
Keempat juniornya kembali terkejut dengan penjelasan Han Liangyi. Pantas saja ras iblis ingin melenyapkan manusia.
Suasana menjadi hening. Tidak ada yang membuka suara diantara mereka semua.
Liu Chen berdehem agar suasana tidak hening terlalu lama, "Ekhem!"
Semua tatapan tertuju pada Liu Chen. Liu Chen kini menjadi canggung karna ditatap semua yang ada disana. Iapun hanya menatap kearah gurunya dan seakan tak mengetahui tatapan yang lainnya. "Guru, maaf aku belum mengatakan salammu untuk teman yang kau katakan saat itu"
Zhao Feng berkedip. Iapun mengangguk, "Tidak masalah. Lagi pula, kau bisa kapan saja mengatakan salamku pada temanku itu. Apalagi, kau tidak perlu bertarung dengannya untuk mengatakan salamku sekarang"
"Teman? Kakak menitip salam pada bocah itu untuk teman kakak yang mana?" ucap Zhao Yu.
"Pertama tama, perkenalkan nama saya adalah Liu Chen. Senior sekalian juga bisa memanggil saya Xiao Gang" ucap Liu Chen.
"Ah, baiklah Chen'er" ucap Zhao Yu sambil tersenyum kearah Liu Chen. Iapun kembali menatap Zhao Feng.
"Nama temanku adalah Xiao Gui, Kaisar iblis saat ini" ucap Zhao Feng.
Xia He, Zhao Yu dan Wu Pen terkejut mendengarnya. Mereka menatap Zhao Feng dengan mata melebar. Sementara Han Liangyi yang sedang meminun araknya langsung tersedak. Iapun ikut menatap Zhao Feng dengan terkejut.
Saat itu, ketika Zhao Feng membisikkan sesuatu pada Liu Chen. Ia mengatakan bahwa Kaisar iblis merupakan temannya. Ia juga ingin menitip salam pada Liu Chen, bila suatu hari Liu Chen bertemu dengannya. Tentunya, Liu Chen juga terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan gurunya saat itu. Namun akhirnya Liu Chen berusaha percaya pada Zhao Feng.
"Kenapa kakak tidak pernah mengatakan hal ini padaku?" ucap Zhao Yu yang masih terkejut.
"Aku memang tidak ingin memberitau oranglain tentang hal ini" ucap Zhao Feng dengan datar.
"Banyak sekali kejutan yang kudengar saat ini" ucap Xia He yang mulai menenangkan dirinya.
"Yang terpenting, sekarang umat manusia tidak dalam bahaya karna Kaisar iblis tidak akan menyerang manusia. Namun suatu saat kita tidak akan tau kekacauan apa yang akan terjadi" ucap Han Liangyi.
"Apa yang Liangyi katakan memang benar", Liu Chen mengangguk.
Suasana kembali hening. Sebelum akhirnya Xia He membuka suara. "Senior, apa hanya itu saja yang ingin anda lakukan? Kau hanya ingin memperkenalkan kami dengan Chen'er saja?"
"Um.. Begitulah"
"Lalu bagaimana keadaan muridku? Apa kau tidak mengetahui dimana dia sekarang?" ucap Xia He.
Han Liangyi menggelengkan kepala, "Aku tidak tau siapa muridmu"
"Senior He, sebenarnya murid anda Jia Li bertengkar dengan Zong Xian" ucap Liu Chen.
"Maksudmu apa, Chen'er?"
Liu Chen mulai menceritakan dari pertama kalinya dia membuat kelompok bersama tiga teman lainnya yang juga merupakan murid legenda. Ia menceritakan semua yang terjadi. Ia juga menceritakan permasalahan yang terjadi di dalam kelompoknya.
"Jadi begitu. Namun, aku sudah mengetahui dimana Zong Xian dan Jia Li berada. Aku mengetahuinya dari salah satu anggota divisi informasi yang kutugaskan untuk mencari keberadaan mereka berdua.
