Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
65 -Kedatangan Zong Xian


__ADS_3

Di sebuah taman yang sepi, di dalam istana Kekaisaran Salju Putih. Nampak seorang pria paruh baya yang berdiri tak jauh dari sebuah pohon.


"Tck, sebenarnya mereka kemana?! Kenapa sangat lama? Seharusnya bila mereka tidak menemukan dia, mereka langsung kembali kesini dan melaporkannya padaku"


Seorang pemuda berjalan menuju pria paruh baya. "Ada apa ayah? Kenapa ayah terlihat kesal seperti itu?"


Pemuda itu terlihat berusia 25 tahun. Ia bernama Liu Zhixin. Anak dari pangeran pertama.


Pangeran pertama membalikkan tubuhnya dan menghadap Liu Zhixin, "Ayah sedang menunggu bawahan ayah yang mencari paman mu. Mereka sangat lama. Sudah 1 tahun lebih mereka tidak juga kembali. Mereka sangat lama, ini membuatku kesal"


Liu Zhixin berkata, "Ayah tidak perlu menunggu mereka. Karna mereka sudah mati oleh seseorang"


Pangeran pertama terkejut. "Bagaimana kau mengetahuinya, Xin'er?"


"Sederhana saja, aku bisa mengetahuinya karna kemampuan istimewa milikku"


"Mimpi masa depan? Sejak kapan kau melihat bawahan ayah mati dalam mimpi mu itu?"


"Satu hari sebelum bawahan ayah pergi ke benua timur. Aku melihat mimpi bahwa semua bawahan ayah telah mati" ucap Liu Zhixin dengan santai.


Liu Zhixin merupakan anak kedua pangeran pertama. Ia memiliki kemampuan istimewa, yaitu dapat melihat masa depan di dalam mimpi. Itupun tidak selalu ia dapatkan.


"Lalu kenapa kau tidak memberitaukan ayah tentang ini, Xin'er?!", kesal pangeran pertama.


"Hihi aku hanya lupa saja. Lagi pula, itu tidaklah penting. Ayah bisa menyewa orang lain, mudah bukan?"


"Xin'er! Tetap saja ayah rugi. Ayah sudah membayar mereka, namun mereka mati begitu saja tanpa membawa paman mu ke hadapanku!"


"Memangnya apa yang akan ayah lakukan setelah mendapat jabatan seorang Kaisar? Menjadi Kaisar itu membosankan. Ayah hanya bisa duduk di meja kerja, membaca dokumen dokumen dan yang lainnya"


"Heh, tentu saja ayah akan berkuasa. Ayah akan bebas melakukan apapun. Mengganti sebuah peraturan, memperlakukan rakyat, menaikkan pajak dan lainnya", pangeran pertama tersenyum sinis.


"Terserah ayah saja, aku sudah memberitau ayah bahwa bawahan ayah telah mati. Jadi jangan menunggu mereka lagi. Jika ayah ingin menemui mereka, ayah tinggal bunuh diri saja, mudah bukan?", Liu Zhixin berkata dengan santainya.


"Xin'er!", kesal pangeran pertama. Nadanya meninggi dan menatap tajam Liu Zhixin.


"Ah, aku takut. Jangan marah padaku ayah", Liu Zhixin berlari menjauh dari pangeran pertama dan sedikit tertawa.


Pangeran pertama berdecak kesal ketika mendengar ejekan putranya itu, "Anak itu..!"


.....


Sementara itu, di dalam hutan dimana Liu Chen berada.


Liu Chen dan Song Quon sudah cukup lama berjalan jalan di dalam hutan. Mereka kini berjalan kembali menuju markas. Namun Liu Chen menghentikan langkahnya.


Melihat hal itu, Song Quon ikut berhenti. Ia membalikkan tubuhnya hingga menatap Liu Chen. "Ada apa? Kenapa kau berhenti?"


Liu Chen menatap Song Quon dengan serius, "Siapa kau sebenarnya?"


