Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
59 -Pena Keajaiban Cerita


__ADS_3

Setelah beberapa menit pingsan, akhirnya Zong Dian bangun. Ia langsung mengubah posisi berbaring menjadi posisi duduk ketika pertama kali membuka mata.


"Kau sudah sadar rupanya" ucap Liu Chen.


Mendengar suara itu, Zong Dian langsung menghela nafas dan menceritakan apa yang terjadi tadi ketika Liu Chen pergi. Karna terlalu serius bercerita, bahkan dia tidak menyadari adanya Han Liangyi di samping yang sedang duduk dan memperhatikan dirinya.


"Jadi apa yang harus kita lakukan kak Chen?" ucap Zong Dian mengakhiri ceritanya.


Liu Chen terkekeh, "Orang yang kau maksudkan ada di sampingmu"


Zong Dian menoleh secara perlahan kearah samping. Ia pun terkejut melihat pemuda yang membekap mulutnya tadi dan membuatnya pingsan ada di sampingnya, "Kau.."


"Sudah selesai ceritanya? Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak tentangku"


"Kenapa kau masih ada disini?"


"Ini adalah kamar temanku dan maaf soal yang tadi. Aku terpaksa membuatmu pingsan karna itu juga salahmu sendiri, main bertindak sembarangan" ucap Han Liangyi dengan malas.


"Kenapa kau jadi menyalahkanku? Kau sendiri yang masuk tiba tiba dan kak Chen tidak memberitaukan apapun tentangmu. Jadi aku tentunya akan langsung bertindak. Lagi pula, kau masuk secara diam diam seperti penjahat" ucap Zong Dian dengan ketus.


"Huh, aku melakukan itu juga karna terpaksa, kukira pintu kamar ini masih dikunci"


"Sudah-sudah, jangan ribut", Liu Chen tersenyum.


Malam harinya, Zong Dian sudah tertidur di kasur penginapan. Sementara Han Liangyi dipesankan kamar lain oleh Liu Chen. Jadi Han Liangyi kini berada di kamar lain.


Lalu Liu Chen duduk didekat kasur. Ia pun menaruh kepalanya di meja dengan tangan yang diletakkan dibawah dagu. Iapun memejamkan mata karna merasa cukup lelah hari ini.


Saat Liu Chen membuka mata, dirinya berada disebuah padang rumput yang luas tanpa adanya pepohonan sama sekali. "Dimana ini?" gumam nya.


Angin berhembus membuat pakaiannya berkibar. Angin cukup kencang membuat Liu Chen menutup mata menggunakan satu tangannya.


Saat angin yang cukup kencang itu berhenti berhembus, Liu Chen menurunkan tangannya dan membuka mata. Ia terkejut dengan keberadaan pemuda yang tiba tiba ada di depannya. Pemuda itu berjarak 3 meter darinya.


Pemuda itu tersenyum kearah Liu Chen dengan mata menutup. Senyumannya terlihat menawan dan tulus. Tak lama matanya terbuka. Namun senyuman masih nampak diwajahnya yang menawan itu. Tatapannya terlihat lembut.


"Siapa kau? Apa kita pernah bertemu?" ucap Liu Chen sambil memiringkan kepalanya.


Pemuda di depannya terlihat berumur sekitar 20 tahunan. "Berhati hatilah"


"Apa maksud-"


Liu Chen menutup mata dengan satu tangannya karna angin yang kencang tiba tiba saja berhembus. Liu Chen kembali membuka matanya kala tak merasakan angin kencang itu.


Liu Chen melihat kearah kiri dan kanan karna tak menemukan pemuda tadi. "Kemana dia pergi?" gumam nya.


Liu Chen terbangun dari tidurnya. Liu Chen mengangkat kepalanya dari meja. Ia nampak melirik ke sekitar seperti mencari sesuatu, tepatnya seseorang. "Apa itu tadi?"