Aku akan berusaha membantu menyelesaikan masalah yang terjadi diantara mereka. Karna bila mereka masih saja saling bermusuhan, maka kemungkinan kelompok yang sudah kami buat akan hancur" ucap Liu Chen dengan serius.
"Tapi bagaimana caramu membuat mereka tidak bermusuhan lagi?" ucap Zhao Yu.
"Aku akan memikirkannya. Mungkin pertama tama aku akan menceritakan masa lalu Zong Xian pada Kaisar Yang. Mungkin Kaisar akan mengerti kesalahannya dan dia akan membantu melerai Jia Li dan Zong Xian. Bila cara itu tidak berhasil, maka aku akan menggunakan kekuatan.
Akan kubuat mereka sadar dengan apa yang mereka lakukan. Aku tau, Zong Xian pasti tidak akan mudah memaafkan orang yang telah menyakiti ibunya. Begitupun Jia Li, dia tidak akan mudah memaafkan orang yang sudah membunuh ibunya.
Namun, aku akan membuat mereka sadar tentang tanggung jawab yang harus mereka lakukan dan membuat mereka berhenti bertengkar. Akan kubuat mereka mati berapa kalipun hingga mereka akhirnya sadar tentang tanggung jawab yang mereka miliki. Aku tidak akan segan melakukannya bila itu demi kebaikan banyak orang" ucap Liu Chen dengan serius.
"Tapi kau jangan benar benar membunuh Li'er" ucap Xia He dengan serius menatap Liu Chen.
"Senior He tenang saja, aku tidak akan benar benar membunuh mereka berdua. Lagi pula, mereka bisa hidup lagi jika mati. Asalkan kepala mereka tak terpenggal. Juga jantung maupun dantian mereka tetap ada ditempatnya dan tidak rusak" ucap Liu Chen.
Hiks.. Hiks..
Mereka semua dapat mendengar suara seperti seseorang yang menangis. Mereka pun menatap kearah suara berasal.
__ADS_1
"Guru tak mengira ternyata takdir hidupmu seperti itu, Xian'er. Hiks.. Hiks.."
Zhao Feng, Zhao Yu, Xia He dan Han Liangyi menatap datar Wu Pen.
"Kau sudah tua, kenapa masih saja menangis?!" ucap Xia He.
"Aku tak menyangka.. Hiks.. Kehidupan muridku sesulit itu.. Hiks.. Kukira dia hanya anak yang pemalas dan cerewet. Tak kusangka, hidupnya seperti itu.. Hiks" ucap Wu Pen.
"Sudahlah, jangan dipikirkan" ucap Han Liangyi dengan malas.
"Lakukan apa yang menurutmu benar, Chen'er" ucap Zhao Feng sambil menatap Liu Chen.
Liu Chen mengangguk, "Baik, aku mengerti"
Keesokan harinya, Liu Chen keluar dari dalam kamarnya. Iapun menghilang dari tempatnya berada dan muncul di depan pintu keluar. Liu Chen langsung membukanya.
Kedua penjaga yang ada di depan pintu langsung melirik kearah pintu yang terbuka. Ketika melihat bahwa itu adalah Liu Chen, mereka pun langsung menundukkan kepala hormat. "Ketua Xun!"
Liu Chen mengangguk. Iapun kembali menghilang dari tempatnya berada. Hal ini tidak membuat kedua penjaga terkejut. Karna mereka tau jika Liu Chen memiliki kecepatan yang sulit dilihat mata biasa. Tapi mereka merasakan sedikit hembusan angin ketika Liu Chen menghilang. Mereka berdua pun kembali menutup pintu.
Liu Chen terus terbang di langit selama 3 hari dengan sangat cepat. Hingga akhirnya ia pun menapak di tanah. Di depannya nampak sebuah bangunan besar nan megah. Iapun masuk ke dalam secara diam diam dan tanpa diketahui orang orang yang sedang berjaga.
Cukup lama Liu Chen tidak juga keluar dari dalam bangunan yang merupakan istana itu. Ia baru keluar setelah 2 jam.