"Maksudmu apa, Chen?", heran Song Quon.


"Katakan saja, siapa dirimu sebenarnya Quon"


"Aku tak mengerti apa yang kau katakan. Apa kau bisa menjelaskannya?", Song Quon menjadi heran melihat sikap Liu Chen.


"Quon, siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa mencapai tingkat langit bintang 1 di usiamu yang terlihat hampir sama denganku? Menaikkan tingkat sampai langit pasti harus memiliki sumber daya yang besar. Jadi siapa kau sebenarnya?" ucap Liu Chen.


Song Quon terkejut ketika mendengar ucapan Liu Chen, "Apa yang kau katakan? Kau jangan asal bicara, Chen. Mana mungkin aku dapat mencapai tingkat langit itu"


"Jangan membohongiku, Quon. Aku bisa mengetahui bahwa kau sudah mencapai tingkat langit bintang 1. Jadi siapa kau sebenarnya? Tolong jawab pertanyaanku ini. Jangan mengatakan hal bohong seperti itu"


Suasana menjadi hening di sekitar mereka. Kicauan burung seakan tak bisa terdengar oleh kedua pemuda ini. Mereka saling menatap tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya.


Song Quon menghela nafas, "Kau benar. Aku sudah mencapai tingkat langit bintang 1"


"Sekarang tolong katakan siapa kau sebenarnya. Karna tidak mungkin kau dapat mencapai tingkatan itu di umurmu yang hampir sama denganku tanpa sumber daya yang sangat banyak. Bila itu karna kau mendapatkan sumber daya di suatu tempat, aku tidak akan mencuri sumber daya itu darimu. Tapi tolong jawab pertanyaankiu", Liu Chen menatap Song Quon dengan serius.


"Apa kau berjanji tidak akan menjauhiku setelah mengetahui yang sebenarnya tentangku?", Song Quon juga mentap Liu Chen dengan serius.


Liu Chen menutup mata sejenak, iapun membukanya perlahan. "Aku berjanji tidak akan menjauhimu setelah mengetahui identitas yang akan kau katakan itu"


Song Quon menghela nafas, "Apa kau bisa menjaminnya? 'Janji' hanya sebuah kata yang bisa saja kau langgar"

__ADS_1


"Aku tidak akan mengingkari janjiku", Liu Chen sangat serius dalam mengatakannya.


"Bagaimana bila aku mengatakan bahwa aku adalah demobic beast?" ucap Song Quon dengan datar.


Liu Chen terkejut. "Apa kau sedang bercanda?", ucap Liu Chen yang tak percaya.


Song Quon menggelengkan kepala, "Aku tidak bercanda sama sekali"


Liu Chen tak bisa mengatakan apapun mendengar identitas dari teman dekatnya itu.


"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui identitasku? Kau ingin menjauhiku? Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Wajar saja bila seseorang tidak menerima demonic beast sepertiku", Song Quon mundur beberapa langkah menjauh dari Liu Chen.


Walaupun ucapannya terdengar biasa saja, namun dalam hati berbeda. Liu Chen adalah satu satunya orang yang memang benar benar menerimanya saat pertama kali. Bahkan saat ketika berada di kota Bulan Merah, Liu Chen mempertaruhkan nyawanya hanya untuk dirinya. Liu Chen tidak meninggalkannya ketika dia berada dalam keadaan yang sulit.


Sangat sulit menemukan teman seperti Liu Chen. Baginya, Liu Chen sangat berharga. Namun ia terus menolak pernyataan itu dengan sebuah alasan 'Tuan' nya.


Song Quon berbalik dan akan pergi menjauhi Liu Chen. Namun tangannya segera di cengkram dari belakang. Song Quon menatap kearah tangan yang mencengkram tangannya. Iapun melirik ke belakang.


