Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
53 -Dua Jiwa


__ADS_3

Yang Jia Li menatap Zong Xian dengan benci dan marah, "Apa maksudmu melakukan ini semua?!"


Zong Xian tertawa, "Haha, maksudku melakukan ini semua?". Iapun berhenti tertawa dan menatap Yang Jia Li dengan dingin, "Balas dendam. Gara gara ayahmu, ibuku bunuh diri"


Yang Jia Li sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan Zong Xian. Dia masih menatap pemuda itu dengan benci, "Aku tidak percaya padamu. Lagi pula, apa yang ayahku lakukan hingga membuat ibumu seperti itu?"


"Lebih baik kau tanyakan ayahmu sendiri. Apa yang dilakukannya terhadap wanita bernama Yi Ze. Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia begitu saja" ucap Zong Xian dengan tatapan tajam. Iapun mengenakan kembali topengnya.


Zong Xian berniat pergi, namun tentunya Yang Jia Li langsung menyerang Zong Xian. Yang Jia Li tidak akan melepaskan orang yang sudah membunuh ibunya begitu saja.


Zong Xian tidak diam ketika diserang. Ia menyerang balik menggunakan tombak yang diambil dari dalam cincin ruangnya.


Sementara itu, di dalam kamar permaisuri. Terlihat Kaisar yang menangis ketika melihat istrinya tewas. Awalnya ia baru saja menyelesaikan tugas tugasnya. Jadi ia berniat masuk ke dalam kamar, namun tak disangka di dalam kamar, istrinya sudah tewas.


Para prajurit sudah banyak berkumpul di dekat kamar itu. Beberapa ada yang masuk ke dalam. Seorang Jenderal yang melihat permaisuri tewas seperti itu, langsung memerintahkan prajuritnya untuk berpencar mencari pelaku yang membunuh permaisuri.


"Aku tidak mau tau, kalian harus menangkap pelaku yang membunuh istriku dan bawa kehadapanku!" ucap Kaisar dengan marah bercampur sedih, berkata pada Jenderal yang masih ada disana.


"Baik Yang Mulia!" ucap Jenderal. Iapun memberikan hormat dan langsung pergi untuk mencari pelaku yang membunuh permaisuri.


Di tempat Zong Xian dan Yang Jia Li berada. Mereka sudah bertukar banyak jurus dan sekarang mereka berada di daerah yang jarang terdapat rumah. Hal itu membuat mereka lebih leluasa bertarung.


Yang Jia Li bertarung dengan emosi. Sementara Zong Xian bertarung dengan tenang. Sebenarnya ia bisa saja mengakhiri Yang Jia Li saat ini karna tingkat kultivasi dirinya dan wanita itu berbeda 2 bintang. Ditambah dengan Yang Jia Li menyerang menggunakan emosi, sehingga pergerakannya mudah ditebak.


Zong Xian berada di tingkat kaisar bintang 9. Sementara Yang Jia Li bintang 7. Walaupun saat itu Yang Jia Li berkultivasi, namun tidak ada peningkatan pada kultivasi nya.


Zong Xian tidak ingin mengakhiri Yang Jia Li dengan begitu mudahnya. Ia ingin membuat wanita itu menderita terlebih dahulu. Salah satunya adalah kematian ibunya. Yang Jia Li pasti sangat terpukul akan kematian ibunya saat ini.


Zong Xian sudah lelah bersandiwara selama seminggu lebih ini setelah mendapat kembali ingatan masa lalunya. Ia memaksa ikut bersama Yang Jia Li pergi ke istana adalah karna ia ingin membalaskan dendamnya. Ia tidak tau secara pasti yang mana permaisuri kekaisaran Yang dan Kaisar Yang. Jadi ia ikut Yang Jia Li agar ia tidak salah sasaran.


"Kenapa kau melakukan ini, hah?! Aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu, Xian sialan!" teriak Yang Jia Li dengan penuh kebencian. Ia menyerang Zong Xian menggunakan belati. Ia memang lumayan ahli menggunakan belati.


Waktu terus berjalan. Sudah puluhan menit mereka bertarung dan terlihat bahwa Yang Jia Li sudah mendapat banyak luka. Wanita itu juga terlihat sudah pingsan di tanah. Karna disaat Yang Jia Li lengah, Zong Xian langsung memukul tengkuk Yang Jia Li hingga membuat wanita itu pingsan karna pukulan di tengkuknya yang keras.


