Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
32 -Masalah Di Restoran


__ADS_3

"Saudara Chen, apa kita bisa makan dulu? Aku lapar" ucap Wu Anming.


"Kalau begitu, kita ke restoran sekarang. Oh ya, setelah pakaian yang kupesan sudah selesai, kita akan pergi ke dekat kota Biru. Kita akan berkumpul dengan yang lainnya disana", Liu Chen menatap satu persatu temannya itu.


"Artinya markas kita berada disana?" tanya Song Quon.


Liu Chen hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Aku sudah tidak sabar bertemu dengan anggota lainnya. Semoga saja aku bukanlah yang terlemah disana", Song Quon tersenyum.


"Saudara Quon, apa yang kau katakan? Jelas jelas aku yang lebih lemah. Tidak, tidak. Tapi aku dan adikku", Wu Anming menatap kearah Song Quon.


Song Quon hanya tersenyum dan menjawab, "Tapi bagaimana dengan anggota yang akan kita temui nanti? Bukankah mereka lebih kuat dari ku?"


"Kau jangan berkata seperti itu Quon, aku akan membantumu agar kau bisa bertambah kuat dengan cepat. Tenang saja, aku masih memiliki banyak sumber daya", Liu Chen tersenyum kearah Song Quon.


"Kalau begitu, terimakasih", Song Quon tersenyum.


"Tak perlu berterimakasih seperti itu padaku, aku ini temanmu. Jangan mengatakan terimakasih, itu akan membuat jarak diantara kau dan aku" ucap Liu Chen.


Song Quon mengangguk. "Aku mengerti"


"Saudara Chen sangat dekat dengan saudara Quon" batin Wu Anming sambil menatap dua orang pemuda di depan nya.


Liu Chen dan Song Quon berjalan didepan. Sementara Wu Anming dan Wu Xianlun berjalan dibelakang kedua pemuda itu.


Setelah berjalan beberapa waktu, akhirnya merekapun masuk ke dalam sebuah restoran yang nampak cukup besar dengan dua tingkat.


"Tuan tuan dan nona, lantai ke berapa yang kalian pilih? Lantai pertama dan lantai dua memiliki harga makanan yang berbeda. Lantai dua memiliki makanan dengan harga mahal, namun kami menjamin kalian akan menyukai makanan yang ada di daftar menu kami" ucap penjaga.


Dia memiliki tubuh kekar, namun wajahnya terlihat ramah. Padahal Liu Chen dan teman temannya hanya memakai pakaian sederhana, tidak terlihat mewah sedikitpun. Namun penjaga ini tetap ramah pada mereka.


Melihat sifat penjaga, membuat Liu Chen tersenyum. "Aku ingin pergi ke lantai dua. Kau antarkan kami, ini untukmu", Liu Chen langsung memberikan dua koin emas pada penjaga.


Melihat dua koin emas yang dipegangnya, membuat penjaga terkejut. Ia menatap kearah Liu Chen. "Tu-tuan, ini terlalu-"


"Tidak apa, ambil saja. Terus pertahankan sikapmu itu", Liu Chen tersenyum.


"Te-terimakasih tuan. Mari, mari saya antar sekarang juga tuan tuan dan nona", penjaga itu langsung mengajak Liu Chen dan teman temannya masuk ke dalam.


***


Liu Chen dan ketiga temannya saat ini sedang menunggu pesanan. Seperti biasa, Song Quon yang memesan makanan paling banyak. Hingga membuat mereka mengambil meja lagi untuk menaruh makanan yang Song Quon pesan.


Liu Chen sudah memesan semua tempat di lantai dua saat ini. Karna ia tak ingin diganggu oleh pelanggan lain. Karna mereka akan membicarakan tentang kelompok mereka saat ini.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya makanan pun tiba. Pelayan yang membawakan makanan langsung menaruh semua pesanan dimeja.


"Terimakasih" ucap Liu Chen.


"Ya, tuan. Bila membutuhkan sesuatu, panggil saja saya" ucap seorang pelayan dengan hormat.


Liu Chen mengangguk, "Kalian bisa pergi. Jangan biarkan ada seorangpun yang kemari, jika tidak...", sudut bibir Liu Chen terangkat.


