
Liu Chen melebarkan matanya kala melihat tanda yang ada di bawah leher Tao Mu. "Tanda ini.. Tidak mungkin!" gumamnya.
Tao Mu yang melihat reaksi Liu Chen menjadi heran, "Ada apa Gang?"
Liu Chen mengatur nafasnya dan mengembalikan ketenangan yang sempat hilang tadi. Iapun menggelengkan kepala, "Tidak ada"
"Tapi tadi kau terlihat sangat terkejut"
"Ehm.. Tidak juga.. Aku tadi hanya mengira bahwa tanda itu pernah kulihat sebelumnya. Tapi ternyata aku salah lihat saja, ha ha", Liu Chen tertawa canggung.
Tao Mu mengangguk paham.
"Aku tidak bisa memberitahunya" batin Liu Chen.
"Ehm.. Gang, dimana teman teman anda yang lain?" ucap Tao Mu.
Liu Chen menggelengkan kepala, "Aku tidak tahu dimana mereka berada. Aku juga tadi hanya kebetulan menemukanmu disini"
"Apa kita cari saja mereka?"
Liu Chen mengangguk, "Kita cari mereka bersama. Aku khawatir pada mereka"
"Baik!"
Mereka berdua pun kini mulai berjalan kembali.
Liu Chen melirik Tao Mu. "Aku harus mengawasinya. Jangan sampai.. Hal itu terjadi. Tapi bagaimana aku bisa mengetahui hal ini?", iapun kembali menatap kearah depan dengan bingung.
*
Di tempat lain, di dalam hutan dengan pepohonan raksasa. Terlihat Song Quon dan Han Liangyi berdiri saling berhadapan.
"Eh?! Kenapa aku malah bertemu denganmu?! Padahal aku sedang mencari Chen!" ucap Song Quon dengan kesal.
"Huh, memangnya aku juga mau bertemu denganmu disini?" ucap Han Liangyi dengan ketus.
"Tck, aku mau kembali mencari Chen", Song Quon mulai pergi berjalan lurus ke depan.
"Dari pada aku sendiri, lebih baik aku ikut saja dengannya" batin Han Liangyi. Iapun menyusul Song Quon.
"Heh, kenapa kau mengikutiku?!"
"Aku juga ingin pergi kearah sana. Jangan terlalu percaya diri bahwa aku ingin mengikutimu!" ucap Han Liangyi.
"Kalau begitu kau pergi duluan!"
"Aku ingin menikmati perjalanan. Jadi jangan salahkan aku bila aku berada di belakangmu," Han Liangyi mencoba membela diri.
"Cih, bilang saja ingin mengikutiku?" gumam Song Quon. Iapun mengabaikan Han Liangyi dan tetap berjalan ke depan.
*
Liu Chen bersama Tao Mu terus berjalan selama seharian di dalam hutan bambu. Namun mereka belum juga menemukan luar hutan.
"Sebenarnya.. Seberapa luas hutan bambu ini? Sejak tadi, kita tidak juga sampai di luar hutan" ucap Tao Mu.
"Akupun tidak tahu. Apa mungkin ini salah satu ujian lainnya?"
"Ujian apa yang kau maksud?"
Liu Chen menjelaskan bahwa ujian yang dimaksudnya hanyalah tebakan saja dan menurutnya hutan kabut darah merupakan sebuah tempat ujian untuk pergi menuju suatu tempat.
Tao Mu mengangguk ketika mendengar penjelasan Liu Chen.
Liu Chen tiba tiba berhenti berjalan. Iapun langsung terbatuk darah. "Uhuk.."
Tao Mu terkejut kala melihat itu. Iapun membantu Liu Chen berdiri karna pemuda itu nampak agak lemas. "Ada apa denganmu? Apa yang terjadi?"
"Aku baik baik sa- uhuk..", Liu Chen merasa tubuhnya semakin lemas.
Melihat hal ini, Tao Mu langsung membawa Liu Chen ke sebuah batu dan membaringkan pemuda itu disana.
Wajah Liu Chen terlihat pucat. Kini dirinya sudah pingsan.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Tao Mu dengan khawatir. Iapun mencoba melakukan telepati. "Hah?! Kenapa tidak bisa?!", kagetnya.
Kini, Tao Mu tidak bisa melakukan telepati. Tao Mu menjadi bingung harus melakukan apa. Ia sangat khawatir bila sesuatu yang buruk terjadi pada Liu Chen. Jadi, yang bisa dilakukan Tao Mu saat ini hanyalah menunggu Liu Chen siuman.
