Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
105 -Kekacauan VIII


__ADS_3

"Kenapa tidak ada?!" ucap seorang iblis yang memiliki sepasang tanduk di kepala. Ia terkejut karna rumah sederhana yang sudah terbengkalai yang seharusnya ada di depan, kini menghilang. Ia adalah Jenderal besar, Ding Bang. Memimpin pasukan untuk mencari pangeran Xiao. Ia turun tangan secara langsung karna diperintahkan oleh Kaisar Xiao.


"Bagaimana.. Bagaimana bisa ini terjadi?! Seharusnya tempat itu ada di sini!" ucap Jenderal Ding Bang dengan frustasi sekaligus bingung. Bila tidak ada rumah sederhana itu, maka mereka takkan bisa masuk ke dunia manusia.


Jenderal Ding Bang segera melakukan telepati dengan Jenderal yang ada di dunia manusia. Namun, hasilnya sia sia saja. Karna ia tak bisa menghubungi satu iblis pun di sana. "Arkh! Kenapa tidak bisa?! Aku harus mengetahui keadaan yang ada di sana!" kesalnya.


Pasukan yang mengikuti Jenderal Ding Bang hanya bisa diam ketika melihat Jenderal besar mereka sedang marah.


"Aku harus segera mengatakan hal ini pada Yang Mulia!" gumam Jenderal Ding Bang. Ia berbalik dan menatap pasukan, "Sekarang kita akan kembali ke istana! Karna aku akan memberitau Yang Mulia masalah penting tentang keadaan saat ini!" teriaknya dengan tegas.


"Baik!" ucap pasukan dengan tegas.


Ada sebuah peraturan yang diterapkan seluruh Jenderal iblis. Yaitu, dilarang menghubungi Kaisar Xiao terlebih dahulu. Hanya Kaisar Xiao yang lebih dulu boleh menghubungi semua Jenderal menggunakan telepati. Maka dari itu, Jenderal Ding kembali membawa pasukannya ke istana untuk melaporkan kejadian yang saat ini terjadi.


Mereka boleh menghubungi Kaisar Xiao terlebih dahulu menggunakan telepati, bila keadaan yang terjadi sangat tidak memungkinkan Jenderal untuk melapor secara langsung dan bila keadaan yang terjadi sangat mendesak yang bila tidak segera diberitau maka saat itu juga terjadi kehancuran bagi ras iblis.


***


Di atas langit sekte pedang langit, terjadi pertarungan antara Liu Chen dan musuh. Ia beberapa kali berhasil mendorong mundur bahkan menjatuhkan musuhnya. Namun, kerusakan yang terjadi di sekte pedang langit cukup parah karna pertarungan mereka.


Puing puing atap bangunan bertebaran di mana mana. Beberapa murid sekte bahkan tertimbun bangunan maupun atap. Mereka saat ini sudah tidak terkena ilusi lagi. Jadi, keadaan agak 'sedikit' membaik.


Tapi tetap saja, mereka terluka. Bukan hanya karna timpaan bangunan dan atap, namun karna mereka saling bertarung tadi.


Patriarch sekte pedang langit melihat ke arah atas. Ia tidak dapat melihat jelas pertarungan yang sedang terjadi itu. Namun, karna pertarungan itu membuat sekte menjadi berantakan.


"Kekuatan ini sangat kuat" gumam patriarch.


Para tetua dan guru guru membantu para murid yang terluka dan membantu semua murid untuk pergi ke tempat aman. Agar tidak tertimpa bangunan. Mereka saat ini baru saja menyadari kehadiran anggota divisi pertahanan.


Anggota divisi pertahanan tentu tidak diam saja. Mereka langsung membantu semua orang, walaupun mereka juga cukup terluka. Namun, tentunya mereka takkan mempedulikan luka yang didapat dan hanya mempedulikan keselamatan yang lain. Lagi pula, saat pelatihan dengan Liu Chen, mereka mendapatkan luka yang jauh lebih serius dari ini. Jadi sedikit terluka tidak membuat mereka peduli akan luka tersebut.


"Rebut kalung miliknya."


Liu Chen yang mendengar suara itu terkejut, "Heh kau bisa berbicara langsung tanpa menarikku ke dalam dimensi kosong itu?"


"Tentu saja bisa!"


"Lalu kenapa kau tak pernah berbicara denganku?"

__ADS_1


"Malas saja, sudahlah tak perlu mempertanyakan hal tidak penting. Sekarang rebut kalung yang dia pakai agar dia bisa berhenti menyerangmu!"


"Bagaimana kau bisa tau?"


"Tentu saja. Karna kalung itu adalah senjata langit. Tepatnya, salinan dari kalung pengubah. Aku adalah roh senjata langit, maka dari itu aku tau bila itu bukanlah yang asli. Namun, memiliki kekuatan yang hampir sama dengan aslinya."


Liu Chen mengangguk ketika mendengar ucapan roh pedang phoenix api yang ia pegang. Iapun menatap ke bawah di mana musuhnya terjatuh. Ia langsung menukik ke bawah untuk mengambil kalung yang dipakai musuhnya.


***


Han Liangyi berada di halaman istana kekaisaran Phoenix api. Sementara di dalam istana, ada Lu Tuoli yang sedang menjaga Feng Ying. Karna dikondisi Feng Ying seperti saat ini, Lu Tuoli harus menjaganya.


"Aku harus segera ke sana," Han Liangyi menatap ke arah pegunungan yang berjarak ratusan meter darinya. Iapun terbang menuju ke arah gunung.