Setelah keluar, Liu Chen kembali terbang di udara dengan cepat dan kembali menuju markas. Namun, Ia turun di sebuah hutan yang lebat setelah seharian terbang di udara. Di depannya, nampak sebuah air terjun besar. Di tepi sungai, ada seorang wanita yang duduk bersila diatas sebuah batu.
Liu Chen berjalan mendekat kearah wanita itu, "Kau ada disini, Jia Li" ucapnya datar.
Mendengar suara yang dikenalnya. Yang Jia Li membuka mata perlahan dan menghembuskan nafas. Iapun berdiri dan membalikkan tubuh menatap Liu Chen. "Bagaimana kau bisa ada disini?"
"Tidak penting bagaimana aku bisa ada disini. Sebaiknya kau melupakan dendam mu pada Xian", Liu Chen berhenti berjalan mendekat setelah jaraknya dengan Yang Jia Li tinggal beberapa langkah lagi.
Yang Jia Li menatap Liu Chen dengan dingin, "Kau kira aku akan melepaskan dia begitu saja, setelah dia membunuh ibuku?"
"Tapi karna dendam mu pada Xian, kau melupakan tanggung jawabmu sebagai salah satu ketua"
"Kalau begitu, aku akan membuatmu sadar akan tanggung jawabmu sebagai salah satu ketua. Meskipun aku harus membunuhmu sampai berapa kalipun", Liu Chen menghilang dari tempatnya berada.
Yang Jia Li langsung mengambil belati yang ada di dalam cincin ruang miliknya dengan cepat. Iapun langsung membalikkan tubuhnya sambil mengayunkan belati.
Belati miliknya langsung berbenturan dengan sebuah pedang. Iapun tersenyum dengan sinis, "Heh, apa hanya ini kemampuanmu? Sepertinya kemampuan mu menurun", ia merasa seperti bisa mengalahkan Liu Chen dengan mudah karna sudah dapat menahan serangan pertama Liu Chen.
Liu Chen menatap Yang Jia Li dengan dingin, "Kau kira, hanya ini kemampuanku? Kau terlalu meremehkanku". Iapun kembali menghilang.
Kali ini, Yang Jia Li tidak dapat merasakan hawa keberadaan Liu Chen sama sekali. Karna Liu Chen menghilangkan hawa keberadaannya ditambah ia memiliki kekuatan yang lebih besar dari Yang Jia Li. Maka dari itu, Yang Jia Li tidak bisa merasakan hawa keberadaan Liu Chen.
"Ssttt", Yang Jia Li meringis kesakitan. Tubuhnya langsung mendapatkan luka luka di beberapa bagian, tanpa tahu kapan ia terkena serangan.
Liu Chen kini sudah berada di depan Yang Jia Li yang berlutut di tanah dengan banyaknya luka di tubuh. "Apa kau sekarang tau, seberapa jauhnya kekuatan mu denganku? Sebaiknya berhenti mencari dan memendam dendam pada Xian agar kau bisa melakukan tanggung jawab mu sebagai ketua"
Yang Jia Li menatap Liu Chen dengan kesal. Iapun bangkit dengan perlahan sambil menahan sakit karna luka yang diakibatkan pedang Liu Chen. "Memangnya kau siapa, mengatur ngatur diriku?! Aku.. Tidak akan menuruti ucapanmu!"
Seketika, sekeliling diselimuti oleh kabut tebal.
Liu Chen menatap datar Yang Jia Li. "Sepertinya dia akan menggunakan jurus ilusinya. Tapi kekuatannya jauh di bawahku. Jadi jurus ini tidak akan terlalu mempengaruhiku"
Yang Jia Li nampak masih berdiri di tempatnya. Namun, Liu Chen segera membalikkan tubuhnya sambil melakukan tendangan. Kakinya terasa menyentuh tubuh seseorang. Liu Chen tau, yang diserangnya memang Yang Jia Li asli. "Apa kau tidak memikirkan orang orang di markas yang merindukanmu?"
