
Sekarang adalah waktu istirahat bagi anggota divisi penyerang. Mereka boleh pergi kemana saja. Asalkan jangan keluar markas.
Lao Tzu berniat pergi ke taman dalam ruangan. Karna ia sudah lama tidak kesana. Sehingga ia sudah cukup lama tidak menemui tanaman kecil yang ditemukannya saat itu. Tanaman kecil yang ditemuinya saat itu adalah reinkarnasi sahabatnya. Jadi dia akan mengunjunginya sesekali. Ia hanya pergi sendiri. Karna Wu Anming dan Xing Fu pergi ke ruang makan.
Saat sampai di taman ruang, Lao Tzu terkejut melihat keadaan di sekitarnya. Disana sangat berantakan, tanaman tanaman mati. Tanah tanah retak dan menjadi cekungan.
Lao Tzu segera berlari ke tempat dimana tanaman kecil berada. Saat sampai ia terdiam melihat tanaman yang merupakan reinkarnasi sahabatnya itu mati dan layu. Semua tanaman lain pun memiliki kondisi yang sama. Mereka terlihat sudah layu beberapa hari yang lalu dengan dedaunan yang tercabik cabik.
Semua tanaman di sini, akan disiram setiap satu minggu sekali. Ruangan ini juga dibersihkan di hari yang sama. Jadi tidak ada petugas yang merawat tanaman tau tentang keadaan taman ruangan ini. Karna mereka hanya akan datang setiap satu minggu sekali.
Sementara para anggota sibuk dengan latihan mereka. Jadi tidak ada yang pergi ke taman ruangan ini. Yang mengetahui keadaan disini adalah Lao Tzu dan Kai. Yang mana Kai merupakan pelaku dari rusaknya semua tanaman ini, walau sebenarnya tak disengaja.
"Ti-tidak" gumam Lao Tzu. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia menundukkan kepalanya, "Mu, aku gagal lagi menjagamu. Sudah kedua kalinya aku gagal dan berakhir kehilanganmu lagi. Aku memang tak berguna" gumam nya.
Lao Tzu sebenarnya adalah seorang budak. Begitupun sahabatnya, Tong Mu. Mereka bukanlah budak pada umumnya. Mereka dijadikan budak untuk bahan latihan saja. Bukan hanya Lao Tzu dan Tong Mu saja yang menjadi budak untuk bahan latihan. Namun ada cukup banyak orang yang dijadikan budak. Umur mereka juga masih kecil, sama dengan keduanya ketika saat itu.
Mereka harus menjadi kuat agar tidak mati saat dipilih menjadi lawan tarung 'Tuan' nya. Banyak yang mati karna Tuan itu.
Semua budak akan dilatih oleh beberapa orang pelatih. Itu dilakukan agar mereka dapat menjadi lawan bertarung Tuan, walaupun mereka tetap saja tidak mungkin dapat mengalahkan Tuan itu.
Mereka dilatih sangat keras oleh para pelatih. Bahkan mereka bisa saja tidak makan hingga terkadang mereka kelaparan, ditambah dengan pelatihan keras yang dijalani. Bila ada makanan pun, makanan itu bisa dikatakan tidak layak dan hanya sedikit.
Lao Tzu selalu berlatih keras agar saat dirinya dipilih, ia tidak mati. Ia bertahan hidup dengan berlatih. Pernah ia dipilih oleh beberapa orang untuk menjadi lawan bertarung mereka. Lao Tzu selalu menang saat itu karna ia sering berlatih. Memang, dia dan budak lainnya tidak hanya melawan pemilik mereka. Namun mereka juga selalu melawan orang orang lainnya.
Bila tidak dapat bertahan ketika bertarung dengan orang orang itu, maka mereka akan mati. Karna yang kuatlah yang akan menang, sementara yang lemah hanya akan mati di arena tarung seperti itu.
Para budak bukan hanya dijadikan bahan latihan saja, namun mereka juga sering dijadikan pelampiasan amarah. Hal ini menambah jumlah kematian para budak.
