
Sudah beberapa hari semenjak keberangkatan Yang Jia Li pergi ke istana. Song Quon kini sudah sampai di markas. Ia pergi ke kamarnya terlebih dahulu untuk beristirahat. Ia belum menemui Liu Chen sama sekali saat ini.
Saat kedatangan pertamanya, ia hanya bertemu dengan Feng Ying. Salah satu orang yang dikenalnya di markas. Song Quon tidak mengenal semua anggota, ia hanya mengenal beberapa orang saja disini.
Saat menanyakan tentang Liu Chen, Feng Ying menjawab bahwa Liu Chen ada di kamarnya dan sedang membuat pil beberapa hari ini. Karna penjelasan itu, Song Quon memilih untuk menemuinya nanti saja. Ia tak mau mengganggu temannya itu.
Song Quon membersihkan dirinya di kamar mandi. Setelah selesai, ia keluar dengan memakai pakaian berwarna biru. Ia menatap kearah luar jendela. "Hm..sudah beberapa hari ini aku keluar dari markas" gumam nya.
Saat masih sedang menatap kearah jendela, ia dapat mendengar langkah kaki yang mendekat kearah kamarnya berada.
Tok tok tok
Tak lama pintu diketuk, "Masuk saja" ucap Song Quon. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari jendela sama sekali ketika seseorang masuk ke dalam kamarnya. Karna ia sudah tau siapa yang datang.
"Qiang (Song Quon), apa aku boleh meminta bantuan mu?" ucap orang tersebut. Dia adalah Feng Ying.
Song Quon membalikkan tubuhnya hingga menatap kearah Feng Ying, "Ada apa?"
"Bisakah kau membantuku mengajari semua anggota gerakan berpedang? Karna aku tidak bisa memakai pedang. Aku pengguna tombak. Memang ada Duan (Lu Tuoli) yang bisa menggunakan pedang. Namun kami juga membutuhkan bantuan tambahan. Apa kau tidak keberatan membantu kami?", jelas Feng Ying.
Song Quon menatap Feng Ying sejenak dan berfikir, "Aku baru saja kembali. Tapi kenapa aku tidak dibiarkan istirahat"
"Hehe, kami tidak tau harus meminta bantuan pada siapa lagi. Aku dan Duan sudah meminta bantuan pada Jian (Lao Tzu) dan Yelu. Namun tidak mungkin hanya kami berempat yang mengajari mereka. Karna jumlah mereka ada ratusan orang"
Song Quon menghela nafas. Iapun mengangguk, "Baiklah. Tapi setelah latihan hari ini selesai, jangan mengganggu ku. Aku ingin istirahat nanti"
Feng Ying tersenyum, "Baiklah. Kalau begitu, ayo", ia pun berjalan menuju pintu.
Song Quon langsung mengikuti Feng Ying keluar dari kamar miliknya. Mereka pergi menuju ruang latihan, dimana semua anggota sedang berkumpul disana.
Di tempat lain, setelah beberapa hari berlari akhirnya Yang Jia Li, Chan Juan dan Zong Xian sampai di depan istana. Kini mereka tidak lagi memakai jubah dan topeng agar tak dicurigai sebagai penjahat oleh prajurit yang menjaga gerbang.
"Tuan putri!" ucap kedua prajurit yang menjaga gerbang saat melihat Yang Jia Li berjalan menuju kearah mereka.
Kini Yang Jia Li dan kedua temannya sudah berada tepat dihadapan kedua prajurit itu. Kedua prajurit langsung membungkukkan tubuhnya kala melihat Yang Jia Li.
"Bukakan gerbangnya. Aku ingin masuk dan bertemu Kaisar" ucap Yang Jia Li.
Kedua prajurit segera membukakan gerbang dengan cepat. "Silahkan masuk Tuan putri"
Yang Jia Li masuk dengan diikuti Chan Juan dan Zong Xian.
Kedua prajurit langsung menutup kembali gerbang setelah melihat mereka masuk ke dalam.
"Siapa kedua orang yang bersama Tuan putri?" ucap salah satu prajurit.
Prajurit di sampingnya menggelengkan kepala, "Aku juga tidak tau. Mungkin mereka adalah teman Tuan putri"
"Huft..akhirnya Tuan putri kembali. Yang Mulia dan permaisuri pasti sangat senang"
Ucapannya langsung diangguki teman prajuritnya.
Saat Yang Jia Li dan kedua temannya berniat masuk ke dalam ruang utama, mereka langsung dihalangi oleh prajurit yang berjaga disana.
