
Karna kesalahannya, Kai langsung mendapatkan hukuman dari para ketua dan wakil ketua kelompok. Ia dihukum 50 kali cambuk. Tentunya cambuk itu adalah tingkat menengah. Jadi, walaupun dia kultivator dan bisa menahan dengan Qi, namun tetap saja itu akan terasa sakit. Kai juga dihukum tidak boleh keluar kamar selama satu bulan. Tentang makan, maka temannya yang akan mengantarkan makanan padanya.
Karna Kai melakukan pelanggaran, jadi yang memenangkan pertarungan pada babak ke 2 antara Xing Fu dan Kai adalah Xing Fu.
Kini hari kembali berganti setelah kejadian pelanggaran yang Kai lakukan. Kini adalah hari dimana babak ke 3 akan dimulai.
Pada saat malam hari setelah babak ke 2, para ketua dan wakil ketua berkumpul dan membahas siapa saja yang akan masuk babak ke 3. Akhirnya mereka juga sudah mendapatkannya.
"Kami sudah menentukan siapa saja yang akan lanjut babak ke 3. Untuk kesepuluh orang yang saya panggil, maka naiklah ke arena" ucap Song Quon dengan memakai Qi nya.
"Jian (Lao Tzu), Hong (Xing Fu), Dong, Yelu...", Song Quon mulai menyebutkan kesepuluh nama yang masuk babak selanjutnya, yaitu babak ke 3.
Semua orang yang namanya dipanggil, maka mereka langsung naik keatas arena dan berdiri dihadapan Song Quon.
Akhirnya, semua nama sudah disebutkan. Beberapa orang yang lolos saat babak ke 2 dan tak dipilih untuk lanjut babak ke 3, nampak kecewa. Namun mereka tak bisa mengeluh. Lagi pula mereka dapat mencoba menang dilain waktu.
"Pada babak ke 3 ini, sama saja seperti babak ke 2. Kalian akan bertarung secara individu. Aturan pun masih sama dan jangan mencoba coba melanggar aturan seperti Kai kemarin, karna bila kalian mencoba melanggarnya, maka hukuman yang diberikan akan lebih besar. Kalian paham?", tegas Song Quon sambil menatap kesepuluh peserta satu persatu.
"Paham!" ucap kompak kesepuluh peserta.
"Baiklah, yang ada di arena ini hanya ada peserta Dong dan Yelu. Selain mereka berdua, maka bisa kembali ke tempat duduk masing masing" ucap Song Quon.
Semuanya mengikuti ucapan Song Quon. Kini yang ada di dalam arena hanyalah Song Quon, Dong dan Yelu.
Dong dan Yelu berada di jarak beberapa meter jauhnya. Song Quon menatap satu persatu kedua belah pihak, "Kalian siap?"
"Ya!" ucap Yelu.
Dong hnya mengangguki ucapan Song Quon. Ia dan Yelu pun saling menatap.
Song Quon mundur ke tepi arena, "Kalau begitu, mulai!"
Dong mengeluarkan 2 buah belati miliknya. Sementara Yelu nampak mengambil pedang yang ada dipunggungnya.
"Apa kau sudah siap untuk kalah, Yelu?", Dong tersenyum.
"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu, temanku" ucap Yelu sambil tersenyum.
Mereka pun langsung berlari mendekat dan membenturkan senjata masing masing. Dentingan senjata mulai terdengar di dalam arena turnamen.
"Aku takkan kalah darimu, Yelu" ucap Dong sambil mengayunkan belati miliknya kepada Yelu dari arah belakang.
Namun Yelu segera berbalik dan menahan belati yang digunakan Dong untuk melawannya. Dong agak termundur beberapa langkah. Diapun langsung melompat mundur dan kemudian melompat tinggi menuju Yelu. Ia mengayunkan kedua belati miliknya kearah temannya itu.
Yelu langsung memiringkan kepala dan tubuhnya sedikit, untuk menghindari serangan. Saat Dong berada tepat disampingnya dan akan mendarat di tanah, Yelu langsung memukul Dong menggunakan siku hingga membuat Dong terdorong mundur beberapa langkah.