Saat mengetahui bahwa dirinya masih berada di kamar penginapan, Liu Chen menghela nafas. "Ternyata itu hanya mimpi. Tapi siapa kakak tadi? Apa aku mengenalnya? Aku seperti pernah bertemu dengannya. Tapi dimana? Dan kapan?", Liu Chen kini bertanya tanya tentang pemuda yang dilihatnya tadi.


"Lalu apa maksudnya berhati hati? Berhati hati pada apa?" gumam Liu Chen.


Disebuah ruangan yang luas, nampak sebuah buku di meja. Buku itu terlihat cukup tebal. Tidak ada siapapun di ruangan tersebut.


Tiba tiba buku yang tertutup langsung terbuka dengan sendirinya. Buku itu juga mulai mengeluarkan cahaya yang terang. Bersamaan dengan itu, butiran butiran cahaya terbentuk tak jauh dari buku.


Butiran cahaya membentuk sosok manusia dari bawah sampai atas. Beberapa saat manusia itu mengeluarkan cahaya dari tubuhnya. Namun cahaya segera menghilang begitupun cahaya yang berada pada buku.


Buku itu menutup dengan sendirinya dan berubah menjadi butiran butiran cahaya dan menghilang begitu saja. Kini hanya ada seorang pemuda di dalam ruangan itu.


Pemuda itu nampak memperlihatkan ekspresi terkejut. Di tangannya nampak sebuah pena dengan ukiran sebuah nama.


Pemuda itu melihat ke kanan dan kirinya. Dia terlihat cukup kebingungan dan terkejut secara bersamaan. Ia melihat pena yang di pegangnya dan disana terukir namanya.


Di tempat lain, di dalam hutan. Nampak seorang pemuda yang tersenyum tipis ketika merasakan sesuatu. Ia menghilang menjadi butiran cahaya di gelapnya malam.


Ia langsung muncul di sebuah ruangan. Bila orang memperhatikannya saat ini, maka mereka akan tau siapa dia. Dia adalah Zhang Jiangwu. Ia 'lah yang tadi tiba tiba menghilang dari kedalaman hutan begitu saja.

__ADS_1


Zhang Jiangwu muncul di tempat dimana pemuda yang memegang pena muncul. Dia langsung berlutut di hadapan orang tersebut.


Pemuda yang memegang pena itu terkejut melihat orang di hadapannya.


"Selamat karna sudah berhasil melewati ujian yang saya berikan. Sekarang anda adalah Tuanku" ucap orang dengan wajah yang terlihat seperti Zhang Jiangwu itu. Dia menunduk hormat.


Tak lama, Zhang Jiangwu berdiri dan menatap pemuda di depannya.


Pemuda itu terkejut melihat wajah Zhang Jiangwu, "Kamu?"


Zhang Jiangwu tersenyum dan terkekeh, "Maafkan saya Tuan. Selama anda menyelesaikn ujian itu, saya menyamar menjadi anda agar tidak ada orang yang mengkhawatirkanmu"


Pemuda di hadapan Zhang Jiangwu memiliki wajah yang sama dengannya. Tepatnya, pemuda itu adalah Zhang Jiangwu sebenarnya. Sementara yang selama ini pergi ke sekte aliran hitam bukanlah Zhang Jiangwu yang asli.


Beberapa minggu lalu, setelah kembali dari dunia iblis, Zhang Jiangwu memilih untuk membuka buku yang diberikan Liu Chen saat itu padanya.


Saat Zhang Jiangwu membuka buku itu, tubuhnya langsung ditutupi oleh cahaya begitu pun buku yang baru saja dibuka nya. Lalu, Zhang Jiangwu menghilang dari sana. Dia muncul di suatu tempat asing yang tidak diketahui olehnya. Lalu tak lama, dia mendengar sebuah suara yang mengatakan agar dirinya pergi mencari sebuah pena yang terletak di suatu tempat. Zhang Jiangwu harus mencari informasi sendiri untuk menemukannya.


Tempat dimana dirinya berada saat itu, sama saja seperti di kehidupannya. Namun disana demonic beast cukup sering menyerang kota kota maupun desa. Demonic beast yang ada disana juga tidak bisa dianggap remeh.


