
"Anda tidak memiliki kemampuan bertarung yang cukup, wakil Niu (Chan Juan)" ucap sosok bertopeng. Ia memakai jubah berwarna putih dengan campuran biru dan kuning. Ia juga memakai topeng rubah berwarna putih.
Di depannya nampak seorang wanita cantik yang berlutut di tanah dengan tubuh yang terdapat cukup banyak luka sayatan. Ia adalah Chan Juan.
Awalnya, Chan Juan sedang menjaga Yang Jia Li yang sedang berkultivasi. Namun, dirinya melihat seseorang yang sedang mengawasi dia dan Yang Jia Li. Ia tidak dapat melihat orang itu dengan jelas. Tapi untuk memastikan keselamatan Yang Jia Li, ia langsung mengejar sosok yang dilihatnya.
Ketika ia berada di tempat yang agak jauh dari Yang Jia Li, sosok itu'lah yang membawanya pergi semakin jauh dari Yang Jia Li. Setelah berada di tempat yang jauh, sosok itu berhenti menariknya dan iapun mengetahui siapa sosok yang membawanya. Itu adalah salah satu anggota kelompok topeng bayangan.
Setelah mengobrol beberapa saat, dia dan orang itu saling bertarung. Namun Chan Juan kalah dari orang itu.
"Sstt", Chan Juan meringis kesakitan. "Kenapa kau membawaku menjauh dari Jia Li, Anguo!" ucap Chan Juan.
Orang yang dilawannya bernama samaran Anguo. Ia adalah seorang pemuda berusia 28 tahun. Ia berasal dari divisi informasi. Ia yang selama ini mengikuti Yang Jia Li dan Chan Juan bahkan kedua wanita itu tidak menyadarinya. Ia membawa Chan Juan menjauh dari Yang Jia Li agar wanita itu tidak mengganggu Liu Chen yang ingin menemui Yang Jia Li.
"Agar anda tidak mengganggu ketua Xun" ucap Anguo dengan datar.
"Apa maksud- Ketua Xun ada disini?!" ucap Chan Juan dengan terkejut.
"Begitulah"
"Sekarang menjauh lebih dulu dari Jia Li dan Juan "
"Baik ketua Xun ", Anguo membalas telepati Liu Chen.
"Maaf sudah menyerang anda. Tapi ini adalah misi. Sekarang waktuku sudah habis. Aku pamit pergi", Anguo langsung menghilang dari hadapan Chan Juan.
Chan Juan meremas tanah. "Aku masih lemah, terlalu lemah" gumamnya. Iapun berdiri sambil menahan sakit di tubuhnya. "Aku harus segera menemui Jia Li"
Chan Juan langsung pergi ke tempat dimana Yang Jia Li berada. Saat sampai, ia langsung menemui Yang Jia Li yang sedang terduduk di tanah. "Jia Li"
Yang Jia Li menengok ke asal suara. "Juan"
"Apa yang dilakukan Chen padamu?", Chan Juan langsung berjalan semakin dekat dengan Yang Jia Li. Iapun baru menyadari bahwa pakaian Yang Jia Li nampak robek di beberapa bagian. Apalagi di bagian perut, nampak banyak darah di pakaiannya.
"Jia Li! Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau bisa terluka seperti ini?!", kaget Chan Juan.
Yang Jia Li sendiri nampak duduk di tanah dengan kebingungan. Luka di perut maupun di seluruh tubuhnya sekarang sudah hilang. Ia nampak kebingungan karna tadi ia merasa bahwa ia sudah mati. Namun tiba tiba kini dia hidup kembali.
*
*
*
Liu Chen terbang menuju kekaisaran. "Haish.. Sekarang aku harus terbang mendekat ke kekaisaran lagi. Karna Xian pergi kesana" gumamnya.
Setelah seharian terbang menuju kekaisaran, akhirnya Liu Chen telah sampai di sebuah tempat sepi. Di depannya nampak beberapa bangunan yang sudah rusak. Juga, beberapa rumah terlihat sudah terbakar sejak lama.
Liu Chen berjalan lurus ke depan, "Dimana Xian sekarang?"
"Ketua Xun, ketua Haocun saat ini berada di balik sebuah rumah sederhana yang sudah terlihat terbakar. Anda jalan lurus ke depan puluhan meter dari sana "
"Semua rumah disini terlihat sederhana dan terbakar. Bagaimana aku mengetahui pasti rumah yang kau maksudkan? "
"Rumahnya berada di urutan ke-20 bagian kiri, setelah anda masuk ke dalam desa "
"Baiklah, aku akan segera kesana ", Liu Chen langsung menghentikan telepati. Iapun melihat ke belakang dan mulai menghitung berapa rumah yang ia lewati tadi.