Melihat itu, membuat Yang Jia Li kesal. "Jangan halangi aku, aku ingin menemui Yang Mulia"
"Ma-maaf Tuan putri, tapi Yang Mulia sedang rapat di dalam dengan petinggi petinggi lain" ucap seorang prajurit dengan ragu.
"Biarkan aku masuk, lagi pula ayah tidak akan marah"
"Tapi-"
"Biarkan aku masuk atau aku akan pergi dari sini. Bila ayah mengetahui aku pergi lagi, maka kalian akan dihukum dengan berat oleh ayah", rengek Yang Jia Li. Dia terlihat kekanak kanakan.
"Kalau begitu ,saya akan masuk dan mengatakannya terlebih dahulu pada Yang Mulia" ucap seorang prajurit.
Yang Jia Li mengangguk, "Baiklah, tapi jangan lama"
Prajurit itu mengangguk. Ia segera masuk ke dalam ruang utama dan memberitaukan perihal kedatangan Tuan putri.
Awalnya Kaisar marah karna prajuritnya masuk saat dirinya sedang mengadakan rapat dengan para petinggi. Namun ketika mendapat penjelasan bahwa putrinya kembali, Kaisar tidak jadi marah dan langsung mengizinkan Yang Jia Li masuk.
Sementara itu, di tempat lain. Zhang Jiangwu sudah sampai di salah satu sekte kecil aliran hitam yang kini sudah musnah karna ulah seseorang.
Dia dapat melihat keadaan disana yang sangat berantakan. Mayat dimana mana. Karna sudah beberapa hari, tentunya ada belatung pada mayat mayat itu. Bau busuk dan anyir darah tercium menusuk hidung.
Zhang Jiangwu nampak menggunakan topeng dan jubah putihnya. Dia pergi ke wilayah aliran hitam, karna merasa bahwa bila ia pergi ke bagian sekte aliran putih, maka mayat dari para anggota sekte pasti sudah dikuburkan oleh orang orang dari sekte aliran putih yang lain.
Sementara sekte aliran hitam tentu tidak sepeduli sekte aliran putih pada aliran yang sama dengannya. Jadi sekte aliran hitam kebanyakan tidak akan ada yang peduli dengan mayat mayat itu dan tentu tidak akan mengurus hal hal seperti itu.
Zhang Jiangwu mendekat kearah sekte yang kini sudah berantakan. Walaupun tercium bau anyir dan busuk, nyatanya pemuda ini masih bersikap datar. Seolah dia tidak terganggu dengan aroma busuk dan anyir darah di sekeliling nya. Namun sebenarnya dia cukup terganggu dengan bau di sekitar, tapi ekspresi yang di perlihatkannya masih saja datar.
__ADS_1
Zhang Jiangwu terus berjalan masuk ke dalam sekte hingga dirinya berada di ruangan utama. Dia berkeliling sekitar ruangan untuk mencari sesuatu yang kemungkinan bisa dijadikan petunjuk.
Ternyata, di ruang utama juga terdapat beberapa mayat. Ini membuat Zhang Jiangwu berfikir bahwa penyerang menyerang bagian luar terlebih dahulu. Setelahnya langsung masuk ke dalam sebelum semua orang orang yang berada didalam keluar.
Bahkan, bukan hanya ruang utama saja yang terdapat mayat. Namun setiap ruangan dan disetiap bagian koridor terdapat mayat yang tergeletak. Apakah orang yang menyerang sangat cepat, hingga membuat orang yang ingin pergi keluar saat itu langsung tewas sebelum sampai?
Wajah mayat mayat yang tergeletak dimana mana itu memiliki ekspresi yang sama. Yaitu ketidak percayaan dan keterkejutan.
Ini membuat Zhang Jiangwu berasumsi bahwa penyerang adalah orang yang memiliki kecepatan sangat cepat. Tapi bila penyerang memiliki kecepatan yang sangat cepat, seharusnya mayat mayat ini tidak memperlihatkan ekspresi terkejut dan ketidak percayaan seperti itu. Apalagi ini bukan hanya satu, namun semua.
Lalu, dilihat dari kondisi mayat, mereka seperti mati dalam waktu hampir bersamaan. Jadi, apakah orang yang menyerang sangat banyak?
Zhang Jiangwu terus berkeliling sekte. Dia juga bahkan menemukan gudang harta dari sekte ini. Namun terlihat bahwa harta itu masihlah utuh.