Zong Xian membiarkan Yang Jia Li begitu saja. Ia pergi dengan masih memakai jubah dan topeng miliknya. Ia pergi dengan cara terbang keluar kota.


Setelah beberapa menit terbang dengan kecepatan yang sangat cepat, Zong Xian sudah berada di luar ibukota. Kini dirinya berada dalam hutan. Karna hari masihlah malam, jadi hutan terlihat cukup gelap.


Saat Zong Xian, Yang Jia Li dan Chan Juan pergi menuju istana, Zong Xian tak sengaja mendapat informasi tentang sebuah kelompok bandit yang cukup ditakuti selain serigala hitam yang sudah dihancurkannya saat itu.


Kelompok bandit itu bernama bandit kalajengking. Kebetulan, markas utama mereka juga ada di dekat ibukota. Jadi Zong Xian berencana menaklukan kelompok bandit ini dan membuat kelompoknya sendiri.


Zong Xian tau bahwa ia pasti akan sangat dicari oleh kekaisaran karna telah membunuh permaisuri. Jadi dia mencari tempat untuknya tinggal yaitu dengan menaklukan bandit kalajengking.


Bila pemimpin mereka sudah tunduk padanya, maka tak ada alasan lagi untuk anggota bandit kalajengking lainnya menentang. Lagi pula, yang terkuat di dalam kelompok bandit kalajengking adalah pemimpin itu sendiri. Jadi anggota bandit kalajengking lainnya akan berpikir dua kali bila ingin menentang Zong Xian jika sudah membuat pemimpin bandit tunduk.


Zong Xian terus berlari masuk lebih dalam ke hutan. Ia tidak mendapatkan segel yang dibuat Liu Chen dan Zhang Jiangwu sama sekali. Karna keempat ketua memang tidak mendapatkan segel seperti itu. Jadi bila Zong Xian berkhianat pun, tidak akan terjadi apapun padanya. Hanya saja, semua anggota kelompok topeng bayangan tentu tidak akan membiarkan Zong Xian hidup bila dia berkhianat pada kelompok.


Di tempat Liu Chen berada. Ia baru saja selesai membuat banyak pil. Sudah beberapa hari ini ia tidak keluar kamar karna membuat pil dan itu semua menguras Qi miliknya. Namun dia langsung menelan satu pil dan membuat Qi nya terisi kembali.


Liu Chen meregangkan kedua tangannya, "Lelah sekali. Aku bosan di dalam kamar" ucapnya. Iapun pergi keluar kamar setelah membereskan semua pil buatannya.


Di luar sangat sepi karna semua anggota sudah banyak yang tertidur di dalam kamarnya masing masing.


Ketika sedang berjalan, Liu Chen melihat seseorang yang tak jauh dari dirinya. Orang itu memakai pakaian berwarna hijau berpadu warna biru. Liu Chen langsung menghampiri orang tersebut sambil menepuk pundaknya dari belakang. "Kau sudah kembali"


Orang tersebut adalah Song Quon. Iapun berhenti berjalan dan membalikkan tubuhnya, "Chen. Kau sudah selesai membuat pil?"


Liu Chen mengangguk, "Kau lama sekali diluar. Apa saja yang kau lakukan diluar sana?"


Song Quon menggaruk kepala belakang nya yang tidak gatal dan tertawa ringan, "Hehe, aku hanya bersenang senang saja"


"Apa kau sudah tau bahwa Xinxin, Guang dan Haocun pergi dari markas?"


Song Quon mengangguk, "Aku sudah mengetahuinya dari Gong (Feng Ying) bahwa mereka pergi. Awalnya saat aku sampai disini, aku ingin bertemu denganmu. Tapi kudengar kau membuat pil, jadi aku tak ingin mengganggu mu"

__ADS_1


"Memangnya ada apa kau ingin menemuiku?"


Song Quon menggelengkan kepala, "Aku hanya merindukanmu"


Liu Chen berkedip dan menatap Song Quon beberapa saat, iapun tersenyum. "Huh, apa kau mengkhawatirkan ku?"


Song Quon mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum, "Tidak juga", ia menggelengkan kepala.


"Sudahlah, bagaimana bila kita berjalan jalan keluar?", tawar Liu Chen.


Song Quon tersenyum, "Baiklah, sepertinya akan menyenangkan. Kau traktir aku makanan"


"Huft..baiklah, baiklah. Kau selalu berfikir makanan. Sebenarnya perutmu ini daging atau karet?" ucap Liu Chen.