Liu Chen kembali berjalan. Tatapannya terarah ke bagian kiri karna ia harus menghitung rumah ke berapa yang ia lewati sekarang.
Ia mengikuti semua petunjuk yang diberikan anggotanya. Setelah sampai, ia memang melihat seseorang yang sedang berlutut di dekat sebuah pohon.
Dilihat dari belakang, Liu Chen sudah tahu bahwa itu adalah Zong Xian. "Xian"
Zong Xian tidak membalikkan tubuh sama sekali untuk menatap Liu Chen. Tatapannya masih saja ke bawah.
Kini, Liu Chen berada tepat di belakang Zong Xian. "Xian, aku ingin bicara denganmu"
"Sepertinya orang yang terus mengikutiku beberapa hari ini adalah salah satu anggota kita, ya? Chen"
"Kau sudah tau? Hm.. Kau hebat. Lalu kenapa kau tidak menyerangnya? Bisa saja dia adalah musuh"
"Karna aku tidak merasakan niat membunuh darinya, maka aku biarkan saja dia mengikutiku"
Zong Xian mulai berdiri. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Liu Chen, "Apa yang kau inginkan?"
"Kembalilah ke markas dan aku ingin kau melupakan dendam mu pada Kaisar Yang. Karna bila kau masih saja-"
__ADS_1
"Bila aku masih saja bermusuhan dengan Jia Li, maka kelompok yang kita buat bisa saja hancur, bukan begitu? Dan sekarang kau ingin aku berhenti bermusuhan dengan wanita itu juga pak tua itu", Zong Xian menghela nafas.
Liu Chen mengangguk mendengar ucapan Zong Xian, "Kau sendiri mengerti apa yang ingin kuucapkan. Jadi apa pilihanmu?"
Zong Xian menutup mata sejenak. Kemudian membukanya, "Aku tidak lagi menaruh dendam pada pak tua itu juga Jia Li"
Liu Chen tersenyum, "Bagus", iapun memiringkan kepala. "Tapi kenapa kau bisa langsung setuju denganku?"
"Karna aku bermimpi bahwa ibuku datang kepadaku. Dia mengatakan agar tidak melakukan hal yang lebih dari ini. Dia juga bilang bahwa dia akan sedih bila aku terus memikirkan dendam. Dia tidak mau aku membalaskan dendam untuk dirinya.
Dia juga mengatakan agar aku bisa menerima kenyataan yang ada. Kaisar Yang sebagai ayahku dan Jia Li sebagai adikku. Itulah yang dikatakannya.
Maka dari itu, aku akan berusaha mencoba melupakan dan membalaskan dendam pada mereka. Semua itu demi ibuku", Zong Xian pun menundukkan kepala, ia seakan menahan sedih.
Liu Chen memegang kedua pundak Zong Xian, "Kalau begitu, lakukanlah demi ibumu. Dia pasti akan senang bila kau bisa bahagia dengan ayahmu juga Jia Li. Pergilah ke kekaisaran sekarang. Kaisar menunggumu disana. Aku sudah menceritakan semua yang terjadi padamu kepadanya"
Zong Xian mengangkat kepalanya. Matanya nampak sendu, iapun mengangguk. "Terimakasih Chen"
"Kau harus segera menyelesaikan masalahmu dengan Jia Li. Karna bila masalah kalian tidak selesai juga, hehehe", Liu Chen tersenyum dengan mengerikan.
Zong Xian tersentak ketika merasakan tekanan besar menimpa tubuhnya.
Liu Chen kembali menarik aura yang sebagian ia keluarkan tadi. Iapun tersenyum dengan baik, "Kau tau apa maksudku bukan? Kau dan Jia Li akan mendapat masalah dariku", iapun melepaskan cengkraman tangannya dari pundak Zong Xian.
Zong Xian mengangguk dengan ekspresi kosong, "Baiklah, aku mengerti"
"Hehe, anak baik", Liu Chen mengelus kepala Zong Xian. Iapun menghilang dengan cepat dari hadapan pemuda itu.
"Kekuatan Chen semakin meningkat. Aku tidak boleh kalah darinya! Setelah menyelesaikan semua masalahku, maka aku akan berkeliling dunia untuk mencari sumber daya yang banyak!" ucapnya sambil mengepalkan tangan.