Tiba tiba Yang Jia Li berjumlah banyak dan mengelilingi Liu Chen. Mereka menyerang pemuda itu secara bergantian.
"Sepertinya aku harus membuatmu diam terlebih dahulu agar kau mau mendengarkan ucapanku" ucap Liu Chen. Iapun langsung mengeluarkan suhu dingin dari tubuhnya dan membuat semua Yang Jia Li disekitarnya membeku. Perlahan, semuanya berubah menjadi asap hitam.
Liu Chen langsung melompat mundur dan langsung melakukan tusukan ke arah langit. Seketika, sebuah tubuh langsung tertusuk di pedang Liu Chen.
"Uhuk.. Kenapa.."
__ADS_1
Liu Chen terbelalak melihat orang yang tertusuk oleh pedang miliknya. Tubuh orang itu masih berada di udara dengan pedang yang dipegang Liu Chen masih tertusuk di tubuhnya.
"Ka.. Kak" gumam Liu Chen.
"Kenapa.. Chen'er, kenapa kau.. Membunuh.. Ibu dan.. Ayah?" ucap Liu Changyi dengan kesulitan.
Kini, Liu Chen berada di depan sebuah rumah yang terbakar. Di depan rumah, nampak dua mayat dengan kepala terpenggal.
"Aku tidak-"
"Chen'er.. Kenapa kau membunuh ibu dan.. Ayah? Dan sekarang.. Kau ingin.. Membunuhku?"
Liu Chen menggelengkan kepala tak percaya, "Tidak! Bukan aku yang membunuh mereka!"
Liu Changyi memegang pedang yang menusuk tubuhnya. Iapun langsung melepaskan diri dari pedang dengan kesulitan. Hingga akhirnya ia terjatuh ke tanah dengan posisi tubuh tengkurap. Wajahnya terangkat dan menatap Liu Chen. Sudut bibirnya banyak mengeluarkan darah. Begitupun luka tusukan di tubuhnya.
"Aku benci padamu, kau.. Bukan lagi.. Adikku. Kau hanyalah.. Pembunuh"
Liu Chen menjatuhkan pedangnya dan berlutut di tanah, berniat membantu Liu Changyi bangun. Namun tangannya segera ditepis, "Jangan.. Menyentuhku.."
"Kakak..", mata Liu Chen nampak berkaca kaca seakan hampir menangis.
"Jangan panggil.. Aku kakakmu.. Lagi", Liu Changyi berusaha mempertahankan kesadarannya, walau sejenak.
"Kau.. Adalah orang yang.. Paling ku benci", Liu Changyi pun menutup matanya.
Liu Chen melebarkan matanya dan memangku kepala Liu Changyi, "Kakak.. Kakak!"
Tidak ada balasan dari Liu Changyi membuat mata Liu Chen semakin berair dan akhirnya air mata miliknya tumpah membasahi pipi. Ia menundukkan kepala, "Kakak.. Jangan tinggalkan aku!"
Yang Jia Li berada di samping Liu Chen yang terduduk di tanah sambil memangku kepala Liu Changyi. Iapun tersenyum sinis, "Ternyata kau sangat lemah. Hanya dengan ilusi itu saja kau terpengaruh" batinnya. Ia yakin, Liu Chen tidak dapat melihatnya sekarang. Karna yang dapat dilihat Liu Chen saat ini hanya ilusi.
Sudut bibir Liu Chen terangkat.
Yang Jia Li langsung menusuk tubuh Liu Chen. Namun, setelah menusuk tubuh pemuda itu dari arah samping, tangannya yang memegang belati dan masih menusukkannya di tubuh Liu Chen langsung membeku. Bukan hanya tangan yang memegang belati saja. Namun kedua kakinya juga membeku. Perlahan, Liu Chen berubah menjadi air. Yang Jia Li terbelalak melihat tangannya membeku. Ia juga terkejut karna Liu Chen berubah menjadi air. Sudut bibirnya langsung mengeluarkan darah.
Bersamaan dengan itu, ilusi yang ada di sekitar menghilang. Kini di depan adalah sebuah air terjun dengan danau yang ada di bawahnya.