Dong menatap kearah Yelu. "Elemen air:gelembung air".
Setelah mengatakan hal itu, disekitar Dong muncul gelembung gelembung air yang banyak. Iapun langsung mengayunkan tangan ke depan dan seperti memerintahkan gelembung air untuk maju menuju Yelu.
"Kau kira aku tak mengetahui trik mu?" gumam Yelu. Ia tau, bahwa gelembung air ini hanyalah pengalihan untuk menutupi pandangannya sementara dari Dong. Karna ia cukup dekat dengan Dong, maka ia tau bagaimana cara bertarung pria itu.
Gelembung gelembung air segera mengerumuni Yelu. Bukan hanya dibagian depan saja, namun kanan, kiri dan belakangnya juga.
Yelu hanya diam saja dan menunggu Dong menyerang. Namun gelembung gelembung air segera meledak. Yelu terkejut, iapun langsung menyilangkan tangan ke depan dan berusaha melindungi dirinya dari ledakan gelembung air. Iapun langsung terlempar ke belakang kala gelembung terakhir meledak.
"Kau pasti mengira bahwa gelembung gelembung air itu hanyalah pengalihan. Tapi pikiranmu salah. Saat latihan bersamamu, aku memang melakukan hal itu. Jadi aku tau, cara itu pasti takkan mempan padamu. Akupun mempelajari jurus yang dapat membuat gelembung itu meledak", Dong tersenyum.
Yelu perlahan berdiri, iapun tersenyum. "Tapi aku juga tidak pernah menunjukkan kekuatanku padamu, bukan? Saat latihan"
Mendengar itu, Dong menjadi waspada. Saat latihan bersama Yelu pun memang dia tak pernah melihat Yelu menggunakan kekuatan penuhnya dan tak terlalu banyak memperlihatkan jurus yang dimiliki nya.
"Elemen logam:rantai pengikat"
Tiba tiba saja, empat buah rantai muncul dari tanah di dekat Dong dan langsung mengikat pemuda itu.
"A-apa ini?!", kaget Dong.
"Orang yang kau bawa hebat juga, ya? Haocun. Dia memiliki dantian khusus dengan elemen logam. Itu sangat langka, mungkin hanya ada beberapa orang dengan dantian seperti itu" ucap Liu Chen sambil memperhatikan pertarungan. Iapun tersenyum tipis sambil menatap kearah Zong Xian.
__ADS_1
Zong Xian tersenyum, "Ya, dia memang berharga karna memiliki dantian khusus yang jarang dimiliki oleh oranglain. Dia juga tidak sering menunjukkan kekuatannya"
Kenapa Liu Chen dapat tau bahwa dantian Yelu adalah dantian khusus? Sebelumnya, satu minggu lalu, semua anggota dikumpulkan. Semua ketua memeriksa dantian milik setiap anggota. Sehingga mereka mengetahuinya. Namun mereka tidak menyebarkan dantian seperti apa milik setiap anggota. Sehingga Dong tidak mengetahuinya. Jika saja ia memeriksa dantian Yelu sendiri, maka dia akan mengetahuinya. Namun Dong tidak melakukan hal itu.
Yelu menghunuskan pedangnya tepat di depan leher Dong. Iapun tersenyum, "Menyerahlah. Maka aku tidak akan melukaimu"
Dong tersenyum, "Baiklah aku menyerah"
Yelu pun langsung menghentikan jurusnya. Seketika, rantai yang mengikat Dong menghilang begitu saja dan masuk ke dalam tanah.
Dong menatap kearah Yelu, "Mungkin kali ini aku kalah, namun lain kali aku tidak akan kalah darimu, Yelu"
Yelu merangkul Dong, "Haha itupun jika kau bisa. Karna aku juga tidak mungkin diam saja. Tentunya aku juga akan berlatih lebih giat lagi dan mengalahkanmu kembali"
"Pemenang dari pertarungan kali ini adalah Yelu!", Song Quon pun langsung menatap Dong dan Yelu. "Bila diantara kalian ada yang terluka, pergi kepada ketua kedua"
"Kami baik baik saja, wakil ketua kedua" ucap Dong.