Tong Mu adalah budak yang paling dekat dengan Lao Tzu. Tong Mu juga adalah orang yang baik, ramah dan sabar. Walaupun diperlakukan tidak baik, namun Tong Mu selalu berfikir positif dan tidak terlalu memikirkan perlakuan mereka.
Lao Tzu dulu suka mengacuhkan Tong Mu. Dia kesal karna anak itu selalu saja masih bisa tersenyum, walaupun disaat kesulitan. Anak itu selalu mengajaknya makan. Tong Mu sangat perhatian pada Lao Tzu.
Lao Tzu tak pernah menggubris perlakuan Tong Mu padanya. Yang dipikirkannya saat itu hanyalah berlatih, berlatih dan berlatih agar dapat bertahan hidup.
Hingga ketika suatu saat, Lao Tzu mulai merespon perlakuan Tong Mu padanya. Ia bertanya, mengapa Tong Mu selalu saja tersenyum padahal keadaannya sangatlah sengsara. Tong Mu selalu menjawab bahwa ia selalu tersenyum karna Lao Tzu. Tong Mu merasa bahwa Lao Tzu selalu ada untuknya, padahal ia selalu diacuhkan oleh anak itu.
Lalu alasan lainnya adalah karna ia selalu mempercayai bahwa akan ada hari dimana dia bahagia. Itulah yang membuat Tong Mu selalu optimis dan berpikir positif terhadap keadaan apapun yang dialaminya.
Lama kelamaan, akhirnya Lao Tzu mau mengobrol dengan Tong Mu. Mereka menjadi dekat. Tong Mu memiliki kepribadian yang ceria. Apalagi saat bersama Lao Tzu. (Tong Mu\=laki laki)
Tong Mu belum pernah dipilih sama sekali oleh orang orang untuk dijadikan bahan latihan bertarung mereka. Yang cukup sering adalah Lao Tzu.
Suatu saat, Lao Tzu harus melawan pemilik dirinya. Beberapa kali Lao Tzu menghantam lantai dengan keras dan terkena pukulan telak dari Tuan. Lao Tzu tidak bisa membalas sama sekali. Karna saat itu, kekuatan Tuannya lebih kuat dari pada orang orang yang pernah dilawannya.
Ketika Lao Tzu terbanting ke sekian kalinya, Tong Mu langsung naik keatas arena dan menghalangi Tuan yang ingin menghabisi Lao Tzu. Karna dihalangi oleh Tong Mu, Tuan itu memukul Tong Mu agar menyingkir. Namun bukannya menyingkir, Tong Mu kembali berdiri dan melindungi Lao Tzu.
Lao Tzu saat itu sudah terluka sangat parah. Tong Mu yang terus melindungi Lao Tzu, akhirnya ikut terluka. Bahkan lukanya lebih parah dari pada Lao Tzu. Karna anak itu terus memaksakan dirinya untuk melindungi Lao Tzu.
Beberapa kali Lao Tzu mengatakan agar Tong Mu berhenti melindunginya. Namun tetap saja, anak itu melindunginya.
__ADS_1
Ketika Tuan akan menginjak Tong Mu, banyak orang orang yang datang dan menangkap semua orang yang sudah melakukan penyiksaan terhadap anak kecil, termasuk Tuan itu. Dia ditangkap oleh orang orang dari sekte aliran putih karna tindakannya yang dinilai salah bagi mereka.
Melihat adanya penolong yang datang, Tong Mu menjadi sangat senang. Padahal, dia sudah sangat sekarat karna semua luka luka di tubuhnya.
Lao Tzu meraih tangan Tong Mu yang tergeletak tak jauh dari dirinya terbaring. Lao Tzu disana merasa sangat bersalah, karna untuk melindungi dirinya, Tong Mu menjadi terluka parah. Tapi Tong Mu tetap saja tersenyum disaat seperti itu.
