Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
48 -Menuju Markas


__ADS_3

BONUS CHAPTER


Liu Hongli diberi julukan Kaisar muda sebab dia ditunjuk menjadi Kaisar saat usianya masih 18 tahun. Namun belum lama ia memimpin, ia pergi begitu saja tanpa sepengetahuan dari siapapun dan tanpa memberikan alasan. Tidak ada orang yang tau kemana Kaisar muda itu pergi.


Saat itu, Liu Hongli dipilih menjadi Kaisar ketika Kaisar sebelumnya sakit. Dia adalah ayah dari Liu Hongli yang menunjuk Liu Hongli menjadi Kaisar. Ia menunjuknya sebab, merasa bahwa putra ketiga nya itu dapat menjadi pemimpin yang baik. Ayah Liu Hongli tidak menunjuk putra pertamanya sebab, putra pertamanya adalah orang yang terlalu berambisi akan kekuasaan.


Dia juga tau, putra ketiganya adalah orang yang tidak peduli dengan kehidupan oranglain. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri. Jadi apabila rakyat mendapatkan masalah, kemungkinan putra pertamanya itu tidak akan peduli pada rakyat. Hal itu dapat membuat rakyat menderita dan kemungkinan rakyat akan melakukan perlawanan terhadap kekaisaran.


Sementara putra ketiganya memiliki rasa empati yang besar terhadap oranglain. Putra ketiganya itu juga sering menyelinap keluar tanpa sepengetahuan oranglain untuk menemui rakyat rakyat miskin dan ia selalu membagikan hartanya pada mereka.


Yang tidak diketahui oleh ayah Liu Hongli adalah alasan kenapa Liu Hongli pergi begitu saja tanpa memberitaukan siapapun kemana dia akan pergi. Ayah Liu Hongli juga tidak mengetahui bahwa putra pertamanya berniat mencelakai Liu Hongli.


Setelah kepergian Liu Hongli, ayahnya memutuskan untuk menjadi Kaisar sementara untuk menggantikan posisi putra ketiganya itu. Agar tidak ada perdebatan yang terjadi diantara selir dan permaisurinya.


Karna tentunya mereka ingin anaknya yang memimpin kekaisaran. Pasti akan terjadi perdebatan besar. Bukan hanya diantara para selir nya saja. Bahkan beberapa pangeran dan putri akan saling berdebat tentang hal ini.


"Jadi siapa yang memimpin kekaisaran Salju putih sekarang?" ucap Liu Hongli.


"Yang memimpin kekaisaran saat ini adalah ayah anda" ucap orang yang berada dipaling depan.


"Kenapa ayah tidak memberitaukan hal ini sejak lama padaku? Apa kakak juga tau hal ini?" ucap Liu Chen sambil menatap Liu Hongli.


"Maaf Chen'er karna tidak memberitaumu dan Yi'er sejak awal. Ayah hanya tidak ingin kau dan kakakmu pergi kesana" ucap Liu Hongli.


"Woah! Chen, kau seorang pangeran?!" ucap Zong Xian yang terlihat kagum.


Liu Chen hanya melirik sedikit kearah Zong Xian. Namun dia tidak mengatakan apapun tentang ucapan dari pemuda itu. Iapun kembali menatap ayahnya. "Apa ayah ingin kembali ke kekaisaran?"


"Ayah tidak mau pergi kesana untuk saat ini"


Liu Chen membalikkan badannya dan menatap kesepuluh orang suruhan pangeran pertama. "Kalian sudah mendengarnya, bukan? Jadi sebaiknya kalian pergi dan jangan mengganggu keluargaku" ucap Liu Chen dengan penuh penekanan pada katanya.


"Apa hak mu memerintah kami? Kami hanya akan menjalankan tugas dari pangeran pertama yaitu untuk membawa Kaisar muda ke hadapannya" ucap orang yang ada didepan. Ia adalah pemimpin dari kesepuluh orang ini.


Liu Chen menatap pemimpin itu dengan tajam, "Apa kalian tidak mengerti juga? Apa perlu kalian kutebas terlebih dahulu agar kalian mengerti ucapanku?"


Seketika, aura yang kuat langsung menghantam kesepuluh orang tersebut setelah Liu Chen selesai mengatakan ucapannya.


"Ba-baiklah kami akan pergi dan tidak akan memaksa Kaisar muda. Tapi bagaimana kami memberitaukannya pada pangeran pertama?" ucap pemimpin dengan kesulitan.


"Kalian tinggal mengatakan bahwa kalian tidak menemukan ayahku. Sekarang kalian bisa pergi dari sini", Liu Chen langsung menghilangkan tekanan yang dikeluarkannya pada kesepuluh orang di hadapannya.