"Ba-baik tuan, kami mengerti" ucap pelayan itu dengan agak takut. Karna ia dapat melihat senyuman itu terlihat seperti sebuah peringatan. Bila melanggarnya, maka akan terjadi sesuatu yang buruk.


Semua pelayan yang mengantar makanan langsung pamit dan pergi dengan cepat agar tak mengganggu pelangggan mereka.


"Kenapa kau memesan satu lantai seperti ini, saudara Chen?" ucap Wu Anming dengan heran.


"Karna aku akan memberitaukan nama nama dari anggota yang ada di kelompok kita. Aku sudah mengatakan, bahwa bukan aku saja yang merupakan ketua dalam kelompok. Namun ada tiga orang lainnya.Aku akan memberitau kalian, siapa saja orang itu" ucap Liu Chen.


"Lalu kenapa tidak dipenginapan saja membahas hal seperti ini, saudara Chen?" tanya Wu Anming yang masih saja terlihat keheranan.


"Haih..tentu saja kita tak bisa membahasnya di penginapan. Apa kata orang nanti, bila adikmu masuk ke dalam kamar pria? Mereka akan berfikiran aneh aneh" ucap Song Quon sambil menghela nafas.


"Huh, kakak...hal seperti itu saja tidak mengerti" ucap Wu Xianlun sambil menatap kakaknya dengan cemberut.


Wu Anming menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tertawa canggung kearah adiknya, "Hehehe, maaf maaf"


Liu Chen hanya tersenyum, iapun langsung berkata, "Kalian mungkin sudah tau siapa nama putri kekaisaran Yang ini, bukan?"


Ketiga temannya langsung mengangguk. "Memangnya ada apa dengan itu? Apa hubungannya dengan putri kaisar?" tanya Song Quon.


Liu Chen mengangguk, "Putri kekaisaran Yang merupakan salah satu ketua dikelompok kita"


Ucapan Liu Chen langsung saja membuat Song Quon, Wu Anming dan Wu Xianlun tersentak kaget. Bahkan Song Quon yang sedang menyeduh teh, langsung disemburkan kearah Wu Anming yang duduk disebelahnya.


"Saudara Quon, apa yang kau lakukan?! panas, panas!", Wu Anming langsung mengipas ngipasi dirinya menggunakan tangan.


"Kakak!", Wu Xianlun langsung mengambil sapu tangan dan memberikan itu pada kakaknya. "Ini kak"


Wu Anming langsung menerimanya dan mengelap wajahnya yang basah itu.


"Hahaha, jangan salahkan aku Anming! Itu bukanlah salahku, kau saja yang kurang beruntung" ucap Song Quon yang malah tertawa. Ia bahkan tak merasa bersalah pada Wu Anming.


"Pufftt hahaha, saudara Anming. Apa itu enak?" ucap Liu Chen yang ikut tertawa.


"Itu tidak lucu, ketua. Air yang wakil ketua semburkan terasa panas", Wu Anming nampak masih mengelap wajahnya.

__ADS_1


"Heh, kenapa tiba tiba hari ini kau memanggil Chen ketua dan aku wakil ketua? Kau biasanya tidak memanggil kami seperti itu" ucap Song Quon sambil menatap Wu Anming aneh.


"Karna kita saat ini membahas tentang kelompok kita, bukan? Jadi tak masalah bila aku memanggil kalian seperti itu"


"Lebih baik tidak perlu memanggil kami seperti itu saat ini. Karna kita tidak memakai penyamaran apapun disini. Jadi seperti biasa saja. Kecuali saat menjalankan tugas dan berada di markas" ucap Liu Chen.


"Baiklah", akhirnya Wu Anming sudah selesai membersihkan wajahnya.


"Apa kakak baik baik saja?" tanya Wu Xianlun dengan khawatir.


"Kakak baik baik saja, kau jangan khawatir hanya karna hal kecil seperti ini, Xian'er", Wu Anming langsung mengelus kepala adiknya untuk menenangkannya.


"Huh, jangan terlalu mengkhawatirkan hal sekecil ini. Itu sama sekali belum apa apa dari pada pertarungan hidup dan mati. Jika kau berada diposisi itu nanti, kau bisa mati kapanpun dan dapat terluka kapanpun dan separah apapun" ucap Song Quon dengan acuh tak acuh.