"Hei, perutku itu bukan karet. Makan itu penting", protes Song Quon.


Liu Chen tak mendengarkan ocehan Song Quon. Ia langsung menarik Song Quon menuju pintu keluar.


Ketika jarak mereka hanya beberapa meter lagi dari pintu, Liu Chen berhenti. Melihat Liu Chen yang berhenti, tentunya Song Quon juga ikut berhenti. "Ada apa?"


Liu Chen melepaskan pegangan tangannya dari Song Quon dan mengambil sesuatu. Itu adalah batu komunikasi. Liu Chen mengalirkan Qi miliknya pada batu.


"Aku bertemu musuh"


Terdengar suara Zhang Jiangwu pada batu komunikasi.


Liu Chen langsung berkata, "Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik baik saja? Dimana kau bertemu dengan musuh?"


"Sekte gagak hitam"


"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau baik baik saja?"


"Ya"


"Bagaimana bisa kau bertemu musuh dan apa musuh itu adalah iblis?" ucap Liu Chen serius.


"Wanita itu lagi?! Seperti nya dia pembuat masalah dan sekarang masalahnya lebih besar lagi. Lebih baik kau segera pulang secepatnya Guang. Mungkin dia masih mengejarmu" ucap Liu Chen.


"Aku tau"


Liu Chen memasukkan kembali batu komunikasi. Ia pun menatap Song Quon, "Kau sudah mendengarnya tadi, bukan? Ternyata wanita bernama Xin Qian itu masih saja membuat masalah"


Song Quon mengangguk, "Sekarang ia membuat masalah yang lebih besar dari pada saat itu dia membunuh seluruh warga desa"


Liu Chen mengangguk, "Lalu bagaimana sekarang? Apa kita pergi menyusul Guang saja? Mungkin dia masih dikejar oleh Xin Qian"


"Akan memakan waktu beberapa hari untuk sampai disana. Tidak ada gunanya kita kesana. Aku yakin dia dapat melarikan diri dari wanita itu" ucap Song Quon.


Liu Chen mengangguk setuju dengan Song Quon, iapun terlihat berfikir. "Dalam batu komunikasi hanya ada suaraku dan Guang. Biasanya Haocun dan Xinxin akan menjawab panggilan batu komunikasi. Kira kira apa yang terjadi dengan mereka?"


"Mereka pasti baik baik saja dan mungkin mereka kini sudah sampai di istana. Jadi kau tidak perlu khawatir", Song Quon tersenyum meyakinkan agar Liu Chen tak khawatir dengan kedua orang itu.


Liu Chen mengangguk, "Tapi kenapa perasaanku menjadi tidak enak? Apa terjadi sesuatu dengan mereka?" batin nya.


"Bukankah kau mengajakku berjalan jalan keluar? Bagaimana sekarang, apa jadi?" ucap Song Quon.


Liu Chen mengangguk. "Bisa saja kita mendapatkan informasi yang menarik diluar, ayo"


Mereka langsung pergi keluar.


Saat sudah sampai di kota Biru, mereka langsung pergi ke tempat makan. Di restoran nampak bahwa pelanggan masihlah banyak, walaupun sudah malam.


Mereka langsung memesan makanan. Tentunya Song Quon paling banyak makan.


Ketika sedang makan, mereka tak sengaja mendengar dua orang yang sedang berbicara.

__ADS_1


"Apa kau sudah mendengar berita yang baru baru ini terdengar?"


"Hm? Tidak. Memangnya ada apa?"


"Beberapa hari lalu ada sebuah desa yang hilang"


"Hilang? Maksudmu bagaimana?"


"Aku dengar informasi bahwa desa Wenhua diserang sekelompok demonic beast. Semua warga tewas tanpa tersisa bahkan tak ada mayat yang tersisa. Kini desa itu pun menjadi desa mati tanpa penduduk.


Ada seorang pemuda yang awalnya berniat berkunjung kesana untuk menemui neneknya. Namun ternyata desa itu sudah hancur berantakan dan pemuda itu mengira bahwa kejadian disebabkan oleh segerombolan demonic beast"


"Apa demonic beast itu mulai mengganas hingga keluar dari tempat mereka berada dan menyerang penduduk desa?"


"Entahlah. Aku pun tidak tau. Tapi jika benar begitu, maka kekaisaran akan dalam bahaya bila semua demonic beast mengganas hingga masuk ke dalam kota dan desa desa"


"Kau benar, semoga saja kejadian ini tidak terjadi lagi"


Teman dihadapannya mengangguk setuju.