Liu Chen menatap Song Quon dengan serius, "Bukankah aku sudah berjanji tadi? Aku tidak akan menjauhimu setelah kau memberitaukan identitas yang kau katakan tadi. Jadi jangan pergi dariku"


"Tapi kau bisa melanggar janji itu. Bagaimana pun janji hanya-"


Liu Chen langsung memotong ucapan Song Quon, "Pria sejati adalah orang yang menepati janjinya. Lagi pula, kau adalah temanku. Seperti apapun identitas mu, kau tetaplah temanku. Jadi jangan pergi dariku, Quon"


Waktu terus berlalu, jam ke hari dan hari ke minggu. Sudah sekitar 2 minggu Liu Chen melatih para anggota. Para anggota juga perlahan melupakan tentang dua kubu pendukung ketua Xinxin maupun ketua Haocun. Kerja sama mereka juga semakin baik.


Beberapa anggota mulai mengetahui dan mengerti jurus jurus apa saja yang dimiliki Liu Chen karna mereka selalu bertarung dengan Liu Chen. Bahkan pernah ada yang hampir melukai Liu Chen saat itu.


Bukan para anggota itu saja yang berlatih. Namun Zhang Jiangwu, Song Quon, Lu Tuoli, Feng Ying dan Liu Chen juga berlatih. Namun mereka berlatih ketika sore sampai tengah malam. Liu Chen menjadi lawan tanding dari Song Quon. Sementara Zhang Jiangwu melawan Lu Tuoli dan Feng Ying. Untuk Han Liangyi sendiri, dia hanya diam saja memperhatikan latih tanding mereka yang terus dilakukan selama 2 minggu ini.


Liu Chen sudah memberitaukan rencananya yang ingin kelompoknya dijadikan empat divisi. Zhang Jiangwu dan yang lainnya setuju. Mereka hanya berdiskusi 5 orang saja. Yaitu Liu Chen, Song Quon, Zhang Jiangwu, Feng Ying dan Lu Tuoli.


Mereka tidak mengajak Zong Xian, Yang Jia Li maupun Chan Juan (Wakil Yang Jia Li) berdiskusi. Karna diantara ketiga orang itu masih terdapat konflik yang belum diselesaikan. Bila mereka mengajak ketiga orang itu, maka akan terjadi perdebatan.


Hari ini adalah hari libur bagi seluruh orang. Banyak orang yang pergi keluar karna memang mereka saat ini diperbolehkan pergi untuk berjalan jalan.


"Chen, ayo kita berburu" ajak Song Quon. Ia dan Liu Chen menjadi teman yang lebih akrab lagi. Song Quon merasa lega karna hubungannya dengan Liu Chen tidak rusak dan Liu Chen juga tidak menjauhinya. Pemuda itu menerima dia apa adanya, tidak peduli bagaimana identitas yang ia miliki.


Sementara Zhang Jiangwu tetap di markas. Ia sedang mengerjakan sesuatu. Tingkat kultivasi Zhang Jiangwu bertambah setelah dirinya memiliki senjata tingkat langit, pena keajaiban cerita. Ia sekarang sudah berada di tingkat bumi bintang 5.


Liu Chen sendiri sekarang memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari pemuda itu.


Lu Tuoli dan Feng Ying pergi ke kota terdekat, yaitu kota Biru. Wu Anming, Lao Tzu, Xing Fu, Wu Xianlun dan Zhi Shu juga pergi ke kota untuk berkeliling. Lao Tzu awalnya tidak mau ikut, namun Wu Anming dan Xing Fu terus memaksanya. Jadi terpaksa Lao Tzu ikut dengan kedua makhluk itu.


Liu Chen dan Song Quon segera masuk lebih dalam ke hutan. Walaupun markas mereka juga berada di hutan yang dalam, namun itu tidak cukup dalam. Markas mereka bisa dikatakan berada di tengah hutan.


........


Sementara itu, di markas para bandit kalajengking.


Zong Xian seperti biasa, menyuruh para bawahannya untuk lari berkeliling lapangan. Bahkan ia memberikan tambahan jumlah putaran lari.