"Saudara Quon benar, Xian'er. Dengan masalah sekecil ini saja, kau sudah mengkhawatirkanku seperti itu. Bagaimana jika aku terluka parah?", Wu Anming tersenyum kearah Wu Xianlun.


"Kakak...jangan berkata seperti itu!" kesal Wu Xianlun.


"Hehe, maaf maaf. Aku takkan mengatakan hal seperti itu"


"Lalu siapa dua orang lainnya? Apa mereka juga memiliki latar belakang yamg hebat seperti orang yang kau sebutkan pertama, Chen?", Song Quon menatap Liu Chen seakan meminta jawaban.


"Aku akan peringatkan dulu pada kalian, jangan membuat Jia Li marah secara terus menerus. Jika itu terjadi, maka kalian akan dipukuli atupun ditendang olehnya hingga sekarat" ucap Liu Chen dengan nada memperingatkan.


"Uh, jahat sekali...kukira putri adalah orang yang baik dan penuh kasih sayang" ucap Wu Anming dengan kecewa.


"Ada apa dengan raut wajahmu itu?" tanya Song Quon.


"Tidak ada, hanya saja..sayang sekali putri sepertinya memiliki sifat seperti itu", Wu Anming menggelengkan kepala.


"Baiklah, kedua ada juga Zhang Jiangwu. Dia berasal dari sekte pedang langit yang merupakan sekte aliran netral besar. Kudengar, dia juga merupakan patriarch masa depan sekte itu" ucap Liu Chen.


"Apa?! Tuan Zhang?! Patriarch masa depan sekte pedang langit?! Apa aku tak salah dengar?!", kaget Wu Anming.


"Tu-tuan Zhang?!", bahkan Wu Xianlun juga nampak terkejut. Ternyata latar belakang kedua ketua dikelompok mereka itu tidak biasa.


"Dia memiliki sifat yang jarang berbicara, dia orang yang tenang dan pemilik sifat datar. Aku bahkan tak bisa mengetahui apa yang dipikirkannya karna dia selalu menunjukkan wajah datar, tanpa ekspresi.


Itu sebenarnya bisa menjadi keuntungan karna lawan tidak akan bisa dengan mudah membaca pikirannya. Namun masalahnya, kita akan sulit mengerti tentang Jiangwu", Liu Chen menghela nafas.


"Aku dengar, dia pernah menghilang. Namun kini dia sudah kembali lagi" ucap Wu Anming.


Liu Chen hanya tersenyum menanggapi ucapan Wu Anming. "Lalu yang terakhir adalah Zong Xian, aku tidak tau dia berasal dari mana. Aku tak terlalu mengetahui tentangnya. Namun bertemu pertama kali dan berbicara bersama dengannya beberapa kali, membuatku sedikit mengetahui sifatnya. Dia memiliki sifat yang kurang serius, dia juga sering membuat marah Jia Li. Bahkan ia pernah dibuat sekarat oleh wanita itu", Liu Chen tertawa kecil ketika mengingat bagaimana kondisi Zong Xian saat itu.


Ketiga temannya mengangguk.


"Karna aku ingin memberitau kalian bagaimana sifat sifat mereka. Bisa saja kalian melakukan sesuatu atau mengucapkan sesuatu pada mereka hingga membuat mereka marah. Aku mengatakan sifat mereka agar kalian memahaminya dan tidak bertindak maupun berbicara sembarangan" ucap Liu Chen.


"Tentu kami tidak akan bertindak dan berbicara sembarangan nanti. Tanpa saudara Chen beritaupun, kami mengetahuinya" ucap Wu Anming.


Liu Chen mengangguk, "Sekarang kita makan saja, Quon sudah mulai menghabiskan makanannya"


"Hehe saudara Quon, kau memiliki selera makan paling besar", Wu Anming menatap kearah beberapa piring yang sudah kosong.


"Huh, terserah aku saja", ucap Song Quon dengan cuek. Ia kembali mengambil makanan dan memakannya.


Mereka semua akhirnya mulai makan. Namun sebelum Liu Chen, Wu Anming dan Wu Xianlun memasukkan makanan mereka ke dalam mulut, terdengar sebuah suara.