Keesokan harinya, Liu Chen mulai membuka mata. "Grh"
__ADS_1
Melihat bahwa Liu Chen mulai sadar, membuat Tao Mu senang. Ketika Liu Chen akan duduk, Tao Mu langsung membantu Liu Chen.
"Apa yang terjadi?", tangan kiri Liu Chen memegang kepala.
"Akhirnya kau sudah sadar, huftt. Aku sangat khawatir tadi padamu" ucap Tao Mu sambil menghela nafas. Iapun mulai menceritakan apa yang terjadi pada Liu Chen, dimulai ketika Liu Chen berhenti berjalan dan terbatuk darah. "Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?"
Liu Chen mengangguk. Kini wajahnya tidak sepucat kemarin. Kali ini tubuhnya juga sudah membaik. "Sebenarnya keadaanku kemarin disebabkan karna efek dari menggunakan jurus langkah bayangan dan elemen es secara bersamaan terus menerus. Hingga akhirnya membuatku terluka"
"Kalau begitu, kau jangan menggunakannya terus menerus. Bila tidak, maka keadaanmu mungkin akan semakin parah. Kau bisa menggunakannya ketika keadaan sangat terdesak saja" ucap Tao Mu sambil menatap langsung mata Liu Chen dengan tegas dan khawatir secara bersamaan.
"Tapi..", Liu Chen terdiam melihat tatapan Tao Mu. Iblis itu terlihat sangat khawatir dengannya dan Liu Chen dapat melihat bahwa Tao Mu memang benar benar tulus mengkhawatirkannya. Sebelumnya, tidak pernah ada iblis yang benar benar tulus padanya, kecuali ayahnya ketika di kehidupan pertama. Namun di kehidupan ini, ia menemukan tiga iblis yang memang tulus mengkhawatirkannya.
"Baiklah akan kuusahakan" ucap Liu Chen sambil menghela nafas.
Tao Mu tersenyum.
"Sebaiknya kita segera berangkat sekarang" ucap Liu Chen.
"Tapi bagaimana denganmu?"
"Aku sudah baikan. Jangan mengkhawatirkanku. Di depan sana, pasti masih ada banyak tempat sulit dan berbahaya yang harus kita lewati. Jadi kita tidak boleh membuang banyak waktu disini."
Tao Mu mengangguk, "Bila kau sudah baikan, maka baiklah. Tapi bila kau merasa sakit lagi, katakan padaku. Kita akan istirahat dulu"
Liu Chen tersenyum, "Baiklah"
Mereka melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Setelah berjalan selama seharian penuh, mereka kini telah sampai di luar hutan bambu. Di depan mereka nampak sebuah danau yang sangat luas. Di seberang danau ada sebuah hutan.
Keduanya langsung terbang melewati di atas danau. Sementara itu, di danau muncul gelembung gelembung air dan air seperti bergejolak.
Hingga akhirnya keluarlah banyak tentakel dari dasar danau. Tentakel tentakel itu langsung menyerang kearah Liu Chen dan Tao Mu yang sedang berada di atasnya.
Liu Chen yang menyadari itu langsung berteriak, "Hati hati, Mu!"
Tao Mu melihat kearah dimana Liu Chen menatap. Ia terkejut melihat tentakel raksasa menuju kearahnya dengan sangat cepat. Iapun langsung terbang lebih tinggi sehingga tentakel tidak mengenai tubuhnya. "Fiuh.."
"Apakah itu.. Kraken? Tapi.. Kenapa kraken tinggal di dasar danau? Bukankah kraken hidup di laut?" gumam Liu Chen dengan bingung.
Liu Chen langsung mengeluarkan pedang phoenix api dan mengalirkan Qi miliknya ke pedang. Iapun tanpa ragu menebas tentakel yang menuju kearahnya.
CRASHH
"Tentakel itu keras sekali. Bahkan aku membutuhkan cukup banyak Qi untuk memotongnya" gumam Liu Chen. Iapun berteriak kearah Tao Mu, "Kau tetap disana. Karna jika kau membantu, maka kau mungkin akan terluka. Tentakel ini sangat keras!"
"Tapi Gang.."
"Tidak ada tapi tapian. Kau pergi menjauh dari sini. Biar aku yang mengurus masalah kraken ini", Liu Chen menatap ke bawah dasar danau. Disana dia dapat melihat bayangan sesuatu yang besar.
"Baiklah, jaga dirimu. Bila terjadi sesuatu, aku akan langsung pergi kearahmu dan membantumu!" ucap Tao Mu. Iapun langsung terbang menjauh dari danau dan pergi menuju hutan.
Liu Chen mengangguk. Iapun langsung melesat kearah bawah.
