
"Hormat saya pada Tuan" ucap Song Quon dengan penuh hormat.
"Berdirilah dan mendekatlah kemari" ucap pria yang nampak berusia 30 tahunan itu.
Song Quon segera menurut. Ia berdiri dan berjalan mendekat kearah pria dihadapannya. Hingga akhirnya ia berhenti di jarak 3 langkah saja kearah pria itu.
Pria yang duduk di kursi tahta segera berdiri dan menghampiri Song Quon. Hingga jarak diantara Song Quon dengan dirinya hanya tinggal 1 langkah lagi.
"Kau lama juga berada di dunia itu, ya?" ucap pria tersebut.
"Maaf Tuan, karna saya tidak bisa langsung kemari saat itu" ucap Song Quon dengan menyesal.
Pria tersebut tersenyum. "Tidak apa. Mana segel yang kau katakan padaku saat itu?"
Song Quon mengulurkan tangannya dan memperlihatkan telapak tangan yang terdapat gambar api berwarna putih. "Saya tidak tau apakah segel ini akan berpengaruh padaku atau tidak. Tapi aku berjaga jaga saja bila segel ini memang berpengaruh padaku"
"Aku memang mengatakan bahwa bila kau sudah menerima segel dariku, maka segel lain yang dipasangkan padamu tidak akan berpengaruh. Namun berbeda dengan segel ini. Ini adalah segel yang unik, tercipta dari elemen berbeda dan dari energi orang yang berbeda juga. Tapi aku bisa melepaskannya dengan mudah darimu"
"Terimakasih Tuan" ucap Song Quon dengan senang.
Orang yang Song Quon sebut Tuan pun langsung memegangi tangan Song Quon. Pria dihadapannya langsung meletakkan satu tangannya yang lain diatas telapak tangan Song Quon.
Seketika, cahaya bersinar pada tangan mereka. Namun itu hanya beberapa detik. Pria itu langsung menjauhkan tangannya dari Song Quon.
"Disana memang masih ada tanda api itu. Namun segel sebenarnya sudah dilepas. Aku tidak menghilangkan tanda itu agar orang lain tak curiga padamu" ucap si pria.
Song Quon mengangguk kearah pria didepannya.
"Aku memiliki hadiah untukmu", pria itu tersenyum.
Song Quon menjadi bingung, "Hadiah apa yang ingin anda berikan padaku?"
Di markas, tepatnya di ruang utama. Liu Chen, Zhang Jiangwu, Zong Xian, Yang Jia Li, Feng Ying, Lu Tuoli dan Chan Juan nampak berkumpul.
"Aku mendapat berita bahwa dua sekte yaitu menengah dan kecil dari aliran putih tiba tiba saja menghilang" ucap Yang Jia Li.
"Menghilang? Maksudmu seperti apa?" ucap Liu Chen.
"Semua anggota sekte tewas dalam satu malam yang berbeda. Tidak ada satu pun anggota yang tersisa. Tidak ada yang mengetahui siapa penyebab dari kejadian itu" ucap Yang Jia Li.
"Bukankah itu sudah jelas? Itu pasti sekte aliran hitam atau bisa juga para iblis yang mulai bergerak" ucap Zong Xian.
"Menurutku tidak mungkin para iblis. Jika mereka pelakunya, maka kenapa mereka tidak langsung saja mengumumkan perang pada kita atau mungkin langsung menyerang secara besar besaran pada sekte besar atau bahkan kerajaan", Yang Jia Li menatap kearah Zong Xian.
"Lalu apa kita akan membantu menyelidiki kasus ini? Karna kelompok yang kita buat bukan hanya untuk mengalahkan iblis. Tapi kita juga harus melindungi orang lain dari bahaya lainnya selain ras iblis, seperti sekte aliran hitam" ucap Liu Chen.
"Jika ras iblis bukan pelakunya, pasti sekte aliran hitam pelaku dari kejadiaan ini. Lagi pula, sekte aliran hitam dan putih bermusuhan. Maka mereka akan saling menghancurkan satu sama lainnya" ucap Zong Xian.