Lao Tzu kembali bertanya kenapa disaat seperti itu, Tong Mu masih saja tersenyum dan jawabannya karna dia senang dapat melindungi satu satunya orang yang disayanginya dan dia senang karna ada banyak orang yang kini menolong mereka. Jadi mereka berdua dapat bebas dari kesengsaraan yang selama ini dihadapi.
Tong Mu mengatakan agar Lao Tzu tetap bertahan hidup. Beberapa orang dari sekte aliran putih itu menghampiri Lao Tzu dan Tong Mu ketika melihat keadaan dua anak itu.
Disaat yang bersamaan, Tong Mu sudah menutup matanya. Lao Tzu langsung panik, orang orang yang akan menolong dia dan Tong Mu pun memeriksa keadaan Tong Mu. Namun sayang, nyawa anak itu tak tertolong. Disaat terakhirnya pun, Tong Mu masih saja dapat tersenyum, senyuman terbaik yang dimilikinya. Tak lama Lao Tzu ikut menutup mata karna keadaannya yang sudah sekarat.
.......
Lao Tzu masih menundukkan kepalanya. Tak lama, setitik air langsung terjatuh mengenai tanah. "Kenapa? Kenapa saat itu kau melindungiku, Mu? Aku sangat tidak berguna. Aku tidak bisa melindungimu. Bahkan saat ini pun, aku tak bisa melindungimu"
Tanpa Lao Tzu sadari, seseorang masuk ke taman ruang. Orang itu terlihat sangat terkejut dengan keadaan sekitar yang sangat berantakan. Iapun melihat adanya Lao Tzu tak jauh dari dirinya berada.
"Jian, siapa yang menghancurkan tempat ini?" ucap orang itu. Ia tak lain adalah Liu Chen. Ia berdiri di samping Lao Tzu dan belum menyadari bila pemuda itu sedang sedih.
Lao Tzu menggelengkan kepala dengan kepala yang masih tertunduk. Ia menghapus beberapa air mata yang tersisa disekitar matanya. Ia tidak mau bila Liu Chen melihatnya menangis seperti ini.
Namun gerakan tangan Lao Tzu yang mengusap mata membuat Liu Chen menyadari ada hal yang aneh. "Ada apa Jian?"
Karna tidak juga mendapat jawaban, Liu Chen memegang dagu Lao Tzu dan mengangkatnya agar dia bisa melihat wajah pemuda itu. Liu Chen berkedip ketika melihat mata Lao Tzu yang nampak agak merah dan terlihat habis menangis. Baru pertama kali ia melihat pria dengan ekspresi dingin seperti Lao Tzu menangis seperti ini. Apa dia tidak salah lihat?
"Tidak ketua Xun, aku baik baik saja. Kalau begitu, aku permisi", Lao Tzu langsung pergi meninggalkan Liu Chen sendiri disana.
Liu Chen menatap punggung Lao Tzu yang semakin menjauh. Iapun menatap kearah sekitar sambil menghela nafas. "Kenapa tempat ini jadi seperti ini? Siapa orang yang sudah merusaknya?", Liu Chen menggelengkan kepala. "Aku akan menyuruh beberapa orang untuk memperbaiki tempat ini"
Ketika Liu Chen sedang diam dan menatap sekitar, tiba tiba Liu Chen menghilang. Di belakang awal tempat Liu Chen berdiri, nampak seorang pria yang menusukkan belati pada udara kosong. Iapun terkejut karna targetnya menghilang. Iapun langsung waspada.
Belum sempat pria itu membalikkan tubuhnya ke belakang, ia sudah tersungkur di tanah dengan wajah mencium permukaan. Belum sempat merespon, pria itu langsung terlempar hingga beberapa meter. Karna Liu Chen menendang tubuh pria itu.
Karna tendangan Liu Chen dan hantaman keras ke tanah, membuat pria itu terluka. Ia juga nampak sudah pingsan.