1 jam kemudian...
"Tak sia sia kita bertemu dengan kraken di tempat seperti ini" ucap Liu Chen. Iapun menggigit daging yang dipegangnya. Ia tersenyum senang.
Setelah mengalahkan kraken, Liu Chen langsung membawa daging demonic beast itu ke hutan dan menemui Tao Mu. Tao Mu membantu membumbui daging kraken dengan rempah rempah yang ada di hutan. Ia dan Liu Chen langsung membakarnya.
"Masakanmu enak juga, Mu" ucap Liu Chen. Ia sangat menikmati makanan yang baru didapatnya ini.
"U-um.. Gang, dimana sisa daging yang ku simpan tadi di depanmu?" ucap Tao Mu dengan ragu.
"Eh? Memangnya kenapa? Aku tadi baru saja selesai memakannya ketika kau pergi ke danau" ucap Liu Chen tanpa rasa bersalah.
"Itu.. Sebenarnya untukku" ucap Tao Mu dengan lirih.
"Bukankah tadi dia sudah mengambil daging panggang yang lebih banyak dariku? Lalu kenapa dia masih belum kenyang dan malah.. Memakan daging bakar milikku?" batin Tao Mu menghela nafas.
"Ah, Mu! Kau diam saja disini. Kita hanya memanggang sebagian daging kraken tadi. Jadi masih ada sisa. Biarkan aku saja yang membuatnya. Kau duduk dengan tenang saja disini. Ini sebagai permintaan maafku" ucap Liu Chen.
"Tapi aku akan merepotkanmu"
"Tidak repot sama sekali. Lagi pula, kau juga sudah membuatkan makanan untukku tadi. Sekaramg giliranku", Liu Chen tersenyum sambil menunjuk dirinya sendiri memakai jempol. Ekspresi percaya diri nampak di wajah pemuda itu.
Tao Mu menjadi terharu mendengarnya. Iapun mengangguk, "Terimakasih"
Liu Chen langsung mengeluarkan daging besar dari dalam cincin ruang miliknya. Iapun mencari rempah rempah di sekitar dan langsung membuat bumbu. Setelah selesai, ia mengolesinya ke daging kraken yang sudah dicuci dengan bersih tadi.
Setelah selesai, Liu Chen mulai memanggang daging. "Pasti Mu akan menyukainya!" gumam Liu Chen. Iapun tersenyum.
__ADS_1
"Wah! Aku tak percaya akan dapat merasakan masakan legendaris pangeran yang dikatakan orang orang!" batin Tao Mu yang sangat senang. Ia menjadi tak sabar menunggu daging kraken matang.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Liu Chen telah selesai memanggang daging. Iapun memberikannya pada Tao Mu. "Hehe, makanan buatanku terlihat enak bukan?" ucapnya dengan percaya diri.
Tao Mu mengangguk semangat. Iapun langsung mengambil daging yang sudah matang dan mulai mengigit. Sudut matanya mengeluarkan air mata.
Melihat itu, Liu Chen langsung tersenyum senang, "Apa rasanya sangat enak hingga kau terharu seperti itu, Mu?"
Tao Mu mengangkat jempolnya. Tak lama, tubuhnya jatuh ke tanah dengan daging yang masih digigitnya.
Liu Chen terkejut. Iapun langsung menggoyang goyangkan tubuh Tao Mu, "Mu! Kau kenapa?! Mu! Jangan pingsan karna saking terharunya! Mu?!"
Beberapa jam kemudian...
Tao Mu mulai membuka mata dan mendapati bahwa dirinya berada di hutan. "Benar benar.. Legendaris" gumamnya. Iapun berwajah pucat ketika membayangkan bagaimana rasa makanan yang dimakannya tadi. "Aku tak ingin memakannya lagi"
Iapun melihat sekitar dan tahu bahwa dirinya masih di tempat yang sama. Ketika melihat kearah samping kanannya, ia dapat melihat seorang pemuda yang sedang tertidur sambil bersandar di sebuah batu. "Pangeran sepertinya kelelahan. Aku tidak boleh mengganggunya" gumam Tao Mu.
Liu Chen tiba tiba membuka mata dan terlihat bahwa nafasnya tidak beraturan.
Melihat bahwa pangerannya sudah bangun, Tao Mu langsung menghampiri Liu Chen. "Apa kau baik baik saja?" ucapnya dengan khawatir ketika melihat wajah Liu Chen yang nampak sulit.
Liu Chen yang masih menenangkan dirinya pun terkejut dengan kedatangan Tao Mu. Ia secara refleks langsung mendorong Tao Mu hingga membuat iblis yang tak siap itu pun terjatuh.