Yang Jia Li menghembuskan nafasnya. "Itulah masalahnya. Bila pelakunya adalah sebuah sekte aliran hitam dan bukan aliansi, maka aku tidak akan memberitaukan hal ini pada kalian"
Liu Chen mengerutkan keningnya. "Lalu, apa maksudmu memberitaukan berita ini pada kami? Dan lalu bagaimana kau bisa mengetahui berita seperti ini, padahal kau juga diam di markas"
"Aku memiliki informan yang selalu memberiku berita berita terkini. Jadi aku mengetahui informasi ini dari dirinya. Dia adalah salah satu orang kepercayaanku. Dia akan mencari informasi tentang situasi apa saja yang terjadi dan kejadian apa saja yang sedang hangat dibicarakan akhir akhir ini oleh masyarakat.
Aku memberikannya batu komunikasi karna aku memilikinya. Batu komunikasi yang ku berikan padanya juga bukan batu yang terhubung dengan milik kita dan hanya terhubung pada batu komunikasi milikku yang diberikan oleh ayah saat itu", jelas Yang Jia Li.
Semuanya mengangguk faham, "Lalu sekarang apa maksudmu menceritakan informasi ini pada kami? Apa beberapa sekte telah beraliansi untuk memusnahkan sekte sekte aliran putih?" ucap Zong Xian.
Yang Jia Li menggelengkan kepala, "Bukan itu. Berita kedua yang ingin kusampaikan ini mungkin akan mengejutkan kalian"
"Sudah, jangan bertele tele. Cepat katakan saja!" ucap Zong Xian yang tidak sabaran.
Yang Jia Li menatap Zong Xian sejenak, iapun langsung menopang dagu dengan kedua tangannya dan menatap kearah depan kembali. "Masalahnya adalah bukan aliran putih saja yang mendapatkan masalah seperti ini. Namun dua buah sekte kecil aliran hitam pun sama. Semua anggota mereka lenyap dalam satu malam tanpa diketahui siapa dalang dibalik ini semua. Jadi tidak mungkin aliran hitam yang menyerang sekte aliran putih"
Semuanya terkejut. Lalu, bila pelakunya bukan sekte aliran hitam dan bukan pula ras iblis, maka siapa pelakunya? Siapa yang melakukan ini semua? Apa seseorang yang berniat balas dendam? Tidak! Tidak mungkin itu tujuan si pelaku karna sekte yang menjadi korban bukan hanya satu, namun ada empat. Mereka langsung bergelut dengan pemikiran masing masing mengenai masalah ini.
Tidak mungkin sekte aliran hitam menyerang sekte yang satu aliran dengan mereka. Karna bila mereka melakukan itu, maka kekuatan yang dimiliki sekte aliran hitam akan melemah. Begitupun sebaliknya. Tidak mungkin sekte aliran putih menghancurkan sekte yang satu aliran dengannya.
"Sepertinya ada pihak lain yang membuat kekacauan" ucap Zong Xian.
Yang Jia Li menatap kearah pemuda di sampingnya itu. Iapun mengangguk, "Aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu. Namun aku tidak tau siapa pihak lain itu"
__ADS_1
"Saya ingin mengeluarkan pendapat saya, apa boleh?" ucap Lu Tuoli.
Semua ketua kelompok dan bahkan wakil kelompok menoleh kearah suara. Mereka pun mulai mengangguk dan mengizinkan pemuda itu memberikan pendapat.
"Menurutku kita kesampingkan masalah itu terlebih dahulu. Karna kita saja tidak memiliki petunjuk apapun untuk menyelidikinya. Jadi sebaiknya kita fokus pada latihan semua anggota dan sebaiknya kita batalkan saja turnamen yang akan diadakan satu minggu dari sekarang itu. Karna Kaisar iblis akan segera bangkit.