"Hei kalian, menyingkirlah! Tuan muda Hu akan memakai tempat ini" ucap seorang pria paruh baya. Ia memiliki tubuh yang agak kekar dan wajah garang.


Dia tidak hanya sendiri, ada beberapa orang lainnya. Salah satu dari mereka memakai pakaian mewah.


Pemuda dengan pakaian mewah dan memiliki usia sekitar 25 tahunan itu adalah tuan muda Hu. Bernama Hu Shilin. Iapun melirik kearah satu satunya wanita yang berada di meja.


"Kalian lebih baik pergi sekarang juga dari sini dan tinggalkan wanita ini, maka kalian akan selamat" ucap Hu Shilin dengan arogan.


Wu Anming langsung berdiri dan menatap Hu Shilin dengan marah, "Memangnya kau siapa mengusir kami seperti itu?! Dan jangan dekati adikku!"


"Tuan tuan dan nona, maafkan kami. Kami sudah melarang mereka untuk masuk ke lantai dua ini, namun tuan muda Hu memaksa. Kami tak bisa menghentikannya" ucap seorang pelayan dengan agak takut.


Liu Chen, Song Quon dan Wu Xianlun nampak masih tak peduli. Kecuali Wu Anming yang kini terlihat marah menatap Hu Shilin.


"Kalian cepat keluar dari tempat ini, tuan muda Hu akan memakai tempat ini dan tinggalkan wanita itu disini atas permintaan tuan muda Hu" ucap pria yang cukup kekar.


"Memangnya kalian siapa? Jangan bertindak seolah kalian adalah pemilik restoran ini" ucap Song Quon sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "Cih, manusia tak berguna!"


"Oh, kalian sepertinya bukan orang sini. Aku adalah anak wali kota Melati. Namaku Hu Shilin. Jadi sebaiknya kalian pergi dari sini dengan damai", senyuman nampak diwajah Hu Shilin.


Namun tidak ada tanggapan sama sekali, bahkan Wu Anming duduk kembali karna mendapat isyarat dari Liu Chen untuk duduk.


Semua pengawal bahkan Hu Shilin menjadi marah melihat sikap mereka.


Salah satu pengawal langsung menggebrak meja dengan keras bahkan makan yang ada dimeja langsung tumpah sebagian. Begitupun beberapa piring yang kosong, "Apa kalian tidak dengar apa yang tuan muda Hu katakan?! Apa kalian tuli,hah?! Cepat keluar dari sini atau-"


Sebelum menyelesaikan ucapannya, pengawal itu langsung terlempar hingga menabrak dinding ruangan. Bahkan dindin nampak agak retak karna hantaman pengawal.


Semua orang langsung terkejut, begitu pula beberapa pelayan yang ada disana. Pelayan pelayan itu nampak ketakutan.


"Kalian kembalilah", Liu Chen menatap kearah para pelayan itu dengan senyuman.

__ADS_1


Senyuman itu memang terlihat menawan, namun ada sebuah arti yang tersembunyi dari senyuman itu.


Semua pelayan segera mengangguk dan langsung pergi dari sana. Mereka takut bila terjadi sebuah pertarungan. Mereka pergi bukan untuk melarikan diri, namun untuk memberitaukan manajer restoran tentang masalah ini. Tempat manajer berada adalah disebuah ruangan tersembunyi yang ada di restoran itu.


Liu Chen menatap kearah pengawal yang kini sudah pingsan karna menghantam tembok dengan keras. Bahkan kepala pengawal itu kini berdarah. Liu Chen lah yang melakukan hal itu. Ia kesal karna orang orang ini mengganggunya.


"A-apa yang kau lakukan pada pengawalku?!" ucap Hu Shiling dengan agak takut.


Semua pengawal, juga dirinya tidak melihat pergerakan Liu Chen sama sekali saat pemuda itu mengalahkan seorang pengawal.


Liu Chen menatap kearah suara, "Sepertinya aku tadi terlalu keras hingga membuatnya terluka, maafkan aku" ucap Liu Chen dengan enteng. Dia bahkan tersenyum seakan tak bersalah.