Tao Mu terkejut dengan apa yang Liu Chen lakukan. Begitupun sebaliknya. Liu Chen tak berniat mendorong Tao Mu seperti itu. "M-maaf", hanya itu yang bisa diucapkan Liu Chen saat ini.
Tao Mu mengubah posisinya menjadi duduk. Ia duduk di samping Liu Chen dan memperhatikan pemuda itu dengan seksama. "Kau kenapa?"
Liu Chen menggelengkan kepala dengan cepat, "Aku hanya mimpi buruk tadi. Bagaimana dengan keadaanmu? Apa kau baik baik saja?"
Tao Mu mengangguk, "Aku baik baik saja. Waluapun lidahku tidak terlalu baik"
"Lain kali, jangan terlalu terharu seperti tadi. Hanya memakan masakanku saja kau sampai terharu seperti itu bahkan sampai pingsan", Liu Chen menggelengkan kepala.
Tao Mu tersenyum canggung dan berkata, "Masakanmu sangat enak. Jadi aku sampai seperti itu," namun dalam hati, "Terharu? Ya, aku terharu.. Sangat terharu dengan masakan pangeran.. Rasanya.. Aku tidak mau memakannya lagi.. Benar kata orang orang masakan pangeran adalah yang melegenda.. Dalam artian lain"
Liu Chen mengeluarkan daging yang belum dimakan tadi dari dalam cincin ruangnya, "Kalau begitu, habiskan"
Tao Mu kembali pucat. Iapun menggelengkan kepala, "Aku sudah tidak lapar lagi. Kau bisa menyimpannya," hanya ini yang bisa Tao Mu katakan. Tidak mungkin dia berterus terang dengan rasa makanan itu.
"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita lanjutkan perjalanan", Liu Chen kembali memasukkan makanannya ke dalam cincin ruang. Iapun berdiri. Begitu juga Tao Mu.
Ketika mereka baru saja berdiri, sebuah suara yang tak asing terdengar. "Chen!"
Liu Chen dan Tao Mu melirik kearah suara berasal. Mereka melihat dua orang pemuda yang berjalan menuju kearah mereka saat ini. Mereka berdua adalah Song Quon dan Han Liangyi.
"Kalian berdua" ucap Tao Mu.
"Huft.. Akhirnya kami menemukan kalian. Kami sudah mencari kalian selama beberapa hari ini. Akhirnya kita bertemu" ucap Song Quon.
Liu Chen tersenyum, iapun tiba tiba mengangkat tangannya. Sebuah angin dingin dengan butiran es kecil langsung berputar di tangan Liu Chen. Ia menatap Han Liangyi dan Song Quon.
Song Quon dan Han Liangyi langsung terkejut melihat Liu Chen yang mengarahkan serangan seperti itu kearah mereka. Keduanya langsung menyalurkan Qi ke seluruh tubuh untuk melindungi mereka. Mereka mengira, mungkin Liu Chen yang mereka lihat bukanlah yang asli dan Liu Chen berniat menyerang mereka.
Sementara Tao Mu beranggapan bahwa Song Quon dan Han Liangyi yang kemari adalah musuh yang menyamar.
Liu Chen langsung melemparkan serangan. Han Liangyi dan Song Quon menatap waspada.
WHUSS
"Eh?!"
"Eh?!"
"Eh?!"
Serangan melewati Song Quon dan Han Liangyi. Seranganpun langsung mengenai sebuah batu.
Song Quon, Han Liangyi dan Tao Mu menjadi tak mengerti dengan apa yang Liu Chen lakukan. Ketiganya melihat kearah batu yang membeku. Namun tak melihat apapun.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Han Liangyi.
Liu Chen tertawa canggung. Ia menurunkan tangannya yang tadi terulur. "Ha ha ha, bukan apa apa. Aku tadi hanya bosan. Karna beberapa hari tidak juga menggunakan kekuatan es ku. Jadi kugunakan sekarang"
Song Quon, Han Liangyi dan Tao Mu menatap Liu Chen seakan tak percaya. "Hanya itu?" ucap ketiganya serempak.
Liu Chen mengangguk angguk sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Ha ha maaf, sepertinya aku tadi mengejutkan kalian"
Song Quon dan Han Liangyi menghela nafas. Begitupun Tao Mu. Mereka kira, Liu Chen ingin melakukan apa, ternyata hanya ingin mengeluarkan kekuatan es saja.
__ADS_1
Liu Chen masih tertawa canggung, "Sial, aku tidak mengenainya tadi", kesalnya dalam hati.