Bila sekte lain yang menyerang, seharusnya mereka mengambil semua harta itu. Bahkan Zhang Jiangwu dapat menemukan perpustakaan dengan buku buku jurus cukup banyak. Namun itu semua terlihat seperti tidak disentuh sama sekali oleh penyerang.
Zhang Jiangwu berfikir, bahwa penyerang bukanlah dari sebuah sekte. Karna bila itu sekte, seharusnya dia mengambil semua buku jurus dan harta yang ada di dalam sekte. Tapi ini tidak.
Zhang Jiangwu juga tidak berfikir bahwa ini karna balas dendam. Karna, waktu penyerangan yang dilakukan ke sekte ini hanya berbeda sehari sampai dua hari saja dengan penyerangan yang ada di sekte lain. Bila hanya balas dendam, mengapa sekte lain juga terkena imbasnya?
Hingga tibalah Zhang Jiangwu di sebuah ruangan. Disana, dia juga dapat melihat beberapa mayat. Namun, mayat yang dilihatnya saat ini berbeda. Mereka memiliki ekspresi yang sama dengan mayat lain, namun yang membuat Zhang Jiangwu agak terkejut adalah dua orang mayat yang terlihat saling menusukkan pedangnya.
Padahal, jika dilihat baik baik, kedua pakaian mayat itu berasal dari sekte yang sama.
Yang ada di fikiran Zhang Jiangwu saat ini adalah ada beberapa anggota sekte yang berkhianat. Namun ketika di pikirkan kembali, ia teringat bahwa ada 3 sekte lain yang juga memiliki nasib sama seperti sekte ini. Jadi tak mungkin dengan jarak waktu yang tidak jauh, ada pengkhianat di 4 sekte sekaligus dengan rentan waktu yang tidak berbeda jauh.
Seketika, Zhang Jiangwu mengingat sebuah senjata tingkat langit. Ada salah satu senjata berbentuk seruling yang dapat membuat sebuah ilusi. Orang orang yang sudah masuk dalam ilusi, akan cukup sulit keluar dari ilusi itu.
Zhang Jiangwu mengerutkan kening sambil melihat dengan teliti mayat yang tak jauh berada darinya. Walaupun dua mayat itu nampak sudah hampir tak berbentuk, namun Zhang Jiangwu masih dapat melihat posisi mereka yang terlihat seperti saling menusukkan pedang kepada teman nya.
Kini Zhang Jiangwu berfikir bahwa sekte ini tidak diserang banyak orang hingga membuat semua anggota sekte mati. Namun mereka saling menyerang teman mereka sendiri karna pengaruh sebuah ilusi.
Bila para tetua dan patriarch saja mati karna ilusi ini, berarti ilusi ini sangat kuat. Sementara yang dapat membuat ilusi sampai sekuat ini hanyalah senjata tingkat langit, yaitu seruling ilusi.
Pasti orang orang ini tersadar ketika mereka sudah melenyapkan temannya. Jadi ekspresi terkejut yang mereka perlihatkan adalah karna mengetahui bahwa yang diserang adalah teman sendiri. Bukan musuh.
Zhang Jiangwu yakin dengan pemikirannya yang satu ini. Namun, ia masih belum tahu apa tujuan dari si pelaku dan siapa pelaku itu. Tetapi yang jelas, pelaku adalah orang yang dapat menggunakan seruling ilusi. Menurut Zhang Jiangwu, penyerang hanyalah satu orang yaitu orang yang dapat memainkan seruling ilusi.
Tidak banyak orang yang dapat menggunakan senjata itu. Bila mereka gagal menggunakan seruling ilusi, maka diri mereka akan masuk dalam ilusi buruk yang tidak berkesudahan sampai mereka mati.
Ketika Zhang Jiangwu sedang berfikir, ia menangkap adanya suara. Ya, suara itu adalah suara seruling. Suara berasal dari halaman depan. Mendengar itu, Zhang Jiangwu bergegas ke depan untuk melihat siapa orang yang sedang bermain seruling.
Melihat seseorang sudah keluar dari sekte yang rusak itu, wanita pemain seruling menghentikan aksinya. Ternyata wanita itu adalah Xin Qian. Wanita yang pernah membawa Liu Chen dan Song Quon ke dalam ilusi hingga mereka hampir saja masuk ke dalam jurang yang berisi mayat mayat masyarakat sebuah desa.
"Sudah kuduga, ada seseorang di dalam sekte ini" ucap Xin Qian.