Liu Chen menghela nafas pasrah, "Haish.. Ini semua karna Gong (Feng Ying). Hidupku jadi tidak tenang. Awalnya aku senang karna aku terbebas dari dua iblis itu. Tapi sekarang? Haish.." gumamnya.
Di belakang Liu Chen, Wu Xianlun berjalan secara perlahan kearah Liu Chen. Ia juga menyembunyikan hawa keberadaannya. Ia langsung mengayunkan belati dengan warna merah cerah dan ukiran mawar kearah Liu Chen. Itu adalah belati yang dibelikan oleh pemuda itu saat di kota Melati.
Sayangnya, serangan Wu Xianlun hanya mengenai udara kosong. Karna Liu Chen sudah menghilang dari sana. Melihat hal itu, Wu Xianlun mempertajam insting miliknya untuk mengetahui arah serangan yang akan dilakukan Liu Chen.
Wu Xianlun menyilangkan tangannya dengan masih memegang belati ke depan dada. Sebuah tendangan mengenai Wu Xianlun dan membuat gadis itu termundur puluhan langkah karna tendangan yang cukup kuat itu. Ia pun terbatuk darah. Namun ia tidak mempedulikannya. Ia menatap ke sekitar dengan waspada.
Liu Chen muncul di belakang Wu Xianlun. Merasa bahwa ada seseorang di belakang, Wu Xianlun membalikkan tubuhnya sambil mengayunkan belati miliknya.
Bongkahan es langsung pecah. Karna yang Wu Xianlun serang hanyalah clone es. "Kemana ketua Xun?" gumam nya. Ia kembali waspada. Namun Liu Chen tidak juga muncul.
Di sebuah tempat yang ditutupi oleh es, Liu Chen nampak berada disana. Itu adalah tempat persembunyiannya saat ini.
__ADS_1
Tempat persembunyian Liu Chen adalah tempat yang terletak di bawah tanah, tepat di bawah tanah kamarnya. Ia membuat ruang bawah tanah beberapa hari lalu dan langsung melapisi ruangan dengan es agar memperkuat tanah disekitar. Ia tak mau bila tiba tiba saja tanah menjadi rubuh dan menimpanya.
Disana ada sebuah meja dan kursi yang terbuat dari es. Di atas meja juga nampak teh hangat. Sebenarnya, orang yang pergi ke taman ruangan adalah clone es miliknya. Sementara dirinya pergi ke tempat makan yang ada di markas. Dia meminta dibuatkan teh. Setelah selesai, Liu Chen masuk ke dalam persembunyiannya kembali dengan hati hati.
Ia membuat clone es agar yang lain mengira bahwa itu benar benar dirinya. Bukan hanya anggota divisi pembunuh saja yang mengincarnya sebagai buruan. Tetapi, anggota divisi informasi juga diam diam selalu mengawasinya sebagai latihan mereka. Liu Chen mengetahui bahwa dia selalu diawasi.
Liu Chen perlahan duduk di kursi yang terbuat dari es. Iapun meraih cangkir di meja dan menyeruputnya.
"Ah, teh ini rasanya enak" ucap Liu Chen. Ia kembali menaruh cangkir teh dan langsung bertopang dagu dengan memakai tangannya.
"Huft.. Gara gara mereka aku berada dalam masalah. Aku menjadi selalu diawasi. Lagi pula, kenapa mereka malah menargetkanku sebagai bahan pelatihan untuk para anggota? Apa tidak ada yang lain?!" gumam nya dengan kesal. Ia kembali meraih cangkirnya dan menyeruputnya.
Tak lama, sebuah ingatan dari clone es nya yang melawan Wu Xianlun, langsung masuk ke dalam pikirannya.
Liu Chen menyemburkan teh nya karna terkejut saat melihat salah satu bagian ingatan clone nya. "Apa aku tidak salah lihat? Jian, menangis? Ada apa dengan pria itu? Dan lagi, apa yang terjadi dengan taman ruang? Kenapa sangat berantakan? Haish.."