Song Quon mengangguk, "Baiklah, kalau begitu kalian bisa kembali"
Kedua teman itupun langsung kembali ke tempat mereka masing masing.
Waktu terus berjalan. Kini adalah pertarungan terakhir babak ke 3.
"Sekarang adalah pertarung terakhir babak ke 3. Jian (Lao Tzu) melawan Hong (Xing Fu)" ucap Song Quon. Kedua peserta itu segera naik keatas arena dan saat ini saling berhadapan dijarak beberapa meter.
"Kalian siap?", Song Quon melirik kearah kanan dan kirinya. Iapun mendapatkan anggukan dari kedua peserta. "Baiklah, pertarungan dimulai!", iapun langsung pergi ke tepi arena.
"Ternyata kau akan menjadi lawanku, Jian" ucap Xing Fu.
Tak ada sepatah katapun yang Lao Tzu katakan pada Xing Fu. Ia mengepalkan tangannya kedepan. Ia seperti kemarin, menyerang tanpa menggunakan senjata apapun.
"Baiklah, sepertinya kau sudah siap melawanku", Xing Fu langsung mengambil pedang yang berada di punggungnya. Iapun mengacungkan pedang kearah Lao Tzu. "Kita lihat, siapa yang akan menang", iapun tersenyum.
"Dia..selalu seperti itu" batin Lao Tzu.
Xing Fu langsung berlari kearah Lao Tzu. Setiap ia melangkah, maka akan ada tanah tajam yang muncul menyerang Lao Tzu. Namun semua serangan tidak menyentuh Lao Tzu sama sekali. Pemuda itu sangat hebat dalam menghindari serangan.
Beberapa tanah tajam itu berniat menghimpit Lao Tzu. Namun pemuda itu langsung melompat tinggi keatas. Tanah tajam itupun bertabrakan, namun tak lama setelah itu, tanah tajam kembali masuk ke dalam tanah.
Lao Tzu kembali menapak di tanah dengan mulus. Ia tidak ingin menyerang untuk saat ini. Taktiknya adalah ia akan terus bertahan dan membuat lawan mengeluarkan banyak Qi nya hingga saat Qi nya tinggal sedikit atau bahkan habis, maka Lao Tzu akan menyerangnya. Tentunya ia akan langsung menang dengan mudah bila lawannya sudah kehabisan Qi, sementara Qi miliknya sendiri masih banyak.
Xing Fu saat ini berada di jarak beberapa langkah dari Lao Tzu. "Kau hebat sekali dalam menghindar", Xing Fu menatap kearah Lao Tzu.
Xing Fu kemudian kembali menyerang Lao Tzu. Namun kali ini, ia menggunakan pedangnya untuk menyerang. Lao Tzu sendiri, tetap menghindari setiap serangan yang diarahkan padanya.
Waktu terus berlalu, kini Xing Fu nampak terengah engah. "Kenapa kau tidak juga menyerang?!", kesalnya sambil menatap Lao Tzu.
Lao Tzu berlari kearah Xing Fu dengan sebuah kepalan tangan. Kini dirinya akan langsung menyerang setelah melihat Xing Fu sudah kelelahan dan melihat bahwa Qi nya sudah banyak terkuras.
Melihat serangan tiba tiba yang diarahkan padanya, Xing Fu dapat menghindar dengan memiringkan kepala ke samping. Iapun terus melompat mundur kala tendangan maupun pukulan dengan cepat terarah padanya.
Lao Tzu seakan tidak memberikan kesempatan Xing Fu untuk menarik nafas, walau hanya sejenak.
"Hah..hah..lelah sekali. Aku tak bisa terus menghindar seperti ini" batin Xing Fu.
Xing Fu pun melompat tinggi ke atas. Ia langsung memutar dirinya di udara dan memberikan tendangan pada Lao Tzu. Lao Tzu segera menepis kaki Xing Fu yang mengarah padanya.