"Baik", kesepuluh orang itu langsung pergi secepatnya sebelum Liu Chen berubah pikiran untuk membiarkan mereka pergi begitu saja.


Liu Chen menghilang dari tempatnya berdiri dan ia langsung muncul dihadapan kesepuluh orang dengan pedang yang berada ditangannya. "Kalian pikir aku akan membiarkan kalian lari begitu saja setelah mengacungkan pedang pada orangtuaku?"


Hanya dalam beberapa detik, sepuluh orang suruhan pangeran pertama kini sudah menjadi mayat, dengan keadaan kepala terpenggal.


Liu Chen kembali muncul di dekat teman temannya. Ia juga sudah tidak memegang pedang lagi karna sudah memasukkan nya ke dalam cincin ruang.


Li Wei dan Liu Hongli terkejut kala melihat anak mereka membunuh kesepuluh orang itu. "Apa yang kau lakukan Chen'er? Kenapa kau membunuh mereka?" ucap Li Wei. Iapun menatap putra keduanya ini.


Liu Chen menatap ibunya, "Mereka pantas mendapatkannya, ibu. Karna mereka sudah berani mengacungkan pedang pada ibu dan ayah dengan niat tidak baik. Aku tidak suka bila ada orang lain yang memaksa kalian melakukan sesuatu seperti tadi"


Li Wei dan Liu Hongli merasa tersentuh mendengar jawaban anak mereka.


Zong Xian memejamkan matanya. Bahkan ia menggertakkan giginya. Ada sesuatu yang masuk ke dalam pikirannya.


Mengetahui hal itu, Feng Ying menepuk pundak Zong Xian. "Kau kenapa?"


Zong Xian segera membuka matanya. Iapun menatap Feng Ying, lalu menggelengkan kepala. "Aku baik baik saja, jangan khawatir", iapun tersenyum.


Feng Ying mengangguk. "Baiklah kalau begitu"

__ADS_1


"Kau sendiri akan mengetahui kebenarannya. Karna segel yang menyegel ingatanmu akan hancur secara perlahan lahan. Kau harus berterimakasih padaku karna membukakan segel itu untukmu"


Zong Xian teringat akan kata kata seorang iblis yang menangkapnya. "Dia benar, gambaran yang diperlihatkannya padaku memang benar. Itu semua kebenaran" batin nya. Iapun mengepalkan tangan. Namun ia segera melemaskan kepalan tangannya.


"Terimakasih Chen'er karna sudah menolong ayah tadi" ucap Liu Hongli sambil tersenyum.


Liu Chen menggelengkan kepalanya. "Ayah tidak perlu berterimakasih seperti itu padaku. Itu bukan masalah sama sekali untukku. Bagaimana sekarang? Apa ayah dan ibu akan pergi dari desa ini? Bisa saja orang suruhan pangeran pertama yang lain sudah mengetahui keberadaan ayah. Jadi mereka pergi kesini untuk membawamu", ia menatap kearah Liu Hongli.


"Menurut ayah, sepertinya tidak ada lagi orang suruhan kakak pertama yang mengetahui tempat ini. Lagi pula desa tanpa nama adalah desa yang cukup terpencil. Jadi mereka tidak akan menemukan ayah dengan sangat mudah disini" ucap Liu Hongli.


"Tapi apa ayah dan ibu tidak mau pergi dari desa ini? Bagaimana bila mereka ternyata mengetahui tempat ini dan mereka akan membawa ayah secara paksa"


"Tidak, Chen'er. Mereka tidak akan mengetahui tempat ini. Jadi kami tidak akan pindah kemana pun. Lagi pula, kami nyaman tinggal disini" ucap Liu Hongli.


"Ayahmu benar, Chen'er. Jadi tidak perlu mengkhawatirkan kami", Li Wei tersenyum kearah Liu Chen.


"Baiklah bila kalian sudah mengatakannya. Aku tidak akan memaksa" ucap Liu Chen dengan pasrah.


Li Wei dan Liu Hongli kini melihat adanya beberapa orang di belakang Liu Chen. "Quon'er. Kau ada disini? Lalu dimana Yi'er? Bukankah kau dan Chen'er bersamanya saat itu?" ucap Li Wei sambil menatap Song Quon.


"Hehe bibi Wei ternyata masih ingat denganku, ya?" ucap Song Quon sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.


"Tentu saja kami mengingatnya. Karna kau adalah orang yang paling banyak makan. Dibandingkan Yi'er" ucap Liu Hongli sambil terkekeh pelan.


Mendengar itu, Song Quon menjadi malu. "Apa karna itu bibi Wei dan paman Li mengingatku?"