Suara yang terdengar dikepalanya saat itu mengatakan bahwa dia bisa kembali bila sudah mendapatkan pena yang dimaksud. Jika dia tak bisa mendapatkannya, maka dia bisa mati kapan saja disana.


Intinya, Zhang Jiangwu masuk kedalam buku yang merupakan sebuah novel. Ia berjuang agar mendapatkan pena yang dimaksud agar dapat segera pergi dari sana. Dia disana beberapa kali mengalami kesulitan. Namun untungnya, lambat laun dia bisa mengatasinya.


Selama ini, Zhang Jiangwu yang ada di markas setelah pulang dari dunia iblis dan pergi ke wilayah sekte aliran hitam, bukanlah Zhang Jiangwu asli. Namun palsu. Sebenarnya Zhang Jiangwu palsu adalah roh dari senjata tingkat langit, pena keajaiban cerita.


Pena ini digunakan untuk menulis sebuah cerita dan penggunanya dapat memasukkan orang lain dalam cerita itu. Orang yang masuk ke dalam cerita, maka dia harus menyelesaikan masalah yang terdapat dalam cerita itu bila ingin keluar. Orang yang masuk ke dalam cerita itu juga bisa mati tergantung apa yang akan dilakukan orang tersebut.


Cerita yang ditulis menggunakan pena keajaiban cerita, dapat menjadi senjata yang berbahaya bila cerita itu dibuat oleh seseorang yang sangat ahli.


Sebenarnya sudah banyak orang yang berusaha mendapatkan pena ini, namun semua berakhir kematian di dalam ujian untuk mendapatkannya. Ujian itu adalah menyelesaikan masalah di dalam cerita yang dibuat oleh roh dari senjata langit itu sendiri.


Tujuan utama dari cerita itu sendiri memang untuk mengambil pena. Namun Zhang Jiangwu juga harus menyelesaikan masalah masalah yang terjadi disana. Ia bahkan membutuhkan waktu berminggu minggu agar dapat menyelesaikannya.


Zhang Jiangwu palsu langsung berubah ke wujud aslinya. Dia adalah seorang pemuda yang terlihat berusia 25 tahunan dengan rambut berwarna silver panjang.


Zhang Jiangwu menatapnya dengan datar. Ia hanya mengangguk.


Roh itu langsung mengatakan semua yang dialami nya saat menyamar menjadi Zhang Jiangwu. Dia bisa bersikap seperti Zhang Jiangwu dan mengetahui tentang kelompok topeng bayangan, karna dia melihat ingatan Zhang Jiangwu. Karna bila seseorang sudah masuk ke dalam novelnya, maka dia bisa mengetahui masa lalu orang itu.


Roh itu cukup kesulitan saat harus berekspresi datar. Karna itu bukanlah sifatnya. Dia juga kesulitan karna harus meniru gaya bicara Zhang Jiangwu yang hanya beberapa patah kata saja.


Zhang Jiangwu mengangguk ketika mendengar ucapan roh di depannya.


"Kalau begitu, saya akan kembali masuk kedalam pena itu"


Zhang Jiangwu mengangguk, "Mn.."


Roh itu berubah menjadi butiran cahaya dan masuk kedalam pena yang dipegang oleh Zhang Jiangwu. Nampak bahwa terdapat nama 'Zhang Jiangwu' dari pena itu. Jadi tidak ada yang bisa menggunakan pena itu, kecuali Zhang Jiangwu.


Bila Zhang Jiangwu mati, maka orang lain bisa menggunakan pena itu. Itupun harus mengikuti ujian yang masih tetap sama diberikan oleh roh senjata langit itu.


Siang hari, nampak Liu Chen dan Zong Dian berkeliling ibukota. Sudah dari pagi tadi mereka mencari Zong Xian. Namun tidak juga menemukannya. Disamping Liu Chen nampak Han Liangyi berjalan mengikuti Liu Chen. Ia masih tidak mengetahui apa yang sedang dicari Liu Chen.