Memang benar Kaisar iblis akan mengumpulkan kekuatan terlebih dahulu sebelum menyerang kita. Namun mereka masih memiliki iblis iblis kuat di pihak mereka. Jadi tidak akan lama untuk membangun kekuatan bagi mereka. Apalagi, jenderal jenderal iblis yang disegel ribuan tahun lalu sudah bebas dan kini berada di dunia iblis, maka kekuatan mereka semakin bertambah. Walaupun asalnya mereka mendapat beberapa kerugian karna kehilangan beberapa iblis kuat mereka, namun karna ini sudah 1.000 tahun dari kejadian itu, pasti ras iblis sudah kembali pada posisi mereka yang siap bertarung", jelas Lu Tuoli.
Zong Xian mengangguk. "Baiklah, kalau begitu kau beritau semua anggota bahwa turnamen yang akan diadakan 1 minggu kemudian, dibatalkan dan katakan pada mereka bahwa latihan kali ini akan ditingkatkan"
Saat mendapatkan tatapan dari Zong Xian, Lu Tuoli mengangguk. "Aku akan mengatakannya pada mereka nanti"
Walaupun ia merupakan wakil dari Zhang Jiangwu, namun Zong Xian juga merupakan ketua. Jadi dia harus mengikuti perintahnya.
"Aku akan menyelidiki tentang sekte yang hilang secara tiba tiba itu" ucap sebuah suara.
Semua menoleh keasal suara dengan terkejut. Mereka baru pertama kali mendengar pemuda dengan eskpresi datar di samping Liu Chen itu mengatakan sesuatu lebih dari satu kata. Walaupun nada nya masih terdengar datar.
"Pertahankan itu, kawan!", Zong Xian mengacungkan dua jempol kearah Zhang Jiangwu sambil tersenyum.
Liu Chen tersenyum, "Baru pertama kalinya kau berbicara lebih dari dua kata", iapun memasang ekspresi seius menatap pemuda dengan eskpresi datar itu, "Lalu apa alasanmu ingin melakukan itu?"
Zhang Jiangwu menjawab bahwa bisa saja pihak lain itu memiliki kekuatan yang besar dan bila mereka tidak waspada, mereka hanya akan mati konyol. Ia ingin menyelidiki siapa dalang dibalik kejadian itu agar dapat berhati hati padanya. Ia juga bilang bahwa ia akan pergi ke sekte yang mengalami kejadian itu, sendirian.
Walaupun kemungkinan semua mayat mereka sudah diurus oleh sekte lain, namun Zhang Jiangwu ingin mencoba pergi ke salah satu sekte untuk melihat keadaan disana dan mengecek mayat mereka.
Liu Chen, Zong Xian dan Yang Jia Li berfikir sebentar.
"Bila musuh adalah orang yang kuat, maka kau akan dalam bahaya. Bagaimana bila kau mati nanti?" ucap Zong Xian.
"Heh, jangan mengatakan hal seperti itu pada Guang (Zhang Jiangwu)" ucap Yang Jia Li sambil menatap Zong Xian.
Zong Xian menatap balik wanita itu, "Yah..kan kita tidak akan tau keadaan disana. Jadi dia bisa saja mati. Lalu bila dia mati, bagaimana dengan tugas kita sebenarnya untuk melindungi manusia dari Kaisar iblis?"
"Hei sudahlah, kita izinkan saja Guang untuk melakukan apa yang diinginkannya. Tapi kalau bisa salah satu dari kita harus pergi bersamanya kesana. Mungkin Guang akan membutuhkan bantuan" ucap Liu Chen menengahi.
"Tidak perlu" ucap Zhang Jiangwu.
Zhang Jiangwu membalas dengan anggukan dan gumaman, "Mn.."
"Bagaimana bila sesuatu terjadi padamu saat disana nanti?"
"Aku bisa menjaga diri"
"Ketua Guang, aku tidak setuju. Aku akan ikut saja denganmu" ucap Lu Tuoli, yang mana dia adalah wakil dari Zhang Jiangwu.
Zhang Jiangwu menggelengkan kepala pertanda tidak setuju. Ia hanya ingin pergi sendiri tanpa membawa orang lain.