Ia akan mengajarkan mereka menggunakan tombak ketika mereka semua sudah selesai berlari. Zong Xian disini hanya menunggu mereka di atas pohon. "Kalian berdua jangan bermalas malasan, cepat ikuti teman teman kalian yang lain!" ucapnya.


Kedua bawahannya yang tadi berjongkok segera berdiri dan kembali mengikuti teman teman mereka yang berlari mengelilingi lapangan. Setelah beberapa jam, akhirnya para bandit sudah selesai dengan latihan lari. Mereka semua terkapar di tanah karna lelah.


Zong Xian melompat turun dari atas pohon dan berjalan mendekati para bawahannya yang terkapar itu. "Kalian bisa istirahat selama 20 menit untuk memulihkan kondisi kalian"


"Hah?! Hanya 20 menit?!" protes seorang pria.


Zong Xian menatapnya sambil tersenyum sinis, "Kau ingin mendapat 'hadiah' dariku, ya?"


Pria itu dengan cepat menggelengkan kepala, "Maafkan saya ketua!"


Zong Xian membalikkan tubuhnya. Ia kembali merebahkan dirinya di atas pohon sambil memandang langit yang sudah siang.


"Membutuhkan waktu yang lama untuk menjadikan mereka divisi penyerang yang hebat. Tapi aku akan menikmati waktu untuk melatih mereka " batin Zong Xian.


Setelah 20 menit, akhirnya semua bawahan Zong Xian sudah berbaris rapi di lapangan. Beberapa ada yang terlihat masih kelelahan. Namun mereka tetap berbaris karna takut akan diberi 'hadiah' oleh Zong Xian.


Zong Xian kini sudah ada di hadapan mereka, "Baiklah kita akan latih tanding satu lawan satu. Kalian bisa memilih lawan kalian sen..."


Ucapan Zong Xian terhenti. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Sementara itu, bawahannya sudah pingsan tergeletak di tanah. Zong Xian terkejut karna tidak bisa menggerakkan tubuhnya.

__ADS_1


Seorang pria berjalan melewati Zong Xian dari arah samping kiri. Pria itu pun membalikkan tubuhnya hingga menatap kearah Zong Xian. Aura yang dikeluarkannya sangat kuat hingga membuat bawahan Zong Xian pingsan. Bahkan Zong Xian tidak bisa bergerak karna aura dari pria itu.


"Katakan dimana pemuda berpakaian biru itu?" ucap pria tersebut sambil menatap Zong Xian dengan tatapan intimidasi.


Zong Xian menelan ludahnya sendiri melihat tatapan itu. "Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia bisa menekanku seperti ini? Dia sangat kuat "


"Si-siapa yang anda mak-sud?" ucap Zong Xian dengan kesulitan.


"Beberapa hari yang lalu dia ada disini. Terbaring di salah satu kamar yang ada di rumah ini. Sebaiknya kau mengatakannya segera" ucap pria itu.


Zong Xian langsung berlutut di tanah karna tekanan yang dikeluarkan pria di hadapannya. Ia berfikir, siapa yang dimaksudkan olehnya? Dan.. siapa pria ini?


Beberapa hari kemudian, di dalam hutan tempat berdirinya markas kelompok topeng bayangan. Nampak Zong Xian berada di depan gua bersama pria yang menekannya saat itu.


Saat itu, yang terpikirkan oleh Zong Xian adalah Liu Chen. Jadi ia kira pria yang bersamanya itu ingin menemui Liu Chen. Zong Xian mengantarnya ke markas karna merasa Liu Chen ada disini.


Zong Xian tidak merasakan adanya niat membunuh dari pria di sampingnya saat menceritakan tentang Liu Chen. Maka dari itu ia membawanya kemari. Bila ia melawan pun, itu takkan berguna. Ia bisa saja langsung mati oleh pria di samapingnya ini. Jadi bagaimana mungkin dia akan menunjukkan tempat yang salah?