Setelah beberapa waktu terbang, ia kini sampai di puncak gunung. Han Liangyi bersembunyi di atas sebuah pohon dan tertutupi oleh dedaunan. Tak jauh darinya, nampak seorang wanita yang dijaga oleh 2 orang pria. Ada sebuah topeng yang menggantung di pinggang ketiganya.


Tatapan Han Liangyi terpaku pada pena yang dipegang oleh seorang wanita. Ingatan tentang halaman salah satu buku yang penah ia baca pun terbayang. "Bukankah itu.. Jadi benar, mereka adalah musuh. Sudah kuduga. Semenjak diteleportasikan kemari, aku merasakan niat jahat di daerah sini."


Musuh wanita nampak menggoreskan pena pada buku yang ada di tangannya. Tiba tiba, petir dari langit langsung menyambar pohon di mana Han Liangyi berada.


Han Liangyi yang menyadari adanya petir langsung melompat turun dari pohon dan menjaga jarak dengan pohon itu. Akibatnya, kini dia terlihat oleh musuh dan jaraknya dengan musuh semakin dekat.


Han Liangyi menatap kembali ke depan dan melihat bahwa ketiga orang di depannya kini tengah memperhatikan dirinya. "Sepertinya apa yang kupikirkan benar. Petir itu adalah serangan."


"Bagaimana kau bisa mengetahui keberadaan kami?" ucap musuh wanita.


"Tidak peduli bagaimana aku mengetahui keberadaan kalian. Namun yang jelas, aku tau bahwa kalian merupakan musuh" ucap Han Liangyi dengan sorot mata tajam.


"Bila kau sudah mengetahuinya, bukan berarti kau bisa mengalahkanku" ucap wanita itu. Iapun menyuruh dua orang pria yang menjaganya untuk mengurus Han Liangyi terlebih dahulu.


"Hah.. Inilah yang membuatku kesal. Kenapa aku harus menjagamu!" kesal salah satu pria. Walaupun protes, namun ia langsung maju dan menghalangi pandangan Han Liangyi dari musuh wanita. Ia juga langsung mengambil senjata. Begitupun pria yang satunya lagi.


"Cih," Han Liangyi mendecih. Ia langsung menghilang dari tempatnya berada.


***


Di tempat Zong Xian, Yang Jia Li dan Chan Juan berada. Ketiganya melawan banyak sekali demonic beast. Semua demonic beast itu adalah musuh. Mereka juga sudah bisa berubah menjadi manusia, dengan teknik yang tak diketahui.


Ketiganya cukup kelelahan. Karna, musuh tidak hanya ada satu atau dua. Melainkan ada ratusan demonic beast, dengan 5 manusia.

__ADS_1


Walaupun saat ini Zong Xian dan Yang Jia Li sudah berada di tingkat bumi, namun musuh terlalu banyak dan berada di tingkat prajurit - jenderal. Sehingga sulit dilawan.


Ketika sedang bertarung, Zong Xian, Yang Jia Li, Chan Juan dan semua musuh dikejutkan oleh suara debaman yang sangat keras dari arah yang jauh.


Walaupun tempat terjadinya debaman sangat jauh, namun suara itu tetap bisa didengar oleh mereka.


"Apa itu?" gumam Zong Xian sambil melirik ke arah suara.


"Bukankah itu adalah tempat di mana sekte pedang langit berada?" gumam Yang Jia Li.


Untuk sejenak, seluruh orang di sana berhenti bertarung.


***


Bukan hanya Zong Xian dan kedua temannya saja yang mendengar debaman keras itu. Namun, Jenderal Lin dan Jenderal Xi dapat mendengar suara itu.


"Aku merasakan firasat buruk tentang ini" ucap Jenderal Lin dengan pelan. Walaupun pelan, namun tetap masih bisa didengar Jenderal Xi.


Jenderal Xi mengangguk dan setuju dengan ucapan Jenderal Lin, "Aku juga merasakan firasat buruk soal ini," iapun menatap ke arah Jenderal Lin, "Lebih baik kita temui pangeran."


"Pangeran ada di sekte pedang langit. Kita tidak tau di mana tempat itu" ucap Jenderal Lin yang juga menatap Jenderal Xi.


Jenderal Xi nampak terdiam mendengar ucapan Jenderal Lin. Iapun mengalihkan topik pembicaraan, "Seharusnya Jenderal Ding dan yang lainnya sudah sampai di dunia manusia ini. Tapi, Jenderal Ding tidak memberitaukan apapun pada kita."


"Mungkin Jenderal Ding marah dengan kita. Jadi tak memberitaukan apapun."


"Untuk memastikannya, aku akan melakukan telepati pada Jenderal Ding."


"Kau yakin, Jenderal Xi?"


Jenderal Xi mengangguk. Iapun berniat melakukan telepati. Namun, tidak terjadi apapun. Ia tidak bisa melakukan telepati. "Apa?! Kenapa aku tak bisa bertelepati dengan Jenderal Ding?!" kagetnya.


Jenderal Lin yang mendengar itu ikut terkejut, "Apa maksudmu Jenderal Xi?!"


Jenderal Xi memandang Jenderal Lin, "Aku tak bisa bertelepati dengan Jenderal Ding. Seperti ada sesuatu yang menghalangiku untuk melakukannya."


"Lalu sekarang bagaimana?"


Jenderal Xi berkata, "Sebaiknya kita pergi ke asal suara debaman keras tadi. Aku merasa kemungkinan pangeran ada di sana. Bila kita menunggu Jenderal Ding dan pasukan lain, mungkin akan membutuhkan waktu. Apalagi kita tidak tau bagaimana kondisi mereka."

__ADS_1


Jenderal Lin mengangguk setuju. Ia dan Jenderal Xi langsung pergi menuju tempat suara debaman keras tadi.


__ADS_2