Akhirnya Han Liangyi mulai bersuara, "Sebenarnya apa yang kalian cari? Kita sudah berkeliling ibukota dari pagi hingga siang. Kita bahkan mengunjungi gang gang sempit"


"Aku mencari temanku sekaligus kakak dari Dian'er" ucap Liu Chen. Ia terus saja melirik kanan dan kirinya dengan teliti. Namun tak menemukan orang yang dicarinya.


Zong Dian juga terus memperhatikan setiap orang yang berada di dalam kerumunan, berharap menemukan Zong Xian.


"Menurutmu, seorang buronan kekaisaran akan melakukan apa bila dirinya sudah menjadi buronan?" ucap Liu Chen. Ia menatap kearah Han Liangyi.


Pertanyaan dari Liu Chen membuat Han Liangyi heran, namun ia segera menjawab. "Menurutku dia akan pergi ke kekaisaran lain, menyamar, tinggal di tempat yang terpencil atau hal lainnya. Tidak mungkin buronan akan tinggal di tempat ramai dari kekaisaran yang mengincarnya. Namun bila dia memiliki dendam pada kekaisaran itu, maka dia akan mengumpulkan kekuatan untuk menyerang. Memangnya ada apa?"


Liu Chen berfikir sejenak, iapun menggelengkan kepala, "Tidak ada"


Liu Chen menatap kearah Zong Dian. "Kita keluar dari ibukota saja. Disini tidak akan ada kakakmu. Kau mau terus ikut denganku 'kan? Untuk mencari kakakmu?"

__ADS_1


Zong Dian menatap Liu Chen dan mengangguk, "Aku akan ikut dengan kakak. Tapi sebelum itu, kita harus pergi ke rumahku terlebih dahulu. Aku ingin membawa barang barangku"


Liu Chen mengangguk, "Baiklah"


Mereka bertiga pergi ke rumah Zong Dian tinggal saat di ibukota. Rumah itu terlihat kecil. Namun cukup bersih. Mereka masuk ke dalam.


"Kami akan menunggu disini Dian'er" ucap Liu Chen.


"Iya kak Chen", Zong Dian langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mempersiapkan segala sesuatu.


"Tadi mengapa kau menanyakan tentang buronan padaku? Sebenarnya siapa yang kalian cari?", Han Liangyi memiringkan kepalanya dengan penasaran yang tinggi.


Liu Chen menghela nafas, ia mengeluarkan sebuah kertas yang digulung dari dalam cincin ruang miliknya dan memberikan kertas itu pada Han Liangyi.


"Hm?", Han Liangyi membuka kertas itu dan melihat foto seseorang dengan sebuah tulisan di bagian bawah foto.


Han Liangyi menatap kearah Liu Chen, "Untuk apa kau mencarinya? Apa kau ingin mendapatkan hadiah khusus dari Kaisar?"


Liu Chen menggelengkan kepala, "Dia adalah temanku. Jadi aku ingin mencarinya dan meminta penjelasan darinya"


Han Liangyi mengangguk dan memberikan kembali kertas tadi pada Liu Chen. Liu Chen menerimanya dan langsung memasukkan kertas itu ke dalam cincin ruang.


"Eh??", Han Liangyi baru bereaksi saat ini. Ia baru saja menyadari bahwa yang dicari oleh Liu Chen dan Zong Dian merupakan seorang buronan kekaisaran. "Apa kau serius? Kau ingin mencarinya? Bukankah sudah jelas bahwa dia menjadi buronan. Bila kau membantunya, maka kau juga akan terkena masalah", Han Liangyi menatap Liu Chen dengan lekat.


Liu Chen mengangguk, "Akan kupertimbangkan apakah akan membantunya atau tidak, tergantung dari alasan dirinya membunuh permaisuri"


Han Liangyi mengangguk, "Terserah kau saja. Asalkan jangan gegabah dalam mengambil keputusan" ucapnya sambil mengibas ngibaskan satu tangan.