"Kau tetap awasi Xian dari jauh " ucap suara telepati yang di dapatkan seorang anggota divisi.
"Baik, ketua Xun "
*
*
*
Liu Chen kembali terbang menuju markas. "Huft.. Hari ini melelahkan. Aku kesana kemari untuk menemui mereka" gumam nya.
"Pangeran! Anda berada dimana?! "
"Uh, keras sekali suaramu! Kepalaku jadi sakit, Jenderal Lin "
"Ah, maaf pangeran. Kami khawatir terjadi sesuatu pada anda. Anda tidak memberikan kabar apapun pada kami dan tidak mengatakan ingin kemana. Jadi kami khawatir pada anda "
"Tidak perlu mencemaskanku. Sekarang aku perjalanan akan kembali ke markas. Kalian hanya perlu mengurusi para anggota kelompok saja, mengerti? "
"A-ah, mengerti pangeran. Jaga diri anda baik baik "
Liu Chen menghentikan telepatinya. "Haish.. Jenderal Lin itu sebenarnya laki laki atau perempuan? Suaranya nyaring sekali tadi"
Setelah terbang selama dua hari, akhirnya Liu Chen telah sampai di markas. Ia berniat membuka pintu kamar. Namun seseorang segera menghampirinya.
"Ketua Xun, kau bilang seminggu lagi akan pergi ke dunia iblis. Tapi ini lebih satu hari dari yang kau katakan tadi. Apa itu karna kau harus mengurusi masalah ketua Haocun dan ketua Xinxin?" ucap suara seorang pemuda. Ia adalah Song Quon.
Liu Chen mengangguk dengan lelah, "Aku sangat lelah saat ini. Sudah tujuh hari lebih aku terbang. Jadi besok saja kita pergi ke dunia iblis. Juga, kita akan pergi bersama Liangyi. Karna aku sudah berjanji akan membawanya. Kau tidak keberatan, kan?"
Song Quon terdiam sejenak. Iapun mengangguk, "Tidak apa. Tapi bukankah yang ingin kau ajak adalah ketua Guang? Namun karna ketua Guang pergi, jadi kau mengajak Liangyi?"
"Hm.. Um.. Begitulah, sudah dulu. Aku akan tidur. Aku terlalu lelah. Sampai jumpa besok", Liu Chen membuka pintu dan masuk ke dalam. Iapun kembali menutupnya.
"Sepertinya Chen sangat kelelahan saat ini. Yasudah, aku akan menunggu sampai besok saja" gumam Song Quon. Iapun berjalan pergi dari depan kamar Liu Chen.
"Liangyi ikut ke dunia iblis? Hm.. Sepertinya ini bukanlah keinginan Chen untuk mengajaknya. Tapi keinginan Liangyi yang memang ingin ikut. Aku harus berhati hati dengannya, dia memiliki tingkat kultivasi lebih tinggi dariku. Tapi aku tidak perlu cemas soal itu " batin Song Quon.
Ia menundukkan kepala dengan tatapan rumit, "Misi pertama mungkin aku bisa melakukannya. Namun misi kedua, apakah aku bisa melakukan 'itu'? Rasanya aku tidak sanggup melakukannya "
________________________________
"Kenapa kau menolongku? "
"Memangnya aku harus memiliki alasan untuk menolongmu? Tentu kau adalah temanku. Jadi aku menolongmu "
___________________________________________
__ADS_1
"Dia..", Song Quon mengingat ucapan dan apa yang Liu Chen lakukan ketika sedang berada di kota Bulan Merah.
___________________________________________
"Jangan pedulikan aku! Pergilah sekarang juga! Atau kau juga akan ikut mati bila masih ada disini "
"Apa yang kau katakan, aku takkan melakukannya! "
"Hahaha, percuma kalian melakukannya! Aku takkan melepaskan tangannya! "
"Cepat kau pergi dari sini sebelum terlambat! Jangan pedulikan aku, cepatlah pergi sekarang!"
"Aku takkan meninggalkanmu disaat seperti ini. Jika kita tidak bisa melepaskan cengkramannya, maka kita akan mati disini bersama "
"Apa kau gila?! Kenapa kau rela mati hanya untukku?! "
"Karna aku adalah temanmu dan selamanya akan seperti itu! Aku...takkan meninggalkanmu disaat kau kesulitan. Kau adalah teman pertamaku "
___________________________________________
"...orang pertama yang benar benar menganggapku sebagai teman. Bahkan disaat dia mengetahui identitasku, dia tidak menjauhiku sama sekali.