Li Wei tertawa, "Suamiku hanya bercanda, Quon'er. Tidak perlu di fikirkan"


Liu Chen menatap kearah teman temannya. Iapun mulai memperkenalkan semua temannya pada Li Wei dan Liu Hongli.


Setelah berkenalan, mereka masuk ke dalam rumah. Sebelum masuk, Liu Chen membakar mayat kesepuluh orang suruhan pangeran pertama terlebih dahulu. Setelah itu, ia ikut masuk ke dalam.


"Jadi dimana Yi'er, Chen'er?" ucap Li Wei pada putra keduanya ini.


"Bagaimana keadaan mu Chen'er? Apa kau baik baik saja?" ucap Li Wei.


"Aku baik baik saja ibu. Bagaimana dengan ibu dan ayah?" ucap Liu Chen.


"Kami baik baik saja, Chen'er. Kami merindukanmu. Kau sudah setahun lebih tidak menemui kami. Kemana saja kau selama ini?" ucap Li Wei.


"Maaf karna baru bisa menemui kalian sekarang. Aku memiliki sebuah tugas. Jadi aku harus menyelesaikan tugas itu bersama teman temanku"


"Kami mengerti, Chen'er. Namun jangan membuat dirimu berada dalam bahaya. Ayah tidak mau terjadi sesuatu padamu. Kau mengerti 'kan?" ucap Liu Hongli.


Liu Chen tersenyum dan mengangguk.


Mereka terus berbincang bincang. Kecuali Zhang Jiangwu yang sangat jarang berbicara. Bila ada yang menanyainya, dia hanya menjawab dengan anggukan ataupun menjawab dengan beberapa patah kata saja.


Mereka terus berbincang hingga akhirnya malam pun tiba.


"Kita tidak bisa terlalu lama disini, saudara Chen. Kita harus segera pergi" ucap Feng Ying.


Liu Chen mengangguk faham. Iapun mengeluarkan sekantung koin emas dari dalam cincin ruangnya untuk diberikan pada orangtuanya. Walaupun dia tau ayahnya adalah seorang Kaisar, namun ayahnya disini hanyalah seperti penduduk biasa yang juga membutuhkan uang. Iapun langsung memberikan sekantung koin emas pada ayahnya.


"Apa ini Chen'er?" ucap Liu Hongli.


"Itu untuk ayah dan ibu. Aku masih memilikinya, jadi terima saja. Oh ya, aku juga akan pergi cukup lama. Jadi ayah dan ibu jaga diri baik baik" ucap Liu Chen.


"Baiklah, Chen'er. Jangan cemaskan ayah dan ibu" ucap Liu Hongli.


Liu Chen hanya tersenyum. Ia pun mulai berdiri dari duduknya. Begitupun teman temannya.


"Bibi Wei, paman Li, saat aku datang nanti, sediakan banyak makanan untukku, ya?" ucap Song Quon dengan tidak tahu malu meminta hal itu pada kedua orangtua Liu Chen.

__ADS_1


Li Wei tersenyum, "Kalau begitu, cepatlah kemari. Bibi akan memasakkan banyak makanan"


Song Quon tersenyum. Sementara Liu Chen, Zong Xian, Feng Ying dan Lu Tuoli menggelengkan kepala pelan ketika mendengar ucapan Song Quon.


"Kau tidak tahu malu sekali meminta makanan pada bibi Wei dan paman Li" ucap Feng Ying.


Song Quon menatap Feng Ying, "Hmph! Tidak ada urusannya denganmu"


"Baiklah, ibu, ayah. Kami pamit pergi sekarang" ucap Liu Chen.


"Apa tidak besok pagi saja? Sekarang sudah malam. Akan berbahaya bila pergi malam malam seperti ini" ucap Li Wei. Ia dan Liu Hongli pun ikut berdiri dari duduknya.


Liu Chen menggelengkan kepala, "Kami akan baik baik saja. Jaga diri ibu dan ayah baik baik"


"Baiklah kalau kau sudah memutuskan untuk pergi sekarang. Ibu tidak bisa mencegahnya. Kau dan teman temanmu juga jaga diri baik baik" ucap Li Wei sambil tersenyum.


Liu Chen mengangguk begitupun teman temannya. Setelah pamit, mereka segera pergi dari rumah Liu Chen. Mereka berniat kembali lagi ke markas.


Saat diperjalanan, Lu Tuoli segera berkata. "Jadi ketua kedua adalah pangeran? Sangat mengejutkan bagiku. Jadi ini alasan mu tidak memberitaukan margamu pada kami, Chen?"


"Aku juga tidak mengetahui bahwa ayah adalah Kaisar dari kekaisaran Salju putih yang ada di benua utara. Aku pun baru mengetahuinya saat ini" ucap Liu Chen.