Xing Fu langsung berguling di udara dan kembali menapak di tanah dengan mulus. "Ini lebih baik, karna dia tidak langsung menyerang kembali"
Namun pikirannya salah, ternyata setelah Xing Fu menapak kembali di tanah, Lao Tzu kembali menyerang menggunakan tendangan.
"Kau ini jahat sekali tak membiarkanku diam sejenak, Jian! Kita ini teman baik. Jadi berikan waktu bagiku untuk istirahat, jangan terus menyerang seperti ini" ucap Xing Fu sambil melompat keatas untuk menghindari tendangan bawah yang Lao Tzu lakukan.
"Kau juga tadi seperti itu" ucap Lao Tzu tanpa menghentikan serangannya.
"Ha?! Jadi kau dendam padaku karna tadi aku menyerangmu terus menerus?" ucap Xing Fu dengan terkejut. Karna begitu terkejut, iapun tak fokus hingga akhirnya terlempar karna tendangan yang Lao Tzu lakukan.
"Ukh", Xing Fu kembali berdiri dan memegang perutnya. "Dia pintar sekali mengalahkanku. Dia membuatku kehabisan Qi. Lalu dirinya langsung menyerangku"
__ADS_1
Xing Fu mengangkat pedangnya kearah Lao Tzu yang mendekat. Iapun langsung berlari kearah pemuda itu. Saat sudah dekat dengan Lao Tzu, Xing Fu melompat tinggi dan mengayunkan pedang kearah Lao Tzu.
Namun Lao Tzu segera menghindarinya dengan mudah. Kepulan debu menutupi Xing Fu. Tapi bukan itulah serangan Xing Fu sebenarnya. Setelah Xing Fu mendarat, tanah tajam langsung muncul dibelakang Lao Tzu yang baru saja melompat kebelakang.
Seketika, tanah tajam itupun mengenai Lao Tzu dan membuat punggung pemuda itu tergores cukup dalam.
Setelah kepulan debu menghilang, nampaklah Xing Fu yang berdiri disana. Ia nampak tersenyum kearah Lao Tzu dan merasa sudah mengalahkan pemuda itu.
Walaupun punggungnya terluka, Lao Tzu nampak tak merasakan sakit sama sekali. Namun sebenarnya ia merasa kesakitan, hanya saja dia pintar menyembunyikannya. Sifatnya yang dapat menyembunyikan perasan sebenarnya sama seperti Zhang Jiangwu. Pemuda dengan ekspresi datar itu juga sangat pintar dalam menyembunyikan hal sebenarnya yang dirasakan dirinya.
Lao Tzu masih berdiri dengan tegak di tempatnya mendarat. Begitupun Xing Fu, dia masih berada di tempatnya.
"Bagaimana kau tidak merasakan sakit sama sekali, Jian?!", kaget Xing Fu. Ia tau, bahwa pemuda itu pasti mendapatkan luka ditubuhnya. Namun bagaimana bisa pemuda itu tak merasa sakit sama sekali? Apa pemuda itu kebal terhadap serangan? Itulah yang Xing Fu pikirkan.
Xing Fu langsung menggelengkan kepala untuk menepis semua pikirannya. Ia kembali memegang pedang miliknya dengan erat. "Kalau begitu, aku akan kembali menyerangmu", iapun langsung berlari kearah Lao Tzu.
Lao Tzu mengepalkan tangannya ke depan dan bersiap menyerang maupun bertahan. Selama turnamen ini, ia sama sekali tak menunjukkan semua kekuatannya dan kemampuannya sama sekali.
Saat melihat tangan kiri Lao Tzu, Xing Fu dapat melihat ada goresan yang menyebabkan tangan temannya terluka. Darah itu juga nampak menetes ke tanah. Melihat hal itu, Xing Fu berhenti berlari kearah Lao Tzu. Iapun menyarungkan kembali pedangnya, "Aku menyerah!"
"Ehh??!!", kaget semua penonton.
"Kenapa dia tiba tiba menyerah? Apa dia sudah tak sanggup lagi bertarung?" ucap seorang penonton.
"Entahlah, mungkin karna Qi nya habis. Jadi dia tidak percaya diri untuk menang" ucap penonton lainnya.