Dia tetap berada disisiku, walau dia tahu bahwa dia akan mati bila tidak juga pergi menjauhiku dan wanita pemain seruling jiwa saat itu. Dengan semua yang sudah dilakukannya padaku... Apa aku masih bisa melakukan misi kedua?" gumam Song Quon. Wajahnya masih menatap ke bawah. Tatapannya nampak rumit. Iapun berhenti berjalan.
Song Quon menggelengkan kepala, "Tidak! Jangan terpengaruh oleh semua perlakuan dan ucapannya. Kau harus melakukan semua perintah Tuan, Quon! Apapun yang Tuan katakan padamu, berarti itu adalah mutlak dan harus dilakukan. Bahkan bila Tuan menginginkan agar kau mati, maka kau harus melakukannya, Quon!" gumam Song Quon.
Ia menghembuskan nafas panjang dan menatap ke depan. Ia pun kembali berjalan. "Ya, aku harus melakukannya. Apapun yang terjadi.. Aku.. Harus.. Menyelesaikan misi kedua nanti"
*
*
*
Keesokan harinya, Song Quon sudah ada di depan kamar Liu Chen.
Tap
Song Quon terkejut kala tiba tiba saja pundaknya ditepuk dari belakang. Ia refleks membalikkan tubuhnya sambil melakukan tendangan. Orang yang menepuk pundaknya langsung melompat mundur.
"Hei, hei tenanglah. Ini aku, Liangyi" ucap Han Liangyi.
Song Quon menghembuskan nafas, iapun menatap Han Liangyi dengan kesal. "Kenapa kau mengejutkanku seperti itu?!"
"Apa tadi aku mengejutkanmu? Maaf, maaf. Aku tak sengaja", Han Liangyi tertawa ringan.
Song Quon kembali mengalihkan tatapannya ke arah pintu kamar Liu Chen dan mengabaikan Han Liangyi.
Tak lama, pintu terbuka dan memperlihatkan seorang pemuda tampan dengan mata dan rambut berwarna hitam pekat. "Kalian ada disini?" ucap Liu Chen.
"Aku menunggumu dari tadi" ucap Song Quon.
"Ah, maaf membuatmu menunggu. Kalau begitu ayo cepat kita pergi sekarang juga", Liu Chen mulai berjalan. Song Quon mengikuti Liu Chen.
"Kenapa mereka menghiraukanku? Hei, tunggu!", Han Liangyi langsung berlari pelan untuk mengejar Liu Chen dan Song Quon.
"Kau benar benar ikut ternyata" ucap Liu Chen.
"Hei, kau sudah berjanji akan membawaku. Jadi kau harus menepatinya dan apa apaan ucapanmu itu? Kau ingin aku tidak ikut denganmu?!", kesal Han Liangyi.
"Iya"
"Tck, kau menyebalkan"
Mereka pergi ke pintu keluar markas. Ketika kedua penjaga melihat Song Quon dan Liu Chen, mereka menundukkan kepala dengan hormat. "Ketua Xun, wakil Qiang!"
Song Quon dan Liu Chen mengangguk. Kedua penjaga pun langsung mengangkat kepala mereka.
"Hei, hei. Kenapa kalian hanya menyambut mereka berdua? Bagaimana denganku?" ucap Han Liangyi.
Kedua penjaga mengangkat alis mereka, "Kau bukan orang penting disini. Jadi untuk apa kami menyambutmu?" ucap penjaga dengan serentak.
Han Liangyi berkedip beberapa kali, "Kalian..!! Hah.. Memang benar. Aku bukanlah orang penting disini. Lagi pula, aku bukanlah seorang anggota", Han Liangyi menghela nafas kasar.
Liu Chen menahan tawa. Sementara dua penjaga langsung tertawa melihat ekspresi Han Liangyi. "Haha, kami bercanda. Halo, Liangyi. Bagaimana kabarmu?" ucap seorang penjaga sambil menghentikan tawanya.
Han Liangyi memanyunkan bibirnya, "Kalian telat! Aku sudah kesal dengan kalian" ucapnya seperti anak kecil. Iapun langsung menarik tangan Liu Chen. "Ayo Chen!"
__ADS_1
"E- eh? Qiang, ayo!" ucap Liu Chen.
Song Quon mengangguk. Iapun mengikuti Liu Chen dan Han Liangyi.