Song Quon menahan tawa ketika melihat Liu Chen yang mencoba membuat lawan marah, "Haha, bagus Chen"


Liu Chen melirik Song Quon dan hanya tersenyum. Kemudian ia kembali menatap Hu Shilin dengan para pengawalnya.


"Cih, kurang ajar! Kalian, tangkap pemuda itu, akan ku bunuh dia!" ucap Hu Shiling dengan tegas.


"Baik, tuan muda Hu!"


Semua pengawal langsung mengambil pedang masing masing yang tersarung dipinggangnya dan langsung menyerang kearah Liu Chen.


"Saudara Chen, hati hati" ucap Wu Anming yang terlihat khawatir.


"Kakak Chen, berhati hatilah" ucap Wu Xianlun yang juga sama khawatirnya.


Song Quon tersenyum menatap kedua kakak beradik itu, "Dia tak selemah itu hingga sampai terluka hanya karna sampah sampah ini. Dia lebih kuat dari apa yang kalian fikirkan. Jadi jangan mengkhawatirkannya"


Kedua kakak beradik itu menatap Song Quon dan mengangguk.


"Heh, apa hanya segini kemampuan kalian?", Liu Chen terus menghindari serangan serangan dari pengawal itu dengan mudah.


"Berhentilah menghindar terus dan lawan kami, bocah!"


Melihat bahwa pengawalnya tidak ada yang dapat melukai Liu Chen sedikitpun, Hu Shilin langsung mengeluarkan pedangnya dan menyandera Song Quon. Ia mengira bahwa Song Quon sangatlah lemah. Padahal Song Quon menyembunyikan kekuatannya.


"Menyerahlah atau dia akan kubunuh!" ucap Hu Shilin dengan sinis.


Hu Shiling berdiri dibelakang Song Quon, sementara pedangnya ditaruh tepat didepan leher pemuda itu.


Liu Chen langsung menendang semua pengawal dari Hu Shilin itu dan mengarahkan tatapannya pada Song Quon dan Hu Shilin.


Hu Shilin nampak tersenyum sinis, "Menyerahlah!", pedang yang dipegangnya pun tak sengaja menggores leher Song Quon hingga membuat darah keluar dari lehernya.


Wu Anming dan Wu Xianlun nampak terkejut melihat tindakan Hu Shiling.


Song Quon sendiri agak terkejut. Ia tak melakukan apapun karna ingin mengetahui apa yang akan Liu Chen lakukan.


Liu Chen nampak tersenyum. Namun ia terlihat menahan marah, "Bagus, ya? Bagus sekali! Kau sangat berani melukai temanku dihadapanku?", Liu Chen langsung menghilang dari sana.


Ketika Liu Chen menghilang, Hu Shilin langsung terlempar bahkan dirinya langsung terjun ke lantai satu karna serangan yang Liu Chen lakukan. Pedang untuk menyandera Song Quon pun jatuh ke lantai dekat tempat duduk Song Quon.


Kini Liu Chen menatap kearah lantai bawah. Dirinya masih berada di tangga atas. Ia menatap kearah Hu Shilin yang nampak terluka parah.


Melihat adanya seseorang yang jatuh begitu tiba tiba dari atas, membuat pengunjung yang berada di lantai bawah lari ketakutan. Mereka tidak mau terlibat apapun dalam masalah ini.


Mata Liu Chen nampak berubah merah, namun itu hanya sekejap. Karna ketika Liu Chen menutup mata dan menbukanya lagi, warna matanya kembali berwarna hitam.


"Jangan pernah menyakiti temanku. Apalagi dihadapanku" ucap Liu Chen dengan dingin menatap tubuh Hu Shilin yang nampak sudah terluka parah itu.


Namun Hu Shilin belum pingsan, karna ia memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari pengawalnya, jadi ia tak langsung pingsan. Namun ia tak bisa menggerakkan tubuhnya karna sudah terluka parah.


"Berhenti! Jangan melanjutkan pertarungan ini lagi" ucap sebuah suara.




Dukung author dengan:


\*Like


\*Vote


\*Rate bintang 5


\*Favorite


\*Share


\*Beri saran pada kolom komentar



Terimakasih pada para pembaca 'Kelompok topeng bayangan' 🙏



Terimakasih juga pada semua yang sudah dukung karya ini 🙏 ^\_^

__ADS_1


__ADS_2