Song Quon pun nampak keheranan dengan pernyataan yang Xing Fu katakan, namun ia segera mengumumkan pemenang, "Pemenang dari turnamen kali ini adalah Jian! Dengan ini, maka turnemen telah berakhir! Para pemenang diharapkan berkumpul di ruang turnamen ini., besok. Sekarang kalian bisa kembali dan beristirahat"
Semua peserta kini mulai kembali ke tempat masing masing. Namun masih ada beberapa orang yang ada di dalam ruangan turnamen.
Wu Anming pergi menghampiri Xing Fu yang sedang bersama Lao Tzu. Sementara adiknya sudah kembali ke tempatnya bersama Zhi Shu.
"Hong, mengapa kau menyatakan bahwa kau menyerah? Bukankah masih ada kesempatan untukmu menang?" ucap Wu Anming dengan keheranan.
"Jika aku kembali menyerang Jian, maka dia akan lebih terluka lagi karnaku" ucap Xing Fu. Iapun mendekati Lao Tzu dan membalik balikkan tubuh pemuda itu.
"Ya ampun..maafkan aku Jian. Sepertinya ini sangat sakit" ucap Xing Fu. Ia melihat punggung Lao Tzu yang nampak berdarah begitupun tangan kiri pemuda ini. Darahnya bahkan menetes ke tanah. Luka itu nampak cukup dalam.
"Ayo kita pergi menemui ketua kedua! Kita akan meminta pil padanya untuk menyembuhkanmu" ucap Xing Fu sambil menarik tangan Lao Tzu. Namun Lao Tzu tidak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri.
Xing Fu langsung menatap kearah Lao Tzu, "Kenapa? Kita harus segera pergi menemui ketua kedu-"
"Ketua, wakil ketua!", Wu Anming memberikan hormat kala keempat ketua dan para wakil ketua yang datang menghampiri mereka.
Xing Fu membalikkan tubuhnya dan ia kini memunggungi Lao Tzu. Iapun dapat melihat Liu Chen, Zong Xian, Zhang Jiangwu dan Yang Jia Li yang ada dihadapannya saat ini. "A-hormat ketua dan wakil ketua", iapun langsung memberikan hormat. Begitupun Lao Tzu.
Keempat ketua dan wakil ketua hanya mengangguk. Liu Chen pun menatap kearah Lao Tzu dan mendekatinya. Ia langsung memberikan sebuah pil dan langsung ditelan oleh pemuda itu.
Seketika, semua luka yang didapatkan Lao Tzu perlahan sembuh.
"Terimakasih ketua kedua!" ucap Xing Fu dengan senang sambil menatap Liu Chen.
"Terimakasih" ucap Lao Tzu.
Liu Chen melambaikan tangannya, "Tidak masalah"
"Sekarang kita harus rapat untuk menentukan siapa juara pertama sampai kelima" ucap Yang Jia Li.
"Tentu saja. Mari kita lihat, siapa yang akan tinggal disini" ucap Zong Xian sambil menatap Yang Jia Li.
"Baik, kita lihat siapa yang akan tinggal", Yang Jia Li menatap Zong Xian dengan kesal. Mereka pun secara bersamaan pergi dari tempat Liu Chen dan berjalan menuju ruang utama. Wakil keduanya pun mulai mengikuti mereka berdua.
Melihat itu, Liu Chen menggelengkan kepala. Iapun menatap Lao Tzu, "Kau sepertinya memiliki sifat yang sama seperti Guang"
Baik, Lao Tzu maupun Zhang Jiangwu langsung menatap Liu Chen. Tatapan mereka yang dingin dan datar itu membuat Liu Chen tak nyaman, "Ah, aku akan menyusul Xinxin dan Haocun. Sampai jumpa, ayo Qiang (Song Quon)"
Liu Chen mulai pergi dari sana diikuti oleh Song Quon.
Saat Zhang Jingwu berpapasan dengan Lao Tzu, iapun berkata dengan suara pelan. "Selamat", Zhang Jingwu pun kembali berjalan.
__ADS_1
Lao Tzu tersenyum tipis dan mengangguk.