Yang Jia Li melirik ke belakang. Namun posisi tubuhnya masih tetap sama. "K-kau.. Bagaimana bisa-"
"Bagaimana aku bisa lepas dari ilusimu? Jawabannya mudah. Karna kekuatanmu berada jauh di bawahku. Jadi kau tidak bisa menggunakan ilusi seperti itu padaku. Ketika aku membekukan semua ilusi dirimu yang mengelilingiku, aku langsung berubah menjadi bayangan dan berpindah tempat.
Aku pun langsung menggantikan tempatku dengan clone es. Lalu, clone ku tadi hanya bersandiwara karna kami sama sekali tak terpengaruh oleh ilusimu. Selama itu, aku terus berada di belakangmu sambil menyembunyikan hawa keberadaanku", Liu Chen tersenyum.
Yang Jia Li kembali memuntahkan seteguk darah dari mulutnya, "Apa kau memang.. Berniat membunuhku?!"
"Kau benar~ Aku memang berniat membunuhmu sampai kau melupakan dendam mu pada Xian dan kembali ke markas"
"Aku.. Tidak akan.. melepaskan Dia meskipun aku harus mati!"
"Ah~ kau tenang saja. Kau tidak akan benar benar mati. Aku akan membunuhmu sampai berapa kalipun hingga kau mengingat tujuan kita menjadi murid para legenda. Apa kau lupa dengan apa saja yang sudah gurumu lakukan untukmu? Kau melupakan semuanya, sadarlah! Jangan egois! Gurumu sudah mempercayakan ilmunya padamu untuk melindungi dunia bersama murid teman temannya yang lain, dan kau malah...", Liu Chen menggelengkan kepala.
"..Apa kau tidak memikirkan perasaan gurumu saat tahu kau malah berusaha membunuh murid temannya? Padahal dia ingin kau berteman dengan murid murid temannya itu" lanjut Liu Chen.
Yang Jia Li kembali memuntahkan seteguk darah. "Tapi.. Dia.. Sudah membunuh ibuku.. Ibu yang selalu menyayangiku.. Yang selalu ada untukku!"
"Kau tau, Jia Li? Apa alasan Xian melakukan itu? Dia juga membunuh permaisuri karna balas dendam. Apa kau merasa, dirimu adalah orang yang paling menderita dari Xian? Kau salah Jia Li.
Dibandingkan dirimu, Xian adalah orang yang lebih menderita. Kau ingin orang lain mengerti perasaanmu. Tapi kau sama sekali tak peduli dengan perasaan mereka. Kau sama sekali tak mengerti bagaimana perasaan Xian, Jia Li. Yang kau pikirkan hanyalah perasaanmu sendiri. Jika kau berada di keadaan yang sama dengan Xian, maka kau pasti akan melakukan hal yang sama.
Sebaiknya kau pikirkan kembali ucapanku itu. Temui'lah ayahmu dan tanyakan hal tentang Xian. Dia mengetahuinya. Karna aku sudah menceritakan semua yang kutahu tentang Xian pada ayahmu. Aku berharap kau bisa mengerti", Liu Chen semakin memperdalam tusukan pedangnya hingga pedang miliknya menembus perut Yang Jia Li.
"Uhuk.."
Liu Chen menarik keluar pedangnya. Bersamaan dengan itu, Yang Jia Li jatuh ke tanah dengan posisi tengkurap.
__ADS_1
"Aku tidak ingin melakukan kekerasan yang lebih dari ini padamu, Jia Li. Aku juga tidak ingin melakukan hal yang sama pada Xian. Tapi apabila kau ataupun Xian masih saja keras kepala, maka aku akan melakukan hal yang lebih dari ini", Liu Chen pun langsung menghilang dengan cepat dari tempatnya berada.
Yang Jia Li terbatuk darah beberapa kali. Tubuhnya semakin dingin. "I.. Bu", matanya pun langsung menutup. Bersamaan dengan berhentinya detakan jantung.