Bila pria itu tidak memiliki niat membunuh pada temannya, maka Zong Xian akan mengantarkannya menemui temannya.


"Ka-kau tunggu disini", Zong Xian langsung masuk ke dalam gua meninggalkan pria yang bersamanya.


Setelah sampai di ujung gua, Zong Xian mengeluarkan token miliknya dan menempelkan token pada dinding. Setelah pintu gua membuka, Zong Xian langsung masuk dan menuruni tangga.


"Ketua Haocun!", kaget kedua penjaga ketika melihat Zong Xian ada di hadapan mereka.


"Apa yang anda inginkan sehingga datang kemari?"


"ketua kedua, Xun. Panggilkan dia sekarang. Aku memiliki urusan dengannya. Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun padanya. Aku tau kalian pasti tidak akan membiarkanku masuk. Jadi kalian bawa saja Xun kemari. Ini benar benar penting!" ucap Zong Xian dengan serius.


Kedua penjaga saling melirik. Akhirnya satu orang penjaga masuk ke dalam dan kini yang menjaga pintu hanya ada satu orang.


Di dalam ruang latihan, semua anggota nampak terengah engah. Beberapa orang tergeletak di tanah. Sekarang adalah waktu istirahat. Jadi mereka bisa mengistirahatkan diri untuk sejenak saat ini.


"Huft.. Lelah sekali", keluh Dong, teman dekat Yelu. Ia pernah bertarung melawan Yelu saat turnamen empat bintang.


"Padahal kita hampir saja melukai ketua Xun tadi" ucap Yelu yang duduk di samping Dong.


"Waktu pertarungan tadi lebih lama dari biasanya" ucap Zhi Shu, teman Wu Xianlun.


Wu Xianlun mengangguk setuju, "Bukankah artinya kita ada peningkatan?"


"Kau benar", Zhi Shu mengangguk setuju.


Sekarang mereka bisa mengeluarkan kata hati mereka karna Liu Chen akan bersikap seperti yang mereka kenal ketika waktu istirahat. Jika saat pelatihn kembali dimulai, maka mereka takkan berani berbicara sepuasnya saat ini.


"Bagus, kemampuan kalian bertambah baik", Liu Chen tersenyum.


"Terimakasih ketua Xun!"


Liu Chen mengangguk. Tak lama kemudian, seseorang langsung masuk ke dalam ruang latihan.


"Ke-ketua Xun, ketua Haocun menunggu anda di depan pintu keluar" ucap penjaga yang tadi masuk ke dalam untuk memberitaukan kedatangan Zong Xian.


Seketika semua anggota terdiam mendengar itu. Mereka mengalihkan tatapannya pada penjaga.


Liu Chen mengerutkan kening mendengar ucapan penjaga, "Kalau begitu antarkan aku padanya"


"Ketua Xun, bagaimana bila ketua Haocun menyerang anda dan ingin melukai anda?" ucap seorang wanita. Ia merupakan pendukung Yang Jia Li. Jadi tentunya ia akan berfikiran yang tidak baik pada kedatangan Zong Xian ini.


"Hei, jaga ucapanmu. Ketua Haocun tidak mungkin datang kemari untuk menyerang ketua Xun" ucap seorang pendukung Zong Xian.


Kini ruangan latihan mulai berisik dengan ucapan ucapan marah yang keluar dari kebanyakan anggota.


"Apa kalian bisa diam?"


Semua anggota tertegun sejenak. Mereka menelan ludahnya dengan susah payah. Lalu melihat kearah suara.


Liu Chen menatap mereka dengan dingin. Dia 'lah yang berucap tadi. Ia melakukan ini agar semua anggota kembali diam dan tidak meributkan tentang dua kubu itu lagi.


"Bagus, jangan berisik. Antarkan aku pada ketua Haocun", Liu Chen langsung melirik penjaga.


"B-baik", penjaga itu mulai mengantarkan Liu Chen menuju pintu keluar markas.

__ADS_1


__ADS_2