terlebih dahulu."


Liu Chen mengangguk. Setelah mendapat angguka Liu Chen, Song Quon segera pergi menuju ke arah Han Liangyi berada.


Di bagian istana yang rusak, Han Liangyi berdiri. Bukan hanya ada pemuda itu. Namun ada juga Tao Mu. Mereka nampak seperti memperhatikan sesuatu.


Song Quon pun akhirnya sampai di depan mereka. "Ada apa? Kenapa memanggilku?"

__ADS_1


Han Liangyi menunjukkan sebuah kalung di tangannya yang berbentuk kunci. "Ini adalah kunci jalan keluar kita. Aku juga sudah menemukan dimana pintu itu. Kini kita hanya perlu menunggu Chen sadar."


"Dimana kau menemukan kalung ini?" ucap Song Quon.


"Saat aku membersihkan lingkungan di tempat ini, aku menyadari bahwa di sini ada pelindung tak terlihat yang membuat kita tidak bisa keluar dari sini. Lalu, aku pun menemukan kalung kunci ini di dekat pohon yang sudah tumbang. Sementara pintu itu aku temukan di sebuah titik penghalang tak terlihat. Jadi kita bisa pulang, bila Chen sudah sadar" jelas Han Liangyi.


Song Quon mengangguk, iapun berbicara dengan santai. "Chen sudah sadar. Sekarang kita hanya perlu menunggunya memulihkan diri terlebih dahulu."


"Apa pangeran baik baik saja?" ucap Tao Mu.


"Ya, begitulah" ucap Song Quon.


"Permintaanku terwujud" batin Tao Mu.


"Kalau begitu, aku akan menemui pangeran dan memeriksa keadaannya, " Tao Mu langsung pergi menuju ruangan di mana Liu Chen berada.


Han Liangyi memandang kepergian Tao Mu. Iapun menatap Song Quon, "Kapan dia sadar?"


"Mungkin saat aku akan pergi ke ruangannya," Song Quon langsung pergi menyusul Tao Mu. Melihat hal itu, Han Liangyi akhirnya juga ikut pergi menemui Liu Chen.


***


Seminggu setelah kejadian itu, Liu Chen, Song Quon, Han Liangyi dan Tao Mu saat ini ada di istana iblis.


Sekarang ini Liu Chen dilarang pergi dari istana iblis selama 1 bulan dan sekarang baru saja beberapa hari. Liu Chen dilarang keluar setelah Kaisar mendengar cerita dari Tao Mu.


Kaisar sendiri tidak menghukum Tao Mu setelah apa yang terjadi. Ia malah berterimakasih karna iblis itu mau menceritakan kejadian Liu Chen padanya.


Liu Chen sendiri lupa untuk mengatakan pada Tao Mu agar kejadian di hutan kabut darah tidak diceritakan pada Kaisar. Jadi ia harus berada di istana selama sebulan. Itu sebagai hukuman.


Han Liangyi dan Song Quon ikut bersama Liu Chen di istana. Karna bagaimanapun, tidak mungkin mereka pergi tanpa pemuda itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mulai dari chapter ini, sampai seterusnya jumlah kata 1.000+. Ini karna mood, ide, tugas sekolah dan author yang harus bikin cerita di novel ke-2. Jadi maaf sekarang hanya bisa mengupload 1.000+ kata 🙏

__ADS_1


Terimakasih yang selalu mendukung dan mengikuti terus alur cerita novel 'Kelompok topeng bayangan'. Semua dukungan yang kalian berikan sangat berarti bagi author ^_^


__ADS_2