Zhang Jiangwu menatap waspada kearah Xin Qian. Ia yakin, wanita itulah penyebab dari menghilangnya sekte aliran putih dan sekte aliran hitam itu. Ia harus berhati hati karna wanita itu memiliki seruling ilusi dan tingkatan kultivasi wanita itu juga berada ditingkat yang sama dengannya. Yaitu bumi bintang 1.
Sementara itu, di tempat lain.
Kaisar Yang, permaisuri, Yang Jia Li, Zong Xian dan Chan Juan, kini sudah berada di sebuah ruangan. Rapat yang dilakukan Kaisar, tadi dipercepat olehnya karna ia ingin segera bertemu dengan putrinya.
"Kenapa kau pergi tanpa memberitau ayahmu ini, bocah nakal" ucap Kaisar Yang.
"Karna ayah tak mengizinkanku pergi, jadi aku pergi saja tanpa memberitau ayah. Lagi pula, ayah hanya akan melarangku saja untuk pergi" ucap Yang Jia Li dengan cuek.
"Sayang, kamu membuat kami cemas. Bagaiman bila terjadi sesuatu denganmu?" ucap permaisuri. Ia datang kemari setelah mengetahui bahwa putrinya telah pulang.
Permaisuri masih memeluk Yang Jia Li. Seakan, tidak mau putrinya pergi lagi.
"Ibu tenang saja, aku akan baik baik saja diluar. Kalian tak perlu mengkhawatirkanku" ucap Yang Jia Li sambil tersenyum.
Permaisuri melepaskan pelukannya dari Yang Jia Li. Ia pun menatap anak satu satunya itu dengan tatapan seorang ibu yang sangat merindukan anaknya.
"Hei bocah nakal, siapa orang orang yang kau bawa itu?" ucap Kaisar Yang.
Yang Jia Li menatap ayahnya dengan cemberut, "Jangan memanggilku bocah nakal ayah, aku sudah besar!", kesalnya.
"Hahaha, anak ayah memang sudah besar", tawa Kaisar. Ia tidak terlihat seperti seorang Kaisar dihadapan anaknya. Dia terlihat seperti seorang ayah yang sangat akrab dengan anaknya itu.
Yang Jia Li merajuk pada ibunya. "Ibu, lihatlah. Ayah mengataiku dengan 'anak nakal', apa aku memang anak nakal ibu?"
Permaisuri menatap ke arah samping nya dengan tajam. Tatapannya tertuju pada Kaisar.
Mendapat tatapan itu, membuat Kaisar terdiam. Ia berhenti tertawa.
Permaisuri tersenyum kearah Yang Jia Li, "Ayahmu hanya bercanda. Jangan di fikirkan", tatapan lembut seorang ibu terpancar dari permaisuri.
Tatapan itu membuat Yang Jia Li nyaman berada dekat dengan ibunya. Ibunya ini selalu ada untuknya. Saat ibunya sibuk pun, ibunya itu tetap memperhatikan nya. Yang Jia Li sangatlah menyayangi ibunya ini. Karna menurutnya, ibunya adalah orang terbaik yang pernah dia temui.
"Hm? Li'er, siapa dua orang di belakangmu?" ucap permaisuri sambil menatap kearah belakang dengan senyuman khas nya.
__ADS_1
"Dia bernama Chan Juan. Dia adalah temanku. Ini, hah..", Yang Jia Li menatap Zong Xian dengan malas. "Dia hanya orang tesesat yang tak sengaja bertemu denganku"
Chan Juan menahan tawa ketika mendengar penuturan Yang Jia Li.
Mendengar hal itu, membuat Zong Xian protes. "Hei, aku ini bukan orang tersesat. Aku ini juga teman mu. Kenapa kau mengatakan seolah aku ini bukanlah orang yang kau kenal?"
Yang Jia Li menatap malas Zong Xian, "Dia Zong Xian, orang paling menyebalkan yang pernah ada"
Zong Xian kembali protes ketika mendengar ucapan Yang Jia Li, "Kau yang menyebalkan!"
"Hmph!", Yang Jia Li hanya membuang muka.
Permaisuri tertawa melihat kedekatan anaknya dengan Zong Xian, "Kalian sangat akrab, ya?"
"Oh ya, namamu Zong Xian, bukan?" ucap permaisuri.
Zong Xian mengangguk dan agak membungkukkan tubuhnya dengan hormat, "Saya Zong Xian, permaisuri"
"Perkenalkan nama saya adalah Lien Hua, permaisuri dari Kaisar Yang Jierui" ucap permaisuri sambil tersenyum lembut.