Liu Chen berdecak kesal ketika melihat bagian ingatan kondisi taman ruang. Siapa yang berani menghancurkan tempat itu?! Apa orang itu tidak takut bila dihukum, karna telah menghancurkan fasilitas markas?!
"Hah.. Untuk sekarang sebaiknya aku tidak memikirkan taman ruang itu dulu. Aku akan mengirimkan salah satu clone yang tadi kubuat untuk mengamati Jian. Aku penasaran dengan keadaannya" gumam Liu Chen.
Walaupun ia tidak berada di dekat clone nya saat ini, namun Liu Chen masih dapat memberikan perintah dari sini. Segera, satu clone langsung melaksanakan perintah dari Liu Chen.
Liu Chen melakukan ini karna khawatir dengan Lao Tzu. Karna tidak biasanya pemuda itu menangis. Jangankan menangis, dia bahkan tidak pernah melihat pemuda itu tersenyum. Walaupun senyuman tipis sekalipun.
"Semoga dia baik baik saja" gumam Liu Chen. Ia tidak bisa keluar dari persembunyian nya saat ini. Karna ia akan mendapatkan masalah yang cukup merepotkan menurutnya.
........
Sementara itu, Yelu nampak berdiri waspada dibalik pilar yang berada di teras markas. Ia mengamati Liu Chen yang duduk diam di taman yang berada di halaman. Sudah cukup lama ia mengawasi Liu Chen seperti ini. Namun tak ada pergerakan lain sama sekali dari Liu Chen.
"Tck, apa ketua Xun hanya akan duduk saja seperti itu?! Aku tidak akan mendapatkan informasi apapun bila hanya menyaksikannya duduk diam disini " batin Yelu dengan kesal. Kesabarannya sudah mulai habis saat ini.
Di tidak mendapat informasi apapun mengenai Liu Chen. Karna pemuda itu hanya duduk diam tanpa melakukan sebuah kegiatan apapun. Yelu tidak tau sama sekali bahwa itu hanyalah salah satu clone es milik Liu Chen.
Liu Chen palsu tiba tiba menghilang. Hal ini, membuat Yelu terkejut. Ia pikir bahwa Liu Chen mengetahui keberadaannya hingga membuat Yelu langsung waspada melihat sekitar. Namun tidak terjadi apapun padanya.
Tatapannya pun langsung terarah pada sebuah pilar yang tak jauh darinya. Dia dapat melihat Liu Chen berada di belakang seorang pria. Ia ingin berteriak untuk memperingatkan pria itu. Namun bila ia melakukannya, maka ia akan ketahuan. Padahal sebenarnya dia sudah ketahuan dari tadi oleh Liu Chen palsu.
Yelu langsung bersembunyi di balik pilar yang ada di dekatnya dan hanya akan menyaksikan apa yang akan Liu Chen palsu lakukan.
"Aarrrkkkhh"
Yelu terbelalak ketika melihat bahwa Liu Chen menancapkan belati yang dipegangnya ke tangan pria yang sedang memegang pilar, hingga membuat belati itu menancap pada pilar begitu juga dengan tangan pria itu.
Sebenarnya Liu Chen palsu mendapatkan belati, dari lemparan belati yang dilakukan pria yang menyerangnya dari jauh tadi.
"Ketua Xun memiliki gerakan yang sangat cepat. Bukan hanya cepat, tapi ketua Xun juga kejam" batin Yelu. Ia menelan ludahnya sendiri ketika membayangkan bagaimana rasa sakit ketika tangan ditusuk seperti pria yang dilihatnya. Membayangkan saja, membuatnya ngeri.
Walaupun selama sebulan melawan Liu Chen, ia selalu terluka parah dan pernah beberapa kali tangan maupun kakinya terpotong, namun ia lebih ngeri dengan apa yang Liu Chen lakukan saat ini. Daripada dirinya saat itu ketika tangan maupun kaki terpotong.
__ADS_1