"Tapi-"
Ucapan Lu Tuoli terhenti oleh ucapan Liu Chen, "Baiklah terserah dirinya ingin pergi sendiri ataupun tidak"
Lu Tuoli langsung menatap Liu Chen, "Tapi ketua Xun, bagaimana bila ketua Guang nanti-"
"Aku belum selesai bicara", Liu Chen menatap kearah Lu Tuoli hingga membuat pemuda itu terdiam.
Liu Chen kembali menatap kearah Zhang Jiangwu, "Tapi larilah bila ada musuh yang memiliki kekuatan diatasmu dan laporkan keadaanmu secepatnya di batu komunikasi. Tidak peduli kau mendapat informasi atupun tidak, namun kembalilah dengan selamat"
Zhang Jiangwu terdiam sejenak. Ia pun mulai mengangguki apa yang Liu Chen ucapkan padanya.
Melihat anggukan itu, membuat Liu Chen tersenyum. "Kalau begitu, kau boleh pergi dan tetaplah berhati hati"
Zhang Jiangwu kembali mengangguk.
Mendengar bahwa Liu Chen mengizinkan Zhang Jiangwu pergi sendiri, Lu Tuoli hanya menghela nafas. Ia tidak lagi berbicara. Ia hanya bisa berharap bila tidak ada musuh yang menyerang Zhang Jiangwu disana nanti.
"Ah ya, aku ingin memberitu bahwa minggu depan aku akan pergi menemui ayahku terlebih dahulu. Aku mendapat kabar bahwa ayahku mengerahkan pasukannya mencariku selama setahun ini. Mungkin dia khawatir padaku. Karna itu,aku akan pulang minggu depan" ucap Yang Jia Li.
"Jadi ketua yang ada di markas ini hanya ada aku dan Haocun nanti?" ucap Liu Chen.
Yang Jia Li mengangguk. "Aku tidak peduli kalian mengizinkan aku untuk pulang atau tidak, karna bila kalian tidak mengizinkanku pun, aku akan tetap pulang"
__ADS_1
"Terserah kau saja. Memang ada yang peduli dengan kehadiranmu disini?" ucap Zong Xian dengan cuek.
Yang Jia Li langsung menatap Zong Xian dengan kesal. "Ada banyak anggota yang akan merindukanku nanti" ucapnya dengan nada keras hingga menggema di seisi ruangan besar itu.
"Heh, yang ada sebaliknya. Mereka akan bersyukur karna kau akan pergi dari markas ini. Jadi mereka bisa selamat dari mu. Bahkan yang kulihat, banyak anggota yang menjauhimu saat mereka bertemu denganmu" ucap Zong Xian.
Yang Jia Li langsung berucap dengan kesal, "Apa orang tuamu tidak mengajarkan bagaimana berperilaku pada seorang wanita, hah?! Kau selalu saja membuatku ke-"
Zong Xian menatap Yang Jia Li dengan dingin, tidak seperti biasanya. "Jangan membawa bawa orang tuaku. Bila kau masih ingin selamat"
Setelah berucap seperti itu, Zong Xian berdiri dari duduknya. Ekspresinya kembali lagi seperti biasa. Ia tersenyum, "Baiklah semua permasalahan sudah kita bahas hari ini. Jadi kita bisa membubarkan diri", iapun langsung pergi sambil menepul pundak Feng Ying. "Ayo, rapat sudah selesai"
Feng Ying mengangguk. Ia pun langsung mengikuti Zong Xian.
Liu Chen, Zhang Jiangwu dan Lu Tuoli juga mulai beranjak dari kursinya dan pergi keluar. Kini hanya tersisa Yang Jia Li bersama Chan Juan.
Yang Jia Li nampak masih terdiam di tempatnya kala melihat tatapan dari Zong Xian tadi. Ada tatapan marah dan benci yang sangat besar pada tatapan pemuda itu tadi.
Hanya Yang Jia Li saja yang melihat tatapan itu. Sementara yang lain tidak. "Apa aku salah berbicara tadi?" gumam nya.
"Ada apa ketua Xinxin?" ucap Chan Juan.