Zong Xian tersenyum, "Senang bertemu dengan Kaisar dan permaisuri", iapun kembali berdiri dengan tegak.
Pada malam harinya, permaisuri nampak berdiri di dekat jendela ruangan. Tak lama, ketukan pintu terdengar. "Siapa yang mengetuk pintu?" gumam nya.
"Masuk" ucap permaisuri.
Pintu pun terbuka, memperlihatkan satu sosok manusia dengan jubah dan topeng yang menutupi identitasnya.
Permaisuri mengerutkan kening ketika melihat sosok itu. "Siapa kamu?!"
Sosok itu segera menutup pintu dengan rapat. Ia juga langsung mengambil sebuah belati yang tersimpan di balik jubahnya. Ia memain mainkan belati itu di tangannya.
"A-apa yang akan kamu lakukan dengan belati itu?!" ucap permaisuri yang agak ketakutan. Ia mundur beberapa langkah ke belakang.
"Kau sudah menghancurkan hidup ibuku dan hidupku" ucap sosok tersebut.
Permaisuri terbelalak ketika mendengar suara yang tak asing di telinganya. "Apa maksudmu?! Jangan macam macam atau aku laporkan pada Yang Mulia"
"Hahaha, silahkan saja. Itu pun bila kau masih hidup"
Permaisuri tambah ketakutan. "Sebenarnya apa mau mu? Kenapa melakukan ini semua?"
"Aku ingin membalas dendam atas kehidupan ku dan ibuku. Kau sudah merebut seseorang dari ibuku dan membuatnya bunuh diri" ucapnya dengan dingin.
"A-apa maksud- Uhuk!"
Sebuah belati menancap di jantung permaisuri. Sosok itu sudah ada tepat di hadapan permaisuri dan menatap permaisuri dengan dingin.
Permaisuri tergeletak di lantai dan terus terbatuk. Darah terus keluar dari luka dan juga mulutnya. Ia menatap sosok di depannya dengan sangat kesulitan, "Ke-kenapa?"
Sosok tersebut menendang permaisuri hingga membuat wanita itu menghantam tembok dengan keras dan membuat kepalanya berdarah.
Tak lama, akhirnya permaisuri pun tewas dengan banyak darah di tubuhnya.
Tok tok tok
"Ibu! Apa ibu ada di dalam?!" ucap suara diluar pintu.
Mendengar suara itu, sosok yang membunuh permaisuri segera pergi keluar lewat jendela.
Disaat bersamaan dengan sosok itu keluar, Yang Jia Li membuka pintu. Ia melebarkan matanya kala melihat kondisi ibunya yang sudah tergeletak di lantai dengan darah di tubuhnya.
"I-ibu!", Yang Jia Li segera memeriksa keadaan ibunya. Ketika dia memeriksa ibunya, dia langsung menangis kala tidak lagi merasakan adanya nafas dari ibunya karna ibunya sudah meninggal.
"Siapa, siapa yang melakukan ini?!" ucap Yang Jia Li dengan air mata yang membasahi wajah cantiknya.
Iapun melihat jendela yang terbuka. Seketika ia pergi lewat jendela. Ia melihat seseorang berlari menjauh. Orang itu berada di jarak beberapa meter darinya. Seketika Yang Jia Li mengejar sosok tersebut.
Dia terus mengejar sosok yang dikira adalah pembunuh dari permaisuri. Hingga, Yang Jia Li mengejarnya cukup lama. "Berhenti kau!" teriak Yang Jia Li.
Ketika mereka sampai di atas atap seorang warga, sosok yang dikejar Yang Jia Li berhenti berlari. Ini juga membuat wanita itu ikut berhenti dan menjaga jarak dari sosok tersebut.
Yang Jia Li terbelalak kala melihat jubah yang dikenakan sosok itu. "Siapa kau sebenarnya?!" ucapnya dengan marah. Air mata masih terlihat di wajahnya ketika terbayang sosok ibu yang disayanginya mati.
Sosok dihadapan Yang Jia Li berbalik dan menatap Yang Jia Li. "Aku sudah lelah menyembunyikan ini" ucapnya.
Yang Jia Li terkejut mendengar suara yang keluar dari mulut orang dihadapannya. "Zong Xian!"
Sosok itu melepaskan topeng yang dipakainya. Terlihatlah wajah tampan di balik topeng itu menatap Yang Jia Li dengan senyuman ramah. "Ya, ini aku"
Yang Jia Li menatap Zong Xian dengan benci dan marah, "Apa maksudmu melakukan ini semua?!"
__ADS_1