"Demonic beast?" gumam Liu Chen.


"Desa Wenhua? Sepertinya itu desa yang kukunjungi saat itu bersama yang lainnya. Ternyata mereka mengira desa Wenhua diserang demonic beast? Tapi itu tidak salah juga. Karna itu ada benarnya" batin Song Quon.


Song Quon ingat ketika dirinya dan beberapa orang menyerang desa Wenhua ketika dirinya akan kembali ke markas. Dia dan beberapa orang lainnya bersenang senang disana. Song Quon tersenyum sinis ketika mengingatnya. "Yah, disana sangat menyenangkan. Sudah lama tidak bersenang senang"


Di sebuah kamar, tepatnya di kamar Wu Anming. Pemuda yang telah dibawa dan dimasukkan dalam kelompok oleh Liu Chen itu terlihat sedang membicarakan sesuatu yang penting.


"Apa maksudmu, Jian (Lao Tzu)?" ucap Xing Fu.


"Kenapa kau menganggap ada yang aneh dengan wakil Qiang (Song Quon)? Kurasa tidak ada yang aneh dengan wakil Qiang. Dia bersikap seperti biasa. Lalu apa yang aneh hingga kau bilang pada kami bahwa kami harus waspada dengannya?" ucap Wu Anming sambil menatap Lao Tzu.


Dia sudah cukup tau dengan sifat Song Quon dan dia merasa tidak ada yang aneh dengan pemuda itu.


Asalnya, Lao Tzu mengatakan bahwa ada yang aneh dengan Song Quon ketika dia melihat pemuda itu. Itu terjadi ketika Song Quon membantu melatih para anggota. Lao Tzu berkata bahwa semenjak Song Quon kembali, ada yang aneh dengan pemuda itu.


"Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak tentang wakil Qiang, Jian. Bila ada yang aneh dengan wakil ketua, seharusnya anggota lain juga merasakan nya. Tapi orang lain tidak merasa ada yang aneh dengan wakil Qiang. Termasuk aku dan Yong (Wu Anming)" ucap Xing Fu.


"Bagaiman aku menjelaskan nya pada mereka?" batin Lao Tzu.


"Ada yang aneh dengan wakil Qiang" ucap Lao Tzu.


Lao Tzu saat ini sudah cukup dekat dengan Wu Anming dan Xing Fu. Jadi suara yang keluar dari mulutnya tidak hanya satu atau dua patah kata saja. Tetapi cukup banyak. Namun ekspresinya tidak pernah berubah, selalu saja dingin.


"Lalu apa yang aneh dengan wakil Qiang?" ucap Wu Anming.


"Jiwanya" ucap Lao Tzu.


Xing Fu terkejut dan menyalah artikan ucapan teman nya ini, "Kau menganggap wakil Qiang sakit jiwa? Jian (Lao Tzu), jangan berkata seperti itu pada wakil Qiang. Kau tidak sopan"


Lao Tzu mengerti bahwa temannya pasti menyalah artikan maksud ucapan nya. "Bukan itu maksudku"


"Lalu apa maksudmu?"


Lao Tzu lalu mulai menceritakan bahwa ia memiliki kemampuan unik. Yaitu dapat melihat warna jiwa seseorang. Ia baru saja mengatakan hal seperti ini pada kedua teman sekamarnya. Karna ia sebelumnya belum pernah cerita tentang kemampuan nya ini.


"Lalu apa hubungannya kemampuan mu itu dengan keanehan wakil Qiang yang kau katakan tadi?" ucap Wu Anming.


"Jiwanya ada dua" ucap Lao Tzu.


Wu Anming dan Xing Fu berkedip beberapa kali. Namun hanya dalam beberapa detik, mereka langsung tertawa mendengar ucapan Lao Tzu.


"Haha, kau ini bisa juga melawak, ya?" ucap Wu Anming sambil tertawa.


"Haha, setiap orang hanya memiliki satu jiwa. Mana ada orang yang memilki dua jiwa dalam satu tubuh. Semua orang tau itu, Jian" ucap Xing Fu sambil tertawa. Ia tidak percaya dengan ucapan Lao Tzu. Sebab, itu sangat mustahil. Setiap orang hanya memilki satu jiwa dalam satu raga.

__ADS_1


"Percuma menjelaskannya pada orang orang bodoh ini" batin Lao Tzu yang agak kesal.


__ADS_2