"Artinya ada dua ketua yang merupakan anggota kekaisaran? Woah! Hebat sekali" ucap Feng Ying dengan semangat.


Liu Chen tersenyum pahit sambil menatap Feng Ying, "Kau tidak perlu semangat seperti itu". Liu Chen pun langsung menatap kearah depan, "Aku ingin mengetahui siapa kakak pertama ayah yang ingin mencelakainya. Bila aku mengetahuinya...heh", iapun tersenyum dengan jahat.


Melihat senyuman itu membuat Feng Ying merinding, "Apa yang akan kau lakukan padanya?"


"Heh, lihat saja nanti bila ingin mengetahui apa yang akan kulakukan pada nya", Liu Chen melirik Feng Ying dengan senyuman yang masih tetap sama.


Feng Ying tidak lagi melihat kearah Liu Chen setelah melihat senyuman jahat dari pemuda itu. "Aku tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukannya. Apa dia akan merebus nya? Dibakar hidup hidup? Dicincang habis?", iapun menggelengkan kepala dan berhenti memikirkan hal itu.


"Apa kau terima dia memperlakukan ibumu seperti itu? Apa kau akan diam saja ketika mengetahui kebenaran ini?"


Zong Xian dapat mengingat suara dari seorang iblis yang menyanderanya saat itu. Pikirannya saat ini sedang kacau ketika memikirkan ingatan yang baru saja didapatkannya kembali dan ucapan yang iblis ucapkan padanya saat itu.


Namun ia bersikap seolah tak terjadi apapun padanya saat ini agar tidak ada yang menanyakan apapun padanya. Walaupun begitu, Zhang Jiangwu nampak mengetahui bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran salah satu temannya ini. Ia memang dapat mengetahui keadan orang lain dari eskpresi mereka.


Ekspresi yang diperlihatkan Zong Xian ini masih dapat dibaca oleh Zhang Jiangwu. Namun ia tak ingin menanyakan apapun pada Zong Xian. Karna merasa bahwa ia tidak seharusnya ikut campur dengan urusan pemuda itu.


"Aku ingin tau bagaimana keadaan markas bila dijaga oleh ketua keempat" ucap Lu Tuoli.


"Kau benar, aku juga ingin tau. Semoga saja saat kita pulang nanti, tidak ada masalah apapun di markas dan semoga markas baik baik saja dengan pimpinan ketua keempat" ucap Feng Ying sambil terkekeh pelan.


"Heh, disini kalian berani membicarakannya. Tapi saat bertemu dengannya, kalian pasti tidak berani berkata seperti ini" ucap Song Quon.


"Huh, aku hanya berbicara saja tentang markas" ucap Lu Tuoli. Iapun langsung diangguki setuju oleh Feng Ying.


Liu Chen menepuk bahu Zong Xian, "Xian, bagaimana bila saat tiba di markas nanti, kita bertanding. Aku ingin mengetes sejauh apa kemampuanku. Tapi jangan mengeluarkan kekuatan penuhmu karna aku juga tidak akan melakukannya. Bila kita mengeluarkan kekuatan penuh, maka bisa saja markas kita akan menjadi puing puing"


Zong Xian mengangguk, "Baiklah, kebetulan aku juga membutuhkan lawan bertarung. Walaupun tingkat kultivasiku kalah dari Jiangwu, tapi saat kita bertarung nanti aku tidak akan kalah darimu" ucapnya semangat. Berbeda hal nya dengan perasaan sebenarnya yang ia rasakan saat ini. Perasaan yang ia rasakan saat ini sebenarnya sangat kacau. Namun ia berusaha sebaik mungkin bersikap seperti biasa.


"Aku pun tidak akan kalah. Lagi pula, tingkat kultivasi kita sama yaitu berada di tingkat kaisar bintang 9. Tapi sebentar lagi, kita pasti bisa mencapai tingkat bumi dan menyusul Jiangwu", Liu Chen tersenyum.


Zong Xian tersenyum dan mengangguk dengan percaya diri. "Menurutmu putri kaisar itu sudah berada di tingkat apa? Terakhir kali kita bertemu dengannya, dia berada di tingkat kaisar bintang 7"


Liu Chen memegang dagunya, "Entahlah. Mungkin dia sudah berada di tingkat kaisar bintang 8. Akupun tidak tahu. Kita lihat saja nanti"


Zong Xian hanya mengangguk.



Ingatan seperti apakah yang didapatkan Zong Xian? Apakah ingatan yang didapatkannya berdampak baik atau buruk bagi dirinya sendiri dan orang lain?

__ADS_1


__ADS_2