Setelah menunggu, akhirnya Zong Dian keluar dengan tas di punggungnya. "Ayo kita berangkat kak Chen"


"Kemarikan tas mu, aku akan menyimpannya agar kau tak perlu membawanya seperti itu", Liu Chen mengulurkan tangan nya.


Awalnya Zong Dian agak ragu, namun ia tetap memberikan tas nya pada Liu Chen. Langsung saja, Liu Chen memasukkan tas itu ke dalam cincin ruang miliknya.


Zong Dian terkejut ketika melihat tas nya tiba tiba saja lenyap, "Kak Chen, kemana tas ku? Bagaimana ini? Apa hilang" ucapnya panik.


Melihat raut wajah panik itu membuat Liu Chen maupun Han Liangyi tertawa. "Aku sudah membawanya. Tenang saja" ucap Liu Chen. Ia pun berhenti tertawa.


"Tapi dimana?", Zong Dian melirik kearah belakang Liu Chen, namun tetap saja tidak menemukan tas miliknya.


Liu Chen tersenyum, "Tidak perlu dipikirkan. Sekarang kita berangkat"


Zong Dian akhirnya mengangguk. Walaupun ia masih penasaran tentang kemana tas nya saat ini, namun yang dia lebih pikirkan lagi adalah Zong Xian.


Mereka pergi keluar ibukota kekaisaran.


"Apa alasan dia melakukan ini? "


"Dia mengatakan balas dendam. Aku tidak mengerti sama sekali dengan ucapannya. Namun yang pasti, aku ingin segera menangkapnya dan menyiksanya sebelum aku membunuhnya. Sebaiknya kau membantuku agar cepat menangkapnya "


Liu Chen teringat ketika Yang Jia Li mengatakan bahwa alasan Zong Xian membunuh permaisuri karna balas dendam.


"Menurutmu, seorang buronan kekaisaran akan melakukan apa bila dirinya sudah menjadi buronan? "


"Menurutku dia akan pergi ke kekaisaran lain, menyamar, tinggal di tempat yang terpencil atau hal lainnya. Tidak mungkin buronan akan tinggal di tempat ramai dari kekaisaran yang mengincarnya. Namun bila dia memiliki dendam pada kekaisaran itu, maka dia akan mengumpulkan kekuatan untuk menyerang. Memangnya ada apa? "


Liu Chen juga teringat dengan ucapan Han Liangyi yang menjawab pertanyaannya tadi. "Kalau begitu, kemungkinan dia sedang mengumpulkan kekuatan. Tapi dimana dia sekarang? "


Liu Chen terus berfikir. "Mengumpulkan kekuatan? Dia bisa melakukannya dengan meningkatkan kekuatan sendiri. Namun kurasa bukan. Sepertinya dia meningkatkan kekuatan dengan memperbanyak orang orang yang berada di pihaknya. Tentunya dia tidak akan mengambil orang orang lemah yang harus diajarkan kultivasi dari awal terlebih dahulu.


Kurasa dia akan mengambil orang orang yang cukup kuat. Dia juga pasti akan mencari orang orang itu yang dekat dengan kekaisaran. Karna tidak mungkin Xian akan pergi lama terlebih dahulu hanya untuk mencari orang orang untuk menjadikan mereka ada di pihaknya.


Sementara, bila Xian mengambil orang orang dari kelompok kami, maka itu tidak mungkin. Xian tidak akan begitu saja masuk ke markas setelah membunuh permaisuri. Karna secara tidak langsung, dia artinya bermusuhan dengan Jia Li.


Sementara itu, di markas ada cukup banyak orang orang yang dibawa oleh wanita itu ke markas. Tidak mungkin Xian kembali ke markas hanya untuk membawa beberapa anggota. Karna dia bisa saja langsung ditangkap oleh orang orang yang berada di pihak Jia Li " batin Liu Chen. Ia terus memikirkan semua kemungkinan yang ada.


Han Liangyi menepuk pundak Liu Chen, "Ada apa, Chen?"

__ADS_1


Liu Chen menggelengkan kepala dan tersenyum, "Hanya sedikit berpikir saja"


__ADS_2