Yang Jia Li langsung menggelengkan kepala. Iapun berdiri. "Ayo kita juga keluar"
Chan Juan mengangguk dan mengikuti Yang Jia Li pergi dari ruangan utama.
Disebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu, masuklah seorang anak kecil ke dalam kamar seseorang. Anak itu membuka pintu secara perlahan.
Krieett
Pintu berdecit menandakan bahwa rumah sudah cukup tua untuk ditinggali. Anak kecil itu seperti mematung di tempatnya. Tatapannya menggambarkan ketidak percayaan terhadap apa yang ada dihadapannya.
Seorang wanita dengan kaki yang tidak menapak pada tanah. Kaki wanita itu terlihat beberapa centi diatas permukaan tanah.
Anak kecil tersebut terduduk lemas di tempatnya ketika melihat hal dihadapannya ini. "I-ibu.."
Sebuah tali mengikat leher dari wanita di hadapannya. Ekspresi wajahnya bukan memperlihatkan kesakitan. Namun kesedihan, putus asa, kekecewaan dan ada juga amarah yang terlihat di wajahnya.
Zong Xian terbangun ketika hari masih malam. Ia awalnya tidak ingin tidur, namun ia terlalu lelah. Jadi ia pun tidur saat hari sudah malam. Namun ia langsung terbangun ketika melihat mimpinya.
Keringat membasahi pelipis pemuda itu. Nafasnya tersengga sengga seperti baru saja keluar dari dalam air.
Zong Xian menenangkan dirinya. Ia mengusap wajahnya dengan tangan. "Dia harus kuberi pelajaran. Gara gara dia..."
Zong Xian seakan sulit mengatakan kalimat terakhir itu. "Aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku nanti. Tapi yang pasti, aku tidak akan membiarkannya hidup bahagia begitu saja setelah menyakiti perasaan ibuku" gumam nya. Ia mengepalkan kedua tangannya.
"Kau bisa hidup bahagia tanpa merasa bersalah sama sekali dengan apa yang sudah kau lakukan. Itu sama sekali tak bisa ku maafkan", cengkraman tangan Zong Xian semakin erat.
Ia pun memilih untuk pergi ke ruang latihan untuk berlatih dan tidak melanjutkan tidurnya.
Saat sampai disana, Zong Xian dapat melihat Liu Chen yang juga sedang ada di ruang latihan. Pemuda itu nampak sedang berlatih.
Melihat bahwa ada orang lain di ruang latihan, Zong Xian mengurungkan niatnya untuk berlatih. Ketika ia akan pergi, Liu Chen segera menyadari kedatangan Zong Xian.
"Haocun! Ada apa kau kemari? Apa kau juga ingin latihan?" ucap Liu Chen yang berjalan mendekat pada Zong Xian dan memasukkan kembali pedang miliknya.
Zong Xian menatap Liu Chen, "Um..tapi tidak jadi, aku tidak seharusnya mengganggumu latihan. Jadi maaf, aku akan pergi dan tidak mengganggumu"
Liu Chen segera memegang tangan Zong Xian, "Kau tidak menggangguku. Bagaimana bila kita bertarung sekarang saja?"
Zong Xian membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Liu Chen. "Bertarung, sekarang? Apa kau yakin?"
Liu Chen mengangguk dan langsung melepaskan pegangan tangannya dari Zong Xian.
Zong Xian mengangguk dan tersenyum, "Baiklah. Kalau begitu ayo"
Mereka pun kini pergi ke bagian tengah dari ruang latihan. Keduanya mengeluarkan senjata masing masing. Zong Xian dengan tombak tingkat tinggi, sementara Liu Chen dengan pedang tingkat tinggi. Mereka harus memakai satu senjata ini saja dan tidak mengambil yang lain.
Terdapat senyuman di wajah mereka yang tampan, "Kau sudah siap untuk kalah?" ucap Zong Xian.
"Tidak akan" ucap Liu Chen.
__ADS_1
Tatapan mereka menajam dan saling menatap satu sama lainnya. Mereka pun segera melesat saling mendekat dan